Banyak teori yang membingkai asal
usul (suku-suku) bangsa Indonesia (baca: Nusantara). Namun diantaranya ada yang
tabrakan. Ada yang percaya telah terjadi migrasi dari Tiongkok/Indochina ke
wilayah kepulauan. Ada pula yang menghubungkan teori itu dengan teori paparan
Sahul (satu daratan Asia dengan Sumatra, Jawa dan Borneo). Tentu saja lupa
mempertimbangkan eksistensi manusia purba di Jawa. Penggunaan terminologi
Melayu juga tampaknya kurang pas jika dihubungkan dengan asal usul. Hal ini
karena (bahasa) Melayu hanyalah suksesi (bahasa) Sanskerta.
istilah usang untuk menyebut ras Melayu “gelombang” pertama dari dua
“gelombang” migrasi yang dulu diperkirakan terjadi dalam pendudukan
Nusantara oleh penutur bahasa Austronesia. Menurut teori “dua
gelombang” ini, termasuk Melayu Tua di Indonesia adalah: Gayo (Aceh);
Batak (Sumatra Utara); Nias (pantai barat Sumatra Utara); Minangkabau (Sumatra
Barat); Kerinci (Jambi); Besemah (Sumatra Selatan); Rejang (Bengkulu); Lampung
(Lampung); Toraja (Sulawesi Selatan); Sasak (Lombok); Dayak (Kalimantan). Teori
ini secara resmi tidak lagi diakui penggunaannya, karena para arkeolog
menyimpulkan bahwa tidak ada dasar arkeologi yang berarti yang menunjukkan
adanya perbedaan antara Proto-Melayu dan Deutero-Melayu. Di Malaysia, istilah
Proto-Melayu masih digunakan untuk sebuah suku yang bernama Orang Asli. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah asal usul (suku) bangsa di Nusantara? Seperti disebut di
atas, sejarah asal usul bangsa di Nusantara/Indonesia disebut dua tahap yang
dibingkai sebagai proto Melayu dan deutro Melayu. Tentulah itu sangat naif. Lalu
bagaimana sejarah asal-usul bangsa di Nusantara? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Teori
Proto Melayu dan Deutro Melayu: Lingua Franca
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Bahasa Melayu dan Teori
Penduduk Asli Nusantara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


