*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
kerajaan atau kesultanan di Ternate Maluku tentu saja sudah banyak ditulis.
Namun pada bagian awal sejarah kurang terinformasikan, Boleh jadi karena data
sejarahnya kurang tergali. Lantas pertanyaannya: Bagaimana sejarah zaman kuno
di Ternate atau Maluku? Yang jelas dalam sejarah
Ternate dicatat bahwa kolano atau pemimpin pertama Ternate adalah Momole Ciko
yang menyandang gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Angka tahun ini sudah
barang tentu masuk dalam sejarah zaman kuno. Sebab pada era paling tidak
terdapat tiga kerajaan besar yang masih eksis: Kerajaan Aru, Kerajaan Sriwijaya
dan Kerajaan Singhasari.

Kerajaan Ternate sudah pernah eksis Kerajaan Gapi di (pulau) Ternate. Dalam
perkembangannya disebut Raja Ternate berinisiatif membentuk persatua
bersama-sama dengan raja-raja dari Tidore, Jailolo dan Bacan. Hasil persatuan tersebut
terbentuk Moloku Kie Raha (Federasi Empat Gunung Maluku). Juga disebutkan
pengaruh Islam masuk ke Maluku pada abad ke-15 yang mana Raja Ternate pertama
yang diketahui memeluk agama Islam adalah Kolano Marhum (1465-1486). Fase ini
dapat dikatakan awal terbentuknya Kerajaan Demak di Jawa.
Lantas
bagaimana sejarah zaman kuno Ternate dan Maluku? Seperti disebut di atas, Kerajaan Ternate dalam
sejarahnya disebut juga berada pada fase zaman kuno, suatu fase
kerajaan-kerajaan sebelum kehadiran orang-orang Eropa. Apakah ada prasastinya? Pada tahun 1511 diketahui adalah awal kehadiran
Portugis di Hindia Timur setelah lebih dahulu menaklukkan (kerajaan) Malaka
lalu pelaut-pelaur Portugis mencapai (kepulauan) Maluku. Lalu bagaimana sejarah zaman kuno Ternate dan
Maluku? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Kepulauan Maluku dan Ternate:
Awal Terbentuknya Kerajaan
Jika
Raja Baab Mashur Malamo (1257-1272) sudah eksis pada era Singhasari, lantas mengapa
Kerajaan Ternate tidak memiliki candi atau prasasti? Apakah karena radja
Ternate sudah Islam dan tidak memerlukan tempat ibadah seperti di
kerajaan-kerajaan di Jawa dan Sumatra yang beragama Hindoe Boedha? Bisa jadi, karena
kerajaan tua lainnya yang sudah beragama Islam seperti Malaka juga hingga saat
ini belum menemukan bukti prasasti tanda-tanda zaman kuno. Lanatas apakah tidak adanya bangunan ibadah
atau prasasti mengindikasikan kerajaan kecil di wilayah populasi penduduk
jarang, Populasi penduduk di Jawa dan Sumatra cenderung lebih padat.
Bangunan-bangunan ibadah seperti pada era
Hindoe Boedha kerap eksis hingga kini,
karena tersimpan dan terkubur di dalam tanah atau dibawah semak-semak hutan.
Bangunan-bangunan itu ditinggalkan karena berbagai sebah seperti peperangan,
banjir, gempa atau epidemik, lalu terkubur dengan aman hingga ditemukan
kemudian pada era Peerintah Hindia Belanda. Lantas apakah di Malaka dan Ternate
ada sisa-sisa bangunan kuno atau prasasti?
Boleh jadi tidak ada bangunan kuno kerena sudah didaur ulang untuk membentuk
bangunan baru, demikian seterusnya. Pada era VOC hal serupa ini terjadi jika
benteng kuno tidak digunakan lagi, bahan yang tersisa digunakan untuk keperluan
lain. Lalu, bagaimana sejarah zaman kuno diidentifikasi, jika tidak ada penanda
zaman kuno seperti aksara, prasasti, tulisan atau lainnya? Apakah sangat tergantung pada sejarah lisan? Celakanya, hal serupa
ini tidak dapat diandalkan pada dunia akademik sakarang Lalu bagaimana membnktikan Raja
Ternate pertama Baab Mashur Malamo bertahta (1257-1272)? Seperti disebut di
atas, sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri.
Jika
tidak ada bangunan ibadah atau prasasti lalu bagaimana membuktikan suatu
peradaban zaman kuno pernah eksis? Dalam hal ini, paling tidak
bagaimana nama Raja Ternate Baab Mashur Malamo yang pernah bertahta 1257-1272
dapat dibuktikan. Era 700 tahun di masa
lampau bukanlah rentang waktu yang pendek. Lalu apakah ada metode lain untuk
memahaminya? Itulah masalahnya dan
inilah tantangannya. Sebagaimana sejarah (kerajaan) Ternate dinarasikan di
berbagai tulisan adalah sebagai berikut:
Pulau Gapi mulai ramai di awal abad ke-13.
Penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Berasawal dari 4
kampung yang masing-masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga).
Merekalah yang pertama–tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang
datang mencari rempah–rempah. Atas prakarsa Momole Guna pemimpin Tobona
diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan
mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja. Tahun 1257 Momole Ciko pemimpin Sampalu
terpilih dan diangkat sebagai kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur
Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam
perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut
juga sebagai Gam Lamo atau kampung besar (Gamalama). Semakin besar dan
populernya kota Ternate, sehingga kemudian disebut kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Pada
masa–masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk
kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut kolano. Sejak
pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi oleh kerajaan. Sultan Zainal Abidin mengganti
gelar kolano dengan gelar sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam
kerajaan. Jabatan di bawah raja adalah jogugu (perdana menteri) dan fala raha
sebagai para penasihat. Fala raha atau empat rumah adalah empat klan bangsawan
yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole pada
masa lalu, masing–masing dikepalai seorang kimalaha. Mereka itu adalah Marasaoli,
Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat–pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal
dari klan–klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya
dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato
Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji,
dll.
Struktur
Kerajaan Ternate tampaknya bukan bersifat monarki atau oligarki seperti Jawa
dan di wilayah Melayu, tetapi suatu struktur kerajaan yang berciri khas
federasi. Satu-satunya kerajaan besar
sejak zaman kuno yang memiliki struktur federasi ini adalah Kerajaan Aru di
pulau Sumatra (kini Tapanuli Bagian Selatan). Struktur Kerajaan Aru berbasis
federasi marga-marga (kerajaan-kerajaan kecil).
Masih dalam berbagai tulisan disebutkan bahwa
Kerajaan Ternate juga membentuk struktur federasi dengan kerajaan-kerajaan di
wilayah (kepulauan) Maluku yang disebut Moloku Kie Raha. Dalam hal ini. selain
Ternate, di Maluku juga terdapat paling tidak 3 kerajaan lain yang memiliki
pengaruh yaitu Tidore, Jailolo dan Bacan. Kerajaan–kerajaan ini merupakan
saingan Ternate dalam memperebutkan hegemoni di Maluku. Berkat perdagangan
rempah Ternate menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, dan untuk
memperkuat hegemoninya di Maluku, Ternate mulai melakukan ekspansi. Hal ini
menimbulkan antipati dan memperbesar kecemburuan kerajaan lain di Maluku yang
memandang Ternate sebagai musuh bersama hingga memicu terjadinya perang. Demi
menghentikan konflik yang berlarut–larut, sultan Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya
atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja–raja
Maluku yang lain untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan.
Persekutuan ini kemudian dikenal sebagai Persekutan Moti. Butir penting dari
pertemuan ini selain terjalinnya persekutuan adalah penyeragaman bentuk
kelembagaan kerajaan di Maluku. Oleh karena pertemuan ini dihadiri 4 raja
Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku Kie Raha
(Empat Gunung Maluku).
Jika
struktur Kerajaan Ternate dan struktur kerajaan-kerajaan di Maluku benar begitu
sejarah, dan struktur Kerajaan Aru di Sumatra Utara yang sekarang juga
strukturnya benar secara historis, maka struktur Kerajaan Ternate Maluku mirip
dengan struktur Kerajaan Aru (sama-sama bentuk federasi). Lantas bagaimana
menemukan relasinya? Seperti disebut di atas, sejarah seharusnya memiliki
permulaan.
Jauh di masa lampau di
zaman kuno, sebelum terbentuk Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Singhasari sudah
terbentuk satu kerajaan besar di Sumatra Utara (Kerajaan Aru). Ibu kota
Kerajaan Aru ini berada di Binanga (pusat percandian Padang Lawas yang
sekarang). Untuk memahami ini bisa diperhatikan prasasti Kedukan Bukit 682 M
dan prasasti Laguna 900 M. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Palembang dan
prasasti Laguna ditemukan di Manila (Filipina). Dalam prasasti Kedukan Bukit
raja dari Binanga memperkuat raja (kerajaan) Sriwijaya dan dalam prasasti
Laguna, raja dari Binanga memberi pengampunan kepada salah satu raja di teluk
Manila. Kerajaan Aru juga disebut Kerajaan Panai (karena berada di muara sungai
Panai).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kerajaan Ternate Semasa Kerajaan
Aru, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Singhasari
Pada
tahun 1025 Kerajaan Chola di India selatan melakukan invasi ke wilayah timur
dan menaklukkan sejumlah kota-kota pelabuhan (kerajaan) termasuk di selat
Malaka yakni Kadaram (Kedah), Panai (Aru), Lamuri dan Sriwijaya (ibu kota di
Jambi, sebelumnya di Hulu Upang, Bangka). Pasca pendudukan Chola, Kerajaan Aru
dan Kerajaan Sriwijaya (yang sudah relokasi ke Palembang) bangkit kembali. Sebelumnya
para pemimpin Kerajaan Aru selama pendudukan Chola melarikan diri dan membentuk
kerajaan baru di hulu sungai Batanghari (Kerajaan Mauli).
Kerajaan Aru yang awalnya Boedha menjadi
Hindoe pada era pendudukan Kerajaan Chola. Pasca pendudukan Chola, penduduk
Kerajaan Aru (Kerajaan Panai) menghianati Hindoe dan kembali ke Boedha tetapi
dengan sekte yang berbeda dengan Bodha lainnya yang disebut sekte Bhirawa.
Sekte Bhairawa ini mengkombinasikan kepercayaan tadisi dan kepercayaan Boedha
yang disebut agama Boedha Batak sekte Bhairawa.
Pada
saat kebangkitan (kembali) Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya ini, di Jawa muncul
satu kerajaan yang berjaya yakni Kerajaan Singhasari. Tiga kerajaan inilah yang
memiliki kekuatan besar di Hindia Timur. Pada fase ini terjadi interaksi
perdaganagn antara Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya. Tampaknya ketika
Kerajaan Singhasari (yang Hindoe) dijabat oleh Radja Kertanegara tertarik
dengan agama Boedha Batak sekte Bhairawa. Raja Kertanegara akhirnya menjadi
pendukung fanatik sekte Bhairawa (seperti halnya raja dari Kerajaan Mauli).
Sebagai sesama pendukung fanatik sekte
Bhairawa, Radja Kertanegara mengirim arca Bhairawa kepada raja Mauli di hulu
sungai Batanghari. Kerajaan Sriwijata yang Boedha kemudian diserang Kerajaan
Singhasari. Sejak itu Kerajaan Sriwijaya mulai menurun. Sebaliknya Kerajaan
Mauli semakin kuat. Raja Kertanegara meninggal tahun 1292 dan sejak itu
Kerajaan Singhasari menurun dan muncul Kerajaan Majapahit. Kerajaan Mauli pada
saat dipimpin Radja Adityawaran ibu kota relokasi ke hulu sungai Indragiri
(yang kemudian disebut Kerajaan Pagaroejoeng). Radja Adityawarman yang juga
pendukung fanatik sekte Bhairawa meninggal pada tahun 1375.
Kerajaan
Aru yang sebelumnya sekte Bhairawa menjadi beragama Islam setelah kehadiran
pedagang-pedagang Moor beragama Islam asal Afrika Utara. Raja-raja Kerajaan Aru
dapat diidentifikasi telah beragama Islam pada prasasti Batugana (yang terdapat
pada candi Bahal di Padang Lawas). Dalam prasasti ini dari empat raja dua
bergelar Islam dan satu diantaranya bergerlar Haji. Orang-orang Moor di sekitar
selat Malaka sudah sejak lama ada pasca Perang Salib, Hal itulah diduga menjadi
sebab kedatangan Ibnu Batutah seorang Moor asal Tunisia yang berkunjung ke selat
Malaka pada tahun 1345. Seperti disebut di atas Radja Adityawarman yang masih
sekte Bhairawa meninggal tahun 1375.
Seperti dicatat di atas bahwa di Maluku di
(pulau) Gapi terbentuk kerajaan dengan rajanya yang pertama dengan gelar Baab
Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate (kelak
namanya menjadi Kerajaan Ternate), Pada saat ini Kerajaan Aru pada puncaknya
dan Kerajaan Singhasari sedang berjaya (dengan rajanya Kertanegara 1268-1292.
Sementara Kerajaan Sriwijaya sudah mengalami kemunduran setelah diserang
Singhasari.
Kerajaan
Aru tetap eksis namun berhadapan dengan Kerajaan Majapahir Hindoe (suksesi
Kerajaan Singhasari). Pada saat Kerajaan Majapahit sedang jaya-jayanya, Kerajaan
Aru sudah beragama Islam yang didukung pedagang-pedagangan Moor. Celakanya
Kerajaan Sriwijaya yang Boedha yang mau bangkit kembali diserang kembali dari
Jawa (Kerajaan Majapahit). Hal itu pula yang menyebabkan Raja Adtyawarman
merelokasi ibn kotanya dari hulu sungai Batanghari ke hulu sungai Indragiri.
Kerajaan Aru tidak dapat dipenetrasi Kerajaan Majapahit karena sudah bergama
Islam dan didukung pedagang-pedagang Moor. Setelaha Raja Hayam Wuruk meninggal
1398 Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Satu-satunya kerajaan besar yang
tersisa hanya Kerajaan Aru (Islam).
Seperti dicatat di atas, bahwa sejak
pertengahan abad ke-15, agama Islam diadopsi oleh Kerajaan Gapi (Kerajaan
Ternate). Dalam hubungan ini Sultan Zainal Abidin mengganti gelar kolano dengan
gelar baru sebagai sultan. Tahun-tahun ini adalah pasca ekspedisi Tingkok ke
Hindia Timur di bawah Laksamana Cheng Ho (1403-1433). Ini mengindikasikan bahwa
Kerajaan Ternate menjadi Islam saat kerajaan-kerajaan sudah mulai banyak yang
bercorak Islam.
Lantas
bagaimana hubungan Kerajaan Aru dengan terbentuknya kerajaan di Ternate? Seperti disebut di
atas pengaruh Kerajaan Aru pada tahun 900 M sudah sampai ke pulau Luzon
(Filipina). Pengaruh Kerajaan Aru ini juga ditemukan di Semenanjung Sulawesi
(wilayah Minahasa) yang dikaitkan dengan penemuan Watu Rerumeran di pedalaman
(wilayah Minahas yang sekarang). Adanya watu ini mengindikasikan bahwa di
Minahasa di bawah pengaruh Hindoe Boedha (dari Kerajaan Aru). Hal ini pada masa
ini ditemukan sejumlah kosa kata elementer sangat mirip bahasa asli Minahasa
dengan bahasa di Tapanuli Selatan (eks Kerajaan Aru).
Ketika Kerajaan Aru
sudah beragama Islam yang sudah diperkuat pedagang-pedagang Moor diduga
perdagangan semakin meluas tidak hanya di Filipina, Semenanjung Sulawesi, juga
di (kepulauan) Maluku termasuk Ternate. Dalam hubungan inilah terbentuk
pelabuhan Amurang yang diduga merujuk pada nama Moor, wilayah dimana (Minahasa)
sudah sejak lama dipengaruhi oleh Kerajaan Aru. Demikian juga wilayah Filipina
yang sebelumnya di bawah pengaruh Kerajaan Aru semakin berwarna Moor (terbentuknya
orang-orang Moro di Filipina yang merujuk pada nama Moot).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kerajaan Ternate: Kerajan Aru
dan Pedagang-Pedagang Moor
Pengaruh
Kerajaan Aru juga diduga kuat telah mengakar di kepulauan Maluku termasuk di
pulau Halmahera (Hale Mahera) yang mana terbentuk federasi kerajaan di pulau
Gapi (Kerajaan Ternate). Seperti halnya di Filipina dan Semenanjung Sulawesi,
pedagang-pedagang Moor juga semakin banyak di Maluku khususnya di Halmahera. Pengaruuh
pedagang-pedagang Moor juga sangat kuat di pantai timur laut pulau Sulawesi
(Morowali). Demikian juga di pantai barat daya Papua hingga selat Torres.
Jika disebutkan sejak pertengahan abad ke-15, agama
Islam diadopsi oleh Kerajaan Gapi (Kerajaan Ternate), diduga kuat yang
memperkenalkan Islam ini kepada raja-raja Trnate adalah pedagang-pedagang Moor
(seperti halnya di Kerajaan Aru). Hal yang sama dengan raja-raja di Broenai dan
Luzon serta di kota-kota pantai Semenanjung Sulawesi seperti Amurang. Namun
penduduk asli Minahasa dari pengaruh awal Kerajaan Aru masih pagan (seperti
halnya sebagai penduduk di pulau Halmahera).
Dalam
perkembangannya mulai muncul kehadiran orang Eropa di Hindia Timur setelah pelaut-pelaut
Portugis menaklukkan Kerajaan Malaka pada tahun 1511. Pada tahun ini juga
pelaut-pelaut Portugis sudah mencapai kepulauan Maluku. Meski demikian pengaruh
pedagang-pedagang Moor masih sangat kuat. Orang-orang Moor adalah pendahulu
(predecessor) orang-orang Portugis. Orang-orang Moor pernah mendiami Eropa
selatan yang kini menjadi wilayah Portugis dan Spanyol. Pasca Perang Salib
orang-orang Moor menyebar ke berbagai tempat hingga menemukan jalan ke Hindia
Timur. Orang-orang Moor lebih mudah beradatapsi seperti pepatah dimana dipijak
di situ langit dijunjung. Hal itu tidak hanya di Kerajaan Aru juga di wilayah
Maluku khususnya Halmahera dan pulau-pulau kecil lainnya seperti Ternate.
Pada peta-peta Portugis pulau Halmahera
diidentifikasi sebagai Batachini del Moro atau Cust del Moro. Nama itu
diidentifikasi karena komunitas orang-orang Moor. Pada era VOC (Belanda) nama
Halmahera dikembalikan. Namun nama Moor masih tersisa sebagai nama pulau di
timur laut Halmahera (pulau Morotai) yang berpusat di Daruba. Kota Daruba merujuk
pada nama sebutan orang-orang Moor untuk penduduk Kerajaan Aru. Nama Aru juga
ditemukan di laut Arafuru yakni pulau Aru (nama Arafuru juga merujuk pada nama
Aru (Ara) dan selat Torres (Daruba). Nama Moor juga muncul pada nama Morouke
(Merauke) dan nama Morehead dan nama pelabuhan utama di Papaua Nugini (Port
Moresby).
Seperti
disebut di atas, raja Ternate (1257-1272) mengadopsi Islam dengan gelar Baab
Mashur Malamo. Nama Baab, seperti halnya Ibnu kerap ditemukan pada nama-nama
orang Moor pada era VOC. Fakta ini memperkuat bahwa Kerajaan Ternate telah
mendapat dukung dari pedagang-pedagang Moor yang beragama Islam. Demikian juga
nama gelar raja-raja Kerajaan Aru yakni Kadhi juga ditemukan pada nama-nama
Moor pada era VOC. Seangkan gelar raja-raja di Sulawesi bagian selatan seperti
Aru diduga kuat mrujuk pada nama (Kerajaan) Aru. Sebelum kehadiran orang-orang
Moor pengaruh Kerajaan Aru sudah begitu luas di Filipina, Sulawesi dan Maluku
hingga selat Torres. Boleh jadi ini yang menyebabkan aksara di Filipina dan
Sulawesi mirip dengan aksara di Angkola Mandailing (Tapanuli Selatan), suatu
aksara yang berbeda dengan aksara yang digunakan di Jawa.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





