*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Peta
bumi tidak dibangun satu malam, tetapi ratusan tahun dan bahkan ribuan tahun.
Demikian juga peta Indonesia tidak dibangun semalam, tetapi ratusan tahun.
Membandingkan peta bumi Indonesia masa kini dengan tiga atau empat abad yang
lalu anda pasti tercengan. Mengapa? Pengetahuan hanya berdasarkan peta masa
kini. Sesungguhnya dengan mempelajari peta-peta Indonesia dari masa ke masa
secara cermat, peta bumi Indonesia masa kini berbeda dengan rupa bumi Indonesia
masa lampau.

ilmu geografi. Namun kini, tentu saja sudah berbeda. Dalam laman Wikipedia
disebutkan: Geografi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hubungan, persamaan, dan perbedaan antarruang di Bumi.
Pusat kajian geografi adalah hubungan manusia dan lingkungannya. Secara umum,
geografi terbagi menjadi dua cabang keilmuan yaitu geografi fisik dan geografi manusia.
Setelah tahun 1945, geografi lebih diarahkan ke ilmu sosial dan mengutamakan
kajian tentang geografi manusia. Geografi memiliki konsep-konsep penting yang
digunakan untuk memahami hubungan, bentuk, dan fungsi peristiwa alam dan
peristiwa sosial. Ilmu kebumian atau geosains (earth science, geoscience)
adalah suatu istilah untuk kumpulan cabang-cabang ilmu yang mempelajari bumi.
Cabang ilmu ini menggunakan gabungan ilmu fisika, geografi, matematika, kimia,
dan biologi untuk membentuk suatu pengertian kuantitatif dari model
lapisan-lapisan Bumi. Dalam melaksanakan kajiannya, ilmuwan dalam bidang ini
menggunakan metode ilmiah, yaitu formulasi hipotesis melalui pengamatan dan
pengumpulan data mengenai fenomena alam yang dilanjutkan dengan pengujian hipotesis-hipotesis
tersebut. Dalam ilmu Bumi, peranan data sangat penting dalam menguji dan
membentuk suatu hipotesis. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah peta bumi tidak disusun semalam dan peta Indonesia wujud beratus
tahun? Seperti disebut di atas, ilmu bumi telah bergeser pengertiannya dan ilmu
bumi hanya dikhususkan pada bidang geografinya saja (horizontal). Dalam
hubungan ini ilmu bumi dan ilmu geografi sudah sangat berbeda jauh antara era
peta Ptolomeus dan era satelit Googlemap. Lalu bagaimana sejarah peta bumi tidak
disusun semalam dan peta Indonesia wujud beratus tahun? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Peta Bumi Tidak Disusun
Semalam, Peta Indonesia Wujud Beratus Tahun; Peta Datar Ptolomeus vs Peta
Satelit Googlemap
Pembuatan
peta adalah seiring dengan perjalanan panjang peradaban manusia itu serndiri.
Tingkat pencapaian tertinggi dalam peradavan manusia tentang pembuatan peta
baru terjadf masa kini dengan adanya (peta) satelit (seperti googlemap). Tidak
terbayangkan pada era Ptolomeus, sekalipun suatu saat nanti di masa depan, ada
cara canggih untuk mengganmbatkan peta permukaan bumi seperti peta googlemap.

di zaman era teknologi informasi zaman Now, menggunakan teknologi informasi
baru untuk merekam kembali wujud bentuk muka bumi pada era zaman Ptolomeus?
Tentu saja untuk itu ada yang syarat yang harus memenuhi, apakah ada objek lain
di tata surya kita yang telah menyimpan rekaman potret muka bumi dari waktu ke
waktu. Okelah, jika tidak ada itu, lantas apakah teknologi lain dapat memetakan
bumi kita saat ini berdasarkan objek permukaan bumi secara fisik (tanah,
batuan, vegerasi dan lainnya0. Peta bumi datar era Ptolomeus abad ke-2.
Satu
yang pasti bahwa gambaran peta modern googlemap tidak persis sama (lagi) dengan
gambaran peta yang sesungguhnya pada era Ptolomeus pada abad ke-2. Jauh sebelum
era Ptolomeus telah berubah bentuk rupa permukaan bumi hingga era Ptolomeus dan
dari era Ptolomeus hinggan masa kini. Oleh karena itu gambaran rupa muka bumi
tidak tercipta sekali untuk selamanya, tetapi telah mengalami pasang surut luasnya
daratan dan tinggi rendahnya permukaan tanah dari atas permukaan laut.
Disebut telah mengalami pasang surut. Karena luasnya
daratan apakah benua atau pulau telah ada yang sisi-sisinya yang berkurang (karena
pengaruh seperti abrasi) dan ada yang bertambah (karena pengaruh antara lain
adanya sedimentasi). Demikian juga tinggi rendahnya permukaan tanah (bumi) dari
atas permukaan laut ada yang bertambah (seperti pengaruh tumpahan lahar
bulkanik dan penumpukan lapisan massa padat seperti debu dan pelapukan) dan ada
yang berkurang (karena faktor seperti pembongkaran, longsor, land clearing,
atau ambruk karena turunya permukaan tanah). Oleh karena itu peta muka bumi
yang sesungguhbnya terus berubah sepanjang waktu).
Satu
pertanyaan lain adalah bagaimana cara menggambarkan peta muka bumi sejak
Ptolomeus? Apakah dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dengan mengerahkan
semua para ahli di zaman itu? Pertnyaan pertama dan pertanyaan kedua adalah
suatu pertanyaan tentang seperti apa gambaran peta (rupa) bumi dari waktu ke waktu.
Yang jelas pada era Ptolomeus teori muka bumi adalah datar sebagai teori yang
digiunakan (berbeda dengan teori masa kini bumi itu bulat).
Pada masa ini masih banyak para peneliti
sejarah yang beranggapan bahwa rupa bumi tetap (tidak berubah secara radikal,
hanya berubah sedikit atau relatif berubah sedikit). Di atas rupa bumi ini (seperti
pulau) diteli sejarah peradaban masa lampau misalnya saat masa kini menemukan
situs kraton Majapahit (pada abad ke-14), yang dibayangkan bahwa peta pulau
Jawa tidak berubah, dan karenanya letak kraton Majapahit diasumsikan berada
jauh di pedalaman. Jika dan hanya jika peta permukaan bumi pulau Jauh telah
berubah sejak beberapa abad lalu maka penelitian sejarah semacam itu sangat
konyol.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Peta Indonesia Wujud Beratus
Tahun: Bagamana Bentuk Perkembangannya?
Peta-peta
modern Indonesia jika dibandingkan dengan peta googlemap dalam skala makro
terkesan sama persis bentuk wujud luasnya. Akan tetapi jika yang
diperbandingkan peta-peta skala mikro (peta lama dan peta googlemap) akan
terlihat jelas perbedaannya.
Mungkin kita sulit menemukan perbandingan yang
kontras, tetapi masa kini ada ditemukan pengalaman buru Tsunami Aceh, sebagai
contoh kasus terbaik untuk memperbandingkannya. Untuk kasus kecil yang
jumlahnya cukup banyak dapat kita pelajari kawasan/area tertentu bdimana pernah
terjadi banjir bandang. Sebagai contoh dalam hal ini misalnya pondasi rumah
yang terbuat dari beton/semen hilang atau lebar selolan meluas atau menyempit
(hilang) karena tertimbun sampah massa padat dan lumpur. Begitulah gambaran
mikro untuk menggambarkan skala yang berbeda dan yang lebih luas dalam peta
bumi.
Dalam
sejarah pemetaan, khususnya pemetaan di Indonesia (sejak kahadiran orang Eropa
di masa lampau di Hindia Timur), pelaut-pelaut Portugis terus mengipdare peta wilayah
pulau-pulau, selat-selat dan permukaan area peraiaran (laut/lautan) di
Indonesia dengan merujuk pada peta-peta lama yang telah dibuat para ahli
kartografi. Kegiatan itu terus dilakukan pada era VOC dan bahkan era Pemerintah
Hindia Belanda serta era Republik Indonesia. Dalam hal ini antara satu peta
dengan peta terdahulu lainnya harus dipahami secara cermat, lepas soal akurasi,
karena ada perubahan yang sangat berarti.

konsisi rupa bumi di pulau Sumatra khususnya di bagian utara yang dalam hal ini
area GPS kota pelabuhan Medan (di Belawan). Sebagai contoh kita tunjukkan peta
tahun 1755 yang sangat berbeda dengan perta satelit googlemap. Pada peta 1755
keadaan kota Kecamatan Medan Belanwa pada saat itu masih berupa teluk dimana
dua sungai bermuyara ke dalam teluk (sungai Deli dan sungai Hamparan Perak). Di
tengah danau terdapat satu titik, yang diduga sebuah pulau kecil. Tentulah
setelah sekian ratus tahun pulau kecil di tengah teluk teluk meluas dan garis
pantai.laut di dalam teluk makin bergeser ke tengah teluk (terjadi proses
sedimentasi), sehingga secara bersama-sama perubahan luas daratan telah menutup
seluruh permukaan perairan di teluk menjadi daratan masa kini (kawasan
pemukiman di kecamatan Medan Belawan).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






