Ingat geologi, ingat Tan Sin Hok.
Ketika mahasiswa-mahasiswa Indonesia (baca: Hindia Belanda) berbicara tentang
arsitektur teknik sipil, mesin dan teknik kimia, Tan Sin Hok pada jurusan
pertambangan di Delft lebih memilih pada urusan yang kurang diminati yakni ilmu
geologinya sendiri. Pilihan ini membawa Tan Sin Hok menjadi ahli geologi
Indonesia yang pertama.
squinaboli, Eucyrtis hanni, Hemicryptocapsa capita dan Cyrtocapsa grutterinki
adalah beberapa nama species radiolaria yang dikenal di daratan Eropa dan
Jepang. Aslinya, spesies itu dinamai pertama kali oleh Tan Sin Hok atas fosil
renik radiolaria dari sampel batuan yang berasal dari Pulau Rote. Walaupun
namanya sudah dikenal dunia, namun siapa jatidirinya, tak banyak yang
mengetahuinya. Cuplikan kisah hidupnya di bawah ini sebagian disarikan dari
situs http://brieven-tan-schepers.nl. Tan Sin Hok lahir di desa Cipadang,
Cianjur, Jawa Barat pada 28 Maret 1902, sebagai anak bungsu dari pasangan Tan
Kiat Tjay (1870-1910) dan Thio Hian Nio (1875-1948) yang menjalankan usaha
penggilingan padi. Sehari-hari di rumahnya, Tan Sin Hok berbicara bahasa Melayu
dan bahasa Sunda seperti bahasa ibunya. Pada tahun 1907, pada usia 5 tahun, Tan
Sin Hok masuk ELS di Cianjur. Tan Sin Hok mengikuti sekolah tata bahasa Koning
Willem III di Batavia, sampai lulus pada 1919. Pada akhir 1919, Tan Sin Hok dan
Tan Sin Houw berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Tan Sin Hok
belajar pada Jurursan Teknik Pertambangan di Delft. Ia meraih gelar Doktor pada
5 Oktober 1927 dengan disertasi ”Over de samenstelling en het ontstaan van
krijt-en mergelgesteenten van de Molukken”. Setelah lulus dari Delft pada 1927,
Tan Sin Hok sempat melakukan penelitian tentang foraminifera di Bonn. Setelah
10 tahun belajar di Eropa, Tan Sin Hok kembali ke Pulau Jawa pada 8 Juni 1929
bersama isterinya, Eida Schepers yang dinikahinya pada 16 April 1929. Tan Sin
Hok tinggal di Bandung dan bekerja sebagai ahli geologi pada Jawatan
Pertambangan milik Pemerintahan Kolonial Belanda (sekarang Badan Geologi) yang
berlokasi di Jalan Diponegoro, Bandung. Tan Sin Hok hanyalah anak desa yang
lahir hingga masa remajanya di Cianjurtetapi hasil karya Tan Si Hok membuat
mata dunia melihat Indonesia melalui fosil renik radiolaria yang digambar
olehnya sendiri. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Tan Sin Hoke? Seperti disebut di atas, Tan Sin Hok adalah
arsitek bergelar insinyur teknik pertambangan lulusan Universiteit te Delft
yang memilih bidang yang kurang digemari ilmu (riest) geologi, namun sejarahnya
kurang terinformasikan. Lalu bagaimana sejarah Tan Sin Hok? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu
terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Tan Sin
Hok Insinyur Pertambangan Ahli Geologi Lulusan Delft
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dr Ir Tan Sin Ho: Sejarah
Geologi di Indonesia Era Hindia Belanda
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




