*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada era Hindia Belanda, biasanya yang
menjadi notaris adalah orang-orang Belanda. Hal itu karena pendidikan untuk
mendapatkan akta notaris dilakukan di Belanda. Dalam hal ini, Li Tjwan Tien,
lulusan notariat di Belanda dapat dikatakan notaris pertama di Indonesia (baca:
Hindia Belanda) yang berasal dari non golongan Belanda. Di Belanda Li Tjwan
Tien menjadi pengurus Chung Hwa Hui. Setelah kembali ke tanah air, Lie Tjwan
Tien awalnya bekerja untuk pemerintah dan kemudian bekerja secara mandiri.
Hindia Belanda) hanya terdapat sebanyak 49 notaris. Sebanyak enam orang pribumi
dan satu orang Tionghoa. Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, tujuh
orang notaris inilah yang tersedia di seluruh Indonesia. Mereka ini kemudian
menjadi tulang punggung dalam pembuatan akte pendirian berbagai perusahaan,
jajasan dan bentuk-bentuk perjanjian lainnya. Notaris Soewandi adalah pembuat
akta pendirian (yayasan) Universitas Indonesia di Djakarta tahun 1951 dan Hasan
Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem adalah pembuat akta pendirian (yayasan)
Universitas Sumatra Utara di Medan tahun 1951. Kegiatan praktek notariat di
Indonesia (baca: Hindia Belanda) secara resmi diberlakukan pada tahun 1860
(Stbl.1860 No.3). Undang-undang kolonial ini masih menjadi rujukan bahkan
hingga tahun 2004 (Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris).
Ini mengindikasikan bahwa para pionir notaris Indonesia tersebut bekerja
berdasarkan Stbl.1860 No.3 (Reglement op Het Notaris Arnbt in Nederlands
Indie).
Lantas
bagaimana sejarah Li Tjwan Tien? Seperti disebut di atas, Li Tjwan Tien adalah
notaris pertama non Belanda semasa Pemerintah Hindia Belanda. Li Tjwan Tien lulus
ujian mendapat akta notaris di Belanda. Lalu bagaimana sejarah Li Tjwan Tien?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Li
Tjwan Tien: Lulus Notaris di Belanda
Setelah
lulus sekolah dasar berbahasa Belanda, Li Tjwan Tien melanjutkan studi ke
sekolah menengah (HBS). Pada tahun 1905 Lie Tjwan Tien lulus ujian transisi
dari kelas satu ke kelas dua di HBS Soerabaja (lihat Soerabaijasch handelsblad,
02-05-1905). Pada kelas tertinggi lulus ujian dari kelas empat ke kelas lima
antara lain Raden Soejono. Juga disebutkan hasil ujian transisi di sekolah BAS
Soerabaja.
Sekolah menengah umum HBS lama studi lima
tahun. Siswa yang diterima lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS).
Lulusan HBS dapat melanjutkan studi ke fakultas/universitas (di Belanda).
Setelah diizinkan terbatas anak usia sekolah non Eropa/Belanda tahun 1880an masuk
ELS pada tahun 1890an giliran yang diizinkan masuk HBS. Salah satu siswa non
Eropa/Belanda yang lulus HBS (di Semarang) adalah Raden Kartono (abang dari RA
Kartini) tahun 1896 yang kemudian melanjutkan studi ke Belanda. Dalam
perkembangannya, untuk mengakomodir siswa yang tidak tertampung di HBS diadakan
sekolah menengah malam Burgelijk Avond School (BAS). Lama studi di sekolah
malam adalah empat tahun. Sekolah BAS juga ada jurusan teknik. Lulusan sekolah
BAS sejauh ini tidak dapat melanjutkan studi ke fakultas (kecuali lulus ujian
penyetaraan). Pada tahun 1905 ini, setelah RM Kartono, mahasiswa kedua pribumi
di Belanda adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (lulusan sekolah
guru, Kweekschool Padang Sidempoean).
Kapan
Li Tjwan Tien lulus HBS di Soerabaja tidak terinformasikan. Kapan Li Tjwan Tien
berangkat ke Belanda juga tidak terinformasikan. Yang jelas Li Tjwan Tien pada
tahun 1911 sudah diketahui berada di Belanda (lihat De avondpost, 17-10-1911).
Disebutkan, selali komite studiefond, sebuah komite pers juga dibentuk di
organisasi mahasiswa Cina di Belanda Chung Hwa Hui yang mana sebagai pemimpinnya
adalah Teng Sioe Hie, beralamat Regentesselaan 27, Den Haag, Lie Tjwan Tien, beralamat
di Oude Delft 154, Delft dan sekretaris kedua, Ko Houg Liang, yang mengundurkan
diri karena akan segera berangkat ke luar negeri (ke luar Belanda), P Sim Zecha
di Amsterdam telah ditunjuk untuk posisi ini. Sekretariat komisi berada di
Amsterdam (Verhulststraat 180).
Li Tjwan Tien tahun 1905 naik dari kelas satu
ke kelas dua HBS di Soerabaja. Jika lancar studi, Li Tjwan Tien lulus tahun
1909. Dalam hal ini, paling tidak Li Tjwan Tien berangkat dan sudah berada di
Belanda tahun 1909. Namun berdasarkan surat kabar Soerabaijasch handelsblad, 13-05-1907
disebutkan Li Tjwan Tien berangkat dari Soerabaja ke Batavia dengan menumpang
kapal Riemsdijk. Apakah dari Batavia kemudian Li Tjwan Tie berangkat ke Belanda
sehingga sudah berada di Belanda tahun 1907? Jika itu yang terjadi, Li Tjwan
Tien belum menyelesaikan studi di HBS Soerabaja (baru naik kelas empat). Lantas
apakah Li Tjwan Tien melanjutkan studi HBS di Batavia atau Belanda? Di Belanda
tahun 1911 didirikan organisasi mahasiswa Cina, Chung Hwa Hui yang mana sebagai
ketuanya Yap Hong Tjoen. Sebelumnya tahun 1908 organisasi mahasiswa pribumi
asal Hindia didirikan tahun 1908 di Leiden oleh 15 orang yang diberi nama
Indische Vereeniging yang mana sebagai ketua pertama Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Li Tjwan Tien: Sejarah Awal
Notaris di Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




