*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Kemajuan
di Indonesia dan di Malaysia masing-masing mengalami pasang surut dalam
berbagai hal. Pasca Konfrontasi Indonesia-Malaysia (20 Januari 1963–11 Agustus
1966) hubungan kedua negara mulai dipulihkan. Indonesia mulai membangun,
demikian juga di Malaysia. Dalam situasi ini Melaysia mengalama ketertinggalan
dalam pendidikan sehingga harus mendatangkan guru dari Indonesia termasuk dua
guru saya di SMA (B Panjaitan guru Fisika dan Mangantar Siregar guru
matematika). Selama saya masih kuliah masih banyak mahasiswa asal Malaysia
diantarnya ada dua teman sekelas. Pada tahun 1985-1995 Malaysia melesat dalam
pembangunan yang dengan sendirinya pendidikan di Malaysia juga melesat sehingga
pada tahun 2000an berbalik mahasiswa Indonesia yang ke Malaysia dan kini
mahasiswa Malaysia berangsur-ansur mulai kembali ke Indonesia.

merujuk pada negara lain seperti Tiongkok, Cina dan Jerman, tetapi tidak pernah
(lagi) merujuk pada Indonesia; Akan tetapi jika yang bersifat negatif muncul di
Malaysia maka buntutnya akan melecut Indonesia. Sementara pendekatakan yang
digunakan di Indonesia adalah continuuous improvement, sebaliknya di Malaysia
kerap mengalami trade off. Baru-baru ini misalnya soal bahasa: Indonesia sejak
kemerdekaan meninggalkan aspek Belanda seperti bahasa ditinggalkan lalu bahasa
sendiri Bahasa Indonesia dibangun setahap demi setahap, sementara di Malaysia bahasa
Inggris diagung-agungkan namun memperburuk keadaan bahasa Melayu. Di Indonesia
mengusung persatuan mutlak dalam asimlasi, sedangkan di Malaysia dengan
intergrasi. Itu sedikit contoh perbedaaan Indonesia dan Malaysia pada masa ini
yang bermula dari masa lalu.
Lantas
bagaimana sejarah Indonesia versus Malaysia? Seperti disebut di atas, ketergantungan
negara Malaysia dengan (negara) asing, sementara Indonesia sebaliknya, yang
menyebabkan munculnya ketidaktergantungan antara kedua negara yang bahkan
memicu perseteruan dalam banyak hal. Lalu bagaimana sejarah Indonesia versus
Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Indonesia versus Malaysia:
Ketergantungan Negara dan Negara Persemakmuran Inggris
Pasang
surut Indonesia dan Malaysia sudah berlangsung sejak lama, itu dimulai pada
tahun 1824 perjanjian (traktat) London antara Kerajaan Belanda dan Kerajaan
Inggris di dimana diadakan tukar guling antara Bengkoeloe dan Malaka. Sejak itu
batas Pemerintah Hindia Belanda semakin kontras antara wilayah Indonesia dan
wilayah Malaysia (Semenanjung Malaya dan Singapoera). Singkat kata pendudukan
Jepang yang membungkam orang-orang Inggris di Semenanjung Malaya dan Singapoera
dan orang-orang Belanda di Indonesia (Hindia Belanda) harus berakhir pada
tanggal 14 Agustus 1945 yang mana pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir Soekarno
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Orang-orang di Malaya mengelukan
kehadiran Inggris, sementara di Indonesia mendapat penentangan di seluruh
Indonesia (tentu saja ada pihak-pihak yang mendabakan) kehadiran Belanda. Perang
kemrdekaan tidak terhindarkan hingga Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan
Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Tamat sudah kolonialisme di Indonesia
(sementara di Malaya dan Singapoera serta Sarawak dan Sabah serta Brunai masih
bercokol Inggris).
Pasca-perang,
Britania berencana menyatukan pengelolaan Malaya di bawah koloni mahkota
tunggal yang disebut Uni Malaya didirikan dengan mendapat tentangan keras dari
Suku Melayu, yang melawan upaya pelemahan penguasa Melayu dan mengizinkan
kewarganegaraan ganda kepada Tionghoa-Malaysia dan kaum imigran lainnya. Uni
Malaya, didirikan pada 1946 dan terdiri dari semua kepemilikan Britania di
Malaya, kecuali Singapura, dibubarkan pada 1948 dan diganti oleh Federasi
Malaya, yang mengembalikan pemerintahan sendiri para penguasa negeri-negeri
Malaya di bawah perlindungan Britania. Selama masa itu, pemberontakan di bawah
kepemimpinan Partai Komunis Malaya melaksanakan operasi gerilya yang
direncanakan untuk mengusir Britania dari Malaya dan peristiwa itu dikenal
dengan Darurat Malaya yang berlangsung sejak 1948. Federasi Malaya dalam hal
ini lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu adalah negara yang dibentuk
pada tahun 1948 dan terdiri dari dua pemukiman Britania: Penang dan Melaka
ditambah dengan sembilan negeri Melayu (masing-masing dipimpin oleh Sultan)
yang saat ini merupakan bagian dari Malaysia bagian barat.
(Wikipedia)
Sejak
pengakaun kedauatan Indonesia oleh Belanda, persekutuan yang dibentuk di
Semenanjung Malaya (1948) Federasi Malaya mendapat angin segar. Hubungan Malaya
dan Singapoera menjadi tampak intim. Upaya untuk mendapat kemerdekaan dari
Inggris terus digalang Federasi Malaya. Upaya mendapat kemerdekaan semakin
menggebu-gebu di Malaya, lebih-lebih setelah suksenya Konferensi Asia Afrika di
Bandoeng, Indonesia April 1955. Perdanama Menteri Federasi Malaya yang baru
terpilih Tengku Abdoel Rachma langsung menyenggol posisi Inggris di Singapoera
(lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
09-08-1955). Abdoel Rachman mengatakan: „Singapore voor Engeland een
strategisch eiland voor de verdediging i.s, en de onafhankelijkheid voor de
federatie zai worden uitgesteld indien wij er op uit zijn onszelven te
coördineren met de plannen van de arbeidersregering van de kolonie”.
Gesekan antara Malaya dan Singapura, pada saat
yang sama, Perdana Menteri Singapura, David Marshall, membantah artikel Straits
Times bahwa ia mengharapkan Singapura untuk tidak pernah mendapatkan
kemerdekaan penuh. ‘Tujuan saya dan oleh karena itu tujuan pemerintah saya
adalah untuk mencapai pemerintahan sendiri dan kemudian kemerdekaan’, kata Marshall.
‘Fakta bahwa sebagai Perdana Menteri yang bertanggung jawab saya menyadari
kesulitan-kesulitan khusus di jalan saya yang timbul dari kepentingan komersial
dan strategis internasional Singapura sama sekali tidak mengurangi tujuan kami
bahwa Singapura dapat dan akan memperoleh kemerdekaan’.
Pemerintah
Indonesia sendiri saat itu telah membuka Konsul Jenderal di Singapoera (yang
dipimpin oleh Dr H Kartowisastro). Untuk lebih mempererat dengan Indonesia,
dalam upaya untuk mendapatkan kemerdekaan dari Inggris, Perdana Menteri T
Abdoel Rachman segera akan ke Djakarta. Surat kabar Indonesia berpengaruh,
Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis langsung menyambut berita rencana
kedatangan T Abdoel Rachman.
De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 11-11-1955: ‘Indonesia
Raya. Dalam sebuah editorial, ‘Indonesia Raya’ menyambut Perdana Menteri Federasi Malaya,
Tcngku Abdul Rachman, yang akan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia, dan
mencatat bahwa rakyat Indonesia dan Malaya berasal dari ras yang sama. Tengku
Abdul Oleh karena itu, Rachman dapat sepenuhnya mengandalkan simpati rakyat
Indonesia dengan keinginan rakyat Malaya untuk menjadi rakyat yang merdeka dan
berdaulat dalam jangka pendek’.
Menteri Tengku Abdoel Rachman akhirnya tiba di Indonesia. Kunjungan Rachman
tidak hanya sebagai kunjungan pertama ke luar negeri sejak terpilih, Abdoel
Rachman juga di Indonesia manandatangani kerjasama. Kunjungan Perdana Menteri
Federasi Malaya di Indonesia dapat dikatakan sukses.
De nieuwsgier, 15-11-1955: ‘Indonesia dan
Malaya tandatangani perjanjian kerjasama ekonomi dan budaya oleh Abdul Rachman:
Orang Indonesia, meskipun tidak dalam kemewahan, tampak bahagia penandatanganan
pernyataan bersama Indonesia dan Federasi Malaysia berlangsung dalam upacara
singkat di Kementerian Luar Negeri Senin pagi. Menteri Anak Agung menandatangani
atas nama pemerintah Indonesia dan Tengku Abdul Rahman, Perdana Menteri
Federasi Malaysia atas nama pemerintahnya. Dari pihak Indonesia antara lain
hadir para Menteri Pendidikan dan Mentero Informasi. Berturut-turut, Menteri
Anak Agung, Menteri Sjamsuddin St Makmur dan Perdana Menteri Malaysia Tengku
Abdul Rahman berbicara. Deklarasi tersebut menyangkut kerjasama kedua negara di
bidang ekonomi, pertanian, pendidikan dan kebudayaan. Menteri Anak Agung
meyakinkan delegasi Malaysia bahwa Indonesia mendukung penuh upaya Malaya untuk
meraih kemerdekaan. Konsul Jenderal (Indonesia) di Singapura untuk mengurus
hal-hal yang diperlukan, menurut Anak Agung. Menteri Penerangan, Sjamsuddin St.
Makmur, menyerahkan kepada Tengku Abdul Raiiman beberapa film tentang kunjungan
Presiden Soekarno ke Mekah, album foto tentang Konferensi AA, dan buku-buku
serta foto-foto yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia
menyatakan bahwa kunjungan misi niat baik telah membuka jalan bagi hubungan
yang lebih baik antara Malaya dan Indonesia. Sebagai hasil dari diskusi antara
misi dan pemerintah Indonesia, pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk
mengangkat Konsulat di Kuala Lumpur menjadi Konsulat Jenderal sebagai bentuk
apresiasi’.
Lantas
mengapa Perdana Menteri Federasi Malaya Abdul Rachman tidak bertemu dengan
Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno? Tentu saja Abdoel Rachman tidak setara
dengan Ir Soekarno dalam tingkat pemerintahan. Ir Soekarno adalah kepala
negara, sedangkan Abdoel Rachman hanyalah pemimpin pemerintahan suatu federasi
(Federasi Malaya), belum menjadi negara (merdeka). Yang setara dengan Abdoel
Rachman adalah Perdana Menteri Republik Indonesia adalah Mr. Boehanoeddin
Harahap dan juga Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (karena Abdoel Rachman
juga merangkap Menteri Luar Negeri)..

dari Sumatra banyak di Semenanjung Malaya, orang-orang Semenanjung Malaya juga
banyak di Indonesia. Dalam hubungannya dengan upaya mendapatkan kemerdekaan, di
Jakarta sudah dibentuk Di Indonesia sudah ada Gerakan
Malaya Merdeka yang dipimpin oleh Ibrahim Yacob yang berkududukan di Djakarta
(lihat De nieuwsgier, 08-11-1955). Di Djakarta juga terdapat organisasi Pemoeda
Malaya. Dalam kunjungan PM T Abdoel Rachman ke Djakarta menyempatkan berbicara
di hadapan Pemoeda Malaya (Perikatan Pemuda Malaya Diluar Tanah Air) yang
diadakan di Gedung Pertemuan Urnurn Djakarta (lihat Java-bode : nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-11-1955 ). Juga
disebutkan di Jakarta diadakan resepsi yang diadakan di Hotel de Indies yang
juga turut dihadiri Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap. Foto: Abdoel Rachman
(kiri) dan Boerhanoeddin Harahap (kanan).
Sebagai
tindak lanjut perjanjian yang ditandatangani PM Federasi Malaya T Abdoel
Rachman, tidak lama kemudian Kamar Dagang dan Indoestri Indonesia (kini KADIN) membentuk
seksi (cabang( di Malaya dengan nama Seksi Pan Malaya (lihat Java-bode :
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-01-1956).
Dalam bidang budaya, Persekutuan Bahasa Malaya
University Malaya telah membentuk sebuah komite untuk menyamakan bahasa Melayu
dan bahasa Indonesia. Ketua “Jawatan Kuasa Menyamakan Bahasa Melayu dan Bahasa
Indonesia” ini adalah Abdul Aziz. Subbagian panitiaini sibuk mencari cara
untuk “menyamakan atau mendekatkan Melayu Semenanjung dan Indonesia”.
Persekutuan akan menerbitkan edisi pertama majalah triwulanan pada akhir bulan
ini. Jika Anda ingin informasi lebih lanjut tentang inisiatif Malaysia ini,
Anda dapat menghubungi di Indonesia A Ed Schmidgall Tellings, di Jalan Indramajoe
18, Djakarta, dan di Singapura kepada Moh. Bin Hajl Abdullah, Persekutuan Bahasa
Melayu University Malaya, College Green, Singapore-11’.
Dalam
kunjungan PM Abdoel Rachman ke Djakarta dan perjanjian yang ditandatangani juga
termasuk budang pendidikan dan kebudayaan yang kemudian ditindaklanjuti Persekutuan
Bahasa Malaya University Malaya telah membentuk sebuah komite untuk menyamakan
bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang mana ketua “Jawatan Kuasa Menyamakan
Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia” adalah Abdul Aziz.
Kerjasama pendidikan ini tampaknya strategis
mengingat di wilayah Federasi Malaya (Semenanjung Malaya) yang beribukoya di
Koealaloempoer belum ada universitas. Universitas Malaya sebagai satu-satunya
universitas berada di Singapoera. Keberadaan Universitas Malaya ini paling
tidak sudah diketahui pada tahun 1951 dengan tenaga dosen yang umumnya orang
Inggris, India dan Cina (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 15-12-1951).
Rektor Universiti Malaya di Singapoera adalah seorang Belanda Dr PE de Josselin
de Jong. putra
dari sinolog terkenal THJ de Josselin de Jong. Pada bulan Mei 1956 diberitakan Dr
PE de Josselin de Jong akan menyelesaikan tugasnya sebagai rektor Universitas
Malaya dan akan menjadi guru besar di Universiteit te Leiden (lihat Het
vaderland, 18-05-1956).
dan bahasa Indonesia, juga komite untuk menyamakan bahasa Melayu dan bahasa
Indonesia yang akan ke Indonesia momentumnya tepat. Hal ini karena Kongres
Bahasa Indonesia belum lama dilaksanakan di Medan pada tahun 1954. Disamping
itu juga pada bulan Mei 1956 akan diadakan Konferenasi Mahasiswa Asia Afrika
yang akan diadakan di Bandoeng (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-05-1956). Tindak lanjut lainnya
adalah Abdul Aziz dan Zainal Abidin telah berada di Jogjakarta untuk mencari
guru dan dosen Bahasa Indonesia untuk ditempatkan di Malaya dan Universitas
Melaya (lihat De nieuwsgier, 28-06-1956). Kehadiran mereka di Jogjakarta saat sedang
dan turut menghadiri seminar sains dan budaya di Universitas Gadjah Mada di
Jogjakarta.
Pada
tanggal 3 Juli 1905, atas inisiatif Tan Jiak Kim, sekolah kedokteran pertama di
Singapura berdiri dengan nama Straits and Federated Malay States Government
Medical School. Tahun 1912, sekolah ini menerima donasi sebesar $120.000 dari
King Edward VII Memorial Fund, diikuti dengan perubahan nama sekolah menjadi
King Edward VII Medical School dan akhirnya King Edward VII College of Medicine
tahun 1921. Pada tahun 1929, Raffles College didirikan untuk menggalakkan ilmu
sosial di kalangan mahasiswa. Dua dekade setelahnya, tepatnya pada 8 Oktober
1949, Raffles College bergabung dengan King Edward VII College of Medicine
menjadi Universitas Malaya. Tahun 1959, Universitas Malaya dipecah menjadi dua
divisi, Universitas Malaya di Kuala Lumpur dan Universitas Malaya di Singapura.
Divisi Singapura akhirnya menjadi Universitas Singapura pada 1962. Universitas
Nasional Singapura sekarang merupakan hasil penggabungan Universitas Singapura
dan Nanyang University pada 1980. (Wikipedia). Oleh karena itu Universitas
Nasional Singapoera (NUS) di Singapoera dan Universitas Malaya sama-sama
merujuk tahun kelahiran pada tahun 1905. Sementara itu di Batavia didirikan
sekolah kedokteran pada tahun 1851 yang juga dijadikan sebagai tahun kelahiran
Inoversitas Indonesia.
Sementara
itu di Indonesia jumlah universitas sudah cukup banyak. Untuk universitas
negeri sudah ada Universitas Indonesia di Djakarta (dengan cabangnya di
Djakarta, Bogor dan Bandoeng), Univertsitas Gajah Mada di Jogjakarta,
Universitas Airlangga di Soerabaya, Universitas, Universitas Andalas di Padang,
Universitas Hasanoeddin di Makassar dan Universitas Sumatra Utara di Medan. Ini
mengindikasikasi bahwa di Indonesia sudah cukup banyak dosen-dosen yang
bergelar doktor dengan jabatan profesor. Hal inilah yang menjadi peluang bagi
Federasi Malaya untuk mengambil manfaat dalam bentuk kerjasama pendidikan dan
budaya tersebut.
Indische courant voor Nederland, 23-05-1957: ‘
Mahasiswa Malaysia ke Indonesia. Rombongan 35 mahasiswa asal Malaya akan
berkunjung ke Indonesia pada pertengahan Juni mendatang. Para mahasiswa yang
tergabung dalam “Persatuan Bahasa Malayu University Malaya” ini akan
mempelajari bahasa, budaya dan seni Indonesia di negeri ini. Selain itu, mereka
juga akan mengenal sistem pendidikan dasar, menengah dan tinggi, administrasi
negara, kondisi ekonomi dan sosial umum dan struktur desa. Para mahasiswa yang
akan berkunjung ke Djakarta, Bogor, Bandoeug, Jogjakarta, Soerabaya, Bali dan
Medan selama tiga minggu ini telah diundang oleh Kemendikbud dan akan
didampingi dalam perjalanannya oleh anggota Senat Universitas Indonesia’.
Pada
saat Malaysia telah intens mengupayakan kemerdekaan, di dalam negeri juga
terjadi kekacauan dimana gerakan komunis juga memiliki agenda sendiri. Dalam
situasi ini militer Inggris mengambil bagian dalam meredam
pemberontakan-pemberontakan yang terjadi. Sebagai perdana Menteri, setelah
mendapat dukungan yang luas di Indonesia T Abdoel Rachman juga mulai
melancarkan berbagai strategi politik negaranya jika telah mendapatkan
kemerdekaan.
Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-05-1956”
‘Malaka Merdeka tetap netral. Perdana Menteri Federasi Malaya, Tengku Abdul
Rahman, pada hari Kamis mengisyaratkan bahwa Malaya yang merdeka dapat tetap
netral dalam politik kekuasaan Timur-Barat. Berbicara di Kuala Lumpur pada
kesempatan ulang tahun kesepuluh Organisasi Nasional Persatuan Malaya, Perdana
Menteri menyatakan: “Kami akan bekerja untuk perdamaian dunia dipandu oleh
semangat Konferensi Bandoeng. Politik kita di Malaya yang merdeka akan bebas
dari pengaruh apapun, kita tidak akan tergoda atau dipaksa untuk merumuskan
politik dalam dan luar negeri. Kami tidak akan mengadakan perjanjian dengan negara
lain hanya untuk menguntungkan mereka. Jika kita melakukan ini, itu akan
bermanfaat bagi kita dan untuk kepentingan perdamaian dunia,” kata Tengku
Abdul Rahman’.
Diaspoera Malaya juga mengambil bagian dalam perjuangan di Malaya dari
Indonesia. Di Djakarta telah diterbitkan surat kabar Suara Malaya Merdeka yang
oplahnya beredar diantara orang Malaya di Indonesia dan sasaran pembaca di
Malaya dan Singapoera. Surat kabar Suara Malaya Merdeka sempat dilarang beredar
di wilayah otoritas Singapoera (lihat Algemeen Indisch dagblad, 02-01-1957). Dalam hal ini Malaya (semenanjung) adalah nama
wilayah geografis (tanah air), sedangkan Melayu adalah nama bangsa. Pada tahun
ini di Djakarta diterbitkan buku berjudul Anak Melayu di Indonesia yang disusun
oleh Perikatan Pemuda Melayu di luar Tanah Air (243 halaman). Tentu saja di
Indonesia ada (suku) bangsa Melayu seperti di Riau dan pantai timur Sumatra,
tetapi mereka adalah bangsa Indonesia.
Dalam konteks inilah kemudian kemerdekaan
untuk Federasi Malaya diberikan dalam bingkai Persemakmuran Inggris yang akan
diadakan pada 31 Agustus 1957. Sehari
sebelum kemerdekaan diproklamasikan di Malaya, di Indonesia Kepala Staf
Angkatan Perang Indonesia Mayor Jenderap Abdoel Haris Nasoetion mengeluarkan instruksi
untuk semua badan resmi, pada 31 Agustus dilakukan penaikan bendara Merah Putih
sehubungan dengan perayaan Deklarasi Kemerdekaan Malaya, sebagai tanda baik.
Masyarakat pun dihimbau untuk berbagi keceriaan Orang Melayu dengan membantu
mengibarkan bendera.
Berita
kemerdekaan (federasi) Malaya disampiakan oleh surat kabar yang terbit di Medan
Het nieuwsblad voor Sumatra, 31-08-1957. Disebutkan pagi ini pukul sembilan,
Federasi Malaya diproklamasikan sebagai negara merdeka di Stadion Merdeka Kuala
Lumpur setelah Duke of Gloucester menyerahkan simbol kekuasaan kepada Tengku Abdul
Rahman, Perdana Menteri Federasi Malaya telah diserahterimakan, Karena hujan
deras, upacara harus ditunda selama satu jam, yang semula akan berlangsung pada
pukul delapan. HM Sir Abdul Rahman. terpilih sebagai kepala negara Malaya,
kemudian mengangkat kabinet Perdana Menteri Tengku Aociui Rahman. Sir Abdul
Rahman, mantan Sultan Negeri Sëmbilan, akan dilantik sebagai Yang Di-Pertuan
Agong (Kepala Negara) pertama Federasi Malaysia pada Senin.
Juga disebutkan lambang negara Federasi Melaya
independen adalah perisai yang dibawa oleh ‘dua harimau. Di atas tameng ada
bintang “Malaya” dengan bulan sabit. Prasasti pada lambang ini
berbunyi kesatuan adalah kekuatan, yang prasasti di bawah perisai dalam tulisan
Inggris dan Melayu dan Arab. Bendera Federasi Malaysia adalah segi empat.
Sebelas garis itu bergantian merah dan putih, sedangkan setengah emas dan
bintang dengan sebelas segmen berada di bidang biru. Kesebelas garis dan
bintang dengan sebelas segmen menunjukkan jumlah negara bagian (sembilan
kesultanan dan dua negara bagian). Tengku Abdul Rahman adalah adik Sultan
Kedah, mantan Perdana Menteri Federasi Malaya, sekarang menjadi Perdana Menteri
Malaya yang merdeka. Tadi malam dia diberi gelar ‘Bapak Negara Malaya’ oleh
orang Melayu.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Indonesia versus Malaysia: Ketidaktergantungan
Antara Kedua Negara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



