*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada
artikel sebelumnya telah dideskripsikan terminologi ‘Indonessiasi’ sejak era
Hindia Belanda. Demikian juga pada artikel-artikel sebelumnya telah
dideskripsikan soal nama Bahasa Indonesia dan asal usul bahasa Melayu dan Bahasa
Indonesia. Pada artikel ini akan mendeskripsikan Indonesiasi di dalam bahasa.

terbentuk dalam waktu singkat. Penyebaran bahasa Inggris berawal dari kekuatan
Inggris sejak tempo doeloe di dalam navigasi pelayaran perdagangan dan
mewujudkan kolonisasi. Tentu saja saat permualan itu tidak hanya Inggris,
tetapi sudah lebih awal Spanyol dan Portugis. Lalu kemudian setelah Belanda
diikuti oleh Prancis dan Jerman. Namun dalam perkembangannya hanya empat bahasa
yang yang terbilang memiliki penyebaran yang luas dalam penggunaan di luar
negara yakni Spanyol, Portugis, Inggris dan Prancis. Pada masa ini bahasa resmi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terdiri dari enam bahasa: Inggris, Prancis, Spanyol,
Cina, Arab dan Rusia. Penabalan eman bahasa resmi ii merupakan kombionasi
liasnya penyebaran dan jumlah populasi pengguna yang menjadi medium bahasa
pengantar untuk semua negara anggota. Dengan demikian enam bahasa resmi itu
menjadi bahasa internasional yang telah mendapat tempat. Meski demikian, bahasa
internasional lainnya dapat ditambahkan bahasa Porttugis. Lalu bagaimana dengan
bahasa India? Dan, bagaimana pula dengan Bahasa Indonesia. .
Lantas
bagaimana sejarah Indonesiaasi bahasa? Seperti disebut di atas, sejumlah bahasa telah menjadi bahasa
internasional dan enam diantaranya menjadi bahasa resmi PBB. Dalam konteks
inilah kita membicarakan Indonesiasi bahasa. Lalu bagaimana sejarah Indonesiasi
bahasa? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia –
Indonesiasi Bahasa di Tingkat Internasional; Bahasa Melayu Makin Beda
Dalam
artikel-artikel sebelumnya telah dideskripsikan terbentuknya Bahasa Indonesia.
Ddiduga besar pergeseran bahasa Melayu (sebagai bahasa asal) menjadi bahasa Melayu
umum (pasar) yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia telah berlangsung
sejarah 1824. Bahasa Melayu umum, untuk memudahkan saja, sebut saja Bahasa
Indonesia.
Sejak 1824 semakin jelas dan semakin tegas
batas-batas wilayah Indonesia (baca; Hindia Belanda) yang berada dibawah
yurisdiksi hukum Belanda. Semua pendatang dan kapal-kapal yang berasal dari
luar Hindia Belanda (termasuk dari pelabuhan Penang dan Singapoera) harus
teregister di wilayah pabean Hindia Belanda terutama di pelabuhan-pelabuhan perdagangan
seperti di Palembang, Pontianak dan sebagainya. Sementara itu pembukaan
cabang-cabang pemerintahan Hindia Belanda semakin meluas di seluruh pulau
(wilayah Hindia Belanda). Dua faktor ini menjadi kawah candradimuka dalam
proses terbentuknya Bahasa Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda yang mengatur
semua aspek di wilayah Hindia Belanda menggunakan bahasa standar Bahasa Belanda
dan Bahasa Indonesia plus bahasa-bahasa daerah.
Pembatasan
kepabeanan dan pembentukan cabang-cabang pemerintahan Hindia Belanda menjadikan
Bahasa Indonesia (perkembangan bahasa Melayu umum/pasar) mengalami
internalisasi di wilayah Hindia Belanda. Dalam proses internalisasi ini tidak
hanya menutup ruang pertukaran bahasa (Melayu) antara negara (wilayah
yurisdiksi Inggris, Spanyol dan Portugis) dengan negara Hindia Belanda, tetapi
juga memperluas penyebaran Bahasa Indonesia bahkan di wilayah-wilayah penutur
bahasa Melayu di wilayah Hindia Belanda. Oleh karena itu Bahasa Indonesia juga
mengalami proses pergeseran dari bahasa Melayu di wilayah Hindia Belanda yang
menjadikannya sebagai bahasa daerah. Internalisasi Bahasa Indonesia ini yang
dapat disebut Indonesiasi bahasa di di wilayah Hindia Belanda (baca:
Indonesia).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Indonesiasi Bahasa di Tingkat
Internasional: Dulu Politik Kolonial, Kini Politik Bahasa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



