*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada era Pemerintah Hindia Belanda
banyak guru yang tidak hanya mencerdaskan bangsa, juga aktif dalam perjuangan
kemerdekaan. Salah satu diantaranya adalah Dahlan Abdoellah. Perjuangan Dahlan
Abdoellah diawali dengan meningkatkan pengetahuannya dengan melanjutkan studi
ke Belanda. Perjuangan Dahlan Abdoellah dimulai di organisasi pribumi di
Belanda, Indische Vereeniging dan Sumatranen Bond.
adalah seorang pejuang kemerdekaan dan diplomat Indonesia yang pernah menjabat
sebagai Wakil Pemimpin Pemerintahan Kota Jakarta mendampingi Raden Suwirjo di
masa peralihan kekuasaan antara pendudukan Jepang dengan Pemerintah Indonesia
dari 7 September 1945 hingga 23 September 1945. Dalam kiprahnya, ia pernah
diutus negara untuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk
Irak, Syria, dan Trans-Jordania. Ia diangkat sebagai duta besar untuk ketiga
negara tersebut oleh Presiden Soekarno pada tahun 1950, dan resmi bertugas
sebagai duta besar pada tanggal 27 Maret 1950. Namun Bagindo menjabat duta
besar dalam tempo yang amat singkat, kurang dari tiga bulan, karena ia
meninggal dunia pada tanggal 12 Mei 1950 akibat serangan jantung yang
menimpanya. Sesuai saran dan nasihat Haji Agus Salim, jenazah Bagindo Dahlan
Abdullah kemudian dimakamkan di Baghdad, Irak, dengan upacara kebesaran di
Masjid Syekh Abdul Qadir Jailani di kota tersebut. Saran dan nasihat Agus Salim
itu bertujuan agar makam Bagindo akan dikenang lama dan menjadi simbol tali
persahabatan antara Indonesia dan Irak. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Dahlan Abdoellah? Seperti disebut di atas, Dahlan Abdoellah adalah
seorang guru, yang meningkatkan pengetahuan dan studi ke Belanda, Melalui
irganisasi Indische Vereeniging perjuangan Dahlan Abdoellah dimulai. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia Dahlan
Abdoellah, Guru ke Belanda; Indische Vereeniging dan Sumatranen Bond
Dahlan
Abdullah lahir di Pariaman tanggal 15 Juni 1895. Lulus sekolah dasar berbahasa
Belanda HIS tahun 1907. Dahlan Abdoellah melanjutkan studi ke sekolah guru (kweekschool)
di Fort de Kock. Selama masih pendidikan di kweekschool sudah ditempatkan di
sekolah dasar di Soeliki tetapi kemudian mengundurkan diri terhitung sejak
tanggal 12 Juni 1912 (lihat De Preanger-bode, 05-10-1912). Dahlan Abdoellah
lulus di kweekschool tahun 1913.
Tadjioen Harahap gelar Soetan Casajangan lulus
sekolah guru dengan akta guru kepala MO di Belanda tahun 1911. Dalam perkembangannya
diketahui Soetan Casajangan akan ditempatkan di sekolah guru Kweekschool Fort
de Kock. Surat penempatannya (resolutie van den minister van kolonien) di Fort
de Kock sudah keluar pada bulan April tahun 1913 (De Preanger-bode,
19-04-1913). Soetan Casajangan pulang ke tanah air pada bulan Juli 1913.
Setelah
lalus sekolah guru kemudian melanjutkan studi ke sekolah guru di Belanda. Tidak
terinformasikan kapan Dahlan Abdoellah berangkat ke Belanda. Pada bulan Juni
1915 Dahlan Abdoellah diberitakan lulus ujian guru acta LO di Den Haag (lihat Het
vaderland, 03-06-1915). Pada bulan ini diberitakan RM Soewardi Soerjaningrat
lulus ujian saringan masuk untuk berpartisipasi untuk mendapatkan akte guru
hulp acte atau LO (lihat Haagsche courant, 18-06-1915). Soewardi Soerjaningrat
kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.
Akta guru LO (lagere onderwijzer) adalah akta
guru Eropa yang dapat mengajar di sekolah dasar Eropa (ELS). Akta LO ini
diperoleh Soetan Casajangan pada tahun 1909 di Belanda. Lalu Soetan Casajangan
melanjutkan studi untuk mendapatkan akta guru kepala (MO) dan lulus tahun 1911.
Akta MO dapat mengajar di sekolah menengah dan dapat menjadi direktur HIS atau
ELS atau kweekschool, Akta MO ini kira-kira setara dengan sarjana pendidikan
yang sekarang (D4). Selian Soetan Casajangan dan Dahlan Abdoellah yang telah
mendapatkan akta LO adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia pada
tahun 1915. Soetan Goenoeng Moelia
sendiri setelah lulus sekolah dasar ELS di Sibolga melanjutkan studi ke Belanda
pada tahun 1911. Besar dugaan sebelum mengikuti sekolah guru, Soetan Goenoeng
Moelia terlebih dahulu menyelesaikan sekolah menengah (setara MULO). Besar
dugaan Soetan Goenoeng Moelia dan Dahlan Abdoellah mengikuti program akta LO
bersama-sama (sehingga sama-sama lulus tahun 1915). Soetan Goenoeng Moelia
lahir di Padang Sidempoean tahun 1896.
Dahlan
Abdoellah di Belanda mengikuti program Bahasa Melayu dan Etnografi, lulus bulan
Desember 1915 (lihat Deli courant, 27-12-1915). Disebutkan lulus ujian di Den
Haag Mas Sjamsi dan Dahlan Abdoellah dalam Bahasa Melayu dan Etnografi. Sjamsi
Sastra Widagda studi di sekolah
perdagangan di Amsterdam. Pada bulan Agustus 1916 Dahlan Abdoellah akan mengikuti
Kongres Pendidikan Hindia di Belanda (lihat De avondpost, 21-03-1916).
Kongres Pendidikan Hindia di Belunda adalah
yang pertama dilakukan. Sebelumnya hanya dilakukan dalam bentuk-bentuk
pertemuan yang waktu itu diantaranya dihadiri oleh Soetan Casajangan. Kongres
pendidikan Hindia di Belanda ini membahas soal pendidikan bagi golong
Eropa/Belanda. Timur/Cina dan pribumi. Dalam kongres pendidikan yang sekarang
(1916) juga akan dihadiri oleh Soewardi Soerjaningrat. Disebutkan dalam kongres
ini Dahlan Abdoel, guru bahasa Melayu sebagai salah satu anggota dari salah
satu komisi/bidang pada kongres tersebut. Pada tahun 1911 Soetan Casajangan
pernah diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar
bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato
dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911, Soetan
Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang
berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’ (peningkatan pendidikan pribumi):
Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya. Beberapa kutipannya sebagai
berikut:
Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).
..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya…cinta saya
kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya
sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya
kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang
indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang
berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka
yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi…hak yang sama bagi
semua…sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara ‘coklat’ dan
‘putih’ dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).
Di
Belanda, Dahlan Abdoellah selain terus meningkatkan studi, juga menjadi anggota
Perimpoenan Hindia (Indische Vereeniging). Organisasi ini digagas Soetan
Casajangan dan didiririkan tahun 1908 dimana Soetan Casajangan sebagai ketua
(pertama). Pada tahun 1916 ini Indische Vereeniging disebutkan diketuai oleh
Raden Loekman Djajadiningrat (lihat Dagblad van Zuid-Holland en ‘s-Gravenhage, 09-08-1916).
Dalam kepengurusan ini Dahlan Abdoellah disebut sebagai archivaris. Loekman
Djajadiningrat adalah adik dari Husein Djajadiningrat, yang pada saat
pembentukan Indische Vereeniging di rumah Soetan Casajangan pada tahun 1908
bertindak sebagai sekretaris pertemuan. Husein Djajadiningrat kemudian
menggantikan Soetan Casajangan di pengurusan periode kedua.
Di Fort de Kock, Soetan Casajangan menggagas
organisasi yang melibatkan penduduk dan para pemimpin lokal diberi nama Madjoe.
Kehadiran organisasi Madjoe di Sumatra mendapat respon dari mahasiswa asal
Sumatra di Belanda dengan mendirikan organisasi khusus untuk Sumatra yang
diberi nama sementara Sumatra Sepakat. Ini menjadi head to head dengan Jong
Java (sedangkan pada level senior: Madjoe vs Boedi Oetomo). Dalam hal ini para
anggota Indische Vereeniging ada yang berafiliasi dengan Jong Java dan juga ada
yang berafiliasi dengan Sumatra Sepakat. Yang menggagas ‘Jong Sumatra’ ini
adalah Sorip Tagor Harahap dari ‘Persatoean Anak Sumatra’ di Utrecht (tempat
dimana Sorip Tagor kuliah di sekolah kedokteran hewan, Sumatra Sepakat resmi
didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’ pada tanggal 1 Januari 1917. Dewan
terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris
dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota komisaris adalah
Ibrahim Datoek Tan Malaka (lihat De Sumatra post, 31-07-1919). Disebutkan Tujuan
didirikan organisasi ini untuk meningkatkan tarap hidup penduduk di Sumatra,
karena tampak ada kepincangan pembangunan antara Jawa dan Sumatra. Mereka yang
tergabung dalam himpunan ini menerbitkan majalah yang akan dikirim ke Sumatra
dan mengumpulkan berbagai buku yang akan dikirimkan ke perpustakaan di Padang,
Fort de Kock, Sibolga, Padang Sidempoean, Medan. Koeta Radja dan di tempat lain
di Soematra
Dahlan
Abdoellah melanjutkan studi di Universiteit te Leiden pada program
bahasa-bahasa Timoer untuk mendapatkan diploma Maleische en Taal en
Volkenkunde. Dahlan Abdoellah lulus tahun 1917. Pada tahun 1918 Dahlan
Abdoellah diangkat sebagai asisten dosen untuk bahasa Melayu di Universiteit
Leiden. Pada fase ini Dahlan Abdoellah mengikuti program pendidikan guru di
Universiteit Leiden untuk mendapatkan akta guru kepala (MO).
Sementara itu, sambil mengajar Todoeng Soetan
Goenoeng Moelia melanjutkan studi dan lulus ujian guru kepala hoofdacte (MO)
pada tahun 1917 di Universiteit te Leiden. Todoeng tidak langsung pulang tetapi
mengikuti mata kuliah bahasa Melayu kursus dari Vereeniging Tropische
Geneeskunde di Leiden. Setelah itu Soetan Goenoeng Moelia baru pulang ke tanah
air.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dahlan Abdoellah di Batavia:
Perjuangan Belum Selesai
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




