Han Tiauw Tjong di Belanda menjadi
ketua Chung Hwa Hui. Sementara itu baru-baru ini disebutkan Soewardi
Soerjaningrat telah mendirikan Indonesisch Persburrau dimana akan merencakan
untuk menerbitkan sejumlah monograf dimana pada edisi pertama Han Tiauw Tjong
turut kontribusi (lihat Het vaderland, 08-11-1918). Penulis lain yang
kontribusi adalah Baginda Dahlan Abdoellah, Han Tiauw Tjong, Goenawan
Mangoenkoesoemo, RM Noto Soeroto, S Ratu Langie, G Soewarno, RM A Soorjo
Poetro. S. Surya Ningrat, WK Tehupeiory, R. Turnbelaka dan Yap Hong Tjoea.
Edisi perrama ini berjudul Het Indisch nationaal Streven.
Soewardi Soerjaningrat adalah salah satu pendiri komiter
Boemi Poerta di Bandoeng tahun 1913 yang mengusung Indisch Partij. Namun
kemudian para pendiri ini ditangkap dan diasingkan ke Belanda. Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo kembali ke tanah air tahun 1914 karena alasan penyembuhan
sakit, sedangkan EF Douwes Dekker tetap di Eropa. Dalam perkembangannya
Soewardi mengikuti studi keguruan dan kemudian mendapat akta guru LO. Soewardi
sendiri aktif di Indisch Vereeniging yang kemudian aktif dalam organ Indisch
Vereining majalah Hindia Poetra hingga kemudian munculnya Indonesisch Persburrau.
Namun tidak lama kemudian pada bulan Agustus 1919 kembali ke tanah air (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-08-1919). Di tanah air Soewardi
dengan akta guru LO merintis sekolah swasta dengan metode sendiri Sekolah Taman
Siswa.‘ Soewardi Soerjaningrat kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.
Pada tahun
1921 Han Tiauw Tjong diketahui telah lulus ujian di Delft dan mendapat gelar
insinyur. Hal ini diketahui pada bulan April 1921 Han Tiauw Tjong mengirim
telegram ke Batavia saat mana diadakan pesta peringakatan kelahiran Chung Hwa
Hui yang keempat belas pada tanggal 14 April (lihat De nieuwe courant,
19-04-1921). Disebutkan dalam acara peringatan Chung Hwa Hui dibacakan beberapa
telegram antara lain telegram dari ketua Chineezen-Vereeniging Chung Hwa Hui di
Belada, Ir. Han Tiauw Tjong.
Organisasi Chung Hwa Hui di Belanda didirikan pada tahun
1910. Pendirinya adalah Be Tiat
Tjong yang juga menjadi ketua yang pertama. Pendirian Chung Hwa Hui cabang
Belanda ini, dua tahun setelah organisasi pribumi Indische Vereeniging yanmg
didirikan pada bulan Oktober 1908 di Leiden. Pendiri Indische Vereeniging yang
juga sekaligus ketua pertama adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan.
Pada tahun 1921 ini para pengurus Dr Soetomo dkk telah mengubah nama Indische
Vereeniging menjadi Indonesiasch Vereeniging. Sebelum Han Tiauw Tjong lulus
dengan gelar insinyur teknik mesin, pada bulan Desember 1920 Sorip Tagor lulus
ujian akhir (2de helft) di Rijksveeartsenijschool, Utrecht dengan mendapat
gelar dokter hewan (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad,
30-01-1921). Masih pada tahun 1920, sebelumnya RM Soerachman Tjokrodisoerjo
lulus ujian di Technische Hoogeschool te Delft gelar insinyur teknik kimia (De
Maasbode, 18-06-1920). Ir Soerachman langsung pulang ke tanah air (lihat Het
nieuws van den dag, 23-05-1921). Demikian juga dengan Dr Sorip Tagor. Ir
Soerachman adalah insinyur pertama Indonesia dan Dr Sorip Tagor adalah dokter
hewan pertama Indonesia. Kelak, Ir Soerachman adalah Menteri RI pada kabinet
pertama dan juga Rektor Universiteit van Indonesia; Sementara Sorip Tagor
Harahap dikenal sebagai kakek dari artis Risty/Inez Tagor; sedangkan Todoeng
Harahap Soetan Goenoeng Moelia Menteri Pendidikan RI (kabinet kedua). Ir
Soerachman dan Mr Dr Soetan Goenoeng Moelia besanan, putri Soerachman menikah
dengan putra Soetan Goenoeng Moelia.
Han Tiauw Tjong setelah mendapat
gelar sarjana kemudian melanjutkan studi ke tingkat doktoral, Pada tahun 1922
Han Tiauw Tjong berhasil meraih gelar doktor di Universiteit te Delft (lihat De
Maasbode, 14-09-1922). Disebutkan di Universiteit te Delft promosi menjadi
doktor di bidang teknik Han Tiauw Tjong pada tanggal 13 di Technische
Hoogeschool dengan met lof (pujian atau cumlaude).
Namun demikian, pada tanggal 4 Maret dalam pertemuan
Chung Hwa Hui yang diadakan di Den Haag nama Han Tiouw Tjong sudah dicatat
dengan gelar doktor (lihat De
Preanger-bode, 11-04-1922). Disebutkan dalam pidato pengunduran dirinya, ketua Chung
Hwa Hui yang mengundurkan diri, Dr. Han Tiamd Tjong, menguraikan kebangkitan
China…Setelah itu, ketua baru, Be Tiat Tjong, berterus terang. yaitu pidato
penerimaannya, dimana ia membahas posisi orang Cina di Hindia. ‘Kami orang Cina, mendukung orang Indonesia sesama orang
Asia dan kami sebagai Orang Cina, bukan sebagai orang Indonesia, karena kami
memang bukan. Dalam penutupan pertemuan kepada Han Tiouw Tjong diberi anggota
kehormatan.
Sejauh yang diketahui, Han Tiauw
Tjong dapat dikatakan orang pertama orang Cina asal Hindia yang meraih gelar
doktor. Sebelumnya disebutkan Han Tiouw Tjong berhasil mempertahankan desertasi
dengan judul De industrialisatie van China
(lihat Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 13-09-1922).
Disebutkan Han Tiouw Tjong, insinyur mesin lahir di Probolinggo. Dengan topik
itu diduga mengapa Han Tiouw Tjong mengambil tema kebangkita China dalam pidato
pengunduran diri dalam pertemuan Chung Hwa Hui bulan Maret.
Orang Indonesia yang telah meraih gelar doktor
di Belanda hingga 1922 sudah ada beberapa mahasiswa. Yang pertama meraih gelar
doktor (Ph.D) adalah Husein Djajadiningrat pada tahun 1913 di Universiteit te
Leiden dalam bidang Indologi/sastra dengan predikat pujian. Lalu kemudian
disusul Dr. Sarwono (medis, 1919), Mr. Gondokoesoemo (hukum 1922) dan RM
Koesoema Atmadja (hukum 1922). Pada tahun 1922 yang menjadi ketua Indische
Vereeniging adalag Dr Soetomo yang mengikuti studi kedokteran di Universiteit
Amsterdam. Dr Husein Djajadiningrat adalah ketua Indische Vereeniging yang
kedua (setelah Soetan Casajangan 1908-1910).
istri melakukan resepsi dengan mengundang sejumlah pihak di Restaurant Royal
(lihat De
Maasbode, 15-09-1922). Resepsi ini juga terkait dengan perpisahan karena
keberangkatan mereka ke Cina dalam beberapa hari ke depan. Dalam resepsi ini
turut hadir promotor Prof Dr JH Valckenier, Konsuler Tiongkok
di Den Haag, Wang Kouang Kij; para anggota Kedutaan Cina, dan beberapa teman
Cina dan Belanda dari Han Tiauw Tjong. Tentu saja sebelum keberangkatan ke
Cina, Han Tiouw Tjong kembali dulu ke tanah air. Ini dapat dilihat
keberangkatan Han dengan kapal ss Prinses Jualiana dari Amsterdam pada tanggal 16
September dengan tujuan akhir Batavia (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 15-09-1922).
Dalam manifesr kapal tercatat nama Han Tiouw Tjong dengan istri beserta dua
anak.
Setelah kepulangan Han Tiouw Tjong dari
Belanda, desertasinya diterbitkan sebuah penerbit Hijman di Arnhem dengan judul
yang sama desertasi (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 30-09-1922).
Disebutkan harga buku f12. Sebelumnya juga pernah buku Soetan Casajangan (ketua
Indische Vereeniging yang pertama) diterbitkan tahun 1913 berjudul Indische
Toestanden Gezien Door Een Inlander’ (negara bagian di Hindia Belanda dilihat
oleh penduduk pribumi) yang diterbitkan di Baarn oleh Percetakan
Hollandia-Drukkerij.
Tidak
diketahui apakah Dr Han Tiouw Tjong telah ke Cina. Yang jelas pada bulan April
diberitakan Dr Han Tiouw Tjong berangkat dengan kapal ss Koningin der
Nederlanden ke Sabang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-04-1923). Dalam
manifesr kapal tercatat nama Han Tiouw Tjong dengan istri beserta dua anak.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Ir Dr
Han Tiauw Tjong: Volksraad
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




