*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Soetan Casajangan dan Abdoel Firman
Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon mendirikan Studiefond di Belanda tahun
1911. Dalam satu pertemuan Indische Vereeniging tahun 1913, yang mana Soetan
Cassajangan akan kembali ke tanah air, Soetan Casajangan berharap agar dana
Studiefond lebih dialokasikan untuk pengiriman guru-guru pribumi studi ke
Belanda. Namun itu ditentang oleh RM Noto Soeroto yang lebih menginginkan untuk
bantuan siswa-siswa prubumi yang melanjutkan studi ke universitas di Belanda.
pendapat itu sebelum kembali ke tanah air bulan Juli 1913. Soetan Casajangan
berinisiatif mendirikan Studiefond dan juga yang bekerja untuk fundraising.
Boleh jadi pendapat keduanya berbeda, karena keduanya datang dari arah yang
berbeda. Soetan Casajangan adalah seorang guru yang berangkat studi keguruan ke
Belanda, sedangkan Noto Soeroto lulusan sekolah Eropa (HBS) yang melanjutkan
studi ke universitas (non keguruan). Soetan Casajangan ingin lebih banyak guru
pribumi yang berkualitas, sedangakan Noto Soeroto ingin lebih banyak insinyur,
dokter, advocaat dan sebagainya. Dalam hal ini keduanya benar. Namuan yang mana
yang menjadi prioritas. Itulah yang menjadi perbedaannya.
Lantas
bagaimana sejarah upaya peningkatan pendidikan di Jawa? Seperti disebut di
atas, perbedaan pendapat antara Soetan Casajangan dan RM Noto Soeroto soal
alokasi dana yang terkumpul dalam Studifond, sesungguhnya persoalan yang terus
berulang sejak 50 tahun sebelumnya. Lalu bagaimana sejarah upaya peningkatan
pendidikan di Jawa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Upaya
Peningkatan Pendidikan di Jawa: Medan Perdamaian dan Boedi Oetomo
Tidak
ada satupun orang Tapanoeli (Angkola Mandailing) yang telah diterima di sekolah
menengah (HBS), tetapi sebaliknya sudah cukup banyak siswa-siswa pribumi dan
Cina di Jawa yang telah menyelesaikan pendidikan HBS 5 tahun. Hal ini karena
HBS baru ada di Batavia, Soerabaja dan Semarang. Bahkan sudah beberapa pribumi lulusan
HBS yang melanjutkan studi ke universitas di Belanda.
Sekolah menengah HBS hanya ada di (pulau)
Jawa. Siswa yang diterima di HBS adalah lulusan sekolah dasar Eropa (ELS). Lama
studi di HBS adalah lima tahun. Lulusan HBS dapat melanjutkan studi ke
universitas (di Belanda). Lulusan ELS dari Tapanoeli, khususnya afdeeling
Angkola Mandailing baru bisa diterima di sekolah kedokteran Docter Djawa School
di Batavia, sekolah kedokteran hewan Veeartsenschool di Buitenzorg dan sekolah
guru (kweekschool) di Fort de Kock. Persaingan di tiga HBS di Jawa sangat ketat
karena kuota pribumi paling banyak lima siswa. Oleh karena itu dua siswa asal
Angkola Mandailing tidak kehilangan akal. Abdoel Firman Siregar gelar
Mangaradja Soangkoepon setelah lulus ELS di Medan pada tahun 1910 berangkat ke
Belanda untuk melanjutkan studi; lalu kemudian disusul Todoeng Harahap gelar
Soetan Goenoeng Moelia setelah lulus ELS di Sibolga tahun 1911 langsung
berangkan ke Belanda untuk melanjutkan studi. Saat itu sudah ada satu lulusan
Kweekschool Padang Sidempoean (Afd Angkola Mandailing) yang melanjutkan studi
di Belanda, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (tiba di Belanda tahun
1905). Soetan Casajangan di Belanda berinisiatif membentuk organisasi mahasiswa
pribumi yang diberi nama Indische Vereeniging. Saat pertemuan pembentukan di
kediaman Soetan Casajangan pada tanggal 25 Oktober 1908 hadir sebanyak 15
mahasiswa. Tiga minggu sebelumnya di Jogjakarta diadakan Kongres Boedi Oetomo
yang pertama dimana ketua Boedi Oetomo pertama terpilih.
Dalam
hubungan ini pendidikan bagi pribumi khususnya sekolah-sekolah rakyat
kedodoran, Boedi Oetomo tertantang. Karena soal pendidikan pribumi inilah
sesungguhnya awal dibentuknya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia.
Namun kepengurusan Boedi Oetomo periode pertama belum menunjukkan kemajuan,
karena masih bersifat konsolidasi perluasan keanggotaan Boedi Oetomo. Pada
kepengurusan periode kedua, pengurus menganggap soal pendidikan pribumi menjadi
program prioritas.
Program prioritas bidang pendidikan tersebut
adalah pada tahun 1912 mengirim siswa sekolah guru (kweekschool) di Jogjakarta,
Sjamsi Sastra Widagda untuk melanjutkan pendidikan keguruan di Belanda.
Prioritas kedua adalah penerbitan majalah Goeroe Desa. Dua program prioritas
bidang pendidikan Boedi Oetomo uni adalah dalam rangkan peningkatan kualitas
guru.
Pada
bulan Agustus 1912 Boedi Oetomo mengadakan pertemuan (kongres) tahunan ke-4 yang
diadakan di Djogjakarta di rumah Wahidin Soediro Hoesodo (lihat De expres, 29-08-1912).
Para peserta dari 42 afdeeling Boedi Oetomo, hadir perwakilan dari 30 afdeeling.
Dalam sidang hari pertama, dalam laporan tahunan ke-4 yang dibacakan sekretaris,
pengurus menyimpulkan belum banyak kemajuan. Di sebutkan setahun terakhir bertambah
14 afdeeling yang kemudian secara keseluruhan jumlah anggota Boedi Oetomo
menjadi 700 orang. Disebutkan afdeeling Bandoeng dan afdeeling Soerabaja jumlah
anggota semakin berkuranng. Pencapaian program terkendala karena kekurangan
dana yang terus menerus. Lalu pada sesi tanya jawab antara pengurus pusat dan
para anggota terjadi debat yang panas.
Dari beberapa pertanyaan yang diajukan forum ada
satu pertanyaan yang harus panjang lebar dijawab pengurus yakni pertanyaan ‘Apa
yang telah Anda lakukan untuk BO?. Setelah
pembelaan oleh pengursu pusat terhadap banyak serangan dari anggota, sekretaris
menjawab bahwa calon guru Mas Samsi, dikirim ke Belanda, dididik di sebuah
perguruan tinggi keguruan swasta di Den Haag. Disana, Mas Samsi dititipkan
dalam asuhan Soetan Casajangan, yang membantu mengawasi kegiatan sehari-hari
calon guru tersebut, yang kemungkinan akan lulus pada bulan Mei tahun
berikutnya. Hasil yang baik telah diperoleh dengan
diterbitkannya majalah pribumi Goeroe Desa. Cetakan dari majalah tersebut
adalah 4.050 eksemplar dimana 1.850 dibiayai oleh rekening pemerintah. Secara
umum, kegiatan yang telah dilakukan terdiri dari mempromosikan pendidikan dan
saling mendukung. Sementara kepentingan perdagangan eceran juga diperhatikan, Beberapa
afdeling juga melakukan kegiatan pertanian dan peternakan, sedangkan afdeeling Djokdja
mendorong anggota untuk mengembangkan industri. Slogan
yang selalu dijunjung tinggi oleh pengurus pusat adalah “pelan tapi
pasti”. Dalam tanya jawa perwakilan afdeeling Weltevreden (Batavia) banyak
mengkritik ketua pengurus pusat. Juga disebutkan bahwa sebagian besar pelanggan
majalah terlambat membayar langganan mereka. Banyak penutur berbahasa Belanda
tidak suka membaca artikel berbahasa Melayu, sedangkan mereka yang tidak
mengerti bahasa Belanda tidak ingin artikel berbahasa Belanda di majalah.
Dengan demikian minat terhadap majalah berangsur-angsur berkurang, sehingga
banyak yang membatalkan berlanggana majalah tersebut.
Dalam
sidang hari kedua terjadi sesuatu yang tidak terduga. Setelah hari pertama
sekretaris pengurus pusat mengundurkan diri, pada sidang hari kedua ketua
pengurus pusat tidak hadir tetapi menitipkan surat. Isi surat tersebut
dibacakan berbunyi sebagai berikut: ‘Kepada Anggota Pengurus Pusat Boedi Oetomo.
dengan ini saya sampaikan dengan hormat bahwa untuk keperluan mendesak saya, Saya
telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari kursi kepresidenan Boedi Oetomo.
Hormat kami, Raden Adipati Ario Tirtokoesoemo’. Keheningan terjadi, lalu kemudian
sekretaris kedua, R Sosrosoegondo berbicara yang isinya tidak terduga karena
memohon kepada pengurus pusat bahwa dirinya mengundurkan diri. Semua
tercengang. Lalu Boediardjo (guru di kweekschool Djogja) yang menjadi pengelola
majalah, bangkit dari kursinya dan berkata: ‘Karena mungkin tidak mungkin untuk
tetap bersama R Adipati Aria Tirtokoesumo, saya menyarankan kita semua pengurus
pusat untuk mengundurkan diri.
Kepengurusan berjalan sebenarnya baru berjalan
setahun. Masih tersisa dua tahun lagi untuk pemilihan pengurus baru. Karena
situasinya terjadi kekosongan, lalu mosi diadopsi untuk melakukan pemilihan ketua
pengurus. Ada beberapa kandidat: 1. Pangeran Ario Notodirodjo, 2 Gaidin, 3 R
Atmodirono, dan 4 Kepala Jaksa di Magelang. Dalam pemilihan terpilih sebagai suara
terbanyak adalah Pangeran Notodirodjo. Lalu kandidat diajukan untuk anggota pengurus
lainnya, yakni: Wahidin Soedirohoesodo; Gondoatmodjo, Sastrowidjono, Ardiwinata,
Boediardjo, Atmodirono, Soesatio, dan Soemarsono.
Dari
informasi di atas, tampaknya Boedi Oetomo masih dalam tahap pertumbuhan
(konsolidasi) bahkan hingga ke periode kepengurusan kedua ini, tetapi para
(perwakilan) afdeeling tidak mau bersabar seperti motto pengurus lama. Namun
satu hal yang dapat dianggap prnting adalah bahwa ada indikasi buruk pada
pendidikan pribumi yang kemudian dijadikan pengurus menjadi program prioritas. Dam
ketika pengurus pusat diserang dengan berbagai pertanyaan, jawaban yang
diandalkan oleh pengurus pusat adalah pengiriman guru ke Belanda dan penerbitan
majalah Goeroe Desa. Dalam hal ini harus diartikan bahwa pengurus pusat
menganggap perlu peningkatan kulitas pendidikan pribumi dengan langkap awal
peningkatan kualitas guru. Upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui upaya peningkatan
kualitas guru haruslah selalu diupayakan secara berkesinambungan. Namun jika di
dalam organisasi program itu menjadi prioritas dibanding yang lainnya, berarti
adalah masalah pendidikan yang krusial yang diperhatikan para pengurus Boedi
Oetomo.
Masalah peningkatan kualitas pendidikan bagi
pribumi sudah muncul sejak setengah abad yang lampau. Hal itu dirasakan oleh
seorang lulusan sekolah dasar di Angkola Mandailing dimana Sati Nasution alias
Willem Iskander melanjutkan studi ke Belanda pada tahun 1857 untuk ,mendapatkan
akta guru. Upaya Willem Iskander ini menyebabkan didirrikannya sekolah guru di
Angkola Mandailing oleh Willem Iskander pada tahun 1862. Pada tahun 1865
Inspektur Pendidikan CA van der Chijs mengumumkan ke pubalik bahwa sekolah guru
di Mandailing yang diasuh Willem Iskander yang terbaik (dibandingkan dua yang
lainnya di Soeracarta yang didirikan tahun 1851 dan Fort de Kock yang didirikan
tahun 1857). Pengunuman Chijs ini menjadi heboh di Jawa dan mulai terungkap
bagaimana situasi dan konsisi terkeni pendidikn pribumi di Jawa. Nieuwe
Rotterdamsche courant: staats-, handels, nieuws- en advertentieblad, 20-03-1865:
‘Izinkan saya mewakili orang yang pernah ke daerah ini. Di bawah kepemimpinan
Godon daerah ini telah banyak berubah, perbaikan perumahan, pembuatan
jalan-jalan. Satu hal yang penting tentang Godon telah membawa Willem Iskander
studi ke Belanda dan telah kembali kampungnya. Ketika saya tiba, disambut oleh
Willem Iskander, kepala sekolah dari Tanabatoe diikuti dengan enam belas
murid-muridnya, Willem Iskander duduk di atas kuda dengan pakaian Eropa
murid-muridnya dengan kostum daerah….Saya tahun lalu ke tempat dimana sekolah
Willem Iskander didirikan di Tanobato…siswa datang dari seluruh
Bataklanden…mereka telah diajarkan aritmatika, ilmu alam, prinsip-prinsip
fisika, sejarah, geografi, matematika…bahasa Melayu, bahasa Batak dan bahasa
Belanda….saya sangat puas dengan kinerja sekolah ini’. Java-bode: nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1868 yang mengutip
dari surat kabar Soerabayasch Handelsblad edisi 5 November sangat menyentuh:
‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah perjuangan. Mengentaskan
kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari kita memperluas
pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa, harus belajar
untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan (sebelum ke Tanobato)
di Pantai Barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun sebelum realisasi
gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah terealisasi dengan
baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola bukan dongeng, ini
benar-benar terjadi, tandas Chijs’. Arnhemsche courant, 13-11-1869: ‘…Hanya ada
7.000 siswa dari jumlah populasi pribumi yang banyaknya 15 juta jiwa di Jawa.
Anggaran yang dialokasikan untuk itu kurang dari tiga ton emas. Hal ini sangat
kontras alokasi yang digunakan sebanyak 6 ton emas hanya dikhususkan untuk
pendidikan 28.000 orang Eropa… lalu stadblad diamandemen untuk mengadopsi
perubahan yang dimenangkan oleh 38 melawan 26 orang yang tidak setuju’.Algemeen Handelsblad, 26-11-1869: ‘…kondisi
pendidikan pribumi di Java adalah rasa malu untuk bangsa kita (Belanda). Dua
atau tiga abad mengisap bangsa ini, berjuta-juta sumber daya penghasilan telah
ditransfer ke ibu pertiwi (Kerajan Belanda), tapi hampir tidak ada hubungannya
untuk peradaban pribumi di sini (Hindia Belanda)…’.
Sukses
pendidikan pribumi di afdeeling Angkola Mandaili (Residentie Tapanoeli)
menyebabkan pemerintah ingin meniru yang telah terjadi di Angkola Mandailing
dengan mengaplikasikanya secara khusus di Jawa. Lalu pemerintah meminta Willem
Iskander untuk membimbing tiga guru muda yang kesemuanya dibiayai pemerintah
untuk studi ke Belanda. Ketiga guru muda yang dibawa Willem Iskander tersebut
adalah Raden Soerono dari Soeracarta dan Raden Adhi Sasmita dari Bandoeng plus
Barnas Lubis dari Angkola Mandailinfg sendiri. Mereka berangkat ke Belanda pada
bulan Mei tahun 1874. Sekolah guru asuhan Willem Iskander lalu ditutup dan akan
dibuka tahun 1879 sekolah guru yang lebih besat di Padang Sidempoean dimana
Willem Iskander diproyeksikan sebagai direktur (sepulang dari Belanda).
Pada tahun 1900 di Padang, Saleh Harahap gelar
Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan yang diberi nama Medan
Perdamaian. Dja Endar Moeda menjadi ketuanya. Pada tahun 1902 Medan Perdamaian
memberikan bantuan sebesar f14.000 untuk peningkatan pendidikan di Semarang.
Ini mengindikasikan bahwa di pantai barat Sumatra masalah kualitas pendidikan
pribumi sudah tidak bermasalah relatif dengan permasalahan pendidikan di Jawa
khususnya di Jawa Tengah (ibu kota Semarang). Dja Endar Moeda adalah kakak
kelas Soetan Casajangan di Kweekschool Padang Sidempoean. Setelah 10 tahun
kemudian, seperti disebut di atas, pengurus pusat Boedi Oetomo menganggap
kualitas pendidikan pribumi masih bermasalah.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Soetan Casajangan dan Upaya Peningkatan
Pendidikan di Jawa: Tirtokoesomo vs Notosoeroto
Soetan
Casajangan, guru di Padang Sidempoean tidak puas dengan apa yang diraihnya sebagau
beberapa tahun, dan juga melihat pendidikan pribumi masih jauh dari yang
diharapkan. Soetan Casajangan pada tahun 1905 berangkat ke Belanda untuk
melanjutkan studi keguruan. Boleh jadi Soetan Casajangan teringat bagiama 50
tahun yang lampu berangkat ke Belanda untuk mendapat akta guru. Soetan
Casajangan adalah satu-satunya mahasiswa pribumi yang mengambil bidang
keguruan.
Namun guru tetaplah guru. Di Belanda, Soetan
Casajangan studi keguruan. Pada akhir tahun 1905 Soetan Casajangan menulis
artikel di majalah Bintang Hindia yang isinya ajakan untuk siswa-siswa pribumi
di tanah air belajar ke Belanda. Soetan Casajangan menginformasikan tip selama
persiapa, selama pelayaran dan selama di Belanda serta perguruan tinggi yang
dapat dimasuki di Belanda. Lalu setelah jumlah mahsiswa cukup banyak, pada
tahun 1908 Soetan Casajangan berinisiatif mendirikan organisasi mahasiswa yang diberi
nama Indische Vereeniging. Tentu saja tidak ada hubungannya dengan
didirikannnya Boedi Oetomo pada bulan Mei 1908. Soetan Casajanga, boleh jadi,
melihat dengan adanya organisasi, persatuan akan memperkuat satu sama lain di
Belanda, yang jauh dari tanah air, jauh dari orang tua dan keluarga.
Pada
tahun 1909 Soetan Casajangan lulus ujian akta guru LO. Lalu kemudian meneruskan
studi ke jenjang yang lebih tinggi dan lulus ujian mendapat akta guru MO pada
tahun 1911. Selesai sudah apa yang dicita-citakan dari kampong di Padang
Sidempoean. Soetan Casajangan tidak segera pulang ke tanah air karena ada
tawaran untuk mengajar bahasa Melayu di sekolah Handelschool di Amsterdam. Pada
saat inilah seorang siswa sekolah guru Kweekschool di Djogjakarta yang menemui
Soetan Casajangan untuk menjadi pembimbingnya, Siswa tersebut adalah Sjamsi
Sastra Widagda.
Sebelum kedatangan Sjamsi Sastra Widagda,
Soetan Casajangan dan Maangaradja Soangkoepon mendirikan Studiefond di Belanda.
Tujuannya menggalang dana (fundraising) untuk membanti siswa yang kesulitan
keuangan yang ingin melanjutkan studi ke
Belanda dan juga mahasiswa pribumi di Belanda yang bermasalahan dalam soal
keuangan. Studiefond in terbilang berhasil karena banyak pihak yang memberi
kontribusi.
Di
satu sisi Soetan Casajangan telah berhasil membentuk studiefon di Belanda, di
sisi lain kedatangan Sjamsi Widagda ke Belanda untuk melanjutkan studi dibiayai
oleh Boedi Oetomo. Para pengurus Boedi Oetomo ingin terjadi peningkatan
kualitas guru pribumi di Jawa. Dalam semua segi, para penguruan Boedi Oetomo
menitipkan Sjamsi Widagda kepada Soetan Casajangan sungguh sangat tepat.
Terbukti bahwa Sjamsi Widagda lulus ujian akta guru LO pada bulan Mei tahun
1913. Sjamsi Widagda tidak segera kembali ke tanah air tetapi melanjutkan studi
untuk mendapatkan akta guru MO (seperti yang telah diraih Soetan Casajangan.
Lalu sebaliknya, Soetan Casajangan harus segera ke tanah air karena telah turun
beslit Menteri Koloni yang menyatakan Soetan Casajangan diangkat sebagai
direktur sekolah guru Kweekschol Fort de Kock. Soetan Casajangan berangkat ke
tanah air pada bulan Julio 1913.
Pada waktu detik-detik kepulangan Soetan
Casajangan diadakan pertemuan Indische Vereeniging. Pada saat inilah Soetan
Casajangan menitipkan Studiefond yang telah dibentuknya dititipkan ke Indische
Vereeniging. Satu permintaan Soetan Casajangan, karena dia berhak sebab dia
yang mendirikan, agar alokasi dana dalam studiefond intu proporsinya lebih
banyak untuk siswa yang mengambil keguruan dibandingkan siswa lainnya. Tentu
saja itu sangat mulia, tentu saja itu bukan karena Soetan Casajangan seorang
guru yang telah berhasil melanjutukan studi keguruan di Belanda, tetapi
faktanya pendidikan pribumi masih sangat rendah kualitasnya di tanah air. Namun
tiba-tiba Notosoeroto tidak setuju. Lalu timbnl perdebatan diantara keduanya.
Namun tidak terinformasikan hasil dari perdebatan itu. Yang jelas RM Notosoero anak
dari Pangeran Ario Notodirodjo, ketua Boedi Oetomo yang menggantikan ketua Raden
Adipati Ario Tirtokoesoemo, orang yang sangat sadar mengirim calon guru Sjamsi
Widagda untuk melanjutkan studi keguruan di Belanda. Lalu apakah serba
kebetulan relasi antara Tirtokoesoemo dan Sjamsi Widagda di satu sisi dan
antara Notodirojo dan Notokoesoemo di sisi lain? Tampaknya apa yang dipikirkan
oleh Soetan Casajangan telah dikacaukan oleh adanya faksi yang berbeda di dalam
Boedi Oetomo.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


