*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Begitu banyak narasi sejarah
Indonesia yang ditulis keliru. Paling tidak tulisan-tulisan yang dapat dibaca
di internet, termasuk tulisan-tulisan pada laman Wikipedia. Mengapa itu
terjadi? Sudah barang tentu bermula pada peneliti sejarah. Namun itu tentu saja
tidak sepenuhnya kesalahan para peneliti. Akan tetapi sumber kesalahan itu pada
dasarnya pada sumber data: ketidaklengkapan data dan kesalahan data sendiri.

perlunya analisis. Pertama menganalisis data itu sendiri, apakah data itu
lengkap atau data itu salah. Dalam hal ini analisis data diperlukan untuk
memverifikasi dan menkonfirmasi data dengan fakta. Analisis data berarti
memperbandingkan data yang ada untuk menentukan mana yang paling sesuai
menjelakan fakta. Kedua, menganalisis antara satu data dengan data yang lain.
Analisis ini berupaya untuk melihat apakah ada relasinya. Analisis relasi ini
dapat dilakukan secara vertikal (perbedaan waktu) maupun secara horizontal
(perbedaan tempat). Analisis antara data dalam hal ini juga dapat digunakan
untuk memperidiksi data yang sesuai diantara kedua data. Analisi antar data ini
juga dapat diperluas dengan memperediksi data di depannya atau data di
belakangnya. Untuk memperkuat narasi fakta dan data diperlukan analisis yakni
untuk mengevaluasi data dan untuk memperkaya narasi.
Lantas
bagaimana sejarah Penulisan Narasi Sejarah di Indonesia? Seperti disebut di atas, dalam
penulisan sejarah Indonesiasi banyak terdapat kesalahan. Akan tetapi itu
menjadi tuga kita semua untuk memperbaikinya. Lalu bagaimana sejarah Indonesiasi di Australia? Yang
jelas yang terjadi sekarang adalah Australia yang meng-Indonesia. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan
Penulisan Narasi Sejarah di Indonesia: Isu Tolak Fakta dan Kreasi Data
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Penulisan Narasi Sejarah di
Indonesia: Upaya Mempertinggi Mutu Sejarah
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang
tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



