*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada masa ini universitas
diasosiasikan sebagai badan pendidikan yang terdiri dari sejumlah fakultas dan
lembaga lainnya. Fakultas adalah kata lain untuk sekolah tinggi (perguruan
tinggi). Dalam hal ini perguruan tinggi (hoogeschool) didirikan sebelum terbentuk
universitas. Sedangkan fakultas dibentuk sebagai bagian dari universitas.
Pembentukan universitas di Indonesia (baca: Hindia Belanda) baru dimulai tahun
1940 (Universiteit van Nederlansche Indie). Konsep serupa ini juga di beberapa kota di
Belanda dapat dikatakan belum lama terbentuk seperti di Rotterdam, Delft,
Utrecht dan Wageningen. Sebelum terbentuk universitas di kota-kota tersebut,
sudah ada pribumi yang studi.

kuno. Dalam perkembangannya diketahui keberadaan Universiteit van Amsterdam
(lihat La gazette d’Amsterdam, 07-01-1675); Oxford University di Inggris (lihat
Amsterdamse courant, 10-12-1682);
Universiteit van Leuven (lihat Amsterdamse courant, 19-07-1692); dan ‘S Land
Universiteit di Leiden (lihat Leydse
courant, 14-07-1758). “S Land Universiteit ini kemudian berubah nama menjadi
Rijks Universiteit. Di dua kota besar Amsterdam dan Leiden terbentuknya
universitas pertama di Belanda. Di kota-kota lain seperti di Rotterdam, di
Haarlem, di Delft, di Utrecht dan di Wageningen berawal dari sekolah menengah
(hoogere/schhol) yang kemudian terbentuk sekolah/perguruan tinggi
(hoogeschool). Perguruan tinggi (hoogeschool) yang utama menjadi cikal bakal
pembentukan universitas. Sebelum terbentuk universitas di kota-kota tersebut,
bahkan sebelum terbentuk perguruan tinggi sudah ada pribumi yang studi seperti
di Rotterdam, Wageningen, Delft dan Haarlem. Idem dito di Indonesia (baca:
Hindia Belanda) sebelum terbentuk universitas sudah ada perguruan/sekolah
tinggi. Semuanya bermula dari sekolah menengah (hoogereschool).
Lantas
bagaimana sejarah pribumi studi di kota-kota Belanda sebelum terbentuknya
universitas? Seperti disebut di atas, pembentukan universitas di sejumlah kota
di Belanda masih terbilang baru seperti di Rotterdam, di Haarlem, di Delft, di Utrecht dan di
Wageningen. Lalu bagaimana sejarah pribumi studi di kota-kota Belanda sebelum
terbentuknya universitas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Pribumi
Studi di Kota-Kota Belanda: Latar Belakang dan Para Pionir
Pada
awal Pemerintah Hindia Belanda introduksi pendidikan modern (aksara Latin)
kepada penduduk pribumi sudah dilakukan. Guru-guru asal Belanda didatangkan dan
sekolah-sekolah dasar dididirikan di sejumlah kota utama, seperti di kota
Padang sudah ada guru tahun 1821. Namun
introduksi yang dilakukan tidak terlalu sukses kalau tidak dapat dikatakan
gagal. Para orang tua tidak menganggap penting sekolah dan belum/tidak berguna.
Selain jarak tempat tinggal dan sekolah yang jauh, soal keamanan siswa, para
orang tua membutuhkan anak dalam membantu pekerjaan keluarga. Seperti itulah
situasi awal pendidikan di antara kalangan pribumi.
Bagi golongan Eropa/Belanda pendirian
sekolah-sekolah di sejumlah kota utama berjalan sukses. Meski para orang tua
berjauhan satu sama lain, pendidikan bagi anak Eropa/Belanda dapat berjalan
lancar karena diseleranggarakan dengan asrama. Untuk keluarga yang jauh sekali
dan terpemci dari kota utama, para orang tua yang mengajari anak-anak mereka.
Tidak terlalu banyak permasalahan pendidikan anak diantara orang Eropa/Belanda.
Jumlah sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS) makin banyak dari waktu ke waktu.
Dalam
perkembangannya pemerintah terus mendorong penduduk pribumi untuk bersekolah.
Lalu dibuat program percepatan pendidikan bagi pribumi yang mana pada tahun
1848 terbit keputusan pendirian sejumlah sekolah pemerintah di berbagai kota
dengan mendatangkan guru-guru dan mahasiswa dari Belanda untuk berpartisipasi
dalam pengembangan pendidikan pribumi. Untuk memperbanyak guru-guru pribumi
pada tahun 1851 Mr Palmer van Broek mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Soeracarta.
Lalu pada tahun 1856 Residen Padangsche Bovenlanden JAW van Ophuijsen juga
mendirikan sekolah guru di Fort de Kock. Meski sekolah guru Soeracarta berjalan
dengan baik tetapi pengadaan guru tetap masalah karena guru-guru baru yang
dihasilkan tidak banyak relatif dengan jumlah kota-kota utama terutama di Jawa
maupun Sumatra. Di wilayah Ambon dan Minahasa sendiri sudah sejak lama
penyelenggaraan pendidikan diadakan (yang dijalankan oleh para misionaris).
Pada tahun 1851 pemerintah melalui Militaire
Drpartment, sehubungan dengan kebutuhan tenaga kesehatan di wilayah-wilayah
epidemik, dididirikan sekolah kedokteran di Batavia. Sekolah itu dibangun di
sekitar rumah sakit militer di Weltevreden (kini RSPAD). Jumlah siswa sekolah
kedokteran sekita 10 orang per tahun yang diterima. Pada tahun 1854 dua siswa
asal Afdeeling Angkola Mandailing (Res. Tapanoeli) diterima bernama Si Asta dan
Si Angan. Mereka berdua ini adalah siswa pertama yang diterima di sekolah
kedokteran Batavia yang berasal dari luar Jawa. Lamaa studi dua tahun. Pada tahun
1856 dua siswa itu lulus yang mana Dr Asta Nasoetion ditempatkan di
Onderafdeeling Mandailing dan Dr Angan Harahap di Onderafdeeling Angkola. Pada
tahun 1856, mungkin karena dianggap berhasil, dua siswa asal Angkola Mandailing
diterima lagi di sekolah kedokteran tersebut. Demikian seterusnya, sekolah
kedokteran tersebut, karena berada di Jawa kemudian lebih dikenal sebagai
Docter Djawa School.
Pada
tahun 1857 salah satu siswa di Afdeeling Angkola Mandailing, bernama Si Sati,
tidak melanjutkan sekolah kedokteran ke Batavia, juga tidak melanjutkan sekolah
guru ke Fort de Kock dan Soeracarta, tetapi melanjutkan studi ke Belanda. Pada
tahun 1860 Si Sati alias Willem Iskander lulus ujian di Haarlem dan mendapat
akta guru. Setelah mengunjungi berbagai tempat yang penting seperti pabrik,
wilayah pertanian dan surat kabar, Willem Iskander pada tahun 1861 kembali ke tanah
air. Pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru di kampongnya di
Tanobato, onderafdeeling Mandailing (sekolah guru ketiga setelah Soeracarta dan
Fort de Kock).
Setelah ada laporan Gubernur Pantai Barat
Sumatra, Kepala Inspektur Pendidikan Pribumi CA van der Chijs mengunjungi
sekolah guru di Tanobato. Hasil evaluasi van der Chijs terhadap sekolah guru
Tanobato cepat tersiar di seluruh Hindia. Disebutkan sekolah guru Tanobato
terbilanhg bagus dan terbaik di Hindia karena kurikulumnya sangat memadai. Hal
itu membuat heboh di Jawa, sebab dari 26 afdeeling di Jawa baru terdapat
sekolah pemerintah di ibu kota 15 afdeeling. Apa yang akan terjadi? Sekolah
guru Tanobato tengah mengasuh 24 siswa calon guru yang akan segera memenuhi
kampong-kampong di Afdeeling Angkola Mandailing. Sejauh ini (pada tahun 1862
saat Willem Iskander mendirikan sekolah guru) sekolah pemerintah di Afdeeling
Angkola Mandailing sudah ada enam buah sekolah (darimana Willem Iskander
merekrut lulusan terbaik untuk dididik menjadi guru). Heboh di Jawa karena
dipicu sekolah guru Tanobato yang dipimpin Willem Iskander membangkitkan
semangat para pegiat pendidikan di Residentie Preanger untuk mendirikan sekolah
guru. Lalu pada tahun 1865 di Bandoeng dibuka sekolah guru (sekolah guru
keempat).
Sati
Nasoetion alias Willem Iskander dapat dikatakan pionier pribumi studi ke
Belanda. Semangatnya terbilang luar biasa dan hasilnya nyata. Saat Sati
Nasoetion berangkan ke Belanda pada tahun 1857 usianya masih 17 tahun.
Afdeeling Angkola Mandailing menjadi jumlah sekolah terbanyak per afdeeling di
Hindia Belanda. Faktor ketersedian guru menjadi sangat penting. Semuanya
dimulai dari gagasan Sati Nasoetion berangkat studi ke Belanda pada tahun 1857.
Sati Nasoetion alias Willem Iskander kelak dikenal sebagai ompung (kakek buyut)
Prof Andi Hakim Nasution (Rektor IPB 1978-1987).
Sukses Sati Nasoetion alias Willem Iskander
studi ke Belanda, salah satu siswa di Jogjakarta dikirim ke Belanda pada tahun
1864 bernama Raden Mas Ismangoen Danoe Winoto (cucu dari Soeltan Djogjacarta).
Di Belanda, Ismangoen tidak studi keguruan seperti Sati Nasoetion, tetapi
mengikuti sekolah umum (ELS hingga HBS). Setelah lulus HBS, pada tahun 1871
Ismangoen ikut ujian ambtenaren Oost
Indie (pegawai pemerintah untuk Hindia Belanda). Untuk bagian A dari 54 orang
yang mendaftar dan hanya 48 yang mengikuti ujian dimana 29 diantaranya
dinyatakan lulus termasuk Ismangoen Danoe Winoto. Salah satu penguji dalam
ujian ini adalah FN Nieuwenhuijzen, orang yang membawa Ismangoen ke Belanda
pada tahun 1864. Para siswa calon ambtenaar ini akan dididik untuk beberapa
lama.
Sementara
Ismangoen Danoe Winoto mengikuti pendidikan ambtenaar di Belanda, pada tahun
1874 Willem Iskander berangkat ke Belanda untuk studi yang juga membawa tiga
guru muda yakni Barnas Lubis, lulusan Kweekschool Tanobato, Rade Soerono dari
Soeracarta dan Raden Ardi Sasmita dari Bandoeng. Ketiga guru muda itu
diharapkan akan mendapat akta guru seperti yang diperoleh Willem Iskander pada
tahun 1860. Sedangkan Willem Iskander sambil membimbing tiga guru muda mengikuti
pendidikan untuk mendapatkan akta guru kepala yang diharapkan nanti menjadi
direktur sekolah guru yang akan dibuka tajhun 1879 di Padang Sidempoean
(pengganti sekolah guru Tanobato yang telah ditutup karena keberangkatan Willem
Iskander). Sementara Willem Iskander dan tiga guru muda tengah studi, pada
tahun 1875 Ismangoen Danoe Winoto lulus ujian akhir.
Menteri Koloni mengangkat Ismangoen sebagai
pegawai pemerintah di Hindia Belanda berdasarkan beslit tanggal 28 Agustus
(lihat Algemeen Handelsblad, 02-09-1875). Namun menjadi heboh di Hindia karema
ada aturan Gubernur Jenderal bahwa untuk menjadi pejabat pemerintah hanya
diperuntukkan untuk orang Eropa/Belanda. Orang pribumi di Hindia Belanda meski
memiliki pendidikan lisensi Eropa/Belanda hanya dapat diangkat di pengadilan
(Landraad) atau pejabat di lingkungan penduduk pribumi. Ismangoen Danoe Winoto
meradang. Meski demikian Ismangoen Danoe Winoto tetap kembali ke tanah air. Ismangoen
Danoe Winoto setelah 10 tahun meninggalkan kampung halaman kembali ke kampung
halaman di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto berlayar dengan kapal Amalia
(lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 20-03-1876). Disebutkan di
dalam manifes kapal ini Ismangoen Danoe Winoto tidak sendiri tetapi dengan
istri. Ismangoen Danoe Winoto sendiri
diberitakan menikah dengan CH van Steeden tanggal 28 Januari di Borculoo (lihat
Algemeen Handelsblad, 29-01-1876)
Sati
Nasoetion alias Willem Iskander dari Afdeeling Angkola Mandailing Residentie
Tapanoeli dan Ismangoen Danoe Winoto dari Residentie Djogjakarta adalah dua pionir
pribumi studi ke Belanda.
Pada tahun 1860 Penmerintah Hindia Belanda
membuka sekolah menengah (HBS) di Batavia (kelak dikenal Koning Willem III
School). Siswa yang diterima adalah lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda
(ELS). Lama studi lima tahun. Lulusan HBS dapat melanjutkan studi ke perguruan
tinggi di Belanda. Pembukaan sekolah HBS ini setelah Willem Iskander studi ke
Belanda. Dalam hal ini saat Willem Iskander melanjutkan sekolah keguruan ke
Belanda, tingkat sekolah yang ada baru sekolah dasar (sekolah pemerintah bagi
pribumi dan sekolah ELS bagi golongan Eropa/Belanda). Pada saat Ismangoen lulus
studi di Belanda, pada tahun 1875 dibuka sekolah HBS di Soerabaja dan dua tahun
kemudian di Semarang dibuka sekolah HBS. Namun tiga sekolah HBS yang ada ini
hanya terbatas bagi siswa Eropa.Belanda. Hal itulah mengapa muncul persoalan
tentang Ismangoen yang lulusan sekolah di Belanda dalam penempatan sebagai
pegawai pemerintah di Hindia Belanda. Tentu saja tidak ada pribumi yang studi
di HBS karena sekolah ELS belum dibuka akses bagi pribumi.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pribumi Studi di Belanda:
Sekolah Menengah (Hoogereschool), Sekolah Tinggi/Perguruan Tinggi (Hoogeschool)
hingga Terbentuknya Universitas (Universiteit)
Dalam
perkembangannya di Hindia Belanda, di sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS)
yang terdapat di kota-kota utama, dibukan akses bagi siswa pribumi. Para orang
tua tidak perlu lagi mengirim anaknya studi ke Belanda seperti yang dilakukan
oleh Ismangoen Danoe Winoto. Meski demikian, guru-guru muda masih ada yang
dikirim untuk melanjutkan studi ke Belanda seperti JH Wattimena dari Ambon
(lulus di Haarlem tahun 1884). Para lulusan ELS dari golongan pribumi
dimungkinkan mengikuti ujian kleine ambtenaar di Hindia dan akan ditempatkan
sebagai pegawai pemerintah (PNS). Semakin banyaknya lulusan ELS dari golongan
pribumi, lalu kemudian sekolah HBS juga dibuka akses kepada siswa pribumi
lulusan ELS.
Salah satu siswa pribumi lulusan ELS yang
diterima di sekolah HBS adalah Raden Mas Oetojo di HBS Semarang. Pada tahun
1891 Raden Mas Oetojo lulus ujian akhir di HBS Semarang (lihat De locomotief :
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-06-1891). Jika dan hanya jika Raden
Mas Oetojo lancar studi, diperkirakan Raden Oetojo diterima di HBS Semarang
pada tahun 1886. Sebagaimana diketahui lama studi di ELS selama tujuh tahun. Dalam
hal ini besar kemungkinan Raden Mas Oetojo adalah pribumi pertama yang
memperoleh pendidikan HBS dan merupakan generasi pertama pribumi diterima di
sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS), tidak lama setelah kepulangan Ismangoen
studi dari Belanda.
Pada
tahun 1896 HBS Semarang mengumumkan hasil ujian akhir, Salah satu yang lulus
adalah Raden Sosro Kartono (abang dari RA Kartini). Pada tahun 1896 ini juga
Raden Kartono berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.
Raden Kartono kuliah di Polytechnic di Delft.
Raden Kartono dalam hal ini dapat dikatakan
pribumi pertama yang studi di perguruan tinggi (mahasiswa) di Belanda. Namun
dalam perkembangannya Raden Kartono studi Indologi di Leiden. Setelah Raden
Kartono tidak ada lagi pribumi yang melanjutkan studi ke Belanda hingga Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan (lulusan sekolah guru Kweekschool Padang
Sidempoean) tahun 1903 yang akan melanjutkan studi keguruan. Soetan Casajangan kemudian
diketahui kuliah di Rijks Kweekschool di Leiden.
Polytechnic
di Delft dan di Rijks Kweekschool di Leiden adalah perguruan tinggi tingkat
diploma. Yang diterima di Polytechnich Delf adalah lulusan HBS sedangkan di Rijks
Kweekschool yang diterima adalah lulusan kweekschool seperti yang terdapat di
Haarlem. Pada saat ini sekolah poli teknik di Delft belum berbentuk fakultas
(hoogeschool). Polytechnich Delf inilah yang kemudian ditingkatkan menjadi
dengan nama Technische Hoogeschool te Delft yang terdiri berbagai jurusan
(departmen) seperti sipil, mesin, elektro, kimia dan sebagainya. Sementara Rijks
Kweekschool masih tetap berstus diploma.
Seperti disebut di atas bahwa di Belanda sudah
sejak lama ada universitas (di Amsterdam dam Leiden) yang terdiri dari berbagai
hoogeschool/fakulteit.Dalam hal ini universitas terdiri dari banyak fakultas
atau hoogeschool. Sedangkan di kota-kota lain belum ada universitas, bahkan
belum ada sekolah tinggi (hoogeschool) seperti di Delft, Utrecht, Rottedam dan
Wageningen. Gagasan pendirian hoogeschool di Delft baru muncul pada tahun 1904
yang dibicarakan di Tweede Kamer. Teknik di Delft bisa ditingkat hoogeschool
tetatpi tidak untuk handel dan landbouw. Paling tahun 1907 Technische
Hoogeschool di Delft sudah eksis.
Seperti
halnya sekolah tinggi di universitas (Leiden dan Amsterdam) mahasiswa yang
diterima di Hoogeschool te Delft adalah lulusan HBS yang terlebih dahulu lulus
ujian nasional saringan masuk perguruan tinggi (kedokteran, hukum, sastra dan
sebagainya) seperti KJ Leitemia lulus ujian masuk 1910 yang kemudian diterima
di TH Delft. Pribumi pertama yang studi di Technische Hoogeschool te Delft
antara lain Raden Sarengat, RM Notodiningrat, KJ Leatemia dan RM Soerjowinoto
yang keempatnya sama-sama lulus ujian propaedeutisch tahun 1914. Pribumi
lainnya yang menyusul di sekolah teknik ini adalah Mohamad Iljas (tahun 1916)
yang tiba di Belanda tahun 1913 (lulusan HBS di Batavia).
Sementara itu di Wageningen belum ada
Landbouwhoogeschool. Yang ada baru setingkat sekolah menengah (landbouwschool).
Pada tahun 1908 RM Oetarjo disebnt lulus ujian transisi dari kelas satu ke
kelas dua di Rijks Landbouwschool di Wageningen (lihat Arnhemsche courant,
07-09-1908). Raden Oetarjo sebelumnya diketahui tahun 1907 naik ke kelas tiga
di HBS Semarang. Dalam hal ini Oetarjo meneruskan sekolah HBS di Wageningen.
Persyaratan masuk di Rijks Landbouwschool di Wageningen adalah harus telah
menyelesaikan HBS dua tahun. Yang baru menyelesaikan kelas satu HBS ditempatkan
ditingkart persiapan. RM Oetarjo lulus ujian akhir (lihat Arnhemsche courant, 12-07-1910).
Para lulusan HBS Landbouwschool Wageningen ini dapat meneruskan pendidikan ke
kursus satu tahun (terdiri dari dua jurusan: Belanda dan Hindia Belanda). Pada
tahun 1911 RM Oetarjo di Rijks Landbouwschool di Wageningen lulus ujian
sertifikat Indische Klasse (lihat Arnhemsche courant, 12-07-1911). Dalam hal
ini dapat dikatakan Raden Oetarjo adalah lulusan sekolah pertamian dengan level
diploma satu tahun (kelas tertinggi di Wageningen). Sebelum RM Oetarjo studi di
Rijks Landbouwschool di Wageningen, pribumi pertama yang sudah ada adalah
Baginda Djamaloedin. Pada tahun 1905 Djamaloedin lulus ujian dari kelas
persiapan naik kelas satu Rijks Landbouwschool di Wageningen (lihat Algemeen
Handelsblad, 19-07-1905). Disebutkan Djamaloedin berasal dari Priaman. Satu
kelas dengan Djamaloedin adalah Raden Mas Soemardji berasal dari Kediri. Pada
tahun 1906 Baginda Djamaloedin lulus ujian transisi dari kelas satu ke kelas
dua (lihat Arnhemsche courant, 13-07-1906). Raden Mas Soemardji juga lulus.
Disebutkan Raden Mas Soemardji berasal dari Trenggalek, Kediri. Pada tahun 1907
Baginda Djamaloedin dan Raden Mas Soemardji lulus ujian akhir di Rijks
Landbouwschool di Wageningen pada tanggal 4 Juli (lihat Arnhemsche courant,
10-07-1907). Raden Soemardji meneruskan
ke diploma satu lulus 1908, sedangkan Djamaloedin tidak terinformasikan apakah
melanjutkan ke diploma satu atau tidak. Pada tahun 1911 saat Raden
Oetarjo lulus diploma satu, SM Latif lulus ujian masuk sekolah pertanian
pemerintah Rijks Landbouwschool di Wageningen (lihat Arnhemsche courant,
17-07-1911). Disebutkan SM Latif ditempatkan di kelas dua. SM Latif sendiri adalah
siswa HBS di KW III S Batavia yang meneruskan HBS di Haarlem yang kemudian
melanjutkan studi di Rijks Landbouwschool di Wageningen.
Seperti
halnya di Wageningen, di Rotterdam sekolah yang ada baru setingkat sekolah
perdagangan (Handelschool). Gambaran ini dapat dilihat pada tahun 1911. Segera
setelah Soetan Casajangan lulus akta guru MO di Rijks Kweekschool di Leiden
tahun 1911 diangkat menjadi guru bahasa Melayu di Handelschool di Amsterdam.
Saat ini seorang siswa kweekschool di Jogjakarta Sjamsi Sastra Widagda melanjutkan
studi sekolah guru di Haarlem yang langsung dibimbing oleh Soetan Casajangan.
Lalu Sjamsi meningkatkan pendidikan program Bahasa Melayu dan Etnografi di
Leiden dan lulus bulan Desember 1915.
Selanjutnya Sjamsi diangkat menjadi asisten dosen bahasa Melayu di Leiden. Saat
inilah Sjamsi mengikuti studi di Handelschool di Rotterdam.
Pada tahun 1916 sekolah tinggi perdagangan
dibentuk di Rotterdam. Paling tidak sudah ada dua sekolah perdagangan yang
diketahui yakni Handelschool di Amsterdam dimana Soetan Casajangan pernah
mengajar (sebelum pulang ke tanah air) dan Handelsschool di Rotterdam. Oleh
karen dibukanya Handels Hoogeschool di Rotterdam maka dimungkinkan dapat
diterimana lulusa HBS.
Sjamsi
juga meneruskan pendidikan keguruannya dan mendapat akta guru LO tahun 1917. Sambil
tetap sebagai asisten dosen bahasa Melayu di Leiden, pada tahun 1818 Samsi
Sastrawidagda diberitakan lulus ujian di Nederland Handelhoogeschool di
Rotterdam (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 29-06-1918).
Tidak disebutkan tingkat apa (ujian masuk atau ujian transisi). Samsi Widagda
lulus ujian sarjana pada tahun 1923 (lihat Arnhemsche courant, 21-03-1923).
Seperti halnya di Wageningen, di Utrecht sudah
ada sekolah kedokteran hewan Veeartsenschool. Pribumi pertama studi di Utrecht
adalah Sorip Tagor Harahap, lulusan Veeartsenschool di Buitenzorg tahun 1912
yang kemudian melanjutkan studi ke Utrecht tahun 1913. Sehubungan dengan
pembukaan sekolah tinggi kedokteran hewan di Utrecht Rijks Veeartsenschool,
Sorip Tagor melanjutkan studinya. Pada tahun 1920 Sorip Tagor lulus ujian akhir
di Utrecht dan mendapat gelar sarjana kedokteran hewan (Dr). Dalam hal ini dapat
dikatakan Sorip Tagor Harahap adalah pribumi pertama yang meraih gelar dokter
hewan dan Sjamsi Sastra Widagda sebagai pribumi pertama yang berhasil meraih
gelar sarjana ekonomi. Untuk sekadar menambahkan Mohamad Hatta yang lulus HBS
di PHS Batavia pada tahun 1921 mengikuti langkah Sjamsi melanjutkan studi ke
Rotterdam. Demikian juga JA Kaligis yang datang di Belanda tahun 1921 mengikuti
langkah Sorip Tagor di Utrecht. Lantas bagaimana dengan sekolah tonggi di
Wageningen? Di Groningen dan lainnya?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





