*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa Oei Jan Lee? Yang jelas bukan
Pahlawan Nasional Jhon Lee. Oei Jan Lee
disebut adalah orang Cina (baca: Orang Tionghoa) pertama yang berangkat studi
ke Belanda dan berhasil meraih gelar sarjana hukum (Mr). Sedangkan orang
pribumi pertama yang meraih gelar sarjana hukum (Mr) disebut RM Gondowinoto. Oei
Jan Lee dapat dikatakan berangkat studi ke Belanda jauh sebelum Chung Hwa Hui
terbentuk (1911).

bukunya yang berjudul: “Di Negeri Penjajah”, menyebut orang Indonesia
pertama yang meraih gelar Meester in de rechten (Mr.) atau sarjana hukum adalah
Raden Mas Gondowinoto pada 1918. Meskipun demikian, juga ada pendapat lain yang
mengatakan bahwa Sarjana Hukum pertama orang Hindia Belanda adalah Oi Jan Lee.
Namun artikel ini bermaksud mengacu pada orang pribumi pertama peraih gelar
sarjana hukum. Universitas Leiden. Universiteit Leiden, Belanda, memiliki
sejarah yang cukup dekat dengan komunitas hukum Indonesia. Gondowinoto lahir
pada 1889 di Yogyakarta. Putra dari Pangeran Notodirodjo, saudara Pakoe Alam
VI. Ayahnya sangat peduli dengan pendidikan. Karenanya dia dan
saudara-saudaranya dimasukkan ke sekolah Belanda. Setelah lulus pendidikan ELS
dan HBS pada 1907, dia menyusul kakaknya, Raden Mas Notokworo, meneruskan
pendidikan ke Negeri Belanda. Notokworo menjadi orang Indonesia pertama yang
menjadi dokter dari Universitas Leiden tanpa lebih dulu mengikuti pendidikan
STOVIA. Pada 1910, Gondowinoto, yang menguasai bahasa Latin dan Yunani,
mengikuti langkah kakaknya yang lain, Noto Soeroto, mengambil jurusan hukum di
Universitas Leiden. Noto Soeroto menjadi orang Indonesia pertama yang menempuh
ujian kandidat hukum atau kandidaatexamen (semacam sarjana muda). Namun, dia
gagal meraih gelar Mr. Sehingga Gondowinoto yang menjadi orang Indonesia
pertama meraih gelar Mr pada tahun 1918 (https://www.hukumindo.com)
Lantas
bagaimana sejarah Oei Jan Lee? Seperti disebut di atas, Oei Jan Lee studi hukum di Belanda dan
dianggap sebagai orang Cina asal Hindia pertama sarjana hukum (Mr). Lalu
bagaimana sejarah Oei Jan Lee?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Oei Jan
Lee: Studi di Belanda
Tidak
terinformasikan bagaimana dan dimana Oei Jan Lee menyelesaikan sekolah dasar
dan sekolah menengah. Yang cukup jelas adalah Oei Jan Lee mengikuti ujian masuk
di Gymnasium Willem III School, Afdeeling HBS di Batavia tahun 1878 (lihat Java-bode
: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-10-1878).
Disebutkan ujian penerimaan untuk Gymnasium Willem III Afd HBS tahap ketiga
(terakhir) yang mana yang lulus antara lain ditempatkan di kelas dua. Pada
tahun 1879 Oei Jan Lee lulis ujian transisi naik dari kelas dua ke kelas tiga
(lihat Bataviaasch handelsblad, 09-08-1879).
Gymnasium Willem III School, Afdeeling HBS di
Batavia dibuka pada tahun 1860. Dalam perkembanganya dibuka akses bagi
siswa-siswa non Eropa/Belanda. Yang lulus ujian trnasisi ke kelas tiga (tanpa
syarat) selain Oei Jan Lee antara lain Tan Tjoen Lian, Raden Mas Notodirodjo,
Moentadjieb dan Raden Mas Soemito. Hanya mereka yang bernama non Eropa/Belanda
dalam satu kelas, demikian juga kelas di bawah mereka (naik ke kelas dua)
maupun pada kelas-kelas yang lebih tinggi (naik kelas lima). Boleh jadi akses
bagi siswa non Eropa/Belanda baru dimulai pada tahun 1878 (sebagai percobaan).
Meski percobaan tampak hasilnya baik (semua lulus ujian transisi naik ke kelas
tiga). Nama Raden Mas Notodirodjo tidak asing lagi sebagaimana pada
artikel-artikel sebelum ini. RM Notodirodjo adalah kerabat Pakoelaman, ayah
dari RM Noto Soeroto bersaudara.
Pada
tahun 1880 Oei Jan Lee lulus ujian naik dari kelas tiga ke kelas empat (lihat De
locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 11-08-1880). Demikian
juga Tan Tjoen Liang lulus tanpa syarat. Nama-nama Raden Mas Notodirodjo,
Moentadjieb dan Raden Mas Soemito tidak ada dalam daftar yang lulus ujian.
Apakah mereka bertiga gaga/menunda studi? Pada kelas terendah yang naik ke
kelas dua semuanya nama-nama Eropa/Belanda. Praktis nama-nama non Eriopa/Belanda
yang dinyatakan lulus pada tahun 1880 hanya Oei Jan Lee dan Tan Tjoen Liang.
Dalam daftar kelulusan HBS di G Willem III hanya terdapat nama Tan Tjoen Liang,
naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1881). Nama Tan Tjoen Liang
hanya satu-satunya non Eropa/Belanda untuk semua kelas.
Ini mengindikasikan bahwa RM Notodirodjo dapat
dianggap telah gagal atau mengundurkan diri. Lalu bagaimana dengan Oei Jan Lee.
Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1881
menyebutkan Oei Jan Lee adalah anak dari Letnan Cina di Bandanaira (Maluku)
yang mengawali pendidikan di sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS) kemudian
melanjutkan studi ke sekolah swasta (1875-1877). Lalu di bawah asuhan WG van
Krieken dilakukan persiapan untuk masuk ke HBS di GW III S Batavia (seperti
disebut di atas, lulus dan diterima tahu 1878). Pada tahun 1881 tidak
terinformasikan apakah Oei Jan Lee gagal ujian transisi. Akan tetapi disebutkan
beberapa bulan yang lalu Oei Jan Lee dengan HBS tiga tahun berangkat ke Leiden
pada usia 19 untuk belajar untuk menjadi pengacara. Juga disebutkan redaksi
telah membaca surat pertama Oei Jan Lee dari Belanda untuk orang tuanya di
Bandaneira. Dari berita ini terkesan bahwa Oei Jan Lee tidak meneruskan HBS di
Batavia setelah lulus kelas tiga (kelak setara MULO) dan menetruskan HBS di
Belanda.
Kehadiran
Oei Jan Lee di Belanda telah membuat heboh. Surat kabar besar Algemeen
Handelsblad memperhatikannya. Dalam Algemeen Handelsblad, 13-12-1881 kehadiran
Oei Jan Lee adalah orang Cina yang pertama di Belanda yang dikomentrasi dengan
sedikit reaktif yang memberi peringatakan bagi siswa-siswa Belanda. Disebutkan
jika Oei Jan Lee berhasil menjadi pengacara maka orang-orang Cina akan
memilihnya sebagai pengacara dan itu menjadi alarm bagi pengacara Belanda; dan
juga jika Oei Jan Lee ini semakin banyak maka itu akan mengurangi peluang mahasiswa
dan lulusan hukum Belanda berkarir di Hindia. Menurutnya dampaknya tidak terasa
sekarang, tetapi akan terlihat nanti. Fakta bahwa Oei Jan Lee belum diterima di
sekolah hukum di Belanda karena masih menyelesaikan pendidikan HBSnya. Namun
dengan cita-citanya untuk menjadi pengacara sudah mulai terkesan heboh.
Isu tentang kehadiran orang non Eropa/Belanda
dari Hindia studi ke Belanda selama tidak muncul. Mengapa kehadiran Oei Jan Lee
terasa menjadi seakan ada gangguan di dalam opini oranfg Belanda? Sebelumnya,
siswa-siswa pribumi yang melanjutkan studi ke Belanda adalah yang melanjutkan
studi keguruan dan studi administrasi pemerintahan. Studi keguruan akan menjadi
guru dan guru-guru pribumi lulusan Belanda itu akan kembali dan menjadi guru
diantara penduduk pribumi. Ini yang terejadi pada diri Sati Nasoetion alias
Willem Iskander yang berangkat studi ke Belanda tahun 1857 dan lulus tahun 1860
yang kemudian Willem Iskander mendirikan sekolah guru tahun 1861 di kampongnya
di Tanobato, afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli. Lalu Ismangoen
Danoe Winoto yang lulus akademi pemerintahan di Belanda yang lulus tahun 1875
kembali ke tanah air menjadi pegawai/pejabat pemerintah. Terakhir saat dimana
Oei Jan Lee berada di Belanda, guru muda asal Ambon JH Wattimena studi keguruan
di Haarlem dan lulus tahun 1884 dan kemudian kembali ke Ambon menjadi guru.
Kehadiran Oei Jan :Lee menjadi berbeda, karena ingin studi hukum dan
berkeinginan menjadi pengacara. Bidang studi ini tidak bermasalah bagi orang
Belanda, tetapi karir orang-orang Belanda di bidang peradilan kan sedikit banyak
terganggu. Hal itulah kehadiran Oei Jan Lee yang melanjutkan studi di Belanda
telah menjadi permbicangan (isu). Untuk bidang lain seperti kedokteran atau
teknik kemukinan tidak menimbulkan masalah. Soal hukum tidak hanya soal
peradilan itu sendiri, tetapi klien hukum menjadi inti dari isu?
Sementara
Oei Jan Lee diketahui tengah mengikuti atau meneruskan sekolah HBS di Belanda,
juga diketahui teman Oei Jan Lee di HBS Batavia, Tan Tjioen Liang sudah berada
di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883).
Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen Liang Tan, seorang Cina,
putra kapten Cina di Buitenzorg. Tan Tjoen Liang menyelesaikan HBS lima tahun
di Batavia pada tahun ini.

politeknik di Delft baru pada tahun pertama. Juga disebutkan seperti Oei Jan
Lee, Tan Tjoen Liang datang di Belanda pada usia 18 tahun, Oei Jan Lee disebut
sekarang belajar di Gymnasium di Leiden. dengan harapan tahun depan, pada usia
19 tahun, Oei Jan Lee akan diterima di perguruan tinggi untuk mendapatkan gelar
doktor (Mr) di bidang hukum. Oei Jan Lee putra Letnan Cina di Bandaneira, Oei
Soei Tjoan (lihat Le courrier de la Meuse, 12-12-1883).
Oei
Jan Lee lulus ujian akhir di Leiden (lihat Het nieuws van den dag : kleine
courant, 09-07-1884). Disebutkan di Leiden ujian (ujian masuk perguruan tinggi)
di Gymnasium diantaranya Oei Jan Lee afdeeling a (bidang hukum). Pada tahun
1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te
Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885).

mengajukan diri untuk dinaturalisasi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-11-1886).
Disebutkan Oei Jan Lee yang menyelesaikan HBS di Belanda dan tengah mengikutu
studi hukum di Unversitas Leiden telah menghadap Radja untuk mengajukan
naturalisasi. Apakah ada non Eropa./Belanda berasal dari Hindia yang sudah
dinaturalisasi? Saat Ismangoen Daboe Winoto kembali ke tanah air pada tahun
1875 dengan beslit yang diperoleh di Belanda berbenturan dengan peraturan
peundang-undangan yang mengharuskan untuk menjadi pejabat harus orang Belanda.
Pada saat itu Ismangoen meradang. Namun tidak terinformasikan apakah Ismangoen
telah melakukan jalan proses naturalisasi. Besar dugaan apa yang pernah terjadi
sebelumnyanya sudah diketahui oleh Oei Jan Lee sehingga untuk memperbesar
peluang lalu mengajukan naturalisasi. Tampaknya Oei Jan Lee walau berasal dari
daerah terpencil di Maluku, tetapi cara berpikir/mental cukup futuristik.
Seperti sebelumnya, kembali muncul isu baru, keinginan Oei Jan Lee
dinaturalisasi juga tidak sepenuhnya mulus, sebagai orang Belanda menolaknya dengan
alasan berbeda-beda (lihat antara lain De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad,
02-02-1887).
Oei
Jan Lee akhir lulus ujian dan mendapat gelar sarjana hukum (lihat Dagblad van
Zuidholland en ‘s Gravenhage, 15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas,
lalu melanjutkan studi ke tingkat doktoral. Pada bulan Januari 1889 Mr Oei Jan
Lee meraih gelar doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche
courant, 16-01-1889).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Oei Jan Lee: Indische Vereeniging
dan Chung Hwa Hui
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


