*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa dokter Asmaoen? Dalam narasi
sejarah kedokteran Indonesia pada masa ini, Dr Asmaoen disebut dokter (pribumi)
pertama Indonesia. Dalam hal ini, Raden Mas Asmaoen haruslah dipandang sebagai
pionir dalam pendidikan (bangsa) Indonesia di bidang kedokteran. Tentu saja
masih ada Amaoen yang lain di bidang yang lain seperti saerjana hukum (Mr),
inisinyur (teknik dan pertanian), dokter hewan, sarjana pendidikan, sarjana
sastra dan sebagainya.

disebut dokter pertama Indonesia adalah Dr Asmaoen. Hal ini karena Asmaoen
adalah lulusan pertama orang pribumi di Belanda dengan gelar Arts (tahun 1907).
Sementara lulusan sekolah kedokteran di Indonesia (baca: Hindia Belanda) diberi
gelar Inlandsch Arts kemudian menjadi Indisch Arts. Gelar dokter Arts setara
dengan dokter Eropa/Belanda. Okelah ittu satu hal. Hal lainnya adalah dalam
narasi sejarah kedokteran hewan Indonesia pada masa ini yang disebut dokter
hewan pertama adalah JA Kaligis. Faktanya pribumi pertama yang meraih gelar
dokter hewan di Belanda (Urrecht) adalah Sorip Tagor Harahap (tahun 1920). Lantas siapa yang menjadi pribumi pertama yang
meraih sarjana pendidikan (setara lulusan IKIP sekarang)? Lalu siapa pula
pribumi pertama menjadi sarjana hukum? Sarjana tekni (insinyur)? sarjana
pertanian, sarjana sastra dan sebagainya?
Lantas
bagaimana sejarah RM Asmaoen? Seperti disebut di atas, RM Asmaoen dipandang
sebagai dokter pertama (pribumi) Indonesia. Tentu saja kalau diperluas masih
ada orang Indo dan orang Cina/Tionghoa. Lalu bagaimana sejarah RM Asmaoen?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan RM
Asmaoen: Studi Kedokteran di Kota Amsterdam
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS), M Asmaoen melanjutkan
studi ke sekolah kedokteran di Batavia (Docter Djawa School/STOVIA). Pada tahun
1897 Asmaoen lulus transisi dari kelas dua ke kelas satu tingkat persiapan
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-02-1897).
Yang sama-sama lulus satu kelas dengan Asmaoen antara lain JE Tehupelory, WK
Tehupelory, Mohamad Hamzah Harahap dan Haroen Al-Rasjid Nasoetion.

tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik antara lain R Sardjono. M Sarwono
dan J Loen. Sementara di atas mereka satu tahun antara lain R Tumbelaka. Di
atasnya lagi yang lulus dari kelas dua ke kelas tuga antara lain J Wuller. Di
atasnya lagi yang lulus ujian antara lain Ph. Laoh. Pada kelas tertinggi yang
lulus ujian dari kelas empat ke kelas lima antara lain J Riedijk dan M
Boenjamin (yang harus her). Catatan: Siswa yang diterima di Docter Djawa
School/STOVIA adalah lulusan sekolah dasar ELS. Lama studi tujuah tahun, dimana
dua tahun pertama tingkat persiapan dan lima tahun berikut tingkat medik.
Pada
tahun 1900 Mas Asmaoen lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke kelas empat
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1900).
Teman-temannya yang disebut di atas, JE Tehupelory, WK Tehupelory, Mohamad
Hamzah Harahap dan Haroen Al Rasjid Nasoetion juga lulus. Pada tahun 1901
Asmaoen dkk lulus ujian naik ke kelas lima (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 29-11-1901).

pulang kampong pada tanggal 4 Desember (lihat De locomotief : Samarangsch
handels- en advertentie-blad, 04-12-1901). Disebutkan kapal ss Pel tanggal 4
berangkat dari Batavia menuju Semarang dan Soerabaja yang mana penumpang antara
lain mahasiswa Dr Djawa, Mas Asmanoe dan Mas Asmaoen. Nama keduanya mirip, hanya
beda urutan huruf. Tidak begitu jelas dimana mereka turun (Semarang atau
Soerabaja).
Pada
tahun 1902 Asmaoen dan kawan-kawan lulus ujian akhir dan mendapat gelar dokter
djawa (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-11-1902). Ini
mengindikasikan Asmaoen dkk lancar dalam studi (tidak pernah ketinggalan
kelas). Disebutkan Asmaoen berasal dari Malang. Ini dengan sendirinya menjawab
pertanyaan saat libur Asmaoen dengan kapal ss Pel akan turun di Soerabaja (dan
seterusnya ke Malang).
Sedangkan yang lulus ujian transisi tahun 1902
ini yang naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik antara lain Abdoel
Hakim [Nasoetion] dan Abdoel Karim [Harahap] dari Padang Sidempoean, Tjipto
[Mangoenkoesoemo] dari Poerwodadi dan HJD Apituley dari Ambon (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 27-11-1902). Nama Tjipto Mangoenkoesoemo kelak dikenal
sebagai nama eumah sakit RSCM Jakarta.
Segera
setelah lulus, Asmanoen dkk disebar ke berbagai tempat. Dr Asmaoen ditempatkan
di Modjokerto (lihat Soerabaijasch handelsblad, 22-12-1902). Tentu saja jarak
antara Modjokerto dan Malang cukup dekat. Sementara Haroen Al Rasjid Nasoetion
ditempatkan di Padang dan Mohamad Hamzah Harahap ditempatkan di Telok Betoeng
(Lampoeng). Sedangkan TJ Tehupelory ditempatkan di Meester Cornelis dan WK
Tehupelory di Medan. Namun dalam perkembangannya Dr Asmaoen mengundurkan diri
dari dinas pemerintah.
Hingga awal tahun 1904 Dr Asmaoen masih
bertugas di Modjokerto (lihat Soerabaijasch handelsblad, 14-03-1904). Pada
bulan Januari 1905 Dr Asmaoen dipindahkan ke Sitoebondo, Res. Besoeki,
sebaliknya Dr Mas Sangar dari Sitoebondo dipindahkan ke Modjokerto, Res.
Soerabaja (lihat De locomotief, 03-01-1905). Namun tidak lama kemudian Dr
Asmaoen diberitakan mengundurkan diri dari dinas pemerintah dan kemudian
diberhentikan dengan hormat terhitung sejak Juni 1905 (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 17-06-1905). Pada tahun 1905 diberitakan Abdoel Hakim Nasoetion,
Abdoel Karim Harahap dan Tjipto Mangoenkoesoemo lulus ujian akhir di Docter
Djawa School/STOVIA. Masih pada tahun 1905 ini Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan kembali ke tanah air, namun tidak lama lalu pada bulan Juli 1905
berangkat lagi ke Belanda. Soetan Casajangan berangkat kali pertama ke Belanda
tahun 1903.
Mengapa
Dr Asmaoen mengundurkan diri sebagai dokter dari dinas pemerintah? Yang jela
pada pada 26 Juli Dr Asmaoen berangkat ke Belanda dengan kapal ss Goentoer dari
Batavia dengan tujuan akhir Rotterdam (lihat Het vaderland, 21-08-1905). Dalam
manifes kapal ini nama Raden Mas Asmaoen dan Raden Mas Noto Kworo. Selain itu
juga disebutkan di Padang turun Pangeran Ario Notodirodjo dan Raden Mas Ario
Soerardjaningrat.
Besar dugaan bahwa Dr Asmaoen mengundurkan
diri karena akan melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Hanya alasan itu dan
alasan sakit untuk berobat yang masuk akal seseorang mengundurkan diri dari
dinas pemerintah. Sementara itu diketahui Raden Mas Notokworo belum lama lulus
sekolah HBS di Soerabaja, yang diduga juga melanjutkan studi ke Belanda.
Pangeran Ario Notodirodjo dari kraton Pakoelaman adalah ayah dari RM Notokworo
yang turut mengantar sang anak hingga ke Padang. Lantas bagaimana hubungan Dr
Asmaoen dan RM Notokworo yang memiliki tujuan yang sama ke Belanda? Lalu apakah
Dr Asmaoen juga kerabat Pakoealaman? Yang jelas Notokworo adalah anak sulung
dari Notodirodjo.
Dr
Asmaoen di Belanda studi di Universiteit te Amsterdam. Pada bulan Juni 1906
Asmaoen dinyatakan lulus ujian teoritis (lihat Land en volk, 18-06-1906). Ini
mengindikasikan bahwa Asmaoen setiba di Belanda langsung mendaftar dan diterima
untuk mengikuti studi kedokteran, yang lalu setahun berikutnya mengikuti ujian
teoritis.
Bagaimana dengan RM Notokworo belum/tidak
terinformasikan. Namun biasanya, lulusan sekolah menengah HBS dari Hindia
terlebih dahulu mengikuti ujian nasional masuk perguruan tinggi di Belanda
(semacam UMPTN pada masa ini).Yang jelas hingga tahun 1906 ini di Belanda sudah
terdapat sejumlah pribumi yang tengah mempersiapkan studi mnaupun yang tengah
memulai studi di perguruan tinggi.seperti Soetan Casajangan studi keguruan di
Haarlem dan Sosro Kartono di studi sastra di Leiden. Selain Asmaoen yang
mengikuti studi kedokteran di Amsterdam juga terdapat lulusan Docter
Djawa/STOVIA lainnya seperti Dr Abdoel Rivai (yang belum lulus ujian saringan) dan
Dr M Boenjamin sudah lulus ujian saringan (lihat Verzameling van verslagen en
rapporten behoorende bij de Nederlandsche Staatscourant, 01-01-1907). Dalam hal
ini Dr Asmaoen yang pertama pribumi dari Hindia meski belum lama tiba di
Belanda. Dr Asmaoen bagai vini, vidi, vici. Sementara itu besar dugaan bahwa Dr
Asmaoen (dari Malang) tidak terhubung dengan RM Notokworo tetapi RM Notokworo
terhubung dengan Dr M Boenjamin (dari Soeracarta). Dr Asmaoen adalah putra dari
Patig van Malang (lihat De nieuwe vorstenlanden, 20-07-1906).
Pada
bulan Maret 1907 Asmaoen lulus ujian dokter pertama (lihat Het vaderland, 16-03-1907).
Ini mengindikasikan bahwa Asmaoen tinggal selangkah lagi untuk mendapat gelar
dokter. Pada bulan Desember 1907 Asmaoen lulus ujian akhir di Amsterdam (lihat Het vaderland, 21-12-1907).
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Dr Asmaoen adalah pribumi pertama yang
studi di Belanda yang berhasil meraih gelar sarjana (bidang kedokteran).
Asmaoen datang di Belanda: vini, vidi, vici.
Sebelum dinyatakan lulus mendapat gelar dokter, Asmaoen sebelumnya
diberitakan telah dikabulkan sebagai warga negara (naturalisasi) Belanda (lihat
Het vaderland, 17-12-1907). Disebutkan keputusan naturalisasi Twede Kamer
antara lain Khouw Oen Giok lahir di Batavia, Oey Tiang Hoei lahir di
Weltevreden dan Mas Asmaoen lahir Boeloelawang, sekarang di Amsterdam. Seperti
kita lihat nanti pribumi yang studi di Belanda yang telah berhasil meraih gelar
akademik juga ada beberapa yang dinaturalisasi seperti Dr Abdoel Rivai,
dinaturalisasi tahun 1910 (lihat Het
vaderland, 21-01-1910).
Raden
Mas Asmaoen usia 27 tahun tidak hanya telah mendapat status naturalisasi
(setara orang Belanda), juga Asmaoen telah mendapat gelar dokter (Arts) setara
dokter Eropa/Belanda. Dalam laporan komisi pendidikan tinggi Mas Asmaoen
dicatat lahir tanggal 16 Mei 1880 di Boeloelawang (lihat Verzameling van
verslagen en rapporten behoorende bij de Nederlandsche Staatscourant, 01-01-1908).
Berdasarkan Koninklijk besluit tertanggal 11 Januari
No. 40 dokter (arts) Mas Asmaoen diangkat sebagai dokter pemerintah (officier
van gezondheid der 2de klasse) yang ditempatkan di militer Hindia Belanda
(lihat Nederlandsche staatscourant, 13-01-1908). Dr Asmaoen diberitakan telah
di baptis di Belanda dan menjadi anggota jemaat Nederlandsch Hervormd (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 03-03-1908(.
Pada
bulan Juni 1908 Dr Asmaoen kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ss Vogel
berangkat dari Amsterdam (lohat Haagsche courant, 01-06-1908). Dalam daftar
penumpang, Dr Asmaoen sendiri (tidak ada istri).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Perguruan Tinggi di Belanda:
Para Pionir Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





