*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Tidak
banyak jumlah kerajaan lama di pedalaman, sebaliknya begitu banyak terbentuk
kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir (pantai). Mengapa bisa begitu? Di wilayah
pedalaman awalnya bermula saru daratan, antara satu tempat dengan tempat lain
yang dihubungkan jalur perjalanan, dimana antara satu penduduk dengan penduduk
yang lain berinteraksi. Sebaliknya untuk mengakses wilayah pedalaman dapat
diakses dari berbagai arah angin dan berbagai teluk yang ada. Hal itulah
mengapa pada akhirnya terbentuk banyak kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir.

kerajaan-kerajaan yang catatannya diketahui, apakah dalam prasasti atau
bentuk-bentuk data yang lainnya. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain
Sriwijaya, Singhasari, Madjaphit, Malaka, Atjeh, Aru, Demak, Banten, Gowa,
Brunai dan Minangkabau. Diantara kerajaan yang disebut tersebut hanya tiga
kerajaan yang berada di pedalaman (Singhasari, Aru dan Minangkabau). Sebagai
kerajaan-kerajaan di pantai, memiliki kecenderungan mengembangkan perdagangan
menjadi jauh di lautan diantara daratan dan juga mengabadikan perdagangan
menjadi jauh ke pedalaman. Oleh karena itu, kerajaan-kerajaan di wilayah pantai
menjadi jauh lebih di kenal di manca negara (Eropa dan Tiongkok).
Lantas
bagaimana sejarah terbentuk kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir pantai?
Seperti disebut di atas, ada perbedaan wilayah pedalaman dan wilayah pantai
dimana terbentuk kerajaan-kerajaan di masa lampau. Lalu bagaimana sejarah terbentuk
kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir pantai? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Terbentuk Kerajaan-Kerajaan di
Wilayah Pesisir Pantai: Hubungan Bilateral dengan Kerajaan di Pedalaman
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kerajaan di Pedalaman: Ikut
Mendukung Kerajaan Pantai Lebih Besar, Tetapi Kerjaaan yang Menghancurkannya
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




