Meski demikian, tentu masih ada peneliti dan penulis sejarah yang berbeda
dengan arus umum. Dalam interpretasi teks prasasti Kedukan Bukit dimana
disebutkan nama Minanga, semua orang mencari pembenaran dimana tempat itu
berada, tapi ada juga yang berpendapat Minanga berubah tutur menjadi Binanga,
sebuah kawasan yang terdapat pada sehiliran sungai Barumun di Padang Lawas,
Tapanuli (lihat Prof Slamet Muljana).
Kerajaan
apakah yang dimaksudkan FM Schnitger tahun 1939 dalam makalahnya berjudul
Forgotten Kingdom(s) in Sumatra. Jelas bukan kerajaan Sriwijaya, sebab kerajaan
Sriwijaya sejauh itu hanya satu-satunya yang diingat (tentu saja kita belum
bisa membicarakan kerajaan Atjeh, kerajaan Pagaroejoeng dsb, karena faktanya
belum terbentuk/belum lahir).
FM Schnitger meski bukan yang pertama, tetapi FM
Schnitger adalah satu-satunya peneliti sejarah (arkeolog) yang secara intens
dan cukup lama berada di wilayah Tapanuli bagia selatan. FM Schnitger telah
melakukan eskapasi di area candi Simangambat dan kawasan percandian di Padang
Lawas (1933-1936). FM Schnitger adalah kepala dinas kepurbakalaan Hindia
Belanda di Palembang. Kontribusi FM Schnitger dalam pengungkapan perihal
kepurbakalaan di Tapanuli bagian selatan sangat besar.
Memang
FM Schnitger tidak menyatakan secara eksplisit Forgotten Kingdoms in Sumatra
adalah kerajaan yang terdapat di Tapanuli (Kerajaan Aru), tetapi saya menduga
Kerajaan Arulah yang dimaksud FM Schnitger sebagai Forgotten Kingdoms in
Sumatra, atau nama kerajaan lain sebelum Kerajaan Aroe (Mendes Pinto). Dalam
artikel ini untuk memudahkan kerajaan di wilayah Tapanuli bagian selatan itu
disebut Kerajaan Aru.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kerajaan Aru Batak Kingdom:
Suksesi Kerajaan Tertua di Nusantara
Sebagaimana
Mendes Pinto pernah berkunjung ke Kerajaan Aroe (1537), tentulah kerajaan Aroe
ini telah eksis jauh di masa lampau. Kerajaan Aru ini dalam perkembangannya
berada di daerah aliran sungai Baroemoen [B-aroe-moen]. Aroe dalam bahasa India
(selatan) adalah sungai.
Sebagaimana dideskripsikan pada artikel
sebelum ini, nama (pelabuhan) Minanga adalah kota Binanga yang sekarang di
Padang Lawas. Pada abad ke-7 (prasasti Kedoekan Boekit), Minanga (Binanga)
tepat berada di muara sungai Baroemoen (sebagaimana Palembang berada tepat di
muara sungau Musi dan Jambi tetapt berada di muara sungai Batanghari). Minanga
saat itu adalah pelabuhan Kerajaan Aroe di pantai timur Sumatra.
Situs
kuno berupa candi Simangambat diduga sudah eksis sejak pembangunan candi-candi
di Jawa (era Hindoe). Sebagaimana diketahui ada kemiripan candi Simangambat
dengan candi-candi di Jawa Tengah seperti candi Sewu. Pusat Kerajaan Aroe ini
diduga kuat awalnya berada di sekiar candi Simangambat (sebelum kemudian
relokasi ke daerah aliran sungai Baroemoen).
Sungai Baroemoen sendiri berhulu di gunung
Malea (reduksi dari Himalaya). Sementara di lereng gunung Malea sebelah barat
terdapat candi Simangambat (di pertemuan sungai Batang Angkola dan sungai
Batang Gadis). Candi Simangambat ini berada diantara lereng gunung Malea dengan
danau (yang awalnya menjadi muara dari sungai Batang Angkola dan sungai Batang
Gadis).
Pada
abad ke-7 Raja Kerajaan Aroe bergelar Dapunta Hyang (lihat prasasti Kedoekan
Boekit) berangkat dari ibukota di lokasi dimana candi Simangambat. Lalu dengan
pasukan besar berangkat dari pelabuhan Minanga menuju Pancami (Jambi) dan
mengukuhkan kerajaan baru bernama Kerajaan Sriwijaya. Radja yang diangkat di
Sriwijaya adalah Sri Jayanaga dengan gelar Dapunta Hyang. Dengan demikian
Kerajaan Aroe dan Kerajaan Sriwijaya adalah berkerabat (ayah-anak).
Minanga adalah pelabuhan Kerajaan Aroe di
pantai timur Sumatra. Sementara pelabuhan Kerajaan Aroe di pantai barat adalah
di Loemoet (muara sungai Loemoet). Dalam perkembangannya pelabuhan Kerajaan
Aroe di pantai barat Sumatra ini bergeser ke Baroes. Pada abad ke-7 dua
pelabuhan Kerajaan Aroe telah eksis di pantai timur Sumatrea di Minanga dan di
pantai barat Sumatra di Baroes. Ibarat Kerajaan Pakwan Pasdjajaran di Jawa
bagian barat, pelabuhan di pantai utara di Soenda Kalapa (muara sungai
Tjiliwong) dan pelabuhan di pantai selatan di Palaboehan Ratoe (muara sungai
Tjimandiri).
Kerajaan
Aroe di Sumatra bagian utara yang berada di kawasan antara Baroes di barat dan
Minanga di timur yang berpusat di candi Simangambat sudah eksis jauh sebelum
abad ke-7 (era ekspedisi ke Sumatra bagian selatan (prasasti Kedoekan Boekit)
dan ke Jawa (prasasti Kota Kapoer). Kerajaan Aroe ini sangat makmur dengan
sumber perdagangan utama emas, kamper, kemenyan, gading, damar, kulit manis dan
sebagainya, produk-produk yang dibutuhkan di India, Arab. Mesir dan Eropa.
Dalam literatur Eropa yang menjadi sumber
Ptolomeus (abad ke-2) menyatakan bahwa sumber kamper berasal dari Sumatra
bagian utara. Sumber Tiongkok pada Dinasti Han (abad ke-2) menyatakan ada
utusan dari kerajaan dari selatan ke Peking untuk meminta kaiser Tiongkok dalam
pembukaan pos perdagangan di suatu wilayah di pantai timur Tiongkok (sekitar
Vietnam Utara yang sekarang).Utusan darei selatan ini diduga berasal dari
Kerajaan Aroe yang memiliki pelabuhan di pantai timur Sumatra di Minanga. Pada
abad ke-5 dalam sumber literatur Eropa disebutkan secara eksplisit bahwa kamper
diekspor dari pelabuhan yang disebut Baroes. Dalam hal ini nama Baroes sudah
dikenal di Eropa pada abad ke-5.
Sumatra
bagian utara, khususnya di wilayah Kerajaan Aroe di Tapanoeli antara Baroes dan
Minanga sudah dikenal sejak jaman lampau hingga jauh ke Eropa dan Tiongkok. Semuanya
karena faktor komoditi perdagangan internasional (terutama emas dan kamper).
Dalam penemuan benda-benda purbakala (era Mesir kuno) baru-baru ini di Jaga-Jaga
di daerah aliran sungai Loemoet, tentulah ada kaitannya dengan asal-usul dan
keberadaan kerajaan kuno, Kerajaan Aroe yang masih eksis hingga era Portugis.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




