*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Belum
lama ini diadakan seminar Forum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Dalam seminar
perwakilan dari Malaysia, Indonesia, Singapoera, Thailand (Patani), Kamboja dan
lainnya. Presentasi seminar ini dapat diperhatikan dalam channel Yiutube dengan
nama Forum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) bersempena dengan Simposium
Pengantarabangsaan Bahasa Melayu. Dalam berbagai isu yang disampaikan panelis,
terkesan hanya fokus pada sejarah dan perkembangan bahasa Melayu itu sendiri di
masing-masing negara. Relasi tema antara Melayu dan Islam tidak secara
eksplisit terungkap.

(bahasa dan budaya) dan Islam (agama). Dari yang banyak itu, salah satu
diantaranya adalah Junaidi Junaidi dalam artikelnya berjudul Islam dalam Jagad
Pikir Melayu yang dimuat dalam Buletin Al-Turas, Vol 20, No 2 (2014). Abtrak
dari kajian itu sebagai berikut: Agama
dan kebudayaan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Adakalanya
agama dipengaruhi kebudayaan atau sebaliknya kebudayaan yang dipengaruhi agama.
Masuknya Islam ke tanah Melayu memberikan pengaruh terhadap corak kebudayaan
dan pemikiran Melayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai Islam
yang terdapat dalam teks Tunjuk Ajar Melayu dengan menggunakan pendekatan
strukturalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Tunjuk Ajar Melayu
terdapat nasihat, pesan, pikiran dan gagasan untuk memegang teguh Islam dalam
kehidupan orang Melayu. Dalam Tunjuk Ajar Melayu diungkapkan posisi adat dan syarak, Islam sebagai
identitas orang Melayu, anjuran bertakwa kepada Allah, Islam untuk pembentukkan
karakter anak dan persiapan menuju akhirat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
Islam sangat berpengaruh dalam pembentukan pemikiran Melayu sehingga Islam
dianggap sebagai identitas utama orang Melayu.
Lantas
bagaimana sejarah mengapa Melayu harus Islam? Seperti disebut di atas, isu
Melayu dan (relasi dengan) Islam sudah sejak lama mengemuka, bahkan hingga ini
hari. Namun yang menarik adalah bagaimana sejarah relasi antara Melayu dan
Islam. Apakah masih relevan pada masa ini? Lalu bagaimana sejarah mengapa
Melayu harus Islam? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Mengapa
Melayu Harus Islam? Orang Angkola Mandailing Tidak Harus Islam
Islam
tidak hanya Melayu, tetapi Melayu harus Islam. Adagium ini sudah lama ada.
Namun tidak diketahui sejak kapan muncul. Yang jelas adagium ini masih
dilestarikan, tidak hanya di Indonesia juga di Malaysia. Jika tidak (beragama)
Islam maka tidak Melayu, dikeluarkan dari Melayu dan tidak boleh menggunakan
nama Melayu dalam hal apa pun. Hal yang kurang lebih sama dengan adagium Melayu
ini adalah Minangkabau.
Orang-orang Batak, khususnya
Angkola-Mandailing meski mayoritas bergama Islam tidak mengusung adagium
tersebut. Hal ini juga dengan orang Lampung, orang Sunda, orang Jawa dan sebagainya.
Orang Angkola Mandailing ada juga yang beragama non Islam seperti Kristen.
Tetapi tidak menjadi persoalan. Lantas apakah ada orang Melayu yang beragama
Kristen? Ada, demikian juga orang Minangkabau ada juga yang Kristen. Seperti
disebut di atas, adagium Melayu harus Islam, maka orang Melayu yang beragama
non Islam dianggap tidak Melayu lagi. Mungkin sedikit beruntung di Indonesia,
sesorang yang dianggap tidak Melayu (lagi) masih bisa menagatakan sebagai orang
Indonesia. Lalu bagiama di Malaysia?
Lantas
sejak kapan adagium Melayu harus Islam? Seperti disebut di atas sulit diketahui
secara pasti, akan tetapi dalam hal (kasus) apa adagium ini muncul? Yang jelas
pada era Hindia Belanda adagium ini sudah kerap didengar.
Pada tahun 1898 muncul wacana bahasa orang
Kristen (pribumi berama Kristen) disetarakan denagn orang Eropa/Belanda.
Seorang mantan guru di Padang, (Haji) Dja Endar Moeda pemimpin surat kabar
Pertja Barat menentangnya. Wacana ini tidak muncul dari orang Kristen pribumi,
tetapi dari sejumlah orang Eropa/Belanda termasuk para misionaris. Dja Endar
Moeda, keberatan, bukan karena soal apakah orang pribumi Kristen nyama atau
tidak nyaman, tetapi menurut Dja Endar Moeda bagaiman orang pribumi Kristen
disetarakan dengan orang Eropa/Belanda, sementara hidupnya tidak berbeda dengan
orang pribumi Islam (bahkan banyak yang melarat). Dja Endar Moeda memberi
wawasan lagi yang menayatakan bagaimana kami di kampung ada kerabat yang
beragama Kristen, sama-sama makan nasi, sama-sama susah dan sama sedarah
(seketurunan) dan bertetangga dibedakan statusnya hanya karena perbedaan agama.
Akhir dari wacana itu, yang muncul kemudian adalah wacana naturalisasi yang
diwujudkan (naturalisasi sendiri sudah sejak lama diberlakukan, tetapi itu baru
tercatat sejumlah pribumi yang kebetulan beragama Kristen). Lalu bagaimana
dengan munculnya adagium Melayu harus Islam.
Adanya
adagium Melayu harus Islam memiliki dampak bagi orang Batak yang beraganma
Islam. Sejak 1870an sudah banyak orang Batak yang berasal dari Afdeeling Angkol
Mandailing yang merantau ke pantai timur Sumatra. Lalu kemudian arus migrasi
itu semakin memusat di Deli seiring dengan pertumbuhan dan perkembunan yang
diusahakan investor Eropa/Belanda. Para perantau yang umumnya telah banyak yang
berpendidikan mengisi semua pos jabatan untuk krani (juru tulis). Karena orang
Batak Angkola Mandailing yang umumnya beragama Islman di pantai timur (wilayah
Melayu) terpaksa harus mengaku sebagao ‘orang Melayu’ sebagaimana seorang
jurnalis menulis di surat kabar yang terbit di Batavia, Bataviaasch nieuwsblad,
05-08-1893.

Mengapa harus menyebut diri sebagai orang
Melayu. Lalu apakah sikap dan tingkah laku dan kebiasaan mereka berubah?
Jurnalis mengatakan orang Angkola Mandailing masih dengan kebiasaan lama (di
kampung) dimana jurnlis yang melihat mereka di Medan tetap dengan gaya pakain
atasan (kemeja) dengan pakai sarung, tetapi sarung diikat dipinggang hingga
menarik ujung sarung melewati lutut yang berbeda dengan kebiasaan orang Melayu.
Jurnalis dengan mudah mengenali orang yang mengaku Melayu tetapi berasal dari
Tapanoeli. Jurnalis semakin penasaran dan bertanya: mengapa menyebut sebagai
orang Melayu? Jawaban yang diperolehnya simpel: orang Melayu beragama Islam.
Tampaknya para perantau Angkola Mandailing di Deli sedikit pragmatis. Sebab
menurut jurnalis, orang Melayu menganggap orang Batak adalah kafir (bukan
beragama Islam). Sebagaimana diketahui, sejak 1862 Nommensen tiba di Sipirok
(Angkola) mengembangkan agama Kristen di Silindoeng dan semakin meluas hingga
ke Toba. Orang Batak yang beragama Kristen maupun yang masih pagan (belum
merantau ke Deli), menganggap orang Batak secara keseluruhan adalah kafir.
Sementara orang-orang Karo di wilayah rendah (terutama Deli) yang sudah lama
terjadi relasi perkawinan dan telah beragama Islam sudah mengidentifikasi diri
sebagai Melayu. Dalam hal ini ketika orang Angkola Mandailing (di rantau Deli)
menyebut Melayu bagi orang asing, seakan menjelaskan bahwa adagium Melayu haru
Islam sudah lama adanya. Untuk membedakan orang Angkola Mandailing yang beragama
Islam yang berasal dari Tanah Batak di Tanah Deli (Tanah Deli) harus menyebut sebagai
orang Melayu (meski jelas bisa dibedakan dengan orang Melayu diantara pribumi),
Tentu saja orang Melayu sendiri mengenal orang Angkola Mandailing bukan orang
Melayu. Ini mengindikasikan Melayu adalah identitas Islam bagi orang Batak di
Tanah Melayu.
Bagaimana
orang Angkola Mandailing yang merantau ke Padang? Tidak ada informasi yang
menyatakan sebagai orang Melayu maupun orang Minangkabau. Orang Melayu wilayah
pesisir (termasuk di Padang) dan orang Minangkabau di pedalaman kenal betul
bahwa orang Angkola Mandailing adalah orang Batak yang beragama Islam. Orang
Angkola Mandailing tidak pernah menyebut dirinya orang Melayu (seperti di Deli)
dan juga tidak pernah menyebut dirinya orang Minangkau, tetapi dengan sebuyan Orang
Angkola Mandailing (atau cukup disebut orang Mandailing saja, karena lebih
berdekatan dengan orang Minangkabu di perbatasan).
Tidak terlalu bermasalah bagi orang Angkola
Mandailing menyebut diri sebagai orang Melayu di Deli (karena toh juga bisa
dibedakan antara orang Angkola Mandailing dengan orang Melayu). Di Padang
tampanya lebih cair. Namun yang menjadi masalah bagi orang Batak (dalam hal ini
orang Angkola Mandailing), seperti disebut di atas adanya wacana orang Kristen
disetarakan dengan orang Eropa/Belanda. Bolejh jadi orang Melayu dan orang
Minangkabau di Padang tidak memedulikannya. Akan tetapi. Haji Saleh Harahap
gelar Dja Endar Moeda yang berasal dari Angkola Mandailing menjadi penting
karena risih. Hal itulah pada era itu hanya Dja Endar Moeda orang beragama
Islam yang secara eksplisit menentang wacana orang Kristen disetarakan dengan
orang Eropa/Belanda.
adigium Melayu adalah Islam berada di wilayah Melayu, wilayah yang sudah lama
dipengaruhi oleh Islam. Sebaliknya wilayah Melayu ini menjadi tujuan migrasi
dari berbagai tempat, termasuk dari wolayah Angkola Mandailing di Tapanuli.
Oleh karena ada anggapan di Deli dari orang Melayu, bahwa Batak populasinya
banyak yang belum beragama dan belum lama kegiatan misionaris Kristen masuk,
menjadi masalah bagi orang Angkola Mandailing yang juga orang Batak tetapi
sudah lama menjadi Islam. Satu cara yang dilakukan dan lebih adaptif adalah
mengaku orang Melayu sebagai identitas sebagai penganut agama Islam (mesti dalam
perilaku adalah Batak).
Hal serupa yang ditemukan di Deli juga
ditemukan di wilayah Melayu lainnya seperti di wilayah Minangkabau dan di
wilayah Semenanjung Malaya. Di Deli, berawal dari pengakuan, lambat laun
populasi Melayu (Islam) semakin banyak karena kehadiran pendatang darimanapun
asalkan beragama Islam. Di satu sisi ini semacam pembersihan bahwa Melayu itu
adalah Islam, tetapi di sisi lain asal usul mereka pendatang jelas bukan
Melayu. Oleh karena itu Melayu (Islam) adalah kumpulan populasi yang terus
meningkat tidak hanya karena bersifat genealogis (kelahiran) tetapi juga karena
bersifat teritorial (migrasi). Di wilayah Malaysia (Semenanjung Malaya) arus
migrasi ini juga terbilang kentara, populasi Melayu (Islam) sangat intens yang
migran berasal dari Sumatra (Angkola Mandialing dan Minangkabau), Jawa (Madura,
Bawean dan pantai utara Jawa) dan Sulawesi (Bugis dan Makassar) serta
Kalimantan (Banjar). Namun migran Minangkabau di Semenanjung mungkin tidak
terlalu mengalami hambatan, karena orang yang berasal dari Minangkabau (juga
saat itu) mengaku sebagai Melayu (Sumatra). Lalu bagaimana di wilayah
Minangkabau sendiri? Kurang lebih sama dengan yang terjadi di Deli. Akan tetapi
dimana adagium ini bermula tidak diketahui apakah di wilayah Minangkabau atau
di wilayah Deli.
Khusus
bagi warga migran Batak yang beragama Islam di wilayah Melayu (Deli,
Semenanjung Malaya plus wilayah Minangkabau) menjadi sangat khas. Apakah kasus
serupa ini yang menyebabkan munculnya penolakan penyebutan Batak kepada orang
Mandailing (tetapi bagi orang Angkola tidak masalah). Persoalan ini pernah
muncul pada petisi yang diajukan orang Mandailing pada tahun 1922. Namun petisi
ini tidak terlalu ditanggapi oleh pemerintah saat itu. Sebagaimana diketahui
wilayah geografis Angkola berada di antara wilayah geografis Mandailing di
selatan dan wilayah geografis orang Silindung dan Toba di utara (yang mana
kegiatan misionaris Nommensen sangat intens). Sebaliknya wilayah geografis
orang Mandailing di selatan berbatasan dengan wilayah geografis Minangkabau
(yang telah mengusung adagium Minangkabau adalah Islam). Dalam perkembangan
kelak, orang Karo apakah yang beragama Islam maupun yang beraga Kristen juga
menolak bukan Batak (tidak atas nama dalil agama tetapi dalil entinitas).
Di wilayah Minangkabau sendiri yang sudah
sejak lama mengidentifikasi sebagai Melayu, tetapi dalam perkembangannya mulai
menyadari dan mengklarifikasi bahwa Minangkabau bukan Melayu. Dalilnya dalam
hal ini bukan agama (Islam) tetapi dalil etnisitas. Identifikasi Minangkabau
ini mulai muncul sejak tahun 1890 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-03-1890).
Persoalan identitas atas dasar dalil etnisitas ini juga terjadi di Jawa dimana
orang Sunda mengidentifikasi diri bukan orang Jawa (sekitar tahun 1913).
Dalam
perkembangannya identitas Melayu adalah Islam di Semenanjung Malaya terus
menguat bahkan hingga ini hari. Hal serupa, meski tidak sekuat di Semenanjung,
identitas Minangkabau adalah Islam juga masih eksis. Dalam hal ini di wilauah
Minangkabau ada pergeseran dari Melayu menjadi Minangkabau dalam bingkai Islam.
Sementara itu di Jawa identitas Sunda sebagai penolakan sebagai orang Jawa
lambat laun menghilang dan kedua belah pihak saling mengakui. Akan tetapi tidak
dengan orang Mandailing (dan kini orang Karo) yang terus dipermasalahkan oleh
dua belah pihak (Batak versus Mandailing/Karo).
Meski identitas Melayu adalah Islam di
Semenanjung Malaya terus dipertahankan, tetapi itu berbeda dengan di wilayah
lain Malaysia di Sawawak dan Sabah yang tidak terlalu kentara Melayu adalah
Islam, karena fakta bahwa banyak orang Dayak di Sawawak dan Sabah yang tidak
beragama Islam (kasusnya mirip dengan di Sumaytra Utara). Belakang ini di
Malaysia mulai terbukas orang Melayu (Islam) Malaysia mengidentifikasi asal
usul (Jawa, Bugis, Angkola Mandailing dan Minangkabau). Sary yang khas oran
yang berasal dari Angkola Mandailing di Malaysia mulai marak yang menggnakan
nama marga kembali. Seperti halnya orang Minangkabau di masa lampau
mengidentifikasi Minangkabau (bukan Melayu), maka gejala yang terjadi di
Malaysia (dan juga di Deli) pada akhir-akhir ini adalah wujud dari upaya
memperkenalkan kembali mereka yang Melayu Islam pada dasarnya bukan orang
Melayu. Jadi dalam hal ini adagium Melayu adalah Islam adalah upaya untuk
memperbanyak populasu Melayu dan membedakan dengan agama lain (non Islam),
tetapi kemudian berbalik bahwa identifikasi yang muncul kembali ke identitas
berdasarkan dalil etnisitas (tidak lagi berdasarkan agama/Islam)..
Tunggu deskripsi lengkapnya
Mengapa Melayu Harus Islam?
Sejak Era Hindia Belanda hingg Era Masa Kini
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





