*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Wilayah
negara pada masa kini tidak mengikuti hukum geometri, tetapi wilayah geografi
di masa lalu ditentukan oleh geopolitik. Hal itulah mengapa ada pulau-pulau
yang masuk wilayah Indonesia yang jauh dari geocentris seperti pulau Natuna
dekat Malaysia di Laut Cina Selatan dan pulau Miangas dekat Filipina di Laut
Sulawesi. Akan tetapi sebaliknya, ada pulau-pulau dekat perbatasan Indonesia
yang jauh dari geocentris India (pulau Nikobar), Tiongkok (pulau Spratly) dan
Australia (pulau Kalapa). Hal itu juga antara Filipina dengan Malaysia (Sulu)
dan Brunai (Palawan).

diantara Indonesia (Bintan, Riau) dan Malaysia (Johor, Semenanjung), Ada juga
wilayah Indonesia berbatasan di daratan seperti di Kalimantan (bagian barat
dengan Sarawak Malaysia dan bagian utara dengan Sabah Malaysia); di Papua
(berbatasan dengan negara Papua Nugini) dan di Timor (berbatasan dengan negara
Timor Leste). Wilayah negara khas lainnya adalah wilayah negara Brunai yang
berada di dalam (enclave) negara Malaysia (antara Sarawak dan Sabah). Jangan
lupa hal serupa juga dengan satu distrik negara Timor Lestee yakni Oecusse
berada di dalam enclave wilayah Indonesia di pulau Timor (provinsi Nusa
Tenggara Timur), Enclave Oecussem dan Brunai sebenarnya mirip dengan posisi
Singapoera terhadap Johor di Semenanjung. Last but bot least: di masa lampau
ada enclave yang telah dihapuskan yakni tukar guling Bengkulu di Sumatra
(Inggris) dan Malaka di Semenanjung (Belanda) yang disepakati dalam perjajian
Traktat Londo 1824.
Lantas
bagaimana sejarah wilayah negara di perbatasan, pulau jauh di mata teapi dekat di
hati? Seperti disebut di atas, ada pulau negara Indonesia dekat negara lain dan
sebaliknya ada negara lain yang pulaunya dekat Indonesia. Dalam hal ini
termasuk perihal Malaka vs Bengkulu di masa lampau dan distrik Oecusse Timor
pada masa kini. Lalu bagaimana sejarah wilayah negara di perbatasan, pulau jauh
di mata teapi dekat di hati? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Wilayah Negara di Perbatasan:
Pulau Jauh di Mata tetapi Dekat di Hati
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Wilayah Negara di Perbatasan: Malaka
vs Bengkulu di Masa Lampau dan Oecusse Timor Masa Kini
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




