*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Orang
asli Orang Semang di Semenanjung terkait dengan orang Melayu Malay Peninsula. Ketika
orang Melayu semasih berada di wilayah pantai, Orang Semang seluruhnya berada
di pedalaman/di pegunungan. Di Sumatra
ada orang asli yang disebut Orang Sakai, Orang Kubu (dan juga ada yang disebut
Orang Pendek) tetapi hidupnya berada di wilayab dataran rendah di belakang
garis pantai. Penduduk asli yang berada di perairan disebut Orang Laut.
Penduduk pedalaman Sumatra dari ujung selatan hingga ujung utara Sumatra antara
lain Orang Lampung, Orang Komering, Orang Kerinci dan Orang Minangkabau (pra
Melayu), Orang Batak, Orang Gayo/Alas. Orang Melayu di Semenanjung juga kini di
pedalaman tetapi orang Melayu di Sumatra tetap berada di wilayah pantai.

group of the Malay Peninsula. They live in mountainous and isolated forest
regions of Perak, Pahang, Kelantan and Kedah of Malaysia and the southern
provinces of Thailand. They have been recorded since before the 3rd century.
They are ethnologically described as nomadic hunter-gatherers. The Semang are
grouped together with other Orang Asli groups, a diverse grouping of several
distinct hunter-gatherer populations. Historically they preferred to trade with
the local populations, but at other times they were subjected to exploitation,
raids and slavery by Malays or forced to pay tribute. For more than one
thousand years, some of the Semang from the southern forests were enslaved and
exploited until modern times, whilst others remain in isolation. In Malaysia,
the term Semang (Orang Semang in Malay) is used to refer to the
hunter-gatherers, that are referred to more generically as Negrito, Spanish for
‘little negro’. In the past, eastern groups of Semang have been called Pangan.
Semang are referred to as Sakai in Thailand, although this term is considered
to be derogatory in Malaysia. In Malaysia, the Semang are one of three groups
that are considered to be Orang Asli, the hunter-gatherer people of the
Peninsula. The other two groups are the Senoi and the Proto-Malay (Aboriginal
Malay). The Semang have six sub-groups: Kensiu, Kintaq, Lano, Jahai, Mendriq
and Batek. The Malaysian federal government has designated the Department of
Orang Asli Development (Jabalan Kemajuan Orang Asli, JAKOA) as the agency
responsible for integrating the Orang Asli into the wider Malaysian society. The
three category division of the indigenous population was inherited by the
Malaysian government from the British administration of the colonial era. It is
based on racial concepts, according to which the Negrito were seen as the most
primitive race leading the vagrant way of life of hunter-gatherers. The Senoi
were considered more developed, and the Proto-Malay were placed at almost the
same level with the Malaysian Malay Muslims.(Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Orang Semang diantara Orang Melayu di Semenanjung Malaya? Seperti
disebut di atas, orang asli ada di berbagai tempat termasuk di Semenanjung dan
di Sumatra. Bagaimana hubungan orang Melayu dengan orang asli di Semenanjung
dan orang Melayu dengan orang asli di Sumatra? Lalu bagaimana sejarah Orang
Semang sendiri diantara Orang Melayu di Semenanjung Malaya? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Melayu dan
Orang Semang di Semenanjung: Orang Sakai, Orang Kubu, Orang Pendek Sumatra
Apakah
nama Semenanjung berasal dari Semang Tanjung? Itu satu hal. Hal yang akan
dibicaeakan dalam hal ini adalah orang Semang diantara orang Melayu di
Semenanjung. Asal usul nama Semang, sebagai salah satu penduduk asli di
Nusantara pernah dideskripsian oleh Arnold Snackey (lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 07-07-1883).
Menurut Snackey nama Semang diduga berasal dari Si Amang (vader) dalam bahasa
Batak. Nama Kelang di Malaka awalnya ditempati oleh (orang) Negritos),
Nama Semang telah eksis sejak lama di berbagai
tempat. Di wilayah Lampong ada marga Semang dan juga ada nama wilayah Afdeeling
Semangka (lihat Java-bode : nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-04-1862). Nama tempat
Semang juga ditemukan di Jawa. Nama Semang juga ada yang menjadi marga orang
Belanda. Menurut Snackey orang Negritos ditemukan di kepulauan Andaman, Atjeh,
Djambi, pegunungan perbatasan Siamsch-Malayan Djerei dan Aeta di Filipina.
Orang Negrito di selatan Jawa disebut Kalang. Bahasa Sanskerta disebut Kalang
(hitam), sementara bahasa Melayu disebut Kelam (hitam atau gelap),
Penyelidik
Sumatra yang terkenal, William Marsden dalam bukunya yang terbut 1781
menyebutkan orang-orang Melayu yang ada di kota-kota pantai di Semenanjung
adalah pemukim (pendatang). Penduduk asli di pedalaman adalah orang negritos
yang disebut Orang Semang. Orang Melayu sendiri di Semenanjung menurut Marsden
mengakui sendiri bahwa mereka bukan penduduk asli. Masih menurut Marsden
pemukim pertama orang Melayu di Semenanjung berada di ujung di (pulau) Singapoera
yang sekarang pada abad ke-12.

Melayu di Singapoera pada abad ke-12 menjadi menarik. Di satu sisi menimbulkan
pertanyaan dari mana asal Melayu tersebut berasal. Lalu di sisi lain, siapa dan
(bangsa) manakah yang mendiami Semenanjung di Kedah sebagaimana ditemukan dalam
teks prasasti Tanjore (1030 M). Dalam teks prasasti Negarakertagama (1365 M)
nama0nama yang disebut di pantai barat Semenanjung antara lain Tumasik, Muwar,
Kelang dan Kedah. Kota Muwar diduga adalah para pemukim orang-orang Moor,
sedangkan Kelang diduga telah ditempati oleh orang pribumi atau orang-orang
India. Nama Malaka tidak/belum teridentifikasi, tempat yang berada diantara
Muwar dan Kelang. Keberadaan orang-orang Moor di selat Malaka diduga sudah
sejak lama, yang mana pada tahun 1345 seorang utusan Moor mengunjungi selat dan
Tiongkok bernama Ibnoe Batoetah.
Orang
Melayu di Semenanjung adalah pemukim (pendatang), sementara penduduk asli
adalah orang Melayu menyebutnya Samang. Seorang penulis Inggris membandingkan
bahasa-bahasa yang ditemukan di wilayah Semenanjung (lihat Java government gazette, 11-03-1815). Tiga
kelompok penduduk yang diperbandingkan adalah Melayu dimana di satu sisi Orang
Laut dan di sisi lain Orang Semang. Tampak bahwa bahasa Orang Samang berbeda
dengan bahasa Melayu, tetapi bahasa orang Melayu mirip dengan bahasa Orang Laut
(ada perbedaan minor).
Jelas dalam hal ini Orang Laut dan Orang
Melayu sebagai pendatang berada di wilayah pantai, sedangkan Orang Samang
berada di belakang pantai di pedalaman. Oleh karena kemiripan bahasa Orang Laut
mirip dengan bahasa Orang Melayu, maka Orang Samang harus dipandang sebagai
kelompok populasi yang sama sekali berbeda. Seperti disebut di atas Orang
Samang adalah orang ras Negrito dengan kulit kelam (hitam) dan rambut keriting.
Orang
Sakai adalah masyarakat terasing dan hidup masih secara tradisional dan nomaden
pada kawasan tertentu di pulau Sumatra, Indonesia. Orang Sakai hidup menjauhkan
diri dari kehidupan masyarakat yang luas. Orang Sakai juga terdapat di
Semenanjung. Orang Sakai bukan orang Negroid.
Beberapa ahli berpendapat, orang Sakai ini
merupakan percampuran antara orang Wedoid dengan orang Minangkabau yang
bermigrasi sekitar abad ke-14. sementara orang Sakai sendiri sebagian menganggap
bahwa mereka datang dari negeri Pagaruyung dan sebagian lainnya mengatakan
mereka berasal dari Gasib atau Siak (Wikiepdia).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Melayu dan Orang Semang di
Semenanjung: Orang Pedalaman di Sumatra, Orang Lampung, Orang Komering, Orang
Kerinci dan Orang Minangkabau (pra Melayu), Orang Batak, Orang Gayo/Alas
Orang
Negroid tidak hanya di Semenanjung. Orang Negroid terdapat di berbagai pulau
seperti di Sumatra, Jawa dan pulau-pulau di Filipina. Orang Negroid dapat
dikatakan adalah ras Negroid (seperti di Afrika) sebagai sisa penduduk asli yang
kini lambat laun menuju kepunahan (kelompok ini punah dengan cepat tanpa
meninggalkan jejak).
Orang Negroid di Jawa disebut Kalang (lihat Die
Kalangs auf Jaaa door AB Meijer, Veth’s ‘Java; en Indisch Gids v. Maart 1881).
Orang Negritos di Filipina disebut Aeta dan Negritos. Negroid di Malaka
(Semang, Orang Binoea, Djakoen), di Kepulauan Riouw (Orang Binoea, Baroet dan Tamboes).
Orang Djakoen menurut Wallace adalah Orang Melayu tertinggal yang menurut Hamy
adalah Orang Negroid yang telah tercampur dengan orang Melayu. Ras Negroid berbeda dengan ras polinesia
(Papua).
Diantara
orang Negroid dan Orang Melayu di Semenanjung terdapat Orang Jakun (lihat peta
di atas). Tidak seperti orang Semang yang jauh berada di pedalaman, Orang Jakun
berada di belakang pantai di arah barat daya Semenanjung. Dalam peta itu juga
ditemukan area Orang Sakai diantara Orang Semang dan Orang Jakun.
Jakun people or Orang Ulu / Orang Hulu
(meaning, “people of the upstream”) are an ethnic group recognised as
Orang Asli (indigenous people) of the Malay Peninsula in Malaysia. The
Malaysian government recognises 18 different sub-groups of Orang Asli,
including three broad divisions: the Negrito (Semang), Senoi and aboriginal
Malays (Proto-Malay). The Jakun people are the largest sub-group in the
Proto-Malay division, and the second-largest Orang Asli sub-group overall,
after the Semai. In the past, the name Jakun was used as a term that
encompasses all sub-groups in the Proto-Malay division, including the Temuan
people of the southwest and centre of the Peninsula and several coastal
communities of the south of the Peninsula, including the Orang laut (Orang
Seletar, Orang Kuala) and Orang Kanaq. In terms of anthropological
characteristics, the Proto-Malay are southern Mongoloid, generally taller and
having lighter skin than other groups of Orang Asli. In standard Malay, the
name “jakun” carries a derogatory connotation meaning “slave”
or unsophisticated person. (Wikipedia)
Orang
Jakun juga disebut sebagai Orang Ulu, suatu nama yang sama dengan kelompok
penduduk di wilayah Mandailing. Dalam hal ini orang Jakun/Ulu baik di
Semenanjung maupun di Sumatra bagian utara berada di wilayah hulu (pedalaman).
Tetangga Orang Jakun di Semenanjung adalah kelompok penduduk Sakai, suatu
kelompok penduduk yang juga disebut Sakai di Sumatra yang menjadi tetangga
orang Ulu di hilir. Satu kelompok penduduk tetangga orang Ulu di
Mandailing/Sumatra adalah orang Lubu (Siladang).
Orang Jakun/Ulu di Semenanjung memiliki bahasa
yang mirip dengan orang Melayu. Hal ini juga dengan di Mandailing, bahasa orang
Ulu lebih menyerupai orang Melayu (Minangkabau).. Seperti disebut di atas,
orang Laut di Semenanjung juga memiliki bahasa yang mirip dengan bahasa orang
Melayu.
Orang
Sakai adalah kelompok yang berbeda dengan orang Semang dan orang Jakun di
Semenanjung. Demikian juga orang Sakai di Sumatra adalah kelompok penduduk yang
berbeda dengan orang Ulu/Lubu dan orang Kubu. Orang Sakai di Sumatra ditemukan
di wilayah Riau berbatasan Sumatra Barat dan orang Kubu berada di wilayah Jambi.
Kecuali orang Semang (negroid) semua kelompok penduduk yang disebut di atas
terkesan berada di satu kawasan yang luas antara pantai timur Symatra dan
pantai barat Semenanjung. Semuanya dengan bahasa yang mirip dengan bahasa
Melayu. Lalu siapakah kelompok penduduk di kawasan yang luas ini, yang di satu
sisi berbeda dengan orang Semang dan juga berbeda dengan Orang Melayu di sisi
lain?
Seperti halnya di Semenanjung, diantara
kelompok penduduk ini di Sumatra berbeda dengan orang Melayu maupun orang
pedalaman Sumatra. Yang dimaksud orang pedalaman Sumatra terdiri dari berbagai
etnik dari ujung selatan Sumatra hingga ujung utara Sumatra yang meliputi orang
Lampung, orang Redjang, orang Kerinci, orang Minangkabau (pra Melayu), orang
Batak dan orang Gajo/Alas. Kelompok-kelompok penduduk dari segi bahasa dan
budaya berbeda dengan orang Melayu.
Sumatra, secara umum sejauh ini belum/tidak ada laporan sejak era Hindia
Belanda tentang keberadaan orang Negroid (tetapi di Jawa ada yang disebut orang
Kalang). Namun ada orang Negroid di pulau-pulau Andaman di ujung utara pulau
Sumatra. Namun ada juga laporan pada era Hindia Belanda yang menyebutkan orang
Negroid ditemukan di wilayah Atjeh yang sekarang. Dalam hal ini haruslah
diartikan ada garis penghubung keberadaan orang-orang Negroid diantara pulau-pulau
ujung utara Sumatra dengan di Semenanjung pada area wilayah Atjeh.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






