Dalam sejarah Indonesia nama Abdoel
Rivai sering disebut. Abdoel Rivai memulai pendidikan di sekolah Docter Djawa
School di Batavia yang kemudian aktif dalam bidang jurnalistik. Abdoel Rivai
melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Sebelum kembali ke tanah air, Abdoel
Rivai termasuk salah satu yang dinaturalisasi menjadi warga negara Belanda.
Tokoh lainnya juga termasuk [Hadji] Agoes Salim.
Oktober 1937) adalah dokter dan wartawan, orang Indonesia pertama yang
menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari luar negeri (Eropa), juga pribumi
Indonesia pertama meraih gelar doktor. Rivai dianugerahi gelar sebagai Perintis
Pers Indonesia pada tahun 1974 oleh Pemerintah Indonesia. Abdoel Rivai lahir
dari pasangan Abdul Karim dan Siti Kemala Ria. Ayahnya bekerja sebagai guru.
Pada tahun 1886, dia diterima bersekolah di STOVIA dan pada tahun 1894 ditugaskan
menjadi dokter di Medan. Tahun 1899, Rivai melanjutkan pendidikan ke Belanda.
Rivai merupakan orang Hindia pertama yang bersekolah kedokteran di Belanda, dan
berhasil menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada tahun 1907. Ia kemudian
melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Gent, Belgia dan lulus pada 23
Juli 1908. Pada awal abad ke-20 Rivai terlibat perdebatan dengan A.A Fokker,
pejabat Belanda yang mengklaim lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang orang
Melayu sendiri. Akibat kegemilangannya dalam berdebat, Rivai diperbolehkan
sekolah di Utrecht. Pada tahun 1900 Rivai memprakarsai surat kabar Pewarta
Wolanda. Kendati terbit dari Amsterdam, bersama Henri Constant Claude Clockener
Brousson, Rivai menerbitkan Bendera Wolanda pada 15 April 1901. Juga bersama
Brousson, ia mendirikan usaha penerbitan Bintang Hindia pada Juli 1902.
Selanjutnya, Rivai memutuskan untuk keluar dari Bintang Hindia pada tahun 1907,
hingga akhirnya Bintang Hindia ahun 1910 berakhir. Setibanya dari Belanda tahun
1911, Rivai turut mendukung pembentukan Indische Partij (IP) di Sumatra. Tahun
1913 IP dibubarkan dimana mantan aktivisnya kemudian mendirikan Insulinde. Pada
tahun 1918, ia diangkat anggota Volksraad mewakili Insulinde. Ia kemudian
menetap di Jakarta, sebagai pembantu utama surat kabar Bintang Timur. Sementara
itu surat kabar Pewarta Deli, Medan menyebutnya Sebagai “Bapak dalam
golongan Jurnalistik”. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Abdoel Rivai? Seperti disebut di atas, nama Abdoel Rivai
sudah sering disebut sejak doeloe dan narasi sejarahnya terbilang sudah cukup
lengkap ditulis. Namun tentu saja masih perlu ditulis ulang karena ditemukan
babnyak data baru yang tidak terdapat dalam narasi lama. Lalu
bagaimana sejarah Abdoel Rivai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Abdoel
Rivai: Docter Djawa Studi Kedokteran di Belanda
Pada
era awal pendidikan bagi pribumi (Hindia Belanda) baru ada dua jenis sekolah
yang lebih tinggi yakni sekolah guru (kweekscool) dan sekolah kedokteran (geneeskundigen).
Kedua sekolah ini mulai didirikan pada tahun 1851. Sekolah guru kemudian
terdapat di sejumlah tempat, sedangkan sekolah kedokteran hanya ada di satu
tempat di Batavia (Docter Djawa School). Pada tahun 1895 di Docter Djawa School
dilakukan ujian akhir beberapa hari dari tanggal 31 Januari hingga 9 Februari
dari tujuh kandidat lulus semuanya diantaranya Abdoel Rivai (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-03-1895). Disebutkan
ketujuh siswa kelas tertinggi tersebut adalah Abdul Rivai, Raden Benggol, Raden
Soekienoen, Mas Goenoeng, Raden Soemeroe, Mohamad Rabain dan Mas Paidjo.
Siswa-siswa yang diterima di sekolah guru dan
sekolah kedokteran adalah pribumi lulusan sekolah dasar. Lama studi di sekolah
guru adalah tiga tahun, sementara di sekolah kedokteran lama studi lima tahun. Beberapa
tahun sebelumnya, nun jauh di pedalaman Sumatra, pada tahun 1884 Kweekschool
Padang Sidempoean melakukan ujian akhir dimana salah satu yang lulus adalah Saleh
Harahap gelar Dja Endar Moeda dan ujian akhir yang diadakan tahun 1887 salah
satu diantaranya yang lulu adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan.
Seperti
sebelumnya, semua lulusan Docter Djawa School tahun 1895 di tempatkan di
berbagai tempat di wilayah Hindia Belanda. Abdoel Rivai ditempatkan di Medan
(lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 19-03-1895). Dr
Abdoel Rivai menggantikan Dr Amir Hamzah yang dipindahk ke rumah sakit kota (stadsverband)
Soerabaja. Dalam berita ini juga disebut dari Trenggalek (Kediri) dipindahkan
ke Loeboe Pakam Mas Samidi, sementara dari Loeboe Pakam dipindahkan ke Amboina,
R Tholense.
Di Medan diketahui Abdoel Rivai tekah menikah
dengan seorang wanita dengan satu anak (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-08-1895).
Setahun kemudian Abdoel Rivai dipindahkan dari Medan ke Moko-moko di Bengkoelen
(lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
20-05-1896).
Namun
dalam perkembangannya pemindahan Abdoel Rivai ke Moko-moko dibatalkan (lihat Java-bode
:nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-08-1896).
Disebutkan Dr Abdoel Rivai dari Medan dipindahkan ke Tandjoeng Balai. Dalam
berita ini juga disebutkan Dr Madjilis dipindahkan dari Tandjoeng Balai ke
Moko-moko. Dalam hal ini posisi yang ditinggalkan oleh Dr. Madjilis ditempati
oleh Dr. Abdoel Rivai. Moko-moko pada dasarnya adalah tempat kelahiran Dr
Abdoel Rivai.
Dr Madjilis lulus docter djawa school tahun
1886 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-06-1886). Dr, Madjilis adalah dokter
pribumi lulusan terbaik. Dr Madjilis berasal dari Afdeeling Angkola Mandailing.
Dr. Madjilis setelah beberapa kali pindah dipindahkan kembali ke Tandjong
Balai. Dr. Madjilis dari Tandjong Balai terakhir dipindahkan ke Padang
Sidempoean (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 21-02-1906).
Setelah mengabdi selama dua dasawarsa, Dr. Madjilis akhirnya meminta pensiun
dini dikampungnya di Padang Sidempoean terhitung tanggal 6 November 1906
(Bataviaasch nieuwsblad, 06-11-1906). Pada tahun 1907 keluar beslit Dr,
Madjilis yang mengizinkan membuka praktik untuk kedokteran, operasi dan farmasi
(Bataviaasch nieuwsblad, 06-07-1907). Setelah itu, Dr. Madjiis kerap
bolak-balik ke Tandjong Balai. Nama, Dr. Madjilis terdeteksi terakhir sebagai
dokter di perusahaan perkebunan yang berkantor di Tandjong Balai (De Sumatra
post, 07-08-1917).
Dr
Abdoel Rivai kembali dipindahkan ke Medan. Pada bulan Oktober 1896 Dr Abdoel
Rivai dipindahkan ke Laboehan Deli (lihat De locomotief : Samarangsch handels-
en advertentie-blad, 27-10-1896). Dalam berita ini juga disebutkan Dr Madjilis
kembali ditempatkan di Tandjoeng Balai. Setahun kemudian Dr Abdoel Rivai
dipindahkan dari Laboehan Deli ke Bindjai (lihat Java-bode : nieuws, handels-
en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1897). Pada tahun 1899 Dr
Abdoel Rivai dari Bindjai dipindahkan ke Tebingtinggi (lihat De
Preanger-bode, 31-07-1899). Beberapa waktu kemudian diketahui Dr Abdoel Rivai
berangkat ke Batavia dengan kapal ss Riebeeck (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-09-1899).
Tidak diketahui apa alasan Dr Abdoel Rivai ke
Batavia. Apakah Dr Abdoel Rivai telah mengundurkan diri atau dipecat dari dinas
pemerintah? Yang jelas istri Abdoel Rivai dan seorang anak telah berangkat dari
Medan ke Batavia. Istri dan anak tersebut saat ini sudah di Belanda.
Pada
bulan September 1899 diketahui Dr Abdoel Rivai berangkat ke Belanda (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 26-09-1899). Disebutkan besok kapal ss Gede akan berangkat dari
Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana salah satu penumpang adalah Abdoel
Rivai. Dari semua penumpang hanya nama Abdoel Rivai yang non Eropa/Belanda.
Dalam manifes kapal tercatat Abdoel Rivai seorang diri (tidak ada istri dan
anak).
Di Belanda sudah terdapat pribumi. Salah satu
diantaranya adalah Raden Kartono yang setelah lulus HBS Semarang berangkat
studi ke Belanda pada tahun 1896. Raden Kartono adalah abang dari RA Kartini.
Bataviaasch nieuwsblad, 28-09-1899 memberitakan bahwa Dr Abdoel Rivai
diberhentikan dengan hormat. Ini mengindikasikan Dr Abdoel Rivai mengajukan
pengunduran diri dari dinas pemerintah.
Apa
yang menjadi alasan Dr Abdoel Rivai mengundurkan diri dari dinas pemerintah dan
berangkat ke Belanda tidak terinformasikan. Yang jelas Abdoel Rivai dikethaui
kemudian telah menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Amsterdam (lihat Het
nieuws van den dag: kleine courant, 19-06-1900). Disebiutkan Abdoel Rivai akan mrenjadi
editor majalah berbahasa Melayu Pewarta Wolnada yang akan terbit setiap dua
minggu sekali. Disebutkan Abdoel Rivai bekerjasama dengan Strikwerda. Surat
kabar ini akan terbit pertama pada tanggal 1 Juli.
Strikwerda adalah pensiunan Asisten Residen
yang menjadi penerjemah bahasa Melayu di Amsterdam (lihat De Maasbode, 08-07-1900).
Y Strikwerda paling tidak diketahui tahun 1851 sebagai pejabat pemerintah di
Westerafdeeling van Borneo (lihat Samarangsch advertentie-blad, 28-06-1861). Pada
tahun 1871 Strikwerda diketahui sebagai Asisten Residen di Sintang (lihat
Makassaarsch handels-blad, 22-03-1871). Pada tahun 1873 Strikwerda sebagai
asisten residen di Koeningan (lihat Bataviaasch handelsblad, 06-06-1873). Pada
tahun 1879 Strikwerda pensiun sebagai asisten residen Koeningan (lihat Java-bode
: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-04-1879).
Setelah pensiun Strikwerda kembali ke Belanda. Pada tahun 1881 Strikwerda
diangkat menjadi dosen di perguruan tinggi perikanan laut Nederlandsche
staatscourant, 02-11-1881). Pada tahun 1890 Y Strikwerda menerbitkan buku
praktek bahasa Melayu dalam aksara Arab (lihat Algemeen Handelsblad, 30-05-1890).
Disebutkan Strikwerda sebagai dosen bahasa Melayu dan pertanian di Amsterdam.
Pada tahun 1891 Strikwerda menerbitkan majalah berita berbahasa Melayu yang
diberinama Pewarta Boemi (lihat Arnhemsche courant, 24-04-1891). Disebutkan
terbit dua minggu sekali. Sasarannya adalah orang Cina, Arab dan pribumi di
Hindia. Surat kabar ini diterbitkan oleh Van Der Weide en Pijttersen. Surat
kabar ini adalah satu-satunya di Belanda yang berbahasa Melayu. Terhitung sejak
tanggal 1 Desember 1898 Y Strikwerda digantikan oleh Dr AA Fokker (lihat De
locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-01-1898). Disebutkan
Dr AA Fokker adalah editor linguistik ternama di Den Haag, guru bahasa Melayu
di Handelsschool di Amsterdam.
Y
Strikwerda adalah orang yang sudah berpengalaman dalam penerbitan surat kabar
berbahasa Melayu. Sementara itu, Abdoel Rivai baru ini menjadi terlibat dalam
dunia jurnalistik. Setelah Abdoel Rivai lulus di Docter Djawa Schoohun1895
tidak terdetekasi pernah aktif dalam dunia jurnalistik. Dalam hal ini Dr Abdoel
Rivai akan mendapat bimbingan dari Y Strikwerda.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sejarah Naturalisasi Belanda:
Pribumi Warga Negara Belanda di Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




