Pada awal tahun 1919 akan diadakan kembali kongres mahasiswa Indonesia di
Belanda (Het vaderland, 31-12-1918) Disebutkan Perhimpoenan
Pelajar Indonesia akan menggelar kongres kedua pada Jumat 31 Januari dan Sabtu
1 Februari 1919. Pada hari pertama, pertanyaan “Apa yang bisa, dan mungkin
diharapkan Indonesia sekarang dari Belanda?” akan diperkenalkan oleh H.
Kraemer, M. Goenawan Mangoenkoesoemo dan Oei Kiauw Pik. Pada hari kedua, topik “Apakah
pendidikan tinggi diinginkan dan mungkin di Indonesia sekarang”, akan disampaikan
oleh Loekman Djajadiningrat, Be Kiat Tjong dan PM Adriaanse.
Dalam pertemuan hari pertama Oei Kiauw Pik
berbicara (lihat De Maasbode, 01-02-1919). Disebutkan Oei Kiauw Pik menjelaskan
pernyataan berikut: ‘Belanda harus berkontribusi pada kemandirian ekonomi
Hindia, yang terutama dapat dicapai melalui hubungan yang lebih erat antara
Hindia dan Cina. Setiap bangsa harus dilatih untuk kemandirian ekonomi. Dan
satu-satunya pertanyaan adalah apakah masyarakat Hindia siap untuk itu. Di Hindia
penurunan ekonomi dapat diamati. Orang-orang Hindia tidak akan bisa hidup dari
pertanian. Waktunya tidak akan lama lagi ketika setiap petani Hindia akan
dihadapkan oleh pribumi yang berbudaya. Penciptaan industri besar di Hindia
diinginkan dan diperlukan. Selain modal, ada juga pertanyaan tentang tuntutan
pekerja, yang pemecahannya harus ke arah ini, penggunaan tenaga kerja yang
paling cocok: Chineesche. Di perumahan tenaga kerja, pasar tenaga kerja telah
membuat lebih sulit tetapi untuk pengawasan tidak sampai di sana saja, itu
hanya akan mengarah pada perbudakan yang diatur. Kita harus beralih dari
kontrak ke kerja bebas, yang tampaknya ingin dipromosikan oleh industri. Dengan
banyak kutipan, pembicara bermaksud bahwa China akan membentuk area penjualan
yang penting. itu harus dipahami di Hindia untuk memanfaatkannya. Orang Cina
harus diperlakukan sama dalam yurisprudensi di Hindia, bahwa pajak yang paling
membebani orang Chana harus disatukan. Perbaikan telah dilakukan, tetapi
pembagian kelas tetap utuh. Apakah Belanda akan dapat memenuhi tugasnya, masa
depan akan memberikan jawaban?’. Sorp Tagor Harahap dalam menanggapi pernyataan
JA Jonkman menyatakanbahwa tidak selalu ditunjukkan di Timur bahwa Belanda
cinta damai. Kami tidak membutuhkan kerjasama, tetapi kepemimpinan kami untuk
dapat mencapai kedewasaan penuh dan kami hanya mengharapkan bimbingan saja dari
Belanda’. Pada kongres hari kedua, Oei Kiauw Pik menanggapi pernyataan PM
Adriaanse. Oei Kiauw Pik berpendapat bahwa Adtiaamse telah mengabaikan
kesenjangan sempit yang ada antara pendidikan pada umumnya, pendidikan tinggi
pada khususnya, dan kebutuhan masyarakat. Di Hindia, 30 sen dibelanjakan per
siswa, di Belanda 6,80 sen. Jumlah anak siswa di Hindia besar. Di Hindia ada
dokter satu setiap 300.000 jiwa sementara di Belanda 1 per 2.000 jiwa. Harus
ada dorongan yang luar biasa untuk bertindak dari Belanda! Bukan sekolah
menengah, tetapi sepuluh perguruan tinggi. Sementara Sorip Tagor Harahap
keberatan dengan Andriaanse yang selalu merujuk pada India (Inggris) dan Jepang
tentang soal Hindia. Sedangkan guru Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng
Moelia meminta pemimpin Eropa tidak menunda sekolah menengah di Indonesia,
tetapi lebih baik disegerakan membangunnya.
Pada
tahun 1919 ini Oei Kiauw Pik sebagai ketua Chung Hwa Hui (lihat Het vaderland, 12-04-1919).
Kongres Indonesia kembali digelar pada bulan Setember 1919. Pada hari ketiga
pembicaea yang tampil adalah Koningsbergen dengan topik “Apa yang sekarang
diharapkan Belanda dari Indonesia?”. Ada beberapa pembahas yang dicatat antara
lain Tan Malaka, Oei Kiauw Pik ketua Chung Hwa Hui, Dahlan Abdoellah dan Kwa
Tjoen Sioe. Oei Kiauw Pik berpendapat bahwa Belanda hanya mengkritik sikap
orang Indonesia dan tidak mengungkapkan aspirasi mereka sendiri terhadap Hindia
Belanda.
Chung Hwa Hui kembali mengadakan pertemuan
umum dengan mengundang pembicara, Ny. Dr Aletta H Jacobs yang pernah berkunjung ke Tiongkok pada
tahun 1913 dengan topik ‘Indrukken van de Vrouwenbeweging in China’/Kesan
Gerakan Perempuan di Cina’. Pertemuan ini dibuka oleh ketua Oei Kiauw Pik
(lihat Algemeen Handelsblad, 22-10-1919).
Sebelumnya dalam pertemuan umum yang diadakan pada bulan April menghadirkan
pembicara JL Duyvendak, Lector in het Chineesch di Lidsche Universiteit dengan
topik ‘De Ontwaking van China/Kebangkitan China’ (lihat Het vaderland, 12-04-1919). Pada bulan Mei, Oei Kiauw Pik mengakhiri
kepengurusannya di Chung Hwa Hui (lihat Het Vaderland : staat- en letterkundig
nieuwsblad, 01-06-1920). Pidato perpisahan Oei Kiauw Pik bertema Bolshevisme
dan Nasionalisme yang menguraikan intervinsi Barat di Tiongkok.
Setelah
tidak terlalu aktif di organisasi, Oeu Kiauw Pik mulai sepenuhnya fdokus pada
studi. Pada tahun 1922 Oei Kiauw Pik lulus ujian dan mendapat gelar dokter di
Universiteit te Leiden (lihat Arnhemsche courant, 07-02-1922). Oei Kiauw Pik
sudah berada di Belanda selama enam tahun sejak kedatangannya pada tahun 1916. Yang
lulus dan mendapat gelar dokter pada tahun 1922 ini adalah Dr Sardjito. Namun
Oei Kiauw Pik tidak segera pulang ke tanah air, Oei Kiauw Pik masih meneruskan
studinya ke tingkat doktoral. Dr Sardjito juga melanjurtkan studi ke tingkat
doktoral.
De Preanger-bode, 22-01-1923 merangkum
hasil-hasil yang diraih oleh mahasiswa Indonesia di Belanda selama tahun 1922.
Dipromosikan ke doktor hukum R Soegondo dan RM Koesoema Atmadja dengan
desertasi masing-masing ‘Vernietiging van Dorpsbesluiten’ dan ‘De vrome
Mohammedaansche stichtingen in Indie’. Lulus ujian sarjana hukum R Oerip
Kartodirdjo, R Moekiman, M. Besar, M Soemardi, R Sastromoeljono, dan R Panji
Singgih. Lulus gelar dokter M Sardjito. Lulus candidat sarjana hukum Pamoentjak. Lulus kandidat sarjana akuntan R Pandji Nindito, juga lulus kandidat
sarjana perdagangan umum (tidak disebut nama), M Herman lulus kandidat lndologi,
dan lulus ujian ilmu perdagangan M. Aboetari.
Pada
bulan April 1923 Dr Oei Kiauw Pik berhasil meraih gelar doktor dalam bidang
kedokteran (lihat De avondpost, 04-04-1923). Disebutkan Oei Kiauw Pik, seorang Cina
kelahiran Jawa, yang studi kedokteran di Leiden, dipromosikan menjadi doktor
ilmu kedokteran di Wina (Austria). Beberapa bulan kemudian Dr. Sardjito juga lulus ujian tingkat doktotal dan meraih gelar
doktor (lihat Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 11-07-1923).
Disebutkan Dr. Sardjito lahir di Madioen berhasil mempertahankan desertasi di
Universiteit Leiden berjudul ‘Immunisatie tegen bacillaire dysenterie door
middel van de baéteriophaag antidysénteria Shiga-Kruse’. Dr Sardjito kelak
dikenal sebagai Rektor UGM pertama.
Orang Indonesia yang telah meraih gelar doktor
di Belanda hingga 1923 sudah ada beberapa mahasiswa. Yang pertama meraih gelar
doktor (Ph.D) adalah Husein Djajadiningrat pada tahun 1913 di Universiteit te
Leiden dalam bidang Indologi/sastra dengan predikat pujian. Lalu kemudian
disusul Dr. Sarwono (medis, 1919), Mr. Gondokoesoemo (hukum 1922) dan RM
Koesoema Atmadja (hukum 1922). Dr. Sardjito (medis, 1923); dan Dr. Mohamad
Sjaaf (medis, 1923).
Dr
Oei Kiauw Pik adalah orang Cina asal Hindia yang kedua meraih gelar doktor.
Sebelumnya pada tahun 1922 Han Tiauw Tjong meraih gelar doktor dalam
bidang teknik (mesin) di Universiteit te Delft (lihat De Maasbode, 14-09-1922).
Han Tiouw Tjong adalah ketua Chung Hwa Hui periode 1921./1922. Dr Oei Kiauw Pik
seperti disebut di atas ketua Chung Hwa Hui periode 1919/1920.
De Preanger-bode, 10-07-1924: ‘Diantara mereka
yang mengabdikan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu Barat karena cinta pada
tempat kelahiran mereka, biasanya ditemukan nama-nama penduduk Cina yang telah
menetap disini selama lebih dari seratus tahun. Demikianlah nama (marga) Tan
berulang kali kita jumpai, dan salah satu contoh terbaru adalah kasus Dr Oei
Kiauw Pik yang akan segera tiba di Jawa setelah menyelesaikan studinya di
Eropa. Dr Oei memperoleh gelar doktor medicinae di Universitas Wina, adalah
putra dari Oei Swan Tie yang terkenal dari Wonokromo (Soerabaya), bersekolah di
sekolah THHK di kota buaya, kemudian pergi ke Belanda melanjutkan studi dan
akhirnya berangkat ke Leiden selepas HBS. Dari sana, Oei berangkat ke Wina
sebagai mahasiswa dan merupakan orang Tionghoa pertama disana yang memperoleh
gelar seperti itu, memimpin Wiener Journal dan majalah lainnya. memuji
kehadiran dan promosinya. Oei berkeinginan untuk menetap di Soerabaja sebagai
spesialisasi penyakit anak-anak dan tentunya akan sangat disambut baik oleh
masyarakat Cina. Dapat dilihat bahwa uang papanya yang terutang ke Hindia
dihabiskan dengan baik untuknya. Hadir kembali dalam bentuk yang menarik untuk
kemaslahatan negeri’..
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dr Oei Kiauw Pik: Dari Soerabaja
ke Leiden Kembali ke Soerabaja
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



