*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pejuang
bahasa Melayu kini tengah mendapat tempat untuk berjuang di Malaysia. Ini
sehubungan dengan reaksi cepat para pejuang bahasa di Malaysia ketika Perdana
Menteri Malaysia mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN di
Malaysia. Sementara di Indonesia tidak lagi heroik dalam memperjuangkan Bahasa
Indonesia, sebab sudah berjalan dengan baik dan benar yang akan menunggu Bahasa
Indonesia dijadikan sebagai bahasa di PBB. Para pejuang Indonesia yang heroik
itu sudah lama menunaikan tugasnya sejak era kolonial Hindia Belanda ketika
memperjuangkan Bahasa Indonesia dan juga memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

bakal dibentuk di Malaysia. Kuala Lumpur (ANTARA): Kementerian
Pendidikan Tinggi Malaysia telah mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk
Komite Pengembangan Bahasa Melayu Lembaga Pendidikan Tinggi (IPT) ASEAN sejalan
dengan aspirasi Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob agar bahasa Melayu
bermartabat di tingkat internasional. “Komite ini antara lain berperan merencanakan
pemetaan program kerja sama dalam berbagai kegiatan seperti penelitian,
pengembangan bahasa Melayu di Perguruan Tinggi di negara-negara ASEAN serta
program penerjemahan dan adaptasi karya ilmiah,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi
Malaysia, Dr Noraini Ahmad di Kuala Lumpur, Senin. Kementerian Pendidikan
Tinggi juga mengidentifikasi 19 universitas di Brunei Darussalam, Indonesia,
Singapura, Thailand, dan Filipina yang berpotensi mengadakan program kerja sama
dengan universitas lokal. Berkaitan dengan hal tersebut, ujar dia, Kementerian
Pendidikan Tinggi telah menunjuk Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) melalui
Institute of Malay Nature and Civilization (ATMA) sebagai sekretariat untuk
menginisiasi kerja sama strategis untuk mengembangkan aspek-aspek penting
peradaban Melayu ke tingkat internasional. “Dengan total sekitar 300 juta
penutur bahasa Melayu di negara induk bahasa Melayu dan di negara-negara ASEAN
lainnya yang memiliki komunitas berbahasa Melayu, program pengembangan bahasa
Melayu di Perguruan Tinggi di negara-negara ASEAN tersebut dapat meningkatkan
status dan peran bahasa Melayu lingua franca tetapi juga sebagai bahasa
pengetahuan dan bahasa nilai ekonomi di wilayah tersebut,” katanya.
Lantas
bagaimana sejarah pejuang bahasa di Malaysia? Seperti disebut di atas, di
Indonesia yang terkenal adalah Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Para pejuang
bahasa Bahasa Indonesia sudah lama berlalu pada era kolonial Hindia Belanda. Lain
lubuk lain pula belalangnya setiap era. Lalu bagaimana sejarah pejuang bahasa
di Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pejuang Bahasa di Malaysia,
Pejuang Kemerdekaan di Indonesia: Lain Lubuk Lain Belalang
Pada
tahun 1938 diadakan Kongres Bahasa Indonesia di Solo. Ketua panitia adalah Dr
Poerbatjarakan, seorang ahli yang mendapat gelar doktor dalam bidang bahasa dan
budaya di Leiden, Belanda 1922. Sementara yang menjadi pengarah, salah satu
diantaranya Sanoesi Pane, yang pernah studi sastra dan kebudayaan ke India pada
tahun 1928. Para panelis yang tampil dalam kongres empat hari itu antara lain
Amir Sjarifoeddin Harahap, Mohamad Jamin dan Mohamad Thabrani.
Presentasi materi diadakan pada hari kedua.
Yang pertama menyampaikan materi adalah Sanoesi Pane dengan makalah berjudul ‘Sejarah
Bahasa Indonesia’; Yang menyampaikan makalah lainnya antara lain Mohamad Jamin
dengan makalah berjudul ‘Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Kesatuan dan Bahasa
Budaya Indonesia’; Amir Sjarifoeddin Harahap makalah berjudul ‘Bahasa Indonesia
versus Bahasa Asing’; Mohamad Thabrani dengan makalah berjudul ‘Sosialisasi
Bahasa Indonesia Secara Cepat’ dan Soetan Takdir Alisjahbana dengan makalah
berjudul ‘Pembaruan Bahasa dan desain’ serta Sanoesi Pane (makalah kedua)
berjudul ‘Lembaga Bahasa Indonesia’. Pemakalah lainnya adalah Ki Hadjar
Dewantara, Ketua Pengurus Perdi (Persatoean Djoernalis Indonesia); Soekardjo
Wirjopranoto dan Soetan Pamoentjak. Yang juga turut dalam kongres sebagai
pembahasa antara lain Adinegoro (redaktur surat kabar Pewarta Deli di Medan)
dan Panangian Harahap (redaktur surat kabar Tjaja Timoer di Batavia).
Pemakalah
dalam Kongres Bahasa Indonesia di Solo tersebut adalah para pejuang-pejuang
revolusioner di jamannya. Amir Sjarifoeddin Harahap adalah bendahara Panitia
Kongres Pemoeda tahun 1928; Mohamad Jamin adalah sekretaris Panitia Kongres
Pemoeda tahun 1928 dan Mohamad Thabrani adalah ketua Panitia Kongres Pemoeda
tahun 1926. Mohamad Jamin dan Amir Sjarifoeddin Harahap yang sama-sama kuliah
di fakultas hukum (rechthoogeschool) kala itu, selain pelopor dalam gerakan
kepemudaan juga sebagai pengurus partai politik (Partai Nasional Indonesia-PNI)
serta Sanoesi Pane, seorang guru lulusan sekolah keguruan (Kweekschool) Batavia
yang turut aktif dalam Kongres Pemuda 1926 dan 1928. .
Mohamad Thabrani saat menjadi ketua Panitia
Kongres Bahasa Indonesia 1926 adalah seorang jurnalis yang menjadi redaktur
surat kabar berbahasa Melayu Hindia Baroe. Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1913
menjadi panitia rapat umum di Bandoeng yang kemudian selepas rapat umum bersama
Dr Tjipto Mangoekoesoemo dan Dr Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Pada tahun
1938 ini Ki Hadja Dewantara adalah salah tokoh pendidikan sebagai pendiri
Sekolah Taman Siswa. Soetan Pamoentjak pernah menjadi ketua Perhimpoenan
Mahasiswa Indonesia di Belanda. Sedangkan Soekardjo Wirjopranoto adalah seorang
yang pernah menjadi pegawai pemerintah lokal yang hingga 1938 masih menjabat
sebagai anggota dewan pusat (Volksraad). Panangian Harahap adalah salah satu
dari tujuh revolusioner yang berangkat ke Jepang tahun 1933 yang dipimpin
Parada Harahap (pemimpin surat kabar Bintang Timoer di Batavia). Mohamad Hatta
yang belum lama lulus studi di Belanda turut dalam rombongan tujuh revolusioner
ke Jepang.
Amir
Sjarifoeddin Harahap, Sanoesi Pane dan Mohamad Jamin cukup dekat dengan Ir
Soekarno (yang tahun 1938 pengasingannya dipindahkan dari Flores ke
Bengkoeloe). Setelah PNI dibubarkan 1930 dibentuk Partai Indonesia (Partindo)
yang mana Ir Soekarno sebagai pembina, sementara Amir Sjarifoeddin Harahap
sebagai ketua Partindo cabang Batavia; sedangkan Mohamad Jamin sebagai ketua
Partindo cabang Soerabaja. Meski Sanoesi Pane non-partai, tetapi memiliki
pergaulan yang luas diantara partai-partai yang ada. Pada saat Ir Soekarno
dipenjara di penjara Soekamiskin Bandoeng tahun 1933, hanya Sanoesi Pane yang
diizinkan Ir Soekarno untuk membezuknya. Sanoesi Pane adalah penasehat
kebudayaan Ir Soekarno.
Pada tahun 1938, Ir Soakrno dipindahkan
pengasingan dari Ender, Flores ke Bengkoeloe. Sedangkan Mohamad Hatta berada di
pengasingan di Bandanaira, yang mana sebelumnya diasingkan di Boven Digoel,
Papoea. Pada tahun 1938 dua junior mereka masing-masing mendirikan partai baru
(setelah Partindo dibubarkan). Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai ketua partai
Gerakan Indonesia (Geindo) dan Mohama Jamin ketua partai Persatoean Indonesia.
Sanoesi Pane tetap non partai tetap menjadi guru dan penulis (sastrawan). Semua
partai politik Indonesia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Singkat
kata, pada era pendudukan Jepang semua tahanan politik di era Pemerintah Hindia
belanda dibebaskan. Namun pada era pendudukan Jepang, Amir Sjarifoeddin Harahap
salah satu anti Jepang dijebloskan ke penjara terketa Jepang di Malang. Saat
mana Kerajaan Jepang menyerah kepada Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat,
segera kemerdekaaan Indonesia diproklamasikan yang dibacakan oleh Ir. Soekarno
yang didampingi Mohamad Hatta. Lalu keesokan harinya Ir Soekarno diangkat
menjadi Presiden Republik Indonesia dan Mohamad Hatta sebagai wakil presiden.
Untuk posisi Menteri Penerangan di kabinet dijabat oleh Amir Sjarifoeddin
Harahap (yang dijemput ke penjara Malang). Amir Sjarifoeddin Harahap juga
merangkap sebagai Menteri Pertahanan (Keamanan Ralyat). Sedangkan untuk posisi
Menteri Pendidikan adalah Ki Hadjar Dewantara.

ini tidak lama kemudian pasukan Inggris diizinkan pemerintah RI untuk
mengevakuasi militer Jepang keluar dari Indonesia. Namun menjadi masalah ketika
Belanda/NICA berada di belakang Inggris yang akan mengambilalih Indonesia.
Perang tidak terhindarkan. Para pejuang bangun dari tidur kembali dan kemudian
melakukan perlawanan kepada Belanda juga kepada Inggris yang masih membeckup
Belanda. Dalam situasi perang ini pemerintah RI pindah dari Djakarta ke
Djogjakarta bulan Januri 1946. Sementara itu di Singapoera, Penang dan
Semenanjung Malaya pasukan Inggris disambiu gembira oleh pemimpin dan penduduk.
Perang terus berlangsung mengusir semua penjajah (Inggris dan Belanda) di seluruh
Indonesia, sementara di Semenanjung Malaya aman-aman saja karena para pemimpin
Melayu (Sultan) bekerjasama berangkulan dengan penjajah Inggris. Penduduk
Semenanjung Malaya bersenang-senang dan para sultanya bersukaria. Itulah yang
terjadi di Semenanjung Malaya.
Namun
akhirnya perjuangan para pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan
Indonesia tercapai, dimana pada tanggal 27 Desember 1949 Kerajaan Belanda
mengakuan kedaulatan (bangsa) Indonesia. Namun bentuk pemerintah yang ada dalam
bentuk sarikat (RIS) dimana pengaruh Belanda masih ada. Akan tetapi dalam
setahun gerakan mengentaskan penjajah dan Presiden RI Ir Soekarno membubarkan
RIS dan kembali ke bentuk negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada
tanggal 17 Agustus 1950. Habis sudah pengaruh Belanda di Indonesia. Para
pemimpin Indonesia mulai dengan nyaman menata pembangunan dan pengembangan di
seluruh asepek kehidupan bangsa Indonesia. Satu yang penting dalam hal ini
diadakannya Kongres Bahasa Indonesia tahun 1954 yang diadakan di Medan.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pejuang Kemerdekaan di
Indonesia: Bahasa Indonesia Mempersatukan Bangsa Indonesia
Pada
tahun 1954 Inggris akan memberikan kemerdekaan kepada Semenanjung Malaya. Hal
itu setelah tekanan internasional (PBB) untuk mengentaskan penjajahan di muka
bumi. Panitia Kongres Bahasa Indonesia di Medan 1954 Madong Loebis tidak lupa
mengirim juga undangan kepada para pegiat bahasa di Semenanjung (termasuk
Penang dan Singapoera). Che’ Zaba seorang terkemuka bahasa Melayu di
Singapoera, sebelum undang diterima menyatakan tidak bisa hadir karena alasan
tertentu yang tidak bisa ditingglkan. Sementara para penulis dan sastrawan muda
Melayu di Semenajung langsung menyatakan kesediaan hadir dalam Kongres Bahasa
Indonesia di Medan. Mereka akan hadir tidak secara aktif hanya sebatas peninjau
(karena mereka tidak memiliki otoritas jika ada keputusan yang harus dijalankan
dari keputusan kongres, sementara otoritas pemerintahan masih di tangan
orang-orang Inggris). Tentulah para pemuda Melayu yang hadir telah dibekali
oleh Che’ Zaba (yang saat itu belum lama menjadi dosen di Universitas Malaya di
Singapoera).

ini cukup antusias datang, meski sebagai peninjau, tetapi sikap positif itu
harus dianggap sebagai bagian dari perjuangan muda untuk mencapai kemrdekaan
melalui bidang bahasa. Mereka yang masih muda ini dapat dikatakan layaknya para
pemuda di Indonesia pada tahun 1928 ketika menginisiasi dan melaksanakan
Kongres Pemuda yang menghasilkan tiga keputusan pebnting, yakni satu nusa, satu
bangsa dan satu bahasa: Indonesia. Dalam Kongres Bahasa Indonesia di Medan akan
turut dihadiri oleh Mohamad Jamin yang telah menjabat sebagai Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagaimana disebut di atas, Mohamad Jamin adalah
sekretaris pantitia Kongres Pemuda 1928 dan salah satu pembicara dalam Kongres
Bahasa Indonesia di Solo tahun 1938,
Golongan
muda Melayu dari Semenanjung Malaya yang turut hadir dalam Kongres Bahasa Indonesdia
di Medan 1954 haruslah kini dipandang sebagai pejuang bahasa Melayu terawal di
(negara) Malaysia. Sedangkan tokoh senior bahasa Melayu saat itu (mungkin hanya
satu-satunya) Che’ Zaba harus pula kini dianggap sebagai pejuang bahasa di
Malaysia.

diselenggarakan di Malaysia baru-baru ini, suatu simposium yang diselenggarakan
oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia mereaksi usulan PM Malaysia untuk
menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa di tingkat ASEAN, Para pejuang bahasa
Melayu di Malaysia hadir. Dari semua pembicara tak satu pun menyebut nama Che’
Zaba dan juga tidak menyinggung peran pemuda Melayu yang turut hadir dalam
Kongres Bahasa Indonesia di Medan 1954. Semua pembicara, dan juga para
moderator bersemangat dalam bersimposium dengan ego masing-masing. Nama Che’
Zaba tak diingatpun pula. Padahal Che’ Zaba adalah pejuang bahasa pertama
Malaysia.
Pada
tahun 1954 dapat dikatakan awal kesadaran bahasa Melayu di Semenanjung Malaya
(kini Malaysia). Sebagai awal, tentu saja harus dapat dikatakan para pejuangnya
belum matang, boleh jadi hanya satu-satunya Che’ Zaba. Namun yang sering
dilupakan saat ini, pada masa itu tahun 1954 menjelang kemerdekaan Federasi
Malaya, posisi bahasa Melayu yang akan dengan sendirinya menjadi bahasa resmi,
tampaknya tidak siap, tidak cukup orangnya dan juga tidak cukup dalam soal
linguistiknya (bandingkan di Indonesia jauh sebelum merdeka tahun 1945, dalam
Kongres Bahasa Indonesia tahun 1938, Bahasa Indonesia sudah sangat siap menjadi
bahasa resmi). Hal itulah mengapa Che’ Zaba datang ke Indonesia untuk mencari
guru-guru Bahasa Indonesia untuk ditempatkan di sekolah-sekolah di Federasi
Malaya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






