Pada Maret 1869 Alfred Russel Wallace menerbitkan buku dengan judul yang
menginkari kelaziman yakni The Malay Archipelago. Alfred Russel Wallace di
dalam buku mendeskripsikan banyak aspek ilmu pengetahuan seperti keragaman
flora dan fauna serta keragaman budaya di Nusantara/Indisch Archipel yang
digantinya dengan terminologi baru sebagai Malay Archipelago. Boleh jadi karena
Russel memulai kajiannya dari Semenanjung yang menjadi wilayah yurisdiksi
Inggris. Faktanya bahwa Russel melakukan penyelidikan ilmiah lebih banyak,
lebih luas dan lebih lama selama interval waktu (1654-1862) di wilayah
yurisdiksi Hindia Belanda seperti Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, Borneo, Celebes,
Timor, Moluccas dan Papua. Satu fakta lainnya yang juga penting adalah Russel
meminta/mendapat izin melakukan penyelidikan ilmiah di wilayah Hindia Belanda justru
dari Pemerintah Hindia Belanda. Nah, lho! Tentu saja ketidakjujuran AR Wallace
adalah fakta bahwa wilayah yurisdiksi Inggris, termasuk Semenanjung tidak
memiliki wilayah kepulauan (archipel/archipelago). Semenanjung dan India adalah
tanah daratan yang terhubung dengan benua Asia, idem dito (benua( Australia
yang juga terbilang bukan kepulauan. Sepantasnya Wallace tidak membuat judul
Malay Archipelago tetapi faktanya Indisch Archipel. Namun, tentu saja Wallace motif
lain.
Lantas
apakah ada orang-orang Belanda yang keberatan dengan judul yang diberikan
Russel dengan nama Malay Archipelago? Ada, tetapi show must go on. Boleh jadi
itu karena Kerajaan Belanda/orang-orang Belanda selalu kalah dari Kerajaan
Inggris/orang-orang Inggris.Kekalahan satu-satunya yang dialami Inggris
sepanjang sejarah adalah terusirnya mereka dari Amerika Utara dimana pada
akhirnya Amerika Serikat memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1774. Hal
itulah yang menyebabkan orang-orang Belanda kuasa Inggris yang show must go on
disikapai orang-orang Belanda dengan cepat melupakan yasng sebelumnya menjadi
isu.
Kepongahan orang Inggris, dalam hal ini, AR
Wallace memberi nama The Malay Archipelago, boleh jadi atas dasar hegemonisasi.
Ini dimulai sejak persaingan antara Belanda dan Inggris di pantai barat
Sumatra. Pada mulanya orang Inggris di pantai barat Sumatra hanya mendapatkan ‘kue
perdagangan’ yang hanya porsi kecil dan kurang memadai dengan armadanya yang
besar dan jangkauannya yang luas. Seiring dengan kekalahan dan tersingkirnya
Inggris di Amerika. Untuk mengganti Amerika, kerajaan Inggris mengirim seorang
pelaut ulung James Cook 1772 ke wilayah selatan dan wilayah timur Hindia
(Australia dan Pasifik). Pada tahun dimana Amerika memproklamirkan kemerdekaaan
1774, James Cook dalam laporannya merekomendasikan kepada pemerintah Inggris
untuk menjadi wilayah koloni baru. Gayung bersambut, perdana menteri Inggris
meresponya dengan cepat dengan mengirim migran baru berangkat ke Australian.
Migran ini terus meningkat. Orang-orang Belanda sempat protes, tetapi show must
go on. Gubernur Jenderal Inggris di Calcutta (India) di satu sisi telah
berhasil menjalin kerjasama yang baik dengan Tiongkok, lalu di sisi lain
wilayah koloni baru di Australia perlu diperkuat. Celaka bagi Belanda di Hindia
terutama orang-orang Belanda di pantai barat Sumatra. Inggris yang berbasis di
India dan hanya mendapat porsi perdagangan yang kecil di pantai barat Sumatra
di Bengkulu, Natal dan Tapanoeli,k dan dalam hubungannya dengan meratakan jalan
ke Tiongkok dan menjaga wilayah yurisdiksi baru Inggris di Australia, maka
skuadron Inggris yang ditempatkan di Madras (India) dipindahkan ke Bengkoeloe
pada tahun 1879. Ini dipandang Belanda di Hindia sebagai ekspansi Inggris dan
telah berada di halaman sendiri. Orang-orang Belanda yang terjepit di
Indrapoera, Padang, Pariaman, Barus dan Singkil, lalu tersingkir dari tekanan
Inggris. Ini dengan sendirinya Sumatra secara keseluruhan telah dikuasai
Inggris (minus Palembang). Prancis yang awalnya hanya satu titik kecil di
pantai barat Sumatra di Air Bangis, boleh jadi mengetahui gelagat Inggris, lalu
mendahulu dengan pengiriman skuadron Prancis menyerang Jawa tahun 1795.
Orang-orang Belanda (VOC) di Hindia terutama di Jawa (setelah lebih dahulu
melemah di Sumatra) akkhirnya melemah dan VOC dibubarkan pada tahun 1779. Tamat
VOC yang sejak 1619 membuat koloni di Batavia. Perjanjian kerajaan Belanda dan
kerajaan Prancis yang sifatnya kolaboratif akhirnya properti VOC di Hindia
diakuisi dan kemudian dibentuk Pemerintah Hindia Belanda tahun 1800. Namun
konsolidasi pemerintahan ini belum sepenuhnya mengunat, pada era GG Daendel
(1809-1811) Inggris yang berada di sekitar akhirnya menyerang Jawa pada tahun
1811. Inggris menjadi penguasa tunggal dari India hingga Australia, termasuk di
dalamnya Hindia (plus hubungan kerjasama dengan Tiongkok). Wilayah yang tersisa
VOC/Hindia Belanda hanya di Ternate. Saat ini Semenanjung hanya satu titik
dalam ratusan titik di bawah kekuasan Inggris yakni di Malaka (wilayah yang
direbut Belanda dari Portugis tahun 1641). Keperkasaan Inggris terbukti jika
dibandingkan Belanda dan Prancis. Namun situasi politik di Eropa, menyebabkan
Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda pada tahun 1816 (minus Bengkulu). Pada
fase ini Inggris enggan keluar
sepenuhnya, dengan basis di Bengkulu tetap bercokol di Padang. Selama fase
transisi ini (1816-1819) Inggris menjalin kerjasama dengan pemimpin lokal di
Semenanjung dengan mendapat hak bebas di pulau Penang (yang menjadi terminal
transit antara India dan Tiongkok; sementara Bengkoeli juga menjadi terminal
transis antara India dan Australia). Dua titik inilah yang terus dipertahankan
Inggris selama fase transisi hingga terjadi proses politik yang berujung pada
perjanjian Traktat London 1824. Perjanjian ini semacam win-win solution dimana
Bengkoeloe dan Malaka dilakukan tukar guling yang kemudian ditarik batas-batas
yurisdiksi yang dalam hal ini pulau Singapoera dan pulau Bintan yang dipisahkan
oleh selat sempit menjadi batas yurisdiksi Inggrsi diutara dan batas yurisdiksi
Belanda di selatan. Saat inilah dimulai pembangunan Singapoera yang akan
menggantikan Penang. Dalam hal ini meski
rugi Inggris dari sisi finansial (terhafap tukar guling Bengkoeloe dan Malaka)
tetapi Inggris secara geopolitis beruntung. Sejak 1824 inilah secara perlahan
orang-orang Inggris ingin mengubah nomenklatur Easr Indisch Arvhipelago/India
Achipelago dengan nama yang lebih nyaman buat Inggris dengan memperkenalkan
nama baru The Malay Archipelago (dan puncanya pada nama buku AR Wallace tahun
1869). Bayang-bayang kekuasaan Inggrsi dari India hingga Australia tidak hilang
dari pikiran orang-orang Inggris, Apalagi penulis-penulis Inggris telah memberi
judul buku-buku mereka atas nama bahasa Inggris seperti The History of Sumatra
(William Marsden, 1781) dan The History of Jawa (Raffles, 1818). Kekayaan
Hindia Belanda (budaya, bahasa, flora dan fauna dan kandungan alam serta lainnya)
tidak bisa dilupakan orang Inggris meski secara administratif telah dipisahkan
oleh batas-batas wilayah yurisdiksi. Dalam konteks inilah diduga batin AR
Wallace memberi nama The Malay Archipelago yang isinya justru hampir semuanya
berada di wilayah yurisdiksi Hindia Belanda. Ada hal yang bagi orang-orang
Inggris tidak terlupakan di Hindia Belanda, Memang orang Inggrsi di Hindia
Belanda kalah secara politik, tetapi dengan membingkai nama baru The Malay
Archipelago, paling tidak masih ada misi yang ingin dipaksakan di wilayah
Hindia Belanda. Misi Inggris yang berhasil ini dapat dianggap sebagai
kemenangan budaya Inggris (yang direpresentasikan oleh para ahli dan
penelitinya). Seperti kita lihat nanti di bawah, pada masa ini, apakah orang-orang
di Malaysia ingin memaksakan diri di wilayah Indonesia untuk meraih kemenangan
budaya dengan cara mengklaim hal-hal tertentu?
Belanda tidak memedulikannya lagi (dan lupa), tetapi nama Malay Achipelago
menggelinding terus di tingkat internasional yang menjadi terminologi untuk
menunjuk wilayah Nusantara (yang sebagian besar wilayah Indonesia/Hindia
Belanda). Nasi sudah menjadi bubur. Sebagaimana diketahui, lebih-lebih pada
masa kini, bubur inilah yang dinikmati orang Malaysia (termasuk para kademisi) yang
juga mengklaim wilayah Indonesia sebagai wilayah (alam) Melayu.
Untuk urusan semacam ini orang-orang Belanda adalah untuk kali kedua
kecolongan dari Inggris. Orang Inggris, dalam hal ini, Alfred Russel Wallace
tidak jujur secara internasional, tetapi boleh jadi ia benar untuk hanya
kalangan terbatas diantara (lingkungan) Inggris saja. Mengapa dikatakan tidak
jujur? Sebab apa yang digambarkannya di dalam buku The Malay Archipelago, sebagian
besar menggambarkan Indonesia (Indisch Archipel). Jauh sebelumnya di masa
lampau James Cook melakukan penyelidikan wilayah dan navigasi pelayaran di
wilayah Pasifik dan benua Australia pada tahun 1772. James Cook sendiri memulai
persiapan pelayarannya justru dari Oost Indie (dari Jawa) dengan para kuli yang
dibawanya dari orang-orang pribumi Hindia Timur. Lalu pada tahun 1775 terbit
bukunya yang kemudian diperjualbelikan. Di dalam buku ini Cook merekomendasikan
Australia agar dijadikan Pemerintah (kerajaan) Inggris sebagai koloni baru.
Memang pada saat itu ada kebutuhan Inggris memeperluas wilayah koloni setelah
terusir dari Amerika Serikat yang memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1774.
Orang-orang Belanda di Jawa molohok. Sebab wilayah Australia sudah sejak era
Abel Tasman (1642) menjadi wilayah yurisdiksi VOC dimana pedagang-pedagang
Belanda dan pedagang pribumi Hindia melakukan perdagangan dan pemukiman. Nama
pulau Tasmania merujuk pada nama Abel Tasman dan nama New Zealand merujuk pada
nama Nieuw Zeeland (nama wilayah pantai utara Belanda). Orang-orang Belanda
hanya menangisinya ketika imigran Inggris semakin banyak di Australia. Show
must go on, orang-orang Belanda lama-lama menjadi lupa.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Melayunisasi di Tanah Malaya:
Minangkabau Sumatra Tanggalkan Melayu
Sementara
buku AR Wallace menjadi buku penting yang terus dirujuk dalam dunia akademik,
nama Oost Indisch Archipel tetap eksis. Nama OI Archipel dijadikan sebagai nama
bidang keahlian di Universiteit te Leiden. Sebagaimana diketahui salah satu
pribumi yang lulus sarjana pada bidang tersebut di Leidem adalah Raden Mas
Kartono (abang dari RA Kartini) yang lulus tahun 1900 (lihat Het vaderland, 08-03-1909).
Disebutkan ujian universitas di Leiden doctotral examen in de Taal- en Letterkunde
vanm de Oost Indisch Archipel, Raden Mas Pandji Sosro Kartono.

pribumi (Indonesier) tetap melestrikan nomenklatur Oost Indisch Archipel.
Karena nama itulah yang sesuai dan nama yang pertama muncul jauh sebelum nama
Malay Archipelago muncul. Archipelago dalam bahasa Belanda ditulis Archipel
(kepulauan). Indisch Archipel sudah sejak lama eksis. Bahkan pada fase
perjanjian Traktat London 17 Maret 1824 sangat jelas dibedakan antara Land van
Indie (Tanah Semenanjung) di satu sisi dan Indisch[en] Archipel (kepulauan
Hindia) di sisi lain (lihat Nederlandsche staatscourant, 19-05-1824). Setelah
perjanjian untuk waktu yang lama orang Belanda mebedakannya Land van Indie
menjadi British Indie dan Indisch Archipel sebagai Nederlandsch Indie. Dalam
perkembangannya orang-orang Belanda tidak menggunakan Bristish Indie karena
orang-orang Inggris di Semenanjung lebih suka menamai wilayah The Strait
Settlement. Nama The Malay Archipelago adalah nama liar yang sulit
dipertanggungjawabkan secara ilmiah bahkan sangat sulit dipahami secara
politik. Penamaan Land van Indie untuk Semenanjung oleh orang-orang Belanda
boleh jadi karena sebelum perjanjian Traktat London 1824 wilayah Malaka adalah
wilayah yurisdiksi Hindia Belanda (yang dalam perjanjian 1824 dilakukan tukar
guling antara Malaka dan Bengkoelen). Jauh sebelum itu nama Land van Indie
disebut orang-orang Inggris dengan nama Indian Peninsula (lihat Java government
gazette, 04-04-1812). Sebelum AR Wallace memberi judul The Malay Archipelago
dalam bukunya, nama yang kerap muncul dengan nama Malay [Melayu] adalah Malay
Peninsula (lihat
Journal
de La Haye, 12-04-1838). Ini tampaknya sebagai pengganti nama Indiaa Peninsula.
Orang-orang Inggris sendiri di Singapoera telah mengakui Indisch Archipel (Indian
Arechipelago) sebagai nomenklatur dengan menerbitkan jurnal ilmiah dengan nama JOURNAL
OF THE INDIAN ARCHIPELAGO AND EASTERN ASIA yang dicetak di London. Pada edisi
pertama bulan Agustus dan edisi kedua September 1949 terdapat tulisan Jonathan
Rigg, anggota dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
menyumbang di Batavia yang diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris
(lihat Algemeen Handelsblad, 20-12-1849).
Oost Indisch Archipel tidak hanya tetap eksis. Sementara nama Malay Archipelago
semakin dikenal. Meski demikian, Indisch Archipel dan Malay Archipelago
dianggap biasa-biasa saja. Boleh jadi hanya dianggap nama yang berbeda dengan
cara pandang yang sama pada suatu (kawasan) yang sama. Akan tetapi pemahaman di
tingkat akar rumput dalam perkembangannya diinterpretasi berbeda (bahkan hingga
ini hari).
Penamaan wilayah administratif dan penamaan
wilayah budaya untuk identifikasi penduduk (orang) pada era Hindia Belanda
sering saling menggantikan. Orang Tapanoeli vs Orang Batak, Orang Padang vs
Orang Minangkabau, Orang Makassar vs Orang Bugis, Orang Jawa vs Orang Soenda.
Hal itu juga yang terjadi dengan Orang Semenanjung vs Orang Melayu. Memang
tidak salah Orang Semenanjung disebut Orang Melayu, tetapi tidak tepat Orang
Melayu disebut Orang Semenanjung. Sebab tidak semua Orang Semenanjung adalah
Orang Melayu, faktanya ada Orang asli Semang dan orang pendatang dari
pulau-pulau lain. Tapi idiom Melayu semakin kuat di Semenanjung sehingga semua
orang pribumi (di luare Cina, India atau Arab) disebut Orang Melayu. Proses ini
yang disebut Melayunisasi. Hal serupa terjadi di tempat lain seperti di Jawa
dan Sulawesi. Secara khusus di Sumatra muncul proses Padangisasi untuk seluruh
penduduk di wilayah West Sumatra pada era Hindia Belanda.
Jauh
sebelum Padangisasi di wilayah West Sumatra, di masa lampau sudah lama terjadi proses
Melayunisasi. Akibatnya wilayah Minangkabau (merujuk pada nama Kerajaan
Minangkabau) disebut wilayah Melayu (Melayunisasi). Boleh jadi itu seiring
dengan Melayunisasi bahasa Minangkabau. Sebagaimana dipahami dalam waktu yang
lama bahkan ini hari bahasa Minangkabau memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu
(seperti halnya bahasa Melayu dialek Betawi; ada juga yang menginterpretasi
bahasa Melayu dialek Minangkabau). Tentulah tidak ada bahasa Melayu dialek
Batak, meski ada yang menyatakan bahasa Jawa dialek Soenda.
Bahasa Melayu sebagai bahasa yang berkembang
sejak zaman kuno, umumnya digunakan di wilayah pantai (pesisir) sebagai lingua
franca. Pengaruh bahasa Melayu ini di wilayah penduduk pedalaman (bahasa asli)
berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Yang mengalami proses
Melayunisasi adalah bahasa asli yang berada dekat di belakang pantai, semakin
jauh ke pedalaman pengaruh bahasa Melayu semakin lemah. Ada dugaan yang kuat
bahwa di pedalaman Sumatra sejak zaman kuno sudah eksis bahasa-bahasa asli
mulai dari Lampung di ujung selatan hingga bahasa Gajo/Alas di ujung utara.
Bahasa-bahasa asli besar kemungkinan adalah bahasa Batak, bahasa Minangkabau,
bahasa Kerinci, bahasa Redjang dan bahasa Komering. Diantara bahasa-bahasa asli
di pedalaman ini diduga hanya bahasa Minangkabau yang dipengaruhi secara
singnifikan oleh bahasa Melayu. Akibatnya bahasa-bahasa asli pedalaman Sumatra
seakan terputus di wilayah West Sumatra karena bahasa Minangkabau mirip dengan
bahasa Melayu. Dalam hal ini bahasa asli Minangkabau telah berubah wujud yang
dianggap sebagai salah satu (dialek) bahasa Melayu. Namun jika diperhatikan
secara cermat untuk kosa kata elementer bahasa Minangkabau berbeda dengan
bahasa Melayu umum di wilayah-wilayah pesisir. Oleh karena itu kosaka elementer
itu adalah sisa bahasa Minangkabau yang asli sebagai bahasa pedalaman di jaman
lampau. Hal serupa inilah yang terjadi di Jawa antara bahasa Jawa di satu sisi
dengan bahasa Madura dan bahasa Soenda di sisi lain.
Kesadaran
berbangsa di bawah label bahasa (dalam hal ini bahasa Melayu), mulai muncul ke
permukaan untuk mengidentifikasi diri tidak sebagai bangsa Melayu, meski fakta
dapat dikatakan berbahasa Melayu. Di wilayah West Sumatra, paling tidak sejak
1890 sebagian penduduk mengidentifikasi diri sebagai Orang Minangkabau yang
orang-orang Belanda menulisnya Minangkabauer (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
20-03-1890). Selama ini yang diidentifikasi atau dicatat adalah Orang Melayu
(Maleijer atau Maleier). Lalu apa sebenarnya yang terjadi? Apakah generalisasi
Maleier terhadap orang Minangkabau dianggap kekeliruan atau sebaliknya orang
Minangkabau (Minangkabauer) menyadari bukan orang Melayu? Faktanya hanya bahasa
yang mirip (bahasa Melayu) tetapi elemen budaya yang lainnya bebeda antara
Orang Minangkabu dengan Orang Melayu.
Hal serupa ini jugalah yang terjadi di wilayah
Jawa bahwa Orang Soenda dengan sadar mengakui bukan Orang Jawa (seperti di Jawa
bagian tengah). Demikian juga dengan Orang Madoera di wilayah tapal kuda
(pantai timur Jawa) menyadari bukan orang Jawa (meski tinggal di bagian pulau
Jawa). Sudah pasti Orang Betawi sadar bukan orang Jawa maupun orang Sunda.
Sejak
tahun 1890an pengidentifikasian terhadap orang Minangkabau (Minangkabauer)
semakin intens, tidak hanya Orang Minangkabau diantara sebutan Orang Padang
atau Orang Melayu, tetapi juga orang-orang Belanda juga semakin intens
menggunakan nama Minangkabuer daripada nama Maleier. Lalu apakah dalah hal ini
Orang Minangkabau dengan sadar telah mulai menanggalkan nama Melayunya? Dalam
konteks inilah kita bisa menjelaskan proses Melayunisasi di Semenanjung pada
fase awal yang lalu kemudian menjelaskan proses demelayunisasi pada fase masa
kini di Semenanjung.
Beberapa dekade terakhir di wilayah pantai
timur Sumatra, semakin banyak penduduk di wilayah Melayu menggunakan marga.
Tentulah penggunaan marga itu merujuk pada asal usulnya di masa lampau. Demikian
juga ada hal yang aneh ketika hasil-hasil statistik Sensus Penduduk jumlah
populasi orang Melayu di wilayah pantai timur Sumatra relatif menurun drastis,
sementara jumlah populasi orang Batak relatif meningkat drastis. Hal yang sama
juga ditemukan di wilayah Semenajung Malaya, beberapa deka terakhir semakin
banyak orang Malaysia yang menggunakan nama marga dan bahkan para pejabat di
Malaysia tidak malu-malu kucing lagi menyebut dirinya (berasal) orang Bugis,
orang Angkola/Mandailing, orang Minangkabau dan orang Jawa. Meski mereka telah
mengidentifikasi diri sebagai Orang Melayu (Malaysia) tetapi ini menunjukkan
gejala proses deMelayunisasi.
Proses
Melayunisasi di wilayah (teritorial) Semenanjung (Peninsula) diduga belum lama
terjadi. Proses Melayunisasi diduga di sekitar tahun-tahun dimana AR Wallace
memperkenalkan nama Malay Archipelago yang sedikit banyak terkesan berbenturan
dengan nama lama Indian Archipelago (Indisch Archipelago). Dalam konteks payung
Malay Archipelago inilah orang-orang dari berbagai asal (Sumatra, Jawa, Borneo
dan Sulawesi) di Semenanjung berlindung dan memasang payung di bawah nama Malay
(Archipelago). Tampaknya ada muatan politik dalam proses Melayunisasi di
Semenanjung tersebut. Sebagaimana diketahui, sebagaimana halnya di
Indonesia/Hindia Belanda, pemerintah Inggris di Semenanjung tetap melestarikan
kepemimpinan lokal berada di tangan-tangan para Radja/Sultan.
Sejak zaman kuno, bahasa Melayu yang kali
pertama berkembang di pantai timur, menjadi bahasa pengantar dalam navigasi
pelayaran perdagangan hingga ke pulau-pulau lain seperti ke Jawa, Borneo,
Semenanjung, pulau-pulau di Filipinan (bahkan ke Taiwan) serta ke Sulawesi,
Maluku hingga Papua, Dalam konteks inilah terjadi proses Melayunisasi di
wilauah yang sangat luas. Dalam proses Melayunisasi ini (introduksi bahasa
Melayu di pusat-pusat perdagangan di kota-kota pelabuhan) harus bersaing dengan
bahasa lokal (bahasa etnik). Proses (bahasa) Melayunisasi akan cepat terjadi di
wilayah dimana pengaruh bahasa lokal lemah. Dalam hal ini terjadi pergantian
bahasa (bahasa lokal punah). Sementara wilayah-wilayah dimana pengaruh bahasa
lokal kuat (sehingga orang luar harus belajar bahasa lokal) maka proses
Melayunisasi tidak berkembang. Hal itulah yang terjadi di wilayah bahasa Jawa, wilayah
bahasa Sunda, wilayah bahasa Lampung, wilayah bahasa Bali, wilayah bahasa
Bugis/Makassar, wilayah bahasa Minahasa, wilayah bahasa Batak dan
wilayah-wilayah lain terutama yang berada di pedalaman. Proses Melayunisasi
(bahasa) di pulau-pulau di pantai timur Sumatra berlangsung sempurna, sehingga
tidak menyisakan bahasa lokal (bahasa lokal punah). Lalu bagaimana dengan di
wilayah Minangkabau, oleh karena pusat kerajaan Melayu (Djambi) sangat kuat
sehingga terjadi proses Melayunisasi bahasa Minangkabau, tetapi tidak sempurna
(hanya menjadi dialek bahasa Melayu). Lantas bagaimana dengan wilayah
Semenanjung? Proses Melayunisasi bahasa terjadi di wilayah pantai, seperti halnya
di Jawa (terbentuknya bahasa Betawi kemudian) sebab bahasa lokal di pedalaman
masih eksis yang disebut bahasa (etnik). Semang. Idem dito dengan di wilayah
Sumatra Utara yang sekarang terjadi proses Melayunisasi bahasa di wilayah
pantai, tetapi tidak seperti di wilayah Minangkabau, yang terjadi adalah bahasa
lokal tetap eksis seperti bahasa Batak, bahasa Gayo/Alas. Tentu saja dalam
proses Melayunisasi ini hanya terjadi secara masif pada bahasa, tetapi tidak
pada orangnya. Orang Melayu di Sumatra Utara sebagian adalah pendatang dan sebagian
besar adalah penduduk asli (katakanlah orang Batak pada awalnya) lalu
menggantikan bahasa asalnya dengan bahasa Melayu (karena adanya proses
kebudayaan). Hal serupa ini juga yang terjadi di Semenanjung, proses
Melayunisasi bahasa semakin masif hingga ke wilayah-wilayah pedalaman dimana terjadi
para pendatang berinteraksi dengan penduduk asli (etnik Semang) dan juga
etnik-etnik lain seperti Sakai dan Jakun. Bahasa Sakai dan bahasa Jakun mungkin
sudah punah tetapi bahasa Semang masih eksis seperti halnya bahasa orang Ulu,
orang Sakai dan orang Kubu di Sumatra.
Pada
masa ini Melayunisasi bahasa di Semenanjung berlangsung sempurna. Bahasa asli
Semang meski belum punah tetapi tidak berdaya untuk bersaing (kembali). Lalu
bagaimana dengan di Banten, yang zaman dulu kota pelabuhan Banten yang besar
dengan bahasa Melayu telah terjadi arus balik yakni dengan Jawanisasi bahasa
dan Sundanisasi bahasa, karena semakin kuatnya kedua bahasa dari wilayah
pedalaman ke wilayah-wilayah pantai. Diantara yang terus bertahan dengan bahasa
Melayu di Jawa hanyalah bahasa Betawi. Di Sulawesi proses Buginisasi dan
Makassarisasi terjadi, demikian juga di wilayah Manado terjadi proses
Minahasasi bahasa.
Bagaimana dengan wilayah Kalimantan khususnyta
di Kalimantan Selatan? Yang terjadi ada mirip dengan di wiilayah Betawi (bahasa
Melayu dialek Banjar). Lalu bagaimana dengan di wilayah Minangkabau? Sebenarnya
telah terjadi Minangkabausasi (anti=tesis bahasa Melayu). Idem dito dengan di
wilayah Betawi dan wilayah Bandjar (pengaruih bahasa Betawi dan bahasa Banjar
meluas di sekitar (udik). Oleh karena pengaruh bahasa Minangkabau sangat kuat
maka Minangkabausasi telah terjadi yakni bergesernya para penutur bahasa Melayu
di wilayah pantai (pesisir) khususnya pantai barat Sumatra dengan menggunakan
bahasa Minangkabau (bahasa Melayu dialek Minangkabau). Bahasa Melayu yang tempo
doeloe eksis di pantai barat Sumatra dapat dikatakan kini telah punah, tetapi
masih ada yang bertahan dengan percampuran bahasa dengan bahasa lain (Bahasa
Batak dan bahasa Minangkabau) di wilayah pantai barat Sumatra di wilayah
Sumatra Utara yang sekarang yang diidentifikasi sebagai bahasa pesisir (bukan
bahasa Melayu, bukan pula bahasa Minangkabau maupun bukan bahasa Batak, tetapi
campuran ketiganya). Penutur bahasa pesisir juga makin berkurang karena kuatnya
bahasa Batak (terjadi Bataksasi). Proses Bataksasi ini juga terjadi wilayah
Melayu di pantai timur Sumatra Utara.
Last
but not least: Bagaaimana situasi dan kodisi masa kini di wilayah Semenanjung?
Oleh karena proses politik yang panjang (sejak era Inggris), bahasa Melayu
tidak menjadi bahasa keseuluruhan penduduk Semenanjung, sebab sudah eksis sejak
lama penutus bahasa asing (bahasa Tamil India dan bahasa Mandarin Cina).
Sementra proses politik juga berlangsung di pulau-pulau (Indonesia) yakni
terjadi proses bahasa Indonesia (tranformasi bahasa Melayu menjadi bahasa
Indonesia). Kini, di wilayah Indonesia yang terjadi adalah Indonesiasi bahasa
(dwi bahasa: bahasa Indonesia dan bahasa daerah), sedangkan di Malaysia,
khususnya di wilayah Semenanjung (termasuk Singapoera), tiga bahasa yang umum
(Melayu, Tamil dan Mandarin), maka muncul ke permukaan bahasa Inggris sebagai
lingua franca baru (menggantikan bahasa Melayu). Akibatnya, Melayunisasi bahasa
berjalan pelan, sementara Ingrisasi berjalan cepat. Hal itulah mengapa di
wilayah Semenanjung kini terjadi begitu kuatnya bahasa Inggrsi dibandingkan bahasa
Melayu (deMelayunisasi tengah terjadi).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





