*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Apa yang tidak/belum kita ketahui
masa ini, banyak hal yang sudah diketahui pada masa lampau. Siapa pribumi
pertama studi ke Belanda dan siapa yang kali pertama studi teknik di Delft
kurang terperhatikan masa kini. Itulah fakta tentang narasi sejarah Indonesia
pada masa kini. Siswa asal Hindia yang pertama studi teknik di Delft adalah Tan
Tjoen Liang. Seperti pada artikel sebelumnya, nama Oei Jan Lee dan Tan Tjoen
Liang haruslah dipandang sebagai pionir Indonesia (baca: Hindia Belanda). Studi
ke Belanda.

sudah terbentuk dan berjalan secara berkesinambungan sejak jaman lampau,
terutama sejak era VOC. Orang-orang Belanda yang intens datang ke Hindia dan
orang-orang Belanda pula yang intens dari Hindia ke Belanda dalam berbagai
urusan. Sejarah kapan orang Hindia (khususnya pribumi dan Cina) pertama kali ke
Belanda tidak diketahui secara pasti. Identifikasi yang ada baru sejauh Afrika
Selatan orang Hindia dalam hubungannya dengan kehadiran orang Belanda di
Hindia. Itu terjadi pada tahun 1665 ketiga tiga pemimppin lokal di pantai barat
Sumatra diasingkan ke Afrika Selatan. Pada tahun 1913 tiga tokoh asal Hindia
diasingkan ke Belanda yakni EF Douewes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan
Soewardi Soerjaningrat. Diantara dua era inilah kontak hubungan Hindia dan
Belanda yang intens melalui kehadiran orang Hindia di Belanda Salah satu yang
berangkat ke Belanda tahun 1883 adalah Tan Tjoen Liang.
Lantas
bagaimana sejarah Tan Tjoen Liang? Seperti disebut di atas, Tan Tjoen Liang
termasuk salah satu pionir asal Hindia (baca: Indonesia) berangkat studi ke
Belanda. Lalu bagaimana sejarah Tan Tjoen Liang? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Tan Tjoen
Liang Pionir: Studi di Delft
Tan
Tjoen Liang lulus ujian masuk di kelas satu HBS di Gymnasium Wollem III di
Batavia tahun 1877 (lihat Bataviaasch handelsblad, 28-09-1877). Pada tahun 1878
Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi dari kelas satu ke kelas dua (lihat Bataviaasch
handelsblad, 12-08-1878). Yang lulus bersama satu kelas antara lain Raden Mas
Notodirodjo dan Moentajieb. Dari 36 siswa satu kelas hanya mereka bertiga
dengan nama non Eropa/Belanda. Tidak ada nama non Eropa/Belanda untuk
kelas-kelas di atasnya hingga yang naik ke kelas lima. Pada tahun 1879 Tan
Tjoen Liang naik kelas tiga (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-08-1879). RM Notodirodjo dan
Moentadjieb juga lulus. Nama non Eropa/Belanda lainnya yang lulus bersama
adalah Oei Yan Lee dan Raden Mas Soemito. Pada kelas yang lebih rendah naik ke
kelas dua juga tidak ada nama non Eropa/Belanda.
Oei Yang Lee lulus ujian masuk tahun 1878 yang
ditempatkan di kelas dua (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 04-10-1878). Disebutkan ujian penerimaan untuk Gymnasium
Willem III Afd HBS tahap ketiga (terakhir) yang mana yang lulus antara lain Oei
Jan Lee dan Raden Mas Soemito ditempatkan di kelas dua.
Pada
tahun 1880 Tan Tjoen Liang lulus ujian naik dari kelas tiga ke kelas empat
(lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-08-1880). Yang lulus bersama adalah
Oei Jan Lee. Tidak ada RM Notodirodjo, Moentajieb dan RM Soemito. Pada tahun
1881 Tan Tjoen Liang lulus naik ke kelas lima (lihat Java-bode : nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-08-1881). Hanya sendiri
nama non Eropa/Belanda. Nama Oei Jan Lee tidak ada.
Seperti dapat dibaca pada artikel sebelum ini,
Oei Jan Lee pada tahun 1881 tidak meneruskan HBS di G Willem III Batavia tetapi
telah berangkat ke Belanda untuk meneruskan studi HBS. Oei Jan Lee bermaksud
untuk melanjutkan studi hukum di Leiden (setelah menyelesaikan sekolah HBS
lebih dulu).
Pada
tahun 1882 Tan Tjoen Liang seharusnya sudah lulus ujian akhir di GBS G Willem
III Batavia. Akan tetapi di daftar yang lulus ujian akhir tahun 1882 tidak
terdapat nama Tan Tjoen Liang (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-08-1882). Apakah Tan Tjoen Liang
gagal ujian atau tidak meneruskan/menunda studi? Tan Tjoen Liang diberitakan
lulus ujian akhir tahun 1883 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-07-1883). Dalam hal ini Tan Tjoen
Liang menyelesaikan sekolah HBS di G K W III Batavia dalam enam tahun. Tan
Tjoen Liang adalah anak kapten Cina di Buitenzorg (lihat De nieuwe
vorstenlanden, 03-08-1883). Disebutkan anak kapiten Cina di Buitenzorg. Tan
Tjoen Liang akan berangkat ke Belanda dengan cita-cita menjadi seorang insinyur.

berangkat dengan sejumlah penumpang diantaranya Tan Tjoen Loang (lihat Bataviaasch
handelsblad, 13-08-1883). Tidak disebutkan kapan berangkat dengan tujuan akhir
kemana. Namun dari komposisi penumpang, diduga kuat berangkat menuju Nederland.
Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-08-1883
menyebutkan dengan kapal uap Egeron, putra tertua kapten Cina dari Buitenzorg, Tan
Tjoen Liang, berangkat ke Eropa pada tanggal 13, orang yang sama yang baru saja
lulus ujian akhir disini dengan sukses. Tujuan perjalanannya adalah untuk
memenuhi syarat sebagai Insinyur. Beberapa teman dari pemuda yang berangkat
mengantarnya hingga berangkat. tujuan melatih dirinya sebagai seorang insinyur.
Juga disebutkan Tan Tjoen Liang memiliki rencana, lebih lanjut untuk sepenuhnya
menjadi orang Belanda dan menghilangkan ciri khas rambut bangsanya.
Tan
Tjoen Liang di Belanda diketahui sudah terdaftar sebagai mahasiswa politeknik
di De;lft (lihat Algemeen Handelsblad, 12-12-1883). Disebutkan diantara mereka
yang terdaftar di Sekolah Politeknik di Delft adalah Tjoen Liang Tan, putra
kapten Cina di Buitenzorg. Ia menyelesaikan studi persiapannya di Jawa, serta
menyelesaikan kursus 5 tahun di Gymnasium Willem III di Batavia dan
menyelesaikan ujian akhirnya di tahun ini. Tan Tjoen Loang lahir pada tahun
1865, dalam usia 18 tahun ia sudah studi di Sekolah Politeknik untuk
mendapatkan ijazah sebagai insinyur. Ini adalah bukti bahwa orang Cina, dalam
hal perkembangan mental, tidak kalah dengan penduduk Barat.
Disebutkan lebih lanjut bahwa contoh seperti
itu masih dapat ditemukan pada orang Cina Oei Jan I.ee, putra Oei Soei Tjoan,
letnan Cina di Banda (Kepulauan Maluku) yang juga datang ke Belanda pada usia
18 tahun dan sekarang meneruskan sekolah HBS Gymnasium di Leiden, dengan
harapan dapat diterima di kelas akademik tahun depan, pada usia 19 tahun, untuk
mendapatkan gelar doktor dalam bidang hukum).
Kehadiran
Tan Tjoen Liang di Belanda telah menambah jumlah orang Cina asal Hindia yang
melanjutkan studi di Belanda. Sebelumnya sudah ada beberapa orang prubumi asal
Hindia yang berangkat ke Belanda dimana sebagian dari mereka melanjutkan studi
di Belanda. Pribumi pertama asal Hindia yang melanjutkan studi di Belanda
adalah Sati Nasoetion, anak kepala Koeria di Onderafdeeling Mandailing,
Afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli.Sati Nasoetion pada usia 17
tahun berangkat tahun 1857 untuk tujuan melanjutkan studi keguruan, Pada tahun
1860 Sati Nasoetion lulus ujian dan mendapat akta guru. Pada tahun 1861 Sari
Nasoetion alias Willem Iskander kembali ke tanah air dan kemudian pada tahun
1862 mendirikan sekolah guru (kweekschool) di kampongnya di Tanobato,
Mandailing.
Sebelumnya diketahui pribumi yang memiliki
keahlian melukis, Raden Saleh berangkat ke Belanda. Tidak diketahui apakah
Raden Saleh, selain belajar melukis juga melanjutkan studi (ELS/HBS). Raden
Saleh telah kemabli ke tanah air beberapa tahun sebelum Sati Nasoetion
berangkat ke Belanda. Pada tahun 1864 seorang cucu sultan Jogjakarta, Ismangoen
Danoe Winoto berangkat ke Belanda. Ismangoen melanjutkan studi di Belanda dan
setelah menyelesaikan sekolah HBS melanjutkan studi ke akademi pemerintahan
dalam negeri. Pada tahun 1874 Willem Iskander kembali berangkat ke Belanda
dengan membawa tiga guru muda Barnar Lubis, mantan muridnya, Raden Soerono dari
Soeracarta dan Raden Sasmita dari Bandoeng. Sementara tiga guru muda
melanjutkan studi untuk mendapat akta guru, Willem Iskander sendiri melanjutkan
studi untuk mendapatkan akta guru kepala (yang akan diproyeksikan menjadi
direktur sekolah guru yang akan dibuka pada tahun 1879 di Padang Sidempoean;
sementara Willem Iskander berangkat ke Belanda Kweekschool Tanobato ditutup).
Pada tahun 1875 Ismangoen menyelesaikan studinyanya di akademi dan kembali ke
tanah air. Willem Iskander kelak dikenal sdebagai kakek buyut Prof Andi Hakim
Nasoetion, Rektor IPB Bogor 1978-1987).
Pada
tahun 1887 Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi (overgangs-examen) di Polytechnische
School di Delft (lihat Delftsche courant, 15-06-1887). Disebutkan sore ini di Polytechnische
School di Delft diketahui hasil ujian transisi berdasarkan art 61, art 62, art
63, art 64 dan art 65. Nama-nama yang lulus ujian sarjana kedua (tweede gedeelte)
art 64 (werktuigkundig ingenieur) antara lain Tan Tjoen Liang. Sekitar 100
mahasiswa yang lulus ujian transisi pada art yang berbeda-beda hanya Tan Tjoen
Liang yang bernama non Eropa/Belanda. Tinggal selangkah lagi Tan Tjoen Liang
mendapat gelar insinyur mesin.
Oei Jan Lee sendiri pada tahun 1885 lulus
ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het
vaderland, 19-10-1885). Oei Jan Lee diberitakan di Belanda telah mengajukan
diri untuk dinaturalisasi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-11-1886). Seperti
halnya Tan Tjoen Liang, Oei Jan Lee juga tinggal selangkah lagi untuk mendapat
gelar sarjana hukum (Mr).
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Tan Tjoen Liang: Politeknik
Delft hingga THS Bandoeng
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





