*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Di Sabah ada dua nama lama
penanda navigasi pelayaran perdagangan yang diduga berasal dari zaman lampau,
yakni nama gunung Kinabalu dan nama sungai besar/panjang Kinabatangan. Pada
masa ini dua nama kuno ini diinterpretasi sebagai Cina Balu dan Cina Batangan.
Jika dua nama kuno ini dihubungkan dengan (kehadiran dan bahasa) Cina, itu
berari masih baru, sebab sebutan China untuk Tiongkok diberikan oleh Inggris,
sementara dua nama kuno ini sudah eksis sebelum kehadiran orang Eropa. Lalu
apakah kedua nama kuno ini terhubung dengan bahasa Batak dan kehadiran orang
Batak di Borneo Utara? Ina dalam bahasa Batak adalah ibu, balu adalah janda
(suami meninggal) dan batang adalah sungai.

Kinabatangan ialah sebuah daerah dan kawasan parlimen yang
terletak di Bahagian Sandakan, timur Sabah, Malaysia. Penduduknya dianggarkan
seramai 86,783 orang pada 2000. Ahli parlimen daerah Kinabatangan adalah Datuk
Bung Mokhtar Radin yang mewakili rakyat Kinabatangan dalam Dewan Rakyat,
Parlimen Malaysia sejak tahun 1999. Nama Kinabatangan pada mulanya dipanggil
Cinabatangan yang mana bermaksud Sungai Yang Panjang oleh Kerabat China bernama
Ong Sung Peng yang telah tiba pada kurun ke-16 lagi. Dipercayai bahawa nama
Kampung Mumiang, Sukau dan Bilit berasal dari bahasa China. Kinabatangan telah
pun digunakan oleh penduduk tempatan seperti direkod dalam buku pengarang
Perancis pada tahun 1782 dan 1837, lama sebelum kedatangan pendatang Cina ke
kawasan ini. Selain itu rekod Brunei telah merakamkan mengenai perkahwinan Sultan
Ahman, saudara Sultan Muhammad, dengan Puteri Kinabatangan, yang memerintah
1408-1426, juga lama sebelum kedatangan pendatang Cina ke situ. Nama
Kinabatangan kemungkinannya dari kalimat yang terhasil dari nama pokok dan
sebutan. Pada Mulanya daerah ini dikenali sebagai Pejabat Daerah Lamag yang
ditubuhkan pada tahun 1905 oleh Kerajaan Chartered Company yang mana pusat
pentadbiranya terletak di Lamag yang hanya berfungsi dalam urusan Pentadbiran
dan Mahkamah sahaja. Kini ia di Kenali sebagai Pejabat Daerah Kinabatangan di
mana ia mempunyai fungsi yang lebih meluas termasuklah dalam Perancang
Pembangunan Daerah, Sosioekonomi, Kemudahan Infrastruktur dan juga Modal Insan. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah sungai Kinabatangan di Sandakan, wilayah Sabah di Borneo/Klaimantan
Utara? Seperti
disebut di atas, nama
sungai ini disebut Cina dan Batangan. Namun faktanya nama Cina masih tergolong
baru, sementara dalam bahasa kuno yang masih eksis dalam bahasa Batak adalah
ina=ibu dan batang=sungai. Lalu bagaimana sejarah sungai Kinabatangan di
Sandakan,
wilayah
Sabah di Borneo/Klaimantan
Utara?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*. Peta geomorfologi teluk Sandakan 1665
Sungai Kinabatangan di Sandakan
Sabah Borneo Utara; Inabalu, Tjinabalu dan Kinabalu
Asal usul nama, apalagi
nama-nama yang sudah dikenal lama sebagai nama kuno, pendekatan toponimi
haruslah dijelaskan secara kontekstual dari berbagai aspek bukti yang
mendukungnya. Seperti disebut di atas, nama Kinabatangan pada mulanya dipanggil
Cinabatangan yang mana bermaksud Sungai Yang Panjang oleh Kerabat China bernama
Ong Sung Peng yang telah tiba pada abad ke-16. Juga disebut nama Kampung
Mumiang, Sukau dan Bilit berasal dari bahasa China. Kinabatangan digunakan oleh
penduduk tempatan seperti direkod dalam buku pengarang Prancis pada tahun 1782
dan 1837, lama sebelum kedatangan pendatang Cina ke kawasan ini.
Kinabatangan merupakan gabungan kata Kina dan
Batangan. Nama Kina inilah yang disebut merujuk pada nama China. Sementara
Batangan berasal dari kata ‘batang’ yang artinya sungai. Penggunaan nama ‘batang’
untuk sungai diduga kuat bermula di wilayah pantai barat Sumatra (di daerah
Tapanuli yang sekarang, yang mana hingga ini hari batang, bukan pokok kayu
tetapi sungai). Dalam peta-peta Portugis nama Batang merujuk pada nam kota
Batang di muara sungai di hilir kota Lingga Bayu. Dalam hal ini Batang, Lingga
dan Bayu adalah kata-kata yang merujuk pada bahasa-bahasa di India. Kota Batang
tempo doeloe itu kini yang menjadi nama sungai kemudian disebut (wilayah) Batang
Natal (sungai dimana di muara terbentuk kota baru Natal). Sejak era Portugis ‘batang’
sebagai arti kata sungai menyebar ke berbagai wilayah di Sumatra, Semenanjung
Malaya hingga Borneo. Konon, nama Batang merupakan sebutan (pengucapan) orang
Arab untuk nama komunitas penduduk di Sumatra bagian Utara, yakni Batak sebagai
penghasil produk kamper.
Nama Cina atau China adalah
nama baru yang diperkenalkan oleh orang-orang Eropa. Nama China semakin luas
ketika orang Inggris menjalin perdagangan di pantai timur Tiongkok (di sebelah
utara Makao yang Portugis). Dalam sastra Inggris sudah muncul nama China (lihat
JE Davis dalam bukunya berjudul ‘China en de Chinezen’ terbit 1841). Sementara
itu pada abad ke-17 nama China sudah disebut untuk produk-produk yang berasal
dari Tiongkok (lihat Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 16-09-1623). Pada masa
ini yang menguasai pantai timur Tiongkok adalah orang Tartar.
Penulis-penulis Portugis sejak awal tidak
menyebut nama China tetapi dengan nama (orang) Mandarin (lihat Mendes Pinto,
1537). Dalam buku tersebut, Mendes Pinto mencatat bahasa Kerajaan Aru Batak
Kingdom memiliki kekuatan 15.000 pasukan dimana sebaanyak delapan ribu orang Batak
dan sisanya didatangkan dari Minangkabau, Jambi, Indragiri, Brunai dan Luzon.
Mendes Pinto juga menyebutkan yang mengawal pantai-pantai kerajaan Aru adalah
orang-orang Mandarin. Kerajaan Aru Batak Kingdom berada di pantai timur Sumatra
yang berseberangan dengan Malaka. Dalam hal ini, orang Batak di pantai timur
Sumatra, sudah sejak lama terhubung dengan pantai utara Borneo.
Nama Cina atau China dalam hal
ini jelas diperkenalkan oleh orang Eropa terutama orang Inggris yang kemudian
lebih populer dari penyebutan oleh bangsa lain. Dari mana asal-usul nama China
dirujuk terdapat berbagai versi. Sejak era Portugis, dimana pedagang-pedagang
Portugis membuka pos perdagangan di muara sungai Kanton (pantai timur Tiongkok)
pada tahun 1519, nama yang digunakan adalah Mandarin (untuk nama tunggal semua
orang Tiongkok di dalam navihasi pelayaran perdagangan). Pedagang Portugis
pertama yang mengunjungi pantai utara Tiongkok adalah Jemenez pada tahun 1524
(sejak itu nama pulau Kalimantan disebut pulau Borneo, merujuk pada nama
pelabuhan Broenai). Dalam hal ini, jauh sebelum kehadiran Portugis di pantai
utara Borneo sudah eksis sejak lama orang Batak yang berasal dari pantai timur
Sumatra.
Nama Baroenai merujuk pada nama kata ‘aroe’ yakni
sungai. Kerajaan Aroe Batak Kingdom (Aroe-Sungai) berada di daerah aliran
sungai Baroemoen dan sungai Panai yang bermua di pantai timur Siumatra. Besar
dugaan nama Baroenai merupakan sebutan orang Batak untuk nama tempat yang baru
yang merupkan gabungan nama dua sungai Baroe-moen dan Pa-nai. Sebagaimana
disebut di atas oleh Mendes Pinto (1537), pasukan Kerajaan Aroe Batak Kingdom
juga didatangkan dari Brunai (orang-orang Batak yanfg telah menetap lama di
pulau Kalimantan bagian utara).
Berdasarkan toponimi, tidak
hanya nama Broenai yang merujuk pada nama geografis di Tapanoeli (Tanah Batak),
juga diduga nama kota Sibu (merujuak pada Siabu), Bintulu (merujuk Bintuju),
Tambunan (Tambunan), Lembang (Limbong), Tamparuli (Tapanuli) dan sebagainya.
Nama-nama sungai di pantai utara Borneo disebut Batang (bahasa Batak) bukan
sungai atau songi (bahasa Melayu). Nama-nama tempat di muara sungai tentu saja
pada masa itu penting untuk penanda navigasi pelayaran perdagangan. Penanda navigasi
pelayaran yang penting, selain sungai dan nama tempat juga saat itu adalah
tanjung dan teluk serta nama gunung. Salah satu gunung utama di pantai utara
Borneo adalah gunung Kinabalu. Lantas apakah Kinabalu merujuk pada nama Cina
atau China? Bukankah itu merujuk pada nama Ina dan Balu yang kedua kata ini
dapat dirujuk dalam bahasa Batak. Ina dalam bahasa Batak adalah ibu dan balu
adalah seorang janda yang suami meninggal (ibu yang tidak menikah lagi karena
suami meninggal dunia).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Inabalu, Tjinabalu dan
Kinabalu: Orang Batak dan Orang Cina di
Pantai Timur Sumatra dan di Pantai Utara Borneo
Jika di Sabah ada yang menyebut
Kinabalu dan Kinabatangan merujuk pada nama China, Cina dan Kina, lalu
bagaimana dengan ‘balu’ dan ‘batang/an’. Kalau bukan ‘kina’ bukan ‘Cina’ lalu
apakah ‘kina’ merujuk pada nama ‘ina’. Bagaimana terbentuknya nama-nama
geografis biasanya merujuk dari orang pendatang di wilayah pantai. Mereka yang
datang lebih awal ini biasanya memberikan nama dari (sudut pandang) pantai
(berbeda pula dari pedalaman). Dalam sejarahnya, wilayah kawasan yang luas ini
pendatang pertama berasal dari pantai timur Sumatra pada era Hindoe/Boedha.
Pada masa itu kerajaan yang kuat di Sumatra yang berada di pantai timur adalah
Kerajaan Aru. Orang-orang Batak dari pantai timur Sumatra di daerah aliran
sungai Baroemoen dan sungai Panai inilah yang melakukan navigasi pelayaran
perdagangan dengan penduduk asli di pantai utara Borneo dan pulau-pulau di
Filipina hingga ke Sulawesi dan Maluku. Hal itulah mengapa muncul kerajaan
besar di pantai utara Borneo yang disebut Kerajaan Baroenai (Baroe-moen dan
Pa-nai) dan mengapa muncul nama pulau Panai di Filipina.
Nama ‘ina’ dan ‘balu’ tentu saja tidak ditemukan
dalam bahasa Melayu dan bahasa Tausuq. Nama itu haruslah dicari dalam bahasa
(penduduk asli atau penduduk yang lebih awal). Yang jelas di (wilayah) Sabah
yang sekarang terdapat sekitar 30 suku dengan budaya, bahasa, dan adat-istiadat
yang berbeda satu sama lainnya. Lima yang terbesar adalah Dusun atau Kadazan
yang merupakan suku mayoritas, Rungus, Lundayeh, Bajau, dan Murut. Mengapa begitu
banyak etnik yang berbeda di wilayah yang kecil/sempit? Itu mengindikasikan
bahwa banyak pendatang dari berbagai tempat. Komunitas etnik ini awalnya
populasi-populasi yang kecil/sedikit seperti Sulu/k, Bisaya, Tidung dan Dayak.
Sisa peradaban awal di pantai
utara Borneo dan pulau-pulau Filipina dan Sulawesi (dan Maluku) dapat
ditelusuri pada elemen budaya termasuk bahasa. Di pulau Palawan ada etnik yang
menamakan dirinya sebagai etnik Batac yang dalam banyak hal mirip dengan elemen
budaya Batak di wilayah aliran sungai Baroemoen dan sungai Panai di pantai
timur Sumatra. Bahasa etnik Batac di Palawan ini ‘ama’ diartikan sebagai ayah
dan ‘ina’ sebagai ibu. Bahasa-bahasa di pulau Luzon juga dan juga bahasa
Minahasa untuk ayah dan ibu adalah ‘ama’ dan ‘ina’,

Etnik lainnya di pulau Palawan adalah etnik Tagbanwa
yang disebut awalnya memiliki hubungan dengan Brunei karena sultan pertama
Brunyu berasal dari tempat yang disebut Burnay (lihat Wikipedia). Sejarah suku
Tagbanwa dimulai pada tahun 1521 ketika kapal Magellan merapat di Palawan untuk
mencari perbekalan. Antonio Pigafetta, penulis kronik Magellan, mencatat bahwa
suku Tagbanwa mempraktikkan ritual penyatuan darah, budi daya pertanian,
perburuan dengan sumpit dan panah kayu, menyimpan dan memakai cincin dan rantai
kuningan, menggunakan lonceng, pisau, dan kawat tembaga untuk mengikat kait
ikan, mengadu ayam, dan menyuling minuman beralkohol dari beras. Hingga akhir
abad ke-17, Palawan selatan berada di bawah yurisdiksi Sultan Brunei, yang
berujung pada gesekan antara Spanyol dan Sultan. Pada abad ke-19, suku Tagbanwa
masih percaya pada dewa-dewa asli mereka. Setiap tahun, hari raya dirayakan
setelah panen untuk menghormati dewa-dewa mereka. Disebutkan lebih lanjut Suku
Tagbanwa atau Tagbanua adalah salah satu kelompok etnis tertua di Filipina yang
banyak berada di bagian tengah dan utara Palawan. Penelitian telah menunjukkan
bahwa suku Tagbanwa mungkin keturunan Orang Tabon. Sehingga, mereka merupakan
salah satu penduduk asli Filipina. Secara fisik, mereka berkulit coklat,
ramping, berdiri tegak, dan berambut lurus. Ada dua klasifikasi besar
berdasarkan lokasi geografis tempat mereka berada. Tagbanwa Tengah adalah suku
Tagbanwa di bagian barat dan pesisir timur dari pusat kota Palawan. Mereka
terkonsentrasi di munisipalitas Aborlan, Quezon, dan Puerto Princesa. Tagbanwa
Calamian berada di sisi lain, yaitu di Pantai Baras, Pulau Busuanga, Pulau
Coron, dan beberapa bagian El Nido. Kedua subkelompok Tagbanwa ini berbicara
dengan bahasa yang berbeda dan tidak benar-benar memiliki kebiasaan yang sama.
Bahasa-bahasa di pulau Palawan
yakni bahasa Batac dan bahasa Tagbanwa Aborlan serta bahasa Tagbanwa Kalamian
untuk ayah dan ibu adalah ‘qimak’ dan ‘qinak’. Dalam hal ini ‘ina’ mendapat
fonem q, dan nama banwa atau banua bagi orang Batak adalah tanah atau negeri.
Semenetara itu untuk ayah dan ibu dalam bahasa Minahasa adalah ‘ama’ dan ‘ina’,
Dalam hal ini bisa ditambahkan bahasa Sulu/k untuk ayah dan ibu adalah ‘ama’ dan
‘ina’ dan untuk kakek adalah ‘apu’ (yang dalam bahasa Batak di pnatai timur
Sumatra disebut ‘opung’). Dalam hubungan ini di Minahasa ada nama gunung
Empu/Ompu. Oleh karena itu nama gunung Kinabalu dan nama sungai Kinabatangan
berasal dari kata ‘ina’ atau ‘qinak’. Dalam bahasa tersebut tidak terdaftar
lagi kata ‘balu’ dan kata ‘batang’ tetapi masih terlestarikan sebagai nama
gunung dan nama sungai. Di dalam bahasa Batak di pantai timur Sumatra ‘balu’ masih
eksis sebagai ‘ibu yang kehilangan suami karena meninggal’ dan ‘batang’ diartikan
sebagai sungai.
Dari analisis di atas, tidak ada bukti-bukti
bahwa nama Kinabatangan maupun Kinabalu merujuk pada Cina atau China (karena
nama China sendiri masih terbilang baru sebagai sebutan bagi pelaut-pelaut
Eropa terutama Inggris). Nama ‘ina’ atau ‘qinak’ sebagai asli yang diartikan
sebagai ibu dan nama ‘batang dan ‘balu’ masih dapat ditelusuri pada
sumber-sumber bahasa awal yang masih relevan (bahkan hingga ini hari). Jauh
sebelum muncul peradaban Eropa dan peradaban China di wilayah Sabah dan sekitar
sudah eksis peradaban yang lebih awal yang berasal dari pantai timur Sumatra
(etnik Batak). Dalam sumber Portugis (Mendes Pinto, 1537) menyebut pasukan
Kerajaan Aroe Batak Kingdom di pnatai timur Sumatra ada yang berasal dari
Brunai dan Luzon.
Untuk sekadar menambahkan etnik-etnik di pulau Luzon bagian utara juga
merujuk pada peradaban Batak, yang mana disebut mantan Presiden Filipina,
Ferdinad Marcos beretnik Batak.
Kinabatangan diduga kuat
merujuk Kina (ibu=qinak=kina) dam Batangan (batang=sungai). Batangan sendiri di
wilayah Sandakan adalah nama tempat di daerah aliran sungai Kinabatangan di
arah hulu, sedangkan Kina atau Ina adalah nama gunung. Besar dugaan kampong
Batangan ini di masa lampau adalah muara sungai Kinabatangan di teluk
Sandakan/teluk St Anne Baai.
Nama gunung Kinabalu atau Inabalu di Sabah, juga
memiliki nama yang mirip dengan penamaan gunung di Sulawesi (Minahasa) yakni
gunung Empung (Ompung=kakek). Kemudian nama gunung di Halmahera nama gunung Ibu
(Ina) dan nama gunung di pulau Seram (Binaiya). Dalam hubungan ini nama gunung
Kinabalu juga bisa diartikan sebagai gabungan dari Ina dan Balu. Dalam bahasa
Batak bulu tidak hanya diartikan bambu tetapi juga tempat yang tinggi (bukit
atau gunung). Hal itulah mengapa ada nama gunung di Sulawesi seperti Bulu
Torompupu (Bulu Tor-Ompupu; dimana Tor dalam bahasa Batak adalah bukit/gunung
dan ompupu adalah kakek), Bulu Kandela, Buyu Balease dan Buyu Lumut
(bulu=buyu). Dalam hal ini nama Kinabalu bisa merujuk pada nama bulu, buyu atau
balu.
Pada saat sungai Kinabatangan
masih bermuara di kampong Batangan, sungai Kinabatangan sendiri masih sangat
pendek (tidak sepanjang sekarang). Kampong Batangan ini tidak terlalu jauh dari
gunung Kinabalu. Dalam hal ini pernamaan gunung Kinabalu dan sungai Kinabatangan
di masa lampau saling berkaitan. Yang jelas tidak ada bukti nama Kinabalu dan
nama Kinabatangan merujuk pada nama Cina. Sebaliknya penamaan nama gunung
Kinabalu dan sungai Kinabatangan merujuk pada pantai timur Sumatra (Batak).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


