*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa Tarip Siregar? Hanya sejumlah
pihak yang mengenal nama Tarip Siregar sebagai dokter hewan. Sejarah Tarip
Siregar tampaknya kurang terinformasikan. Padahal Dr Tarip Siregar pernah
mendapat perhatian Pemerintah Hindia Belanda sebagai peneliti terbaik. Dr Tarip
Siregar, lulusan sekolah kedokteran hewan Veeartsenschool di Buitenzorg (kini
Bogor) tahun 1914 berhasil memberantas penyakit cacing pita pada ternah kerbau.
Prestasi ini diberikan beasiswa kepada Dr Tarip Siregar melanjutkan studi
kedokteran hewan di Universiteit te Utrecht 1927.
Hindia Belanda. Itu semua karena hasil kerja kerasnya di lapangan dalam
menangani kesehatan ternak di berbagai daerah. Ibarat masa kini, Dr Tarip
Siregar terkenal seperti Prof Dr Sangkot Marzuki yang terkenal (Direktur
Lembaga Eijkman Jakarta). Kedua nama ini memang ada kaitan. Dr Tarip Siregar
adalah kakek dari Prof Dr Sangkot Marzuki. Dr Tarip Siregar menikah dengan
saudara perempuan (kakak) Sanoesi Pane, sastrawan terkenal era Hindia Belanda. Satu
dokter hewan lagi yang juga terkenal pada era Hindia Belanda adalah Dr Anwar
lulus dari Veeartsenschool Buitenzorg tahun 1930 yang berhasil menyusun pedoman
pengawasan daging hewan untuk diterapkan di seluruh wilayah Hindia Belanda
hingga ke desa-desa (lihat De Indische courant, 27-06-1941). Dr Anwar adalah
ayah dari Prof Dr Andi Hakim Nasoetion (rektor IPB Bogor 1978-1987)..
Lantas
bagaimana sejarah Tarip Siregar? Seperti disebut di atas, Dr Tarip Siregar
pernah diakui Pemerintah Hindia Belanda sebagai peneliti terbaik. Apakah
prestasi ini telah menurun kepada cucunya Prof Dr Sangkot Marzuki? Like
Grandfather Like Grandson. Lalu bagaimana sejarah Tarip Siregar? Seperti kata
ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku
hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Dr
Tarip Siregar: Lulusan Sekolah Kedokteran Hewan di Buitenzorg dan Utrecht
Pendidikan
Tarip Siregar bermula sangat unik. Ketika masih duduk di kelas dua sekolah
dasar pribumi di Sipirok tahun 1903, Tarip Siregar belajar bahasa Belanda
secara otodidak. Setelah lulus Tarip Siregar mendaftar ujian masuk di sekolah
guru (kweekschool) di Fort de Kock. Tampaknya kemampuan bahasa Belanda ini yang
membuatnya lulus ujian dan diterima sebagai sekolah guru. Pada tahun 1909 Tarip
Siregar lulus sekolah guru dan kemudian mengajar di sekolah pribumi di Sibolga.
Namun baru setahun mengajar, pada tahun 1910 Tarip Siregar mendaftar di sekolah
kedokteran Veeartsenschool di
Buitenzorg.
Pada tahun 1919 Tarip Siregar lulus ujian
transisi di Veeartsenschool di Buitenzorg naik dari kelas satu ke kelas dua
(lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 25-08-1911). Hanya tujuh orang satu kelas. Salah satu teman
satu kelasnya adalah Alimoesa Harahap. Pada kelas tertinggi naik ke kelas empat
hanya satu orang yakni Sorip Tagor Harahap.
Pada
tahun 1912 Tarip Siregar dan semua teman sekelas naik dari kelas dua ke kelas
tiga (lihat De Preanger-bode, 21-08-1912).
Yang lulus ujian akhir pada tahun 1912 ini adalah Sorip Tagor Harahap. Sebelum
kelulusan diumumkan ke publik, Sorip Tagor diberitakan telah diangkat sebagai
asisten dosen di Veeartsenschool (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 16-08-1912).
Sekolah kedokteran hewan Veeartsenschool di
Buitenzorg dibuka pada tahun 1907. Salah satu siswa angkatan pertama adalah
Sorip Tagor Harahap. Siswa yang diterima adalah lulusan setara sekolah menengah
pertama seperti lulusan sekolah guru (kweekschool). Lama studi empat tahun.
Tampaknya Sorip Tagor selama studi pernah satu tahun menunda studi. Setahun
menjadi asisten dosen, Sorip Tagor mengundurkan diri. Atas permintaan sendiri,
pengunduran diri dikabulkan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1913). Pada
akhir tahun Sorip Tagor diketahui sudah berada di Belanda. Sorip Tagor
melanjutkan studi, lulusan Veartsenschool Buitenzorg yang pertama melanjutkan
studi ke Belanda. Berdasarkan buku Satu Abad Sekolah Kedokteran Hewan Belanda
(Een eeuw veeartsenijkundig onderwijs, 1821-1921) Sorip Tagor dicatat angkatan
1913/1914. Sorip Tagor Harahap kelak dikenal sebagai kakek dari artis Risty
Tagor.
Pada
tahun 1914 Tarip Siregar lulus ujian akhir di sekolah kedokteran hewan di
Buitenzorg (lihat De Preanger-bode, 08-08-1914). Yang lulus bersama pada tahun
1914 ini adalah Ali Moesa Harahap, Tarip Siregar, Samil, Soedibio Hadikoesoemo dan
Akil.
Ali Moesa Harahap ditempatkan sebagao dokter
hewan pemerintah di Pematang Siantar. Sementara Tarip Siregar ditempatkan di
Padang. Ali Moesa Harahap sempat pulang kampung sebelum berangkat ke Pematang
Siantar. Ini terlihat pada kapal ss Mossel naik dari pelabuhan Sibolga tanggal
17 September 1914 dengan tujuan akhir Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 18-09-1914).
Belum terhubung moda transportasi darat antara Sibolga dan Pematang Siantar,
harus melalui Batavia ke Medan (laut) dan keretapi ke Pematang Siantar. Lantas
mengapa tidak ada lulusan Veeartsenchool ditempatkan di Padang Sidempoean
(kampung halaman Sorip Tagor, Ali Moesa dan Tarip Siregar)? Sudah ada Dr
Badorang gelar Radja Proehoeman sejak 1905. Dr Badorang adalah alumni kursus
kedokteran hewan di Buitenzorg, lulus tahun 1886, yang awalnya ditemapatkan di
Pajakeoemboeh kemudian dipindahkan ke Padang Sidempoean, Dr Badorang adalah
ayah dari Dr Sjoeib Proehoeman, lulusan STOVIA dan meraih gelar doktor (Ph.D)
dalam bidang kedokteran di Leiden tahun 1929. Kelak Prof Sjoeib Proehoeman pada
era pengakuan kedaulatan Indonesia sebagai guru besar di fakultas kedokteran di
Soerabaja (cikal bakal Univ. Airlangga). Sudah sepatutnya pada masa kini jika
diadakan peringatan Satu Abad kelahiran Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor, lima
perwakilan keluarga (keturunan) empat dokter hewan generasi pertama diundang:
Dr Badorang gelar Radja Prohoemna (kelahiran Pakantan) dokter hewan pribumi
pertama (lulus 1884); Dr Sorip Tagor Harahap (kelahiran Padang Sidempoean)
dokter pribumi pertama meraih gelar dokter di Belanda (dokter setara Eropa); Dr
Tarip Siregar (kelahiran Sipirok) dokter hewan pribumi pertama sebagai peneliti
terbaik; Dr Alimoesa Harahap (kelahiran Padang Sidempoean) dokter hewan pertama
yang menjadi anggota Volksraad (1927); dan tentu saja Dr Anwar Nasoetion
(kelahiran Pidoli-Panjaboengan) ayah dari Prof Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB
1978-1987; sewaktu sama masih kulih di Bogor). Nama-nama dokter hewan tersebut
dapat menjadi inspirasi dan pemacu semangat para Veteriner Muda.
Pada
tahun 1915 Dr Tarip Siregar dipindahkan dari Padang ke Painan (lihat Sumatra-bode,
25-05-1915). Dr Tarip Siregar kembali ditempatkan di Padang. Dr Tarip Siregar
kembali ditempatkan di Painan (lihat De Preanger-bode, 16-07-1918). Dr Tarip
Siregar dipindahkan ke Fort de Kock. Pada tahun 1919 Dr Tarip kembali ke Padang
(lihat De locomotief, 13-10-1919). Dalam perkembangannya dipindahkan ke Padang
Sidempoean.
Pada tahun 1919 di Padang diadakan Kongres
Jong Sumatrane (yang pertama). Ketua panitia adalah Mphamad Amir (mahasiswa
STOVIA) yang mana sebagai pembina adalah Dr Abdoel Hakim Nasoetion, anggota
dewan kota (gemeenteraad) Padang. Abdoel Hakim Nasoetion juga adalaha ketua NIP
Pantai Barat Sumatra, organisasi yang didirikan Dr Tjipto dkk tahun 1913 (Dr
Tjipto adalah teman satu kelas Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Docter Djawa
School/STOVIA sama-sama lulus dokter tahun 1904). Delegasi dari Tapanoeli
dipimpin oleh Parada Harahap pemimpin redaksi surat kabar Sinar Merdeka di
Padang Sidempoean. Sedangkan delegasi dari (kota) Padang dipimpin para penguru
Jong Sumatranen Padang dengan bendahara Mohamad Hatta (masih sekolah MULO). Organisasi
kebangasan Sumatra Sepakat didirikan pada bulan Janurari 1917 di Belanda dengan
pengurus inti: Jketua Sorip Tagor Harahap, wakil ketua Dahlan Abdoellah,
sekretaris-bendahara Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Lalu pada
bulan Desember 1917 di Batavia didirikan organisasi pemuda Sumatra, Jong
Sumatranen dengan ketua T Masjoer, wakil ketua Abdoel Moenir Nasoetion dan sekretaris-bendahara
Mohamad Amir (ketiganya mahasiswa STOVIA). Setelah terbentuk cabang-cabang di
berbagai tempat seperti di Padang, Sibolga, Padang Sidempoean, Medan dan
Palembang maka diselenggarakan kongres Jong Sumatranen yang pertama di Padang. Dalam
Kongres Jong Sumatranen, Dr Tarip Siregar juga sebagai pembina kongres,
Seetelah kongres Dr Tarip Siregar tampaknya akan pindah ke kota lain. Hal ini
terlihat iklan Dr Tarip Siregar yang akan melakukan lelang barang perabotan di
rumanya di kampong Nias pada tanga 6 Oktober (lihat Sumatra-bode, 28-09-1920). Tidak lama kemudian
diberitakan Dr Tarip Siregar dipindahkan dari kota Padang ke kota Padang
Sidempoean (lihat De Preanger-bode, 18-11-1920).
Dr Tarip Siregar untuk kali pertama pulang kampong dalam urusan tugas. Pada
tahun 1921 di kota Padang diadakan kembali Kongres Jong Sumatranen Bond yang
kedua. Pimpinan delegasi Tapanoeli masih Parada Harahap. Mohamad Hatta juga hadir
bertepatan dengan libur sekolah. Mohamad Hatta melanjutkan studi ke Batavia di
HBS Prins Hendrik School.
Pada
tahun 1922 di Padang diadakan Kongres Sumatra, kongres pertama yang
diselnggarakan Persatoen Sumatar. Ini bermula sebelumnya di Padang diadakan
pertemuan umum yang dipimpin oleh Dr Abdoel Karim Loebis (juga sama-sama lulus
dengan Dr Tjipto dan Dr Abdoel Hakim 1905). Dalam kongres Sumatra (senior) ini
diketuai oleh MH Manullang pemimpin surat kabar Hindia Sepakat di Sibolga
(lihat De expres, 07-07-1922. Dalam kongres ini tampil para pembicara antara
lain Dr Abdoel Rasjid Siregar, Dr Tarip Siregar dan Dr Abdoel Hakim Nasoetion
serta Dr Marzuki. Dalam kongres ini juga dibacakan surat dari Douwes Dekker
dari Tjibadak, Soekaboemi, Soewardi Soerjaningrat dari Jogja dan dari Dr Tjipto.
Kongres Sumatra ini mengusung visi nasional (seperti halnya NIP yang bervisi
nasional).
kepala dinas kesehatan juga masih anggota dewan kota Padang. Dr Tarip Siregar
sebagai kepala jawatan kesehatan ternak di Tapanoeli. Dr Abdoel Rasjid Siregar
sebagai kepala dinas kesehatan Tapanoeli. Dr Abdoel Rasjid Siregar lulusan
STOVIA tahun 1918 adalah pendiri organisasi kebangsaan Bataksche Bond di
Batavia pada tahun 1919. Kongres Sunmatra di Padang juga berpartisipasi
Bataksche Bond. Jika mundur ke belakang, organisasi kebangsaan sudah didirikan
pada tahun 1914 di Fort de Kock yang diinisiasi oleh Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajanga, direktur Kweekschool Fort de Kock (yang pulang studi dari
Belanda tahun 1913, pendiri Inidische Vereeniging di Belanda tahun 1908). Jika
mundur ke belakang lagi, organisasi kebangsaan pertama di didirikan tahun 1900 (jauh
sebelum Boedi Oetomo didirikan) yang diberi nama Medan Perdamaian yang diiinisiasi
oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Soetan Casajangan adalah adik kelas
Dja Endar Moeda di sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean). Dja Endar Moeda
lulus tahun 1884, Soetan Casajangan lulus tahun 1887. Dr Abdoel Hakim Nasoetion
dan Dr Abdoel Karim Lubis adalah lulusan sekolah dasar Eropa (ELS) di Padang
Sidempoean tahun 1898 yang kemudian melanjutkan studi ke sekolah kedokteran di
Batavia, Docter Djawa School/STOVIA. Dalam hal ini kota Padang adalah ibukota
Province Pantai Barat Sumatra (terdiri dari tiga residentie: Res. Padangsche
Benelanden, Res. Padangsche Bovenlanden dan Residentie Tapanoeli).
Setelah
Kongres Sumatra, Dr Tarip Siregar diberitakan akan dipindahkan dari Padang
Sidempoean ke Medan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-07-1922). Properti Dr
Tarip Siregar masih ada di Padang, rumah yang disewakan (lihat Sumatra-bode, 14-08-1922).
Dr Tarip Siregar tampaknya tidak lama di Medan (hanya untuk mengganti
kekosongan sebelum dokter yang dipindahkan ke Jawa mendapat pengganti yang
baru). Pada bulan September Dr Tarip Siregar sudah di Padang Sidempoean
kembali, Ini dapat dilihat dari berita surat kabar De Sumatra post, 27-09-1922
yang menyatakan Dr Abdoel Rasjid Siregar dan Dr Tarip Siregar menginisiasi
Studie Fond Tapanoeli dengan memusatkan kegiatan dalam Pasar Derma yang
diadakan di Sipirok. Pengunjung berasal dari Sibolga, Taroetoeng, Padang
Sidempoean dan Panjaboengan/Kotanopan.
Setelah menyelesaikan tugasnya yang terkait
dengan penyakit cacing pita pada kerbau di Padang Lawas, pada tahun 1924 Dr
Tarip Siregar dikirim ke Kandangan (di Afdeeling Oeloe Soengai, Zuid Oostkust
van Borneo). Tugas utamanya adalah untuk mendesain sistem pengembangan kesehatan
ternak sebagaimana Kandangan menjadi ibu kota baru pemerintahan. Dr Tarip tidak
lama hanya sekitar satu tahun di Kandangan dan kemudian dipindahkan ke Lhok
Sumawe Atjeh. Dr Tarip dengan kapal Marchior Treub berangkat dari Batavia ke
Medan (lihat De Sumatra post, 14-08-1925). Di dalam manifest kapal Dr Tarip
bersama istri dan tiga orang anak. Pada tahun 1927 terjadi wabah penyakit
kelenjar hewan di Medan. Untuk menangani didatangkan dua dokter yang kompeten
yakni Dr CJ Schroots di Soerakarta yang harus berdiskusi lebih dahulu dengan
pusat di Buitenzorg dan Dr Tarip dari Lhok Soeawe (lihat Deli courant,
04-05-1927). Dalam tempo singkat dua dokter khusus kelenjar ini berhasil
menangani wabah di Medan.
Atas
prestasi Dr Tarip selama ini, termasuk penanganan penyakit cacing pita kerbau
di Padang Lawas, mendesain program kerja dinas di Kandangan dan penanganan
wabah di Medan baru-baru ini, Dr Tarip mendapat apresisasi dari pemerintah. Dr
Tarip diberikan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Belanda (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-07-1927). Disebutkan Dr Tarip untuk
mengikuti pendidik di Rijks Universiteit te Utrecht paling tidak sudah harus
berangkat pada bulan September 1927.
Dr Tarip berangkat dengan kapal ss Koningen
der Nederlanden berangkat dari Batavia tanggal 24 Agustus dengan tujuan akhir
Amsterdam dengan singgah di beberapa tempat seperti Belawan (lihat De
locomotief, 23-08-1927). Dalam manifes kapal yang ratusan penumpang bernama Eropa/Belanda
terdapat nama-nama pribumi seperti SP Abas, Aboezar, M Antariksa. Dr Tarip
hanya sendiri. Besar kemungkinan Dr Tarip naik dari Belawan, dimana keluarga
istri dan tiga anak tinggal di Medan.
Sangat
jarang dokter hewan pribumi mendapat kesempatan dengan beasiswa untuk studi
lebih lanjut ke Belanda. Yang pertama adalah Dr Sorip Tagor, asisten dosen di
Veeartsenschool di Buitenzorg pada tahun 1913 (sebelum Dr Tarip lulus). Dr
Sorip Tagor menyelesaikan pendidikannya di Utrecht pada tahun 1920 dengan
mendapat gelar dokter hewan penuh (setara dokter Eropa).
Seperti halnya Dr Tarip, Dr Sorip Tagor juga
kelahiran Padang Sidempoean. Dr Sorip Tagor, pendiri dan ketua Sumatranen Bond
di Belanda 1917, kembali ke tanah air pada tahun 1921 dan ditempatkan di Istana
Gubernur Jenderal. Dr Sorip Tagor Harahap adalah dokterr hewan pribumi pertama
studi ke Belanda dan mendapat gelar dokter setara Eropa. Dr Sorip Tagor adalah
kakek buyut dari Inez/Risty Tagor. Pada tahun 1920 menyusul Dr JA Kaligis
melanjutkan studi ke Belanda. Dr JA Kaligis sendiri adalah lulusan pertama
Veeartsenschool te Buitenzorg (1911).
Dr
Tarip tidak menemui kesulitan studi di Belanda. Oleh karena dokter hewan
berpengalaman (sudah banyak melakukan studi lapangan), Dr Tarip tidak mengikuti
program pendidikan di Belanda dari bawah (seperti yang harus ditempuh Dr Sorip
Tagor). Tampaknya Dr Tarip Siregar cukup lancar dalam studi di tahun awal. Pada
bulan September, Tarip Siregar lulus ujian doktoral pertama (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 29-09-1928). Disebutkan di Utrecht. Doctoraal examen
eerste gedeelte veeartsenijkunde de heeren JO. Anderson. H Wellinga, V Favejee.
Tarip en J. Pees.
Banyak peristiwa yang terjadi pada tahun 1928
ini. Pada tanggal 30 September 1928 diadakan Kongres PPPKI di Batavia. PPPKI
adalah federasi organisasi kebangsaan yang digagas tahun 1927 oleh Parada
Harahap, pimpinan NV Bintang Hindia dan pemimpin redakadi surat kabar Bintang
Timoer. Pembentukan federasi ini di rumah Prof Husein Djajadiningrat, dekan
fakultas hukum Batavia (RHS). Dalam pembentukan ini turut hadir Ir Soekarno
(PNI Bandoeng) dan Dr Soetomo (Studieclub Soerabaja). Husein Djajadiningrat
adalah sekretaris Indische Vereenging di Belanda tahun 1908 yang mana ketuanya
Soetan Casajangan. Dalam pembentukan PPPKI secara aklamasi diangkat ketua MH Thamrin
(Kaoem Betaw) dan sekretaris Parada Harahap (Sumantranen Bond). Program pertama
adalah membangun kedung nasional di Gang Kenari dan mengadakan Kongres PPPKI
tahun 1928. Ketua kongres ditunjuka Dr Soetomo dengan M Anwari sebagai
sekretaris. Pada bulan Juli dibentuk federasi organisasi pemuda (PPPI) dimana
sebagai ketua Soegondo (Jong Java cabang Batavia), sekretaris Mohamad Jamin
(Jong Sumatranen Bond) dan bendahara Amir Sjarifoeddin Harahap (Jong Bataksch
Bond). Ketiganya adalah mahasiswa fakultas hukum Batavia. Program pertama
menyelenggarakan Kongres Pemuda pada bulan Oktober 1928. Pada tahun ini Ida
Loemongga Nasoetion tengah mengikuti program doktoral setelah mendapat gelar
dokter di Universiteit Utrecht tahun 1927 di Universiteit Amsterdam. Yang
mengikuti program doktoral antara lain Dr Sjoeip Proehoeman (meraih gelar
doktor tahun 1930( dan Dr Aminoedin Pohan (meraih gelar doktor tahun 1931). Ida
Loemongga berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) pada bidang kedokteran di Uni
Amsterdam pada tahun 1932 (doktor perempuan pribumi pertama).
Dr
Tarip lulus ujian akhir dokter hewan tahun 1930. Kabar itu diterima setelah
keluarga di Medan menerima telegram dari Utrecht yang kemudian diberitakan oleh
surat kabar De Sumatra post, 07-10-1930: ‘Volgens eer alhier ontvangen telegram
is de heer Tarip, destijds te Medan als Indisch veearts werkzaan, thans te
Utrecht, geslaagd in het eind-examen aan de Veeartseuij Hoogeschool ald ar. De
heer Tarip is afkomstig uit Tapanoeli.
Dr. Tarip kembali ke tanah air dengan kapal
John van Onldenbarnevelt tanggal 2 Desember dari Amsterdam dengan tujuan akhir
Batavia (lihat Deli courant, 27-12-1930). Dalam manifes kapal juga terdapat S
Proehoeman dengan istri dan dua anak dan nona LHB Wattimena. Hanya itu
nama-nama pribumi dari ratusan nama-nama Eropa/Belanda. Lalu setelah tiba di
tanah air, Dr Tarip ditempatkan di Burgerlijken Veeartsenijkundigen Dienst di
Sibolga (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 08-01-1931). Atas
permintaannya sendiri untuk ditempatkan di tanah kelahirannya di Padang
Sidempuan (Residentie Tapanoeli). Dr Tarip Siregar diangkat menjadi kepala
dinas di Residentie Tapanoeli yang berkedudukan di Padang Sidempoean. Untuk
menjabat kepala dinas di Residentie persyaratannya adalah harus lulusan Eropa.
Pada tahun dimana Dr Tarip sebagai kepala dinas di Residentie Tapanoeli, Dr
Sorip Tagor menjadi kepala dinas regional di Provinice West Java di Bandoeng.
Sementara itu teman sekampongnya Dr Alimoesa Harahap yang sama-sama lulus dari
Veeartsenschool di Buitenzorg tahun 1914 sebagai kepala dinas di Siantar
(Afdeeling Simanloengoen en Karo). Pada tahun 1927 Dr Alimoesa terpilih menjadi
anggota Volksraad dari dapil Residentie Tapanoeli (hanya satu wakil per
provinsi/residentie. Yang terpilih dari dapil province Oostkust Sumatra adalah
Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soeangkoepon (juga kelahiran afdeeling Padang
Sidempoean). Mangaradja Soeangkoepon studi ke Belanda tahun 1910.
Program
pertama Dr Tarip dari Padang Sidempoean adalah merintis cabang di Balige
(Residentie Tapanoeli). Tugas ini mirip yang dilakukan oleh Dr Tarip pada tahun
1924 di Kandangan (afdeeeling Oeloe Soengei, Residentie Zuid en Oostkust van
Borneo). Ruang lingkup tugas Dr Tarip juga hingga ke (pulau) Nias (Residentie
Tapanoeli). Pada bulan Oktober 1931 Dr Tarip Siregar selesai di Balige yang kemudian
diisi oleh Dr WC Ph Meijer yang dipindahkan dari Bandoeng (lihat Algemeen handelsblad
voor Nederlandsch-Indie, 06-10-1931).
Dr. Tarip adalah peneliti terbaik di bidang
kesehatan hewan. Ini bermula pada saat Dr Tarip dipindahkan ke Padang
Sidempoean pada tahun 1920. Dr Tarip dalam melakukan tugasnya ke Padang Lawas,
melakukan penelitian dan hasilnya dipublikasikan.
Hasil
penemuannya adalah metode membasmi cacing pita pada kerbau. Sejak inilah nama
Dr Tarip harum manis di pusat yang menyebabkan dirinya ditunjuk untuk merintis
cabang-cabang baru seperti di Kandangan dan Lhok oemawe hingga mendapat
beasiswa studi lebih lanjut ke Belanda. Kini, Dr Tarip di Padang Sidempoean
tengah merinstis cabang baru di Taroetoeng.
Hobi Dr. Tarip adalah bermain tennis. Ketika
lapangan tennis yang baru dibangun di Padang Sidempuan di Hendrikstraat yang
dibuka pada tanggal 30 Oktober 1932, hadir antara lain Dr. Rashid, Dr. Tarip,
Mr. Delmaar dan Dr. Pohan (lihat De Sumatra post, 03-11-1932). Lapangan tennis
itu kini disebut lapangan ternis Garuda di depan gedung Nasional, sebelah utara
bioskop Presiden. Catatan: Dr. Abdoel Rasjid Siregar adalah Kepala Dinas
Kesehatan Zuid Tapanoeli, Dr. Aminoedin Pohan (Direktur Rumah Sakit Padang
Sidempuan). Dr Aminoedin Pohan adalah lulusan STOVIA dan kemudian melanjutkan
studi ke Belanda. Seetelah mendapat gelar dokter, Aminoedin Pohan melanjutkan
studi ke tingkat doktoral dan berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang
kedokteran tahun 1931. Sepulang dari Belanda Dr Aminoedin Pohan diangkat
sebagai direktur rumah sakit yang baru dibuka di Padang Sidempoean. Yang
menjadi kepala dinas kesehatan Regional Tapanoeli di Sibolga adalah Dr Sjoeib
Proehoeman sejak 1931 (lihat De Indische courant, 05-02-1931). Dr Soeib
Proehoeman (kelahiran anak dari Dr Badorang dari Pakantan, Mandailing), seperti
Dr Aminoedin Pohan, yang melanjutkan studi ke Belanda dan kemudian berhasil
meraih gelar doktor (Ph.D) dalam bidang kedokteran pada tahun 1930. Catatan: Dr Sorip Tagor juga pernah
ditempatkan di Padang Sidempoean.
Pada
tahun 1933 pemetaan adat Tapanoeli dilakukan dimana suatu komite telah dibentuk
di Padang Sidempoean yang mana salah satu anggotanya adalah Dr Tarip Siregar
(lihat Deli courant, 02-01-1933).
ini kami memberitakan rencana survei adat di Tapanoeli, yang untuk itu dibentuk
beberapa komite. Menurut koresponden kami di Padang Sidimpoean, pelantikan
Komisi Adat Tapanoeli Selatan secara resmi telah berlangsung beberapa hari ini.
Pada kesempatan ini, tanggal 28 Desember sekitar tiga ratus orang tertarik
dengan pembangunan komunitas hal itu yang diadakan di gedung De Poenix di P. Sidempoean. Beberapa pidato diadakan.
Demikian dikatakan berturut-turut Kepala Kuria Losoeng Batu, Residen Tapanoeli,
Kepala Kuna Maga, Padanglawas dan Aek Nangali, Bapak Soripada Moelia, anggota
dari Adat-Commission dan Dr Abd. Rasyid. Pelantikannya menampilkan beberapa
penggunaan adat antara lain, Residen ditawari kerbau yang dibungkus kain warna
kuning dan kain Batak. Di atas kami berikan foto anggota Komisi Adat Tapanoeli
Selatan, yang mana terdapat: 1. Resident Tapanoeli; 2. Dr. Abd. Rasyid; 3. Asisten
Resident Tapanoeli; 4. Controeleur Mandailing; 5. de hulp gezaghebbér; 6 dan 7,
dua demang; 8; Soripada Moelia; 9. Controleur Angkola en Sipirok;10. Dr. Tarip;
11. Kepala Koeria Sipirok.
Dr.
Tarip sangat terkenal di Tarutung. Demikian juga di Nias. Dr. Tarip telah
melakukan penelitian dan telah menyelamatkan populasi babi di Nias dari
penyakit. Ternak babi di Taroetoeng dan Nias telah dijamin oleh Dr. Tarip dan
dipasarkan ke Medan dan sebagian ke Singapoera (lihat De Sumatra post, 28-12-1934).
Setelah tempo hari sukses membebaskan cacing pita pada ternak di Padang Lawas,
kini Dr Tarip kembali sukses membebaskan trichinae dari ternak babi di Nias dan
Tapanoeli Utara (penyelidikan yang telah dilakukannya selama dua tahun).
Dr Tarip Siregar kembali sibuk dengan laporan
penyakit surra pada sapi di Mandailing. Dr Tarip Siregar dengan seorang mantri segera
ke Mandailing dari Taroetoeng untuk membasmi penyakit yang mengkhawatirkan
penduduk di Mandailing. Dengan penyuntikan kepada ternak yang terkena surra
akhirnya penyebaran penyakit lebih lanjut dapat dicegah (lihat De Sumatra post,
23-02-1935). Dokter hewan kelas 1 di Hindia Belanda berada di tempat yang
tepat.
Nama
Tarip tampaknya cukup banyak digunakan di Tapanoeli Selatan. Tarip Abdoellah
Harahap studi di Tevhnische Hoogeschool di Bandoeng. Pada tahun 1935 Tarip
Abdoellah lulus ujian transisi naik dari kelas stu ke kelas dua (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-06-1935). Tidak ditemukan dimana Tarip Abdoellah
menyelesaikan sekolah menengah atas (AMS). Yang jelas AMS saat ini belum ada di
Sumatra. Tarip Abdoellah lulus ujian MULO di Fort de Kock tahun 1930 (lihat Sumatra-bode, 12-05-1930). Sekolah MULO belum
ada di Tapanoeli, hanya ada di Medan, Padang dan Fort de Kock. MULO di Padang
Sidempoean baru dibukan pada tahun 1934.
Nama Tarip juga telah digunakan putri Dr Tarip
Siregar di belakang namanya, Chairani Tarip (lihat Deli courant, 28-06-1935). Disebutkan di Neutrale
Medansche Vakschool voor Meisjes (masa kini disebut SKKP, sekolah kejuruan)
dilakukan ujian akhir Pagi ini hasil ujian akhir diumumkan empat dari enam
kandidat lulus ujian akhir. Seorang kandidat telah ditolak, yang kedua harus
duduk kembali untuk mata pelajaran teoretis. Adapun nama-nama lulusan ujian
akhir yang mendapatkan diploma adalah: Hawa Loebis, Nettie Noack, Rekin
Tampoebolon dan Chairani Tarip. Sepengetahuan kami, minat pada tahun baru jauh
melebihi semua tahun-tahun sebelumnya. Tidak kurang dari 57 aplikasi telah
diterima, sementara empat belas siswa baru telah terdaftar. Catatan: seperti
disebut di atas, Chairani Tarip adalah ibu dari Prof Sangkot Marzuki.
Dr
Tarip Siregar kembali sukse di Tapanoeli di pulau Samosir. Hal ini bermula
ketika permintaan kambing meningkat sehubungan dengan meningkatkatnya penganut
agama Islam di Toba. Sementara penduduk yang beragama Kristen tidak makan
kambing (tentu saja ada babi). Kambing-kambing yang berasal dari sentaranya di
Samosir kecil-kecil. Lalu Dr Tarip Siregar melakukan pembiakan dengan
mengintroduksi kambing Bengal dengan kambing lokal (lihat De Sumatra post, 01-08-1935).
Tampaknya berhasil. Saat itu belum ada sarjana peternakan. Dalam hal ini dokter
hewan menjadi merangkap sebagai ahli peternakan. Dr Tarip Siregar mampu
menjalankannya.
Berita adanya penyakit mulut pada kuda telah
merebak di Hoetaimbaroe dan di Sigalangan. Dokter hewan di Padang Sidempoean Dr
Tarip Siregar segera melakukan penyelidikan ke lapangan di dua wilayah kuria
tersebut (lihat Deli courant, 04-05-1936).
Belum diketahui hasilnya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dr Tarip Siregar Peneliti
Terbaik Era Hindia Belanda: Kakek Prof Dr Sangkot Marzuki
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



