*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Relasi
wilayah Malaysia dengan wilayah Indonesia berbeda setiap era dalam kurun waktu
1.000 tahun. Namun ada satu masa yang aneh sejak kehadiran Inggris di
Nusantara. Orang di Malaysia sekarang ini merujuk pada sejarah kehadiran
Inggris. Sebaliknya orang di Indonesia merujuk pada sejarah kehadiran Belanda.
Dalam huibungannya (bahasa) Melayu dan (negara) Malaysia, di Malaysia kerap
muncul pertanyaan ‘mengapa Riau dan Kalimantan Barat tidak masuk Malaysia’.
Akan tetapi pertanyaan yang seharusnya adalah ‘mengapa Malaysia tidak masuk
Indonesia’.

sudah dikenal, dicatat, dipetakan sejak era Ptolomeus (abad ke-2). Sumatra
bagian utara sebagai sentra produk kamper dan emas dan jarak geografis yang
dekat dengan India/Arab/Eropa, perdagangan internasional memberi kemakmuran
bagi penduduk Sumatra bagian utara hingga terbentuknya kerajaan yang besar dan
kuat. Pada era pelabuhan Barus (di pantai barat Sumatra) dan pelabuhan Binanga
(di pantai timur Sumatra) terbentuk (kerajaan) Sriwijaya yang semakin meluas
hingga Sumatra bagian selatan (di Palembang) pada abad ke-7. Pada dekade inilah
terbentuk bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Sanskerta) di pantai timur Sumatra.
Pada abad ke-11 (kerajaan) Chola menyerang Kadaram di Malaya (Kedah) dan
kerajaan-kerajaan di Sumatra bagian utara. Pasca pendudukan Chola di selat
Malaka muncul kerajaan baru di Jawa, Singhasasi (abad ke-13) yang kemudian
(kerajaan) Madjapahit (abad ke-14). Pada era inilah bahasa Melayu yang telah
berkembang di pantai timur Sumatra melauas hingga Malaya. Pada abad ke-15
terbentuk (kerajaan) Malaka (merujuk pada nama Malaya). Kerajaan Malaka selalu
di bawah dominasi Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra (Padang Lawas).
Pelaut-pelaut Portugis menaklukkan Malaka tahun 1511 (lalu terbentuk Kerajaan
Djohor). Paralel di Jawa Kerajaan Demak menaklukkan Madjapahit, lalu terbentuk
Kerajaan Mataram (lihat lebih lanjut di bawah).
Lantas
bagaimana sejarah mengapa Malaysia tidak masuk Indonesia? Seperti disebut di
atas, pada masa ini muncul pertanyaan mengapa Riau dan Kalimantan Barat tidak
masuk Malaysia, tetapi pertanyaan yang seharunya adalah mengapa Malaysia tidak
masuk Indonesia. Sejarah adalah narasi fakta dan data. Lalu bagaimana sejarah mengapa
Malaysia tidak masuk Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Mengapa Malaysia Tidak Masuk
Indonesia? Malaka, Pernah Menjadi Bagian Hindia Belanda
Kehadiran Belanda di
Nusantara 1596 mengubah peta geopolitik. Setelah menaklukkan Portugis di Ambon,
Belanda mendirikan Batavia (VOC) tahun 1619. Saat mana Kerajaan Atjeh
berselisih dengan Malaka (Portugis) dan Djohor (Melayu), Kekuasaan Portigis di
nusantara harus berakhir tahun 1641.
VOC/Belanda menaklukkan Portugis di Malaka tahun 1641 dan
membangun pos perdagangan di Riau, pulau Bintan (hub perdagangan VOC Batavia,
Palembang, Riau dan Malaka). Sementara itu Banten masih menguasasi Lampung dan
Kalimantan Barat. Pertarungan pengaruh antara Belanda dan Inggris di Banten
pada akhirnya kekuasaan jatuh ke Belanda (termasuk Lampung dan Kalimantan
Barat). Hanya tinggal Atjeh yang masih indepnden antara Sabang hingga Merauke.
VOC/Belanda kecolongan di
Bengkulu dan jatuh ke Inggris (di India). Setelah terusir dari Amerika
(proklamsi kemerdekaan Amerika Serikay 1774), dengan modal Bengkulu, Inggris
dari India, membentuk koloni baru di Australia (VOC terusir dari Australia).
Selama penduduk Inggris yang singkat di Jawa (1811-1816), Inggris mendapatkan
Penang dan Singapoera untuk mengawal Malaka. Penyerahan kembali Nusantara
Inggris kepada Belanda, Inggris masih memiliki kaki di Bengkulu, Penang dan
Singapoera. Lalu terjadilah perjanjian Traktat London 1824 tukar guling
Bengkulu dan Malaka. Sejak inilah awal dimulai Malaysia tidak masuk Indonesia.
Pada fase berikutnya, orang Indonesia ingin mengusir
Belanda dari tanahnya Nusantara. Sepenuhnya baru terealisasi pada tahun 1949
(pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia). Orang Indonesia juga ingin
mengusir imperialis yang tersisa Inggris di Malaya, tetapi raja-raja di Malaya
tetap merangkul kaki Inggris. Presiden Indonesia Ir Soekarno marah besar dan
dengan didukung Filipina Indonesia melancarkan intimidasi apa yang disebut
Ganjang Malaysia tahun 1963. Pengaruh Belanda di Indonesia lenyap sama sekali,
namun di Malaysia masih hidup bahkan hingga ini hari. Bagai pepatah, Inggris
mengawali, Inggris tak mau mengakhiri. Itulah mengapa Malaysia tidak masuk
Indonesia, Hanya karena Inggris.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Mengapa Malaysia Tidak Masuk
Indonesia? Riau dan Kalimantan Barat
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





