*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disin
Presiden
Soekarno adalah seorang peminat sejarah. Setiap pidatonya sejak muda hingga
menjadi presiden tidak pernah lupa menyelipkan aspek sejarah. Oleh karena itu,
Presiden Soekarno mengingatkan seluruh rakyat Indonesia ‘jangan sekali-kali
melupakan sejarah’. Ir Soekarno saat itu dapat dikatakan sebagai guru besar
sejarah (sebab saat itu belum ada guru besar pada bidang sejarah di perguruan
tinggi).
Jasmerah adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam
pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal
17 Agustus 1966. Menurut Jenderal Abdoel Haris Nasoetion, Jasmerah adalah judul
yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang
diberikan Bung Karno. Presiden Soekarno memberi judul pidato itu untuk
mempertahankan garis politiknya,yaitu ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’.
Dalam pidato itu Presiden menyebutkan antara lain bahwa kita menghadapi tahun
yang gawat, perang saudara, dan seterusnya. Disebutkan pula bahwa MPRS belumlah
berposisi sebagai MPR menurut UUD 1945. Posisi MPRS sebenarnya nanti setelah
MPR hasil pemilu terbentuk. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri
Sebelas Maret Surakarta, Suyatno, menyebut pidato ‘Djangan Sekali-kali
Meninggalkan Sedjarah!’ pada 17 Agustus 1966 merupakan pidato kepresidenan
terakhir Bung Karno. Dia mencatat, terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata
sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan
sejarah bagi Bung Karno. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Presiden Soekarno perlu mengingatkan seluruh rakyat Indonesia
agar tidak melupakan sejarah? Seperti disebut di atas, kalimat yang
mengingatkan itu dikatakan pada pidatonya pada tangga 17 Agustus 1966, pidato
yang dianggap sebagai pidato Ir Soekarno? Lalu mengapa begitu penting sejarah
harus diingatkan Presiden Soekarno untuk tidak dilupakan? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku
hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Apa Kata Presiden Soekarno?
Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Jangan Sekali-kali Melupakan
Sejarah: Banyak Pelaku Sejarah yang Terlupakan
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



