*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Gugus
pulau di utara Sumatra terdiri dari pulau Weh dan pulau Rondo (Aceh, Indonesia)
dan kepulauan Andaman dan kepulauan Nikobar (India). Gugus pulau-pulau ini terkesan
garis lurus dari ujung utara darata Aceh hingga ujung selatan Myanmar. Apakah
gugus pulau ini di masa lampau menjadi penghubung daratan Sumatra dan dararan
Burma (Myanmar)? Boleh jadi hal ini benar karena dalam sejarah populasi
terdapat orang Negroid di Andaman, Semenanjung Malaya dan pulau Jawa.

Andaman dan Nikobar (India) terdiri atas 2 kelompok, Kepulauan Andaman dan
Kepulauan Nikobar yang mana kepulauan Andaman membentang ke utara, dan
kepulauan Nikobar ke selatan. Ibu kota teritori ini ialah kota Port Blair di
Andaman. Terdapat lebih dari 570 pulau di kepulauan Andaman dan Nikobar dan 38
pulau di kepulauan tersebut dihuni. Kebanyakan kepulauan (sekitar 550) berada
dalam grup Andaman, 26 pulau dihuni. Kepulauan ini adalah puncak dari
pegunungan laut yang terbentang pada zona tektonik besar yang terbentang dari
Himalaya timur di perbatasan Myanmar sampai Sumatra dan Sunda Kecil. Fisiografi
kepulauan ini memiliki ciri-ciri topografi yang “berombak”. Bukti
arkeologi dapat menilik kembali keberadaan manusia hingga ke abad ke-2 SM,
tetapi hasil kajian genetik dan linguistik menunjukkan bahwa kepulauan ini
sudah dihuni 30.000 – 60.000 tahun yang lalu. Di kepulauan Andaman, bangsa
Andaman saat itu saling terpisah, sehingga bahasa dan budaya mereka juga
menjadi berbeda. Pada tahun 1850-an, penduduk asli yang berada di Andaman
adalah: Andaman Besar, yang memiliki 10 sub-grup dan bahasa; Jarawa, Jangil
(atau Jarawa Rutland), Onge, Sentinel (grup yang paling terpencil). Populasi
kelompok-kelompok tersebut pada masa kedatangan bangsa Eropa berkisar pada
angka 7.000 jiwa. Jumlah pendatang dari pulau utama meningkat, sehingga
penduduk asli kehilangan wilayah. Suku Jangil dan Andaman Besar segera punah
dan hanya tersisa kira-kira 400-450 jiwa. Terdapat dua kelompok utama: Suku
Nikobar, tinggal di banyak pulau; Shompen, terbatas terhadap Nikobar Besar.
Bahasa utama yang dituturkan di
Andaman dan Nikobar adalah Bahasa Bengali, Hindi, Tamil, Nikobar dan Telugu.
Bahasa lain termasuk Bahasa Malayalam dan Inggris. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Gugus pulau di utara Sumatra? Seperti disebut di atas, pulau-pulau
Weh dan pulau Rondo (Aceh, Indonesia) dan kepulauan Andaman dan kepulauan
Nikobar (India). Apakah pulau-pulau ini di masa lampau menjadi penghubung
daratan Sumatra dan dararan Burma (Myanmar)? Lalu bagaimana sejarah sejarah Gugus
pulau di utara Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Gugus Pulau di Utara Sumatra;
Andaman, Nikobar, Rondo dan Weh Era Semenanjung Sumatra
Dibanding,
wilayah lain di luar wilayah Nusantara (Indonesia), wilayah utara Sumatra (barat
laut Indonesia) tidak terlalu dikenal, kurang terinformasikan, jika dibandingkan
di wilayah timur laut (Semenanjung Malaya, Borneo Utara dan Filipina), di
wilayah selatan (pulau Kalapa, pulau Natal, barat dan utara benua Australia)
dan wilayah timur (Papua Nugini dan timur benua Australia). Wilayah utara Sumatra
hanya dikenal di Indonesia sebatas pulau Weh dan kemudian pulau Rondo (keduanya
masuk wilayah provinsi Aceh). Namun wilayah utara Sumatra juga ada kepulauan
Nikobar dan kepulauan Andaman yang dalam peta seakan gugus pulau yang
menguhubungkan pulau Sumatra dan daratan Burma).
Pada masa ini, peta yang dipersepsikan adalah
pulau Sumatra adalah pulau yang berdiri sendiri dari Semenanjung Malaya dan
pulau Jawa dan pulau-pulau di pantai barat Sumatra dan pulau-pulau di utara
Sumatra. Oleh karena dalam narasi sejarah yang ada, sejarah yang terjadi di
Sumatra dibedakan dengan sejarah pulau-pulau di pantai barat Sumatra dan
pulau-pulau di utara Sumatra. Dalam hal ini pulau Weh dan kota Banda Aceh (di
daratan Sumatra) bisa dibedakan.
Sejarah
tertulis dari pulau-pulau di utara Sumatra, terutama kepulauan Nikobar dan
kepulauan Andaman sudah ditemukan pada zaman lampau. Jika rute pelayaran zaman
kuno dari India. Arab dan Persia serta Eropa diikuti, yang berlayar dekat ke
pantai, sudah barang kepulauan tersebut lebih dulu dikenal sebelum kepulauan
nusantara (pulau Sumatra dan Jawa). Menurut laporan kuno, rute di sepanjang
pantai India dan semenanjung, yang terbawa angin dan arus, akan mengarah ke
Kepulauan Andaman dan Nicobar. Pulau-pulau ini disebutkan sejak awal sebagai
pulau telanjang dan pulau kelapa, yakni Narikela di Kathasaritsagara, Nadikera
di Manjuqrimulakalpa, Nalikera di Brhat-Samhita, Menurut Ptolomeus Bazakata dan
Na-lo-ki-lo oleh orang Tiongkok Huen-Thsang serta, Kia-lan dan Kie-lan oleh
orang Tiongkok lainnya. Ptolomeus menyebut nama Barousai dan Sabadeibai sebagai
pulau sebelum pantai timur pulau ini, serta tanah Batoi (= Batak) di Sumatera
Utara yang sekarang.

menyebuitkan adanya kanibalisme untuk Tanah Batak, yang mana Gerindi juga mengacu
pada Padaioi dari Herodofus (450 SM). Nicolo de ‘Conti menyebut Batech (=Batak).
Orang-orang yang sangat berkulit gelap ini, juga pemakan manusia, juga
disebutkan oleh orang-orang Arab. Kebanyakan dari mereka berpikir untuk
menempatkan tanah ini di Sumatera, seperti Ibrahim bin Wa$ïf Sah menyebut nama Ramni,
Edrisi menyebut nama Balus, Yakut menyebut nama Zabag, Sulaiman menyebut nama Andaman,
biasanya diambil untuk Kepulauan Andaman.
Dalam
peta semenanjung Aurea Chersonesus pada era Ptolomeus abad ke-2 diidentifikasi
beberapa nama tempat (kota) di Semenanjung Sumatra (Sumatra tampaknya dianggap
sebagai pulau yang bersatu dengan Burma yang dihubungkan kepulauan Nikobar dan
Andaman). Salah satu kota di sebelah utara diidentifikaso sebagai Tacola (boleh
jadi Akkola atau Angkola yang sekarang di pantai barat Sumatra di Tapanuli).
Berdasarkan peta Ptolomesus semenanjung Aurea
Chersonesus (abad ke-2) pulau Sumatra tersambung dengan Burma. Namun bisa jadi
bahwa pulau-pulau di kepulauan Nikobar dan Andaman sudah terpisah-pisah tetapi
saat itu masih luas dan tidak seramping yang sekarang (akibat abrasi jangka
panjang). Ptolomeus dalam hal ini menggambarkan Sumatra dan pulau-pulau secara
bulat meski ada dugaan bahwa dirinya mengetahui pulau-pulau Nikobar/Andaman
sebagai yang terpisah.
Namun
bagaimanapun, bahwa pulau Sumatra dan daratan Burma tersambung haruslah tetap
menjadi pertimbangan dalam zaman kuno masa yang jauh lebih awal sebelum era
Ptolomeus. Hal ini karena mengingat keberadaan penghuni pulau sebagai penduduk
yang terawal mendiami semenanjung (Sumatra). Hingga masa ini diketuhui bahwa
terdapat penduduk awal yang masih tersisa orang Negroid di Andaman dan di
Semenanjung Malaya (suku Semang). Dapat diduga pada dahulunya mereka bermigrasi
dari daratan Afrika.
Orang-orang Negroid juga pada masa kini
ditemukan di pulau-pulau Filipina. Bagaimana orang negroid di Filipina
terhubung dengan Semenanjung Malaya dan Andaman (juga Sumatra) juga dapat
dijelaskan keberadaan orang negroid di Jawa pada era Hindia Belanda. Seperti
halnya yang dapat dipikirkan bahwa pulau Sumatra terhubung dengan Burma melalui
Nikobar dan Andaman, maka hal serupa juga di masa lampau Semenanjung Malaya
terhubung dengan pulau-pulau selatan seperti Bintan, Batam. Lingga, Singkep,
Bangka dan Belitung yang kemudian terhubung dengan pulau Kalimantan yang
dihubungkan kepulauan Karimata yang pada gilirannya menjelaskan keberadaan
orang negroid di Filipina. Oleh karenanya keberdaan negroid di Jawa merupakan
jalur migrasi dari daratan Asia (Burma) melalui Andaman dan Nikobar terus ke
Jawa hingga ke Jawa (selat Sunda belum terbentuk).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Geomorfologi Andaman, Nikobar,
Rondo dan Weh Era Semenanjung Sumatra
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


