*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Semua
wilayah di muka bumi, yang kemudian memiliki penduduk telah terbagi habis dalam
wilayah-wilayah kerajaan yang awalnya lalu menjadi negara-negara. Dalam hal ini
semua kerajaan menjadi suatu negara atau bagian dari suatu negara (yang kini
tergabung dalam wadah PBB). Bagaimana tempo doeloe? Umumnya yang ada adalah
mornarki dan oligarki. Apakah kerajaan-kerajaan ada yang membentuk federasi?
Dalam hal ini secara khusus bagaimana dengan di wilayah Nusantara?

dari bahasa Belanda, federatie dan berasal dari bahasa Latin; foeduratio yang
artinya “perjanjian”. Federasi pertama dari arti ini adalah “perjanjian”
daripada Kerajaan Romawi dengan suku bangsa Jerman yang lalu menetap di
provinsi Belgia, kira-kira pada abad ke 4 Masehi. Kala itu, mereka berjanji
untuk tidak memerangi sesama, tetapi untuk bekerja sama saja. Di Malaysia,
bentuk pemerintahan ini dikenal dengan istilah Persekutuan. Pada saat ini,
sebuah federasi dikatakan sebagai sebuah bentuk pemerintahan yang beberapa
negara bagian bekerja sama dan membentuk kesatuan yang disebut negara federal.
Masing-masing negara bagian memiliki beberapa otonomi khusus dan pemerintahan
pusat mengatur beberapa urusan yang dianggap nasional. Dalam sebuah federasi
setiap negara bagian biasanya memiliki otonomi yang tinggi dan bisa mengatur
pemerintahan dengan cukup bebas. Ini berbeda dengan sebuah negara kesatuan,
yang biasanya hanya ada provinsi saja. Kelebihan sebuah negara kesatuan, ialah
adanya keseragaman antar semua provinsi. Federasi mungkin multi-etnik, atau
melingkup wilayah yang luas dari sebuah wilayah, meskipun keduanya bukan suatu
keharusan. Federasi biasanya ditemukan dalam sebuah persetujuan awal antara
beberapa negara bagian “berdaulat”. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah bentuk federasi kerajaan di Sumatra tempo doeloe? Seperti
disebut di atas, pada masa kini ada kerajaan-kerajaan yang membentuk federasi
dan juga ada negara-negara yang membentuk federasi. Lalu bagaimana sejarah bentuk
federasi kerajaan di Sumatra tempo doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Bentuk Federasi Kerajaan di
Sumatra Tempo Doeloe: Monarki dan Oligarki
Pada
artikel sebelumnya, pada masa lampau ada indikasi ada perbedaan bentuk (sistem)
pemerintahan di Jawa dan Sumatra. Dalam teks prasasti Sojomerto, bentuk
pemerintahan bersifat monarki (absolut) dimana raja (Kerajaan Mataram Kuno) yang
berkuasa adalah Dapunta Seilendra. Sedangkan di Sumatra Kerajaan Sriwijaya
bersifat federatif, paling tidak ada dua nama raja disebut dalam menjalankan
pemerintahan yakni Dapunta Hyang Naik (prasasti Kedoekan Boekit 682 M) dan
Dapuntra Hyang Srijayanaga (prasasti Talang Tuwo 684 M). Wilayah yurisdiksi
(kerajaan) Sriwijaya saat itu begitu luas (pantai timut Sumatra bagian utara di
Binanga dan pantai timur Sumatra bagian selatan di Palembang).
Bentuk pemerintahan di Jawa, pasca Dinasti
(wangsa) Seilendra di pedalaman Jawa bagian tengah (Mataram Kuno) telah
berhasil membangun candi besar (candi Boronudur). Bentuk pemerintahan yang
kurang lebih sama juga muncul pada kerajaan-kerajaan (suksesi) nerikut seperti kerajaan-kerajaan
di Jawa bagian timir seperti Kerajaan Kediri, Kerajaan Singhasari (salah satu
raja terkenalnya Kertanegara) dan Kerajaan Madjapahit (salah satu rajanya yang
terkenal Hayam Wuruk). .
Bentuk
pemerintahan (kerajaan) Sriwijaya masih bersifat federatif hingga riga abad
kemudian. Hal ini terindikasika dalam teks prasasti Tanjore (1030 M). Dalam
prasasti ini wilayah (kerajaan) Sriwijaya diantaranya masih meliputi pantai
timur Sumatra bagian utara (Binanga dan sekitar) dan pantai timur Sumatra
bagian selatan (Palembang atau Djambi) dan pantai barat Semenanjung Malaya
(Kadaram dan sekitar). Dalam prasasti ini disebutkan Kerajaan Chola (India
selatan) menaklukkan Kerajaan Sriwijaya (Sumatra).
Pada era Kerajaan Singhasari di Jawa, di
Sumatra federasi kerajaan (Sriwijaya) tampaknya telah pecah yang mana Sriwijaya
di Sumatra bagian selatan berdiri sendiri (sementara Sriwijaya Sumatra bagian
utara dan Semenanjung Malaya bagian barat masih bersatu). Pada saat Kertanegara
berkuasa, Kerajaan Singhasari menyerang Sumatra bagian selatan (Palembang) dan
membentuk pusat kerajaan di Djambi (Darmasraja). Kerajaan Sriwijaya Palembang
tamat dan kerajaan Darmasraja eksis. Dalam hubungan ini Kerajaan Singhasari
menjalin kerjasama yang erat dengan kerajaan di Sumatra bagian utara. Menurut
Schnitger (1936) ada satu candi di Singhasari mirip dengan candi-candi di
Padang Lawas (Sumatra bagian utara). Tidak hanya dari bentuk candi, Schnitger
juga menyimpulkan Kertanegara juga telah mendukung (agama) Budha Batak (Bhirawa)
dimana pada saat itu di Jawa pengaruh Hindoe begitu kuat (Kediri). Boleh jadi
karena perbedaan agama ini yang menyebabkan Singhasari runtuh (Kertanegara
tewas) dengan timbulnya (kerajaan) Madjapahit yang Hindoe.
Pasca
penaklukan/pendudukan Chola (hampir satu abad) kerajaan-kerajaan di Sumatra
bangkit kembali. Saat kembangkitan inilah federasi kerajaan di pantai timur
Sumatra dan pantai barat Semenanjung, kerajaan-kerajaan (federasi) di Sumatra
bagian selatan dihukum Singhasari yang telah bekerjasama dengan
kerajaan-kerajaan federasi di Sumatra bagian utara (Padang Lawas). Pada fase
ini kerajaan di daerah aliran sungai Musi mati suri, sementara muncul kekuatan
baru di daerah aliran sungai Batanghari dan kerajaan di daerah aliran sungai
Baroemoen (Padang Lawas) tetap eksis.
Runtuhnya Kerajaan Singhasari di Jawa yang
digantikan Kerajaan Madjapahit, maka tidak hanya Singhasari yang ditaklukkan,
juga Madjapahit berambisi mengambil alih eks Singhasari di Palembang dan
menghukum Batanghari dan Barioemoen yang dipimpin oleh patihnya yang terkenal
Gajah Mada pada era raja Hayam Wuruk. Ekspedisi Madjapahit ke Sumatra diduga
yang menjebabkan pusat kerajaan di daerah Batanghari bergeser ke pedalaman
(terbentuk Pagaroejoeng) dan kerajaan di daerah aliran sungai Baroemoen
bergeser ke utara (Simalungun atau Gayo). Madjapahit berkuasa penuh di
Semenanjung dengan kedudukan di pulau Tumasek (kini pulau Singapoera)..
Pada
era Singhasati dan Madjapahit kerajaan-kerajaan di Sumatra bagian utara masih
mengindikasikan pemerintahan yang bersifat federatif (sementara di daerah
aliran sungai Batanghari) sudah bersifat mornarki (absolut) seperti di Jawa dengan
rajanya yang terkenal Adityawarman. Kerajaan yang terbnetuk di Semenanjung juga
sudah berbentuk monarki. Tampaknya bentuk federatif yang bertahan hanya di
Sumatra bagian utara.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bentuk Federasi Modern: Persekutuan
Kerajaan hingga Negara Serikat
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




