*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Apakah
ada Semenanjung Sumatra? Nah, itu dia! Itu yang ingin diketahui. Yang jelas
belum ada yang memikirkan dan menyinggungnya dalam konteks sejarah zaman kuno.
Bahwa Fakta terdapat busur Sunda (sebelah barat) yang menghubungkan daratan
Asia dari Burma (kini Myanmar), pulau Sumatra dan Jawa serta Bali (Nusantara).
Aktivitas vulkanik di sepanjang busur ini membentuk pegunungan (Bukit Barisan
di Sumatra). Jalur daratan yang membentuk Semenanjung Sumatra hingga ke Jawa
dan jalur daratan yang membentuk Semenanjung Malaya dari daratan Asia menjadi
jalur migrasi orang Negroid dari Afrika mencapai Jawa dan Filipina.

pulau Sumatra, Jawa, dan kepulauan Nusa Tenggara. Rantai gunung berapi
membentuk punggung topografi di pulau-pulau tersebut. Busur ini terbentuk dari
dua lempeng yakni lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia, dimana lempeng
Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Kemiringan letak pulau Sumatera
diakibatkan dari sudut penunjaman lempeng Indo-Australia dengan Eurasia.
Berbeda dengan pulau Jawa yang sudutnya sejajar atau paralel dengan ekuator. Pulau
Sumatra merupakan bagian dari lempeng Eurasia yang dulunya merupakan daratan,
bukan hasil dari proses subduksi. Itulah mengapa Sumatra disebut busur benua.
Hal ini dapat dibuktikan dengan penemuan formasi batuan granit yang bersifat
asam. Formasi batuan granit ini merupakan formasi batuan tertua di pulau
Sumatra. Pulau Sumatra sendiri bergerak dari utara Australia. Pulau Sumatra sudah
ada sebelum proses subduksi sehingga disebut busur benua bukan busur kepulauan,
hal ini dibuktikan oleh Hamilton (1979), yang menemukan batuan granit berumur
240 juta tahun atau pada zaman Trias. Sedangkan proses subduksi dimulai pada
zaman kretasius atau 100 juta tahun yang lalu. Kenampakan sistem subduksi,
yaitu outer rise, palung, punggungan busur luar, cekungan busur luar,
punggungan busur dalam, cekungan busur dalam berkembang dengan sangat jelas
melintang pulau Jawa dan Sumatra. Sedangkan untuk ciri-ciri tektonik di busur
Sumatra adalah bukit barisan, sesar Sumatra, cekungan minyak, ngarai, dan
pegunungan vulkanik. Busur Sunda dapat dibagi menjadi 2 yaitu Busur Sunda Barat
dan Busur Sunda Timur.
(Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Semenanjung Sumatra, daratan antara Burma dan Pulau Sumatra? Seperti
disebut di atas, busur Sunda menghubungkan Burma dengan Sumatra hingga ke Jawa
dimana terdapat aktivitas vulkanik yang menjadi jalur migrasi negoroid. Lalu
bagaimana sejarah Semenanjung Sumatra, daratan antara Burma dan Pulau Sumatra? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe..

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Semenanjung Sumatra, Daratan
Antara Burma-Sumatra: Teka-Teka Peta Kuno Thracian Chersonese
Sebelum
mendeskripsikan lebih lanjut hipotesis Semenanjung Sumatra, ada baiknya
menyinggung tentang teka-teki peta kuno (sebut saja) Peta Thracian Chersonese.
Peta kuno ini tampaknya berasal dari abad-abad sebelum Masehi. Peta ini tidak
disalin oleh Ptolomeus dalam catatan geografinya.

lahir di Mesir yang telah mengkompilasi banyak peta-peta yang terdapat dalam
catatan geografinya yang ditebitkan pada abad ke02. Ada diantaranya peta
Ptolomeus dua peta yang selama ratusan tahun terakhir diperdebatkan oleh ahli
sejarah geografi dan para pembuat peta. Dua peta itu adalah peta Pulau
Taprobana dan peta Semenanjung Aurrea Chersonesus. Pada artikel sebelumnya di
dalam blog ini Peta Taprobana telah dibuktikan bahwa posisi pulau Taprobana
adalah pulau Kalimantan (tempo doeloe). Untuk Peta Semenanjung Aurrea
Chersonesus akan dibuat artikel sendiri.
Peta
Thracian Chersonese telah ditulis berkali-kali. Para penulis hampir semuanya
meyakini semenanjung tersebut adalah Semenanjung Gallipoli di wilayah Turki
yang sekarang. Lalu pertanyaannya, apakah Ptolomeus tidak mengetahui dimana
posisi peta itu di muka bumi? Atau apakah Ptolomeus ragu mengutipnya, atau peta
tersebut belum dimiliki atau belum ditemukan pada era Ptolomeus?

Eropa meyakini peta tersebut adalah Semenanjung Gallipoli di Turki. Para
penulis menghubungkan peta itu pada era Yunani kuno. Namun tetap muncul
pertanyaan apa pentingnya semenanjung itu dibuat/dipetakan dan terus disimpan/tersimpan
ratusan tahun jika hanya seluas semenanjung Gallipoli. Dalam peta masa kini,
semenanjung Gallipoli itu hanya satu titik kecil dalam peta googlemap
(bandingkan dengan peta Sumatra). Semenanjung kecil Gallipoli ini tidak begitu
penting masa kini (bandingkan dengan Sumatra).
Tampaknya
Ptolomeus ragu mengulas peta Semenanjung Chersonese, karena dia tidak
memahami/meyakini dimana posisinya di muka bumi. Akan tetapi nama yang mirip
yakni Semenanjung Arrea Chersonesus diulasnya dan disertakan. Lantas mengapa
penulis-penulis Eropa generasi selanjutnya meyakini peta itu berada di Eropa
(di wilayah Turki yang sekarang). Tampaknya Ptolomeus lebih cerdas jika
dibandingkan dengan generasi selanjutnya yang terkesan kekanak-kanakan. Oleh
karena peta itu mirip di Turki lalu dklaim. Tetapi lupa semenanjung itu terlalu
kecil untuk dipetakan pada zaman itu.
Dalam konteks yang tidak masuk akal inilah
terbuka pertanyaan baru, dimana sesungguhnyta peta Seemenanjung Thracian
Chersonesu itu berada? Juga memberi peluang untuk menemukan jawaban, apakah
peta Seemenanjung Tharcian Chersonesu itu berada nun jauh di timur di Sumatra
yang sekarang?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Negroid di Andaman, Jawa,
Malaya, Filipina: Jalur Migrasi Semenanjung Sumatra dan Semenanjung Malaya
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




