*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
di pulau-pulau di Filipina diduga kuat masih muda seperti halnya di pulau
Sulawesi dan pulau-pulau di Maluku. Pendapat ini hanya didasarkan tidak adanya
situs candi dan prasasti yang berasal dari zaman kuno. Pulau-pulau di Filipina
meski begitu dekat ke Tiongkok, tetapi dari aspek kebudayaan di Filipina pada
awalnya merujuk dari arah barat dan kemudian diperkaya dari Tiongkok dan
Jepang. Meski tidak ada candi, bahkan di Semenanjung Malaya hanya diitemukan
candi di Kedah, sejumlah benda-benda kuno ditemukan yang diduga pada era
Kerajaan Aru, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit. Namun yang menjadi
pertanyaan adalah tanda-tanda zaman kuno yang dapat dipelajari pada masa ini di
Filipina, siapa yang membawa.

paling tidak terdapat dua dua kerajaan awal yakni di pantai barat Sumatra
(Kerajaan Aru) dan di pantai utara Jawa (Kerajaan Tarumanagara). Memperhatikannya,
di Sumatra muncul Kerajaan Sriwijaya dan di Jawa muncul kerajaan Kalingga.
Selanjutnya kerajaan-kerajaan bertambah banyak seperti Kerajaan Kadaram,
Kerajaan Lamuri, Kerajaan Malaya, Kerajaan Mauli (Dharmasraya), Kerajaan
Mataram (Kuno), Kerajaan Kadiri, Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majpahit.
Tiga Kerajaan yang sejaman (Kerajaan Aru, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan
Majaphit) diduga kuat pulau-pulau di Filipina tumbuh dan berkembang sebagai
pusat perdagangan tersier.
Lantas
bagaimana sejarah zaman kuno di Filipina? Seperti disebut di atas, tidak ditemukan candi
tetapi ditemukan arca dan prasasti. Lalu bagaimana sejarah awal zaman kuno di
pulau-pulau Filipina hingga muncul arca dan prasasti? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu
terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pulau-Pulau di Filipina:
Paragoa, Panai, Mindoro, Mindanao hingga Luzon
Negara
Filipina sekarang ada beberapa pulau besarm seperti pulau Palawan, pulau
Mindanao, pulau Mindoro, pulau Panai dan pulau Luzon. Nama pulau Palawan pada
era Portugis adalah Paragoa (nama yang diduga merujuk pada nama Goa di India). Nama Mindoro, Mangindanao
(Mindano) dan Panai juga merujuk pada nama India. Lalu bagaimana dengan nama
Luzon, tampaknya nama pulau besar di bagian utara Filipina ini tidak berbau
India tetapi lebih dekat dengan nama Tiongkok. Kota terbesar di Filipina adalah
Manila di pulau Luzon.

paling dekat berada di pantai timur Sumatra yakni Kerajaan Aru yang orang luar
disebut Kerajaan Panai, yang terletak di daerah aliran sungai Barumun [B-aru-mun]
dimanai sungai Panai bermuara. Oleh karena itu kerajaan itu disebut Kerajaan
Aru dan adakalanya Kerajaan Panai. Kerajaan Aru ini adalah kerajaan yang sudah
lama eksis, bahkan jauh sebelum adanya Kerajaan Sriwijaya. Pelabuhan utama
Kerajaan Aru di pantai barat Sumatra adalah B-aru-s dan di pantai timur di
Binanga (di muara sungai Panai di sungai Barumun). Nama Binanga juga merujuk
pada nama India. Disebut nama-nama tersebut merujuk pada nama India karena
lingua franca sejak awal era Kerajaan Aru adalah bahasa Sanskerta. Hal itulah
mengapa banyak nama-nama geografis yang berbau India alias Sanskerta. Kerajaan
Aru berbahasa bilingual (bahasa Batak dan bahasa Sanskerta).
Nama
Manila ditemukan orang-orang Spanyol di Zebu yang lalu melakukan invasi ke
pulau Luzon dengan menyerang pelabuhan Manila pada tahun 1570. Sejak itulah
nama Manila dikenal, baik dalam peta-peta navigasi pelayaran dan berita-berita
pada surat kabar dan catatan di Kasteel Batavia (Daghregister). Uniknya nama
Manila bukan nama yang unik tetapi nama yang menggunakan awaln Ma yang lazim
hanya pada wilayah tertentu.
Jarang atau hampir tidak ada nama tempat
berawalan Ma di pulau Jawa maupun di pulau Sumatra bagian selatan. Dua nama
pertama pada zaman kuno yang dikenal adalah Malaya (merujuk pada nama Himalaya)
dan Mauli. Dua nama ini kemudian menjadi kerajaan yakni Kerajaan Malaka di
pantai barat Semenanjung dan Kerajaan Mauli di hulu sungai Batanghari. Kerajaan
Mauli adalah anak kerajaan dari Kerajaan Aru (yang terbentuk pasca pendudukan
invasi Kerajaan Chola pada abad ke-11). Kerajaan Mauli ini juga dikenal sebagai
Kerajaan Darmasraya. Pada era Portugis semakin banyak nama-nama tempat yang
berawalan Ma. Tentu saja selain Malaka adalah Matan, Makao, Manguindanao,
Manado, Makale, Manado dan Maluku. Di ujung selatan pulau Sulawesi terdapat
nama Goa (Kerajaan Goa).
Kerajaan
Aru adalah kerajaan tua yang masih eksis. Pada saat itu Kerajaan Mauli
diperkuat Kerajaan Singhasari. Pada era Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya
diserang Kerajaan Majapahit (tamar Kerajaan Sriwijaya). Pada saat ini Radja
Adityawarman di Kerajaan Mauli atau Kerajaan Dharmasraya merelokasi ibu kota ke
hulu sungai Indragiri yang kemudian kelak dikenal sebagai Kerajaan
Pagaroejoeng. Radja Adityawarman meninggal 1375. Kerajaan Majapahit mengalami
kemunduran setelah Radja Hayam Wuruk meninggal tahun 1392. Pada saat ekspedisi
Tiongkok (yang dipimpin Laksamana Cheng Ho 1403-1433) juga Kerajaan Aru
disinggahi Kerajaan Aru adalah kerajaan tua yang terus masih eksis. Mengapa?
Berdasarkan prasasti Batugana di candi Bahal
di sungai Batang Panai raja Kerajaan Aru (Kerajaan Panai) bergelar Kadi dan
Haji. Salah satu alasan ekspedisi Cheng Ho mengunjungi Kerajaan Aru adalah
karena rajanya telah beragama Islam. Bagaimana raja Kerajaan Aru beragama Islam
diduga karena kehadiran pedagang-pedagang Moor di selat Malaka yang
terkonsentrasi di muara sungai Muar (merujuk pada nama Moor dan Moear). Hal
itulah diduga mengapa Ibnu Batutah berkunjung ke selat Malaka pada tahun 1345.
Orang Moor adalah pedagang-pedagang Islam asal Afrika Utara di Laut Mediterani seperti
Mauritania, Maroko dan Tunisia. Orang-orang Moor ini terusir dari Spanyol pasca
Perang Salib yang lalu kemudian menyebar hingga Afrika Timur (Madagaskar) dan
terus ke pantai barat India (Gujarat, Surate dan Goa) hingga menemukan jalan ke
selat Malaka (Muar). Ibnu Batutah adalah orang Moor asal Tunisia. Ibnu Batutah
juga sempat berkunjung hingga Tiongkok. Apakah Ibnu Batutah yang mengabarkan di
Tiongkok bahwa Kerajaan Aru beragama Islam?
Pada
saat Kerajaan Aru rajanya sudah beragama Islam, Kerajaan Pagaroejoeng masih
beragama Hindoe (Hindoe Majapahit). Tentu saja pelabuhan di Kerajaan Malaka
juga sudah beragama Islam, demikian juga pelabuhan Kerajaan Pasay. Hal itulah
mengapa tiga kerajaan ini disinggahi ekspedisi Cheng Ho. Pelabuhan yang
disinggahi ekspedisi Tiongkok ini di Jawa adalah pelabuhan Semarang.
Semakin banyaknya komunitas orang-orang Islam
di pantai utara Jawa. Pada akhir abad ke-15 di Demak didirikan suatu kerajaan
Islam (Kerajaan Demak). Seperti di masa lampau, kerajaan Majapahit yang sangat
ekspansif, demikian juga Kerajaan Demak sangat ekspansif. Kekuatan pertama yang
dilumpuhkan adalah Kerajaan Majapahit (tamat sudah Kerajaan Majapahit).
Kerajaan Islam baru terbentuk di Chirebon. Dua kerajaan inilah yang menaklukkan
pelabuhan Zunda Kalapa dan pelabuhan Banten. Habis sudah pengaru Hindoe di
kota-kota pantai utara Jawa. Terakhir Kerajaan Banten yang sudah terbentuk yang
dibantu Kerajaan Chirebun menyerang Kerajaan Pakwan Padjadjaran di hulu sungai
Tjiliwong, yang sebelumnya pelabuhan berada di Zunda Kalapa. Habis sudah
pengaruh Hindoe di Jawa. Di Sumatra pengaruh Boedha Hindoe masaih ada daerah
aliran sungai Musi (eks Sriwijaya), daerah aliran sungai Batanghari (eks Mauli
Dharmasraya) dan daerah aliran sungai Indragiri (Kerajaan Pagaroejoeng).
Saat
ekspedisi Tiongkok (Cheng Ho) yang juga sempat singgah di pelabuhan Semarang,
pengaruh Majapahit di Sumatra hanyalah di eks Sriwijaya dan Kerajaan
Pagaroejoeng. Pengaruh Hindoe Jawa (Majapahit) yang terpenting terdapat di
pantai barat Kalimantan (Kerajaan Tanjungpura) dan di pantai selatan Kalimantan
(Kerajaan Martapura). Tidak ada tanda-tanda kerajaan Hindoe Jawa di pantai
timur Kalimantan, demikian juga di pulau Sulawesi dan juga di Maluku.
Tanda-tanda pengaruh Hindoe Jawa hanya terdapat hingga pulau Sumbawa (Kerajaan
Bima). Pulau-pulau sebelah timur mulai dari Flores hingga ke selat Torre
(Papua) tidak ada tanda-tanda pengaruh Hindu. Demikian juga di Boeneo Utara
tidak ada tanda-tanda pengaruh Hindoe Jawa, tetapi ada pengaruhu Hindoe dari
pedagang-pedagang India (yang tengah besaing dengan pedagang-pedagang Moor
beragama Islam). Dalam perkembangannya Borneo Utara, pulau-pulau di Fulipina,
pulau Sulawesi dan Maluku hanya ditemukan pengaruh yang kuat dari
pedagang-pedagang Moor. Pengaruh pedagang-pedagang Moor juga ditemukan di pulau
Manggarai (nama lama pulau Flores) hingga Laut Arafuru dan selat Torres (hingga
Papua Nugini). Pada saat kejayaan orang-orang Moor inilah mulai muncul
kehadiran pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol.
Pedagang-pedagang Moor sudah eksis sejak lama
di Hindia Timur. Paling tidak diketahui sejak kehadiran Ibnu Batutah di selat
Malaka dan Tiongkok pada tahun 1345 (pada era Kerajaan Aru, Kerajaan Mauli dan
Kerajaan Majapahit) Kerajaan Aru sendiri masih bertahan, sementara Kerajaan
Sriwijaya dan Kersajaan Singhasari sudah tamat. Suksesi Kerajaan Mauli adalah
Kerajaan Pagaroejoeng. Kerajaan Aru dan Kerajaan Malaka sudah Islam, sementara
Kerajaan Pagaroejoeng masih Hindoe. Kerajaan Malaka diperkuat oleh
pedagang-pedagang Arab, sedangkan Kerajaan Aru diperkuat orang-orang Moor. Di
pantai barat Sumatra kerajaan-kerajaan kecil diperkuat oleh pedagang-pedagag
Persia. Pedagang-pedagang Moor semakin mendominasi sehingga pedagang-pedadang
India tersingkir (tamat pengaruh India di Hindie Timur sejak rebuan tahun).
Seperti kita lihat nanti Kerajaan Turki memperkuat Kerajaan Lamuri (kemudian
lahir Kerajaan Atjeh).
Pelaut-pelaut
Portugis mengikuti rute perdagangan orang-orang Moor. Portugis dan Spanyol
adalah awal kemajuan orang Eropa. Orang Moor dalam hal ini dapat dikatakan pendahulu (predecessor) orang-orang
Portugis mencapai Hindia Timur. Pada tahuh 1511 Portugis yang berbasih di Goa
(pantai barat India) menduduku pelabuhan Malaka (Kerajaam Malaka tamat). Tidak
lama kemudian pelaut-pelaut Spanyol mengikuti suikses pelaut-pelaut Portugis
tetapi tidak mengikuti rute Portgis (Moor) tetapi melalui jalur barat melalui
celah Amerika Selatan hingga tiba di Zebu (Filipina) setelah melalui lautan
Pasifik pada tahun 1524. Sejak 1521 pedagang-pedagang Portugis sudah membuka
pos pedagangan di (teluk) Broenai dan di (teluk) Manila dab selanjutnya ke
Makao, tiga pusat perdagangan yang telah lama dirintis oleh para pedagang-pedagang
Moor (mungkin sejak era Ibnu Batutah atau Cheng Ho).
Perseteruan Portugis (di Manila) dan Spanyol
(Zebu) tida di Filipina, tetapi justru di Maluku. Pedagang-pedagang Moor di
Maluku yang lebih merakyat tidak terlalu peduli dengan persaingan yang terjadi
antara (utusan) Kerajaan Portugis dan Kerajaan Spanyol di Maluku. Orang-orang
Moor adalah ibarat layang-layang yang putus karena kerajaan mereka di Spanyol
telah tamat pasca Perang Salib. Orang-orang Moor menganut pepatah dimana bumi
di pijak di situ langit dijunjung dengan navigasi pelayaran perdagangan sebagai
penghubung sesama mereka, mulai dari Afrika Utara hingga Maluku. Pelaut-pelaut
Portugis berpusat di Goa dan Malaka, sedangkan pelaut-pelaut Spanyol berpusat
di Meksiko.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Penemuan Arca dan Prasasti:
Pertumbuhan Perdagangan di Filipina hingga Era Spanyol
Satu
pertanyaan terpenting dalam hal ini adalah bagaimana hubungan orang-orang Moor
dengan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra? Yang jelas kerajaan-kerajaan besar sejak zaman kuno
telah tamat, seperti Kerajaan Singhasari, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan
Majapahit dan Kerajaan Malaka (hingga kehadiran Portugis). Kerajaan baru muncul
di ujung utara Sumatra (Kerajaan Atjeh) dan Kerajaan Pagaroejoeng di pedalaman
sudah lama tidak terdengar kabarnya. Di Jawa sudah mulai berkembang Kerajaan
Demak. Dalam fase ini hubungan Kerajaan Aru dengan pedagang-pedagang Moor masih
terjalin dengan baik (sejak prasasti Batugana atau Ibnu Batutah 1345).
Pada prasasti Batugana yang terdapat di candi
Bahal di Padang Lawas (Angkola Mandailing) pada baris ke-10 dinyatakan sebagai
berikut:. narang kabayaj pu gwa kudhi hangdaj kudhi haji
bawa bwat parnnosamuha (lihat Setianingsih dkk. 200) yang kemudian dibaca ulang
oleh Lisda Meyanti (2019) sebagai berikut: ‘dari kabayan. punya kuṭi hinan.
kuṭi haji bava bvat. paṇai samuha’. Jika
membaca dari dua pembaca tersebut dapat diartikan sebagai berikut: ‘raja-raja
Narang Kabayah, Mpu (Ompu) Guang, Kadi Hinan, Kadi Haji membawakan (memimpin)
untuk semua penduduk Panai (Kerajaan Aru). Empat raja-raja ini tampaknya sebuah
dewan yang mana dua diantaranya merangkap Kadi (pemimpin agama) yang mana satu
diantara Kadi ini bergelar haji (pernah ke Mekkah). Dalam tradisi pemerintahan
di Tanah Batak tidak mengenal raja tunggal (monarki) seperti di Jawa atau
berbagi kerajaan (oligarki) seperti di Aceh tetapi suatu federasi (dewan) dari
berbagai wilayah kerajaan-kerajaan (luhat). Jadi setiap wilayah terwakili, yang
masing-masing diwakili oleh raja panusunan bulung (primus interpares). Dalam
proses pengambilan keputusan tidak berada di tangan satu orang raja tetapi
konsensus (musyawarah) diantara raja-raja yang secara tradisional mengikuti
prinsip hukum adat dalihan na tolu. Prinsip pengambilan keputusan serupa ini
masih berlaku hingga ini hari yang dapat dibandingkan dengan isi prasasti
Batugana. Wujud federasi raja-raja ini juga bisa diperhatikan pada prasasti
Sitopayan 1 (FDK Bosch 1930) yang mana ada empat raja membangun candi bersama
yakni raja Hang Tahi, raja Si Ranggit, raja Kabaga Yin dan raja Ompu Anyawari. Demikian
juga pada prasasti Sitopayan 2 ada empat raja membuat candi yakni Ompu Sapta,
Hang Buddi, Sang Imba dan Hang Langgar. Seperti disebut di atas, Kadi adalah
pemimpin (raja) yang diduga kuat sudah beragama Islam (dan dibedakan lagi
dengan Kadi Haji) sesuai prasasati. Gelar Kadi ini umum di Tanah Batak hingga
ini hari sebagai pemimpin agama. Nama Kadi juga digunakan pada gelar raja-raja
di Atjeh. Pengganti Sultan Aceh terakhr pada tahun 1875 adalah seorang kerabat
Sultan yang bergelar Teuku Kadli Malikoel Adil. Adanya raja yang juga pemimpin
agama adalah lazim pada era Hindoe Boedha di Tanah Batak hingga jauh di masa
depan (pada era Hindia Belanda) seperti Sisingaangaraja, raja (di luhat
Simamora) yang juga merangkap pemimpin agama (Parmalim). Ketika prasasti
Batugana (aksaran Pallawa bahasa Sanskerta) dibuat, penyebaran agama Islam di
Sumatra dan Semenjanjung (Malaya) sudah begitu meluas karena peran
pedagang-pedagang orang Moor.
Lantas raja-raja
Kerajaan Aru menganut agama Islam seperti disebut dalam teks prasasti Batugana? Kapan prasasti ini dibuat tidak disebutkan
seperti pada prasasti Kedukan Bukit (682) dan prasasti Batu Kapur (686). Nauun
jika dihubungkan dengan agama yang dianut Kerajaan Aru sebelumnya adalah Boedha
Batak sekte Bhairawa (lihat Schnitger 1935) juga disebutkan salah satu
pendukung fanatik sekte Bhairawa adalah raja terkenal yang terakhir dari
Kerajaan Singhasari (meninggal 1292). Schnitger juga menyatakan raja
Adityawarman (Minangkabau) juga pendukung fanatik sekte Bhairawa (meninggal
1375).
Dalam hal ini dapat dikatakan raja-raja Kerajaan Aru
menjadi Islam setelah melepaskan kepercayaan lama (sekte Bhairawa). Pada fase
eksisnya sekte Bhairawa seorang Moor dari Tunisia berkunjung ke selat Malaka
pada tahun 1345 yang mengindikasikan populasi orang Moor sudah banyak. Dengan
demikian dalam hal ini raja-raja Kerajaan Aru masuk Islam sebelum atau sesudah
kunjungan Ibnu Batutah. Kerajaan Aru sebagai kerajaan besar, diduga kuat adalah
kerajaan Islam pertama di Hindia Timur. Hal ini tentu saja didukung oleh fakta
bahwa pelabuhan Barus adalah pelabuhan Kerajaan Aru di pantai barat Sumatra.
Kehadiran Islam di Barus sudah diketahui sejak abad ke-7 seperti yang
ditunjukkan nisan makam-makam Islam di Barus.
Hubungan Kerajaan Aru
dan pedagang-pedagang Moor dijelaskan oleh Mendes Pinto yang pernah berkunjung
ke Kerajaan Aru pada tahun 1537. Seperti disebut di atas, orang Moor adalah
pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang beragama Islam yang berasal dari Afrika
Utara di laut Mediterania seperti Mauritani, Maroko dan Tunisia. Ibnu Batutah
yang pernah berkunjung ke selat Malaka 1345 adalah orang Moor berasal dari Tunisia.
Mendes Pinto yang pernah bekunjung ke Kerajaan Aru Batak Kingdom dengan ibu
kota di Panaju (Panai) pada tahun 1537 menyebut Raja Kerajaan Aru beragama
Muslim dan tentara Kerajaan Aru diperkuat oleh (pedagang) orang-orang Moor. Ini
mengindikasikan bahwa para raja-raja Kerajaan Aru sudah beragama Islm sejak
lama, paling tidak sejak kehadiran orang-orang Moor di selat Malaka yang dalam
hal ini pedagang-pedagang Moor telah memperkuat pasukan (militer) Kerajaan Aru.
Mendes Pinto juga menyebutkan bahwa Kerajaan Aru
memiliki kekuatan militer sebanyak 15.000 yang mana sebanyak 7,000 orang
didatangkan dari Indragiri, Jambi, Broenai dan Luzon. Di satu sisi ini mengindikasikan
bahwa Kerajaan Aru telah terhubung denga sejumlah kerajaan di Sumatra, Borneo
dan Luzon (Filipina). Besar dugaan kerajaan-kerajaan tersebut juga kerajaan
Islam. Kekuatan Kerajaan Aru sebagai kerajaan besar mengingatkan isi prasasti
Kedukan Bukit (682 M) yang mana Radja Dapunta Hiyang dari Binanga (Kerajaan
Aru) membawa pasukan sebanyak 20,000 tentara ke Hulu Upang (Bangka)
yang diterima oleh raja Sriwijaya. Seperti disebut di atas, penduduk di bagian
utara Sumatra sudah diketahui sejak abad ke-2 di Eropa sebagai penghasil kamper
dengan pelabuhannya di Barus. Produksi kamper yang tinggi dan satu-satunya
sentra poroduksi dunia, perdagangan ekspor di Barus menjadi faktior penting
penduduk di Tanah Batak kaya dan makmur sehingga memungkinkan membangun
kerajaan yang besar yang bisa memiliki banyak tentara yang membawa pasukan
sebanyak 20.000 orang ke Sriwijaya di Bangka. Tujuan ekspedisi Kerajaan Aru ini
tentulah dalam hubungannya dengan perdagangan kamper ke Tiongkok. Atas
keuntungan perdaangan tersebut Kerajaan Sriwijaya yang didukung Kerajaan Aru
melakukan invasi dan menyerang kerajaan-kerajaan di Jawa (lihat prasasti Kota
Kapur di Bangka 686 M). Dalam hal ini nama (desa) Kota Kapur di Bangka sekarang
pada zaman doeloe (era Sriwijaya) diduga merujuk pada nama kamper kapur Barus
dari Kerajaan Aru di Tanah Batak.
Kolaborasi
Kerajaan Aru dengan pedagang-pedagang Moor diduga menjadi faktor penting
keberadaan tentara Brunai dan Luzon di Kerajaan Aru. Pedagang-pedagang Moor
sudah sejak lama merintis perdagangan ke Borneo utara, pulau-pulau di Filipina
dan bahkan Makao diutara (yang diduga terkait dengan kunjungan Ibnu Batutah)
serta Sulawesi dan Maluku di sebelah tenggara (sejak pedagang Moor memperkuat
Kerajaan Aru). Oleh karena itu dalam navigasi pelayaran perdagangan orang Moor
juga diperkuat oleh Kerajaan Aru yang mengirim pasukan untuk membantu kekuatan
pedagang-pedagang Moor di Borneo, Luzon dan Maluku. Dalam konteks inilah diduga
nama Panai dan Paragoa muncul di Filipina sebagai nama sebuah pulau. Panai
adalah pelabuhan Kerajaan Aru di Barumun dan Goa adalah kota perdagangan di
pantai barat India dimana terdapat banyak orang Moor seperti halnya di Muar
Mendes Pinto
1537 juga menyebutkan Kerajaan Aru pernah menyerang Kerajaan Malaka,
namun tidak diketahui kapan, tetapi paling tidak sebelum kehadiran Portugis
yang mana pada tahun 1511 pelaut-pelaur Portugis menyerang dan menduduki
pelabuhan Malaka (tamat Kerajaan Malaka). Mendes Pinto menyebut Kerajaan Malaka
selalu takut terhadap ancaman Kerajaan Aru. Ini mengindikasikan bahwa Kerajaan
Aru adalah kerajaan yang paling berkuasa di kawasan selat, sementara Kerajaan
Minangkabau berada di pedalaman. Hal ini sesuai dengan yang disebut Mendes
Pinto bahwa pasukan Kerajaan Aru juga didatangkan dari Indragiri, Jambi, Brunai
dan Luzon. Pada saat kehadiran Portugis yang juga menyerang dan menduduki
Malaka mengindikasikan bahwa hal itu dapat ditolerasnsi Kerajaan Aru karena
Kerajaan Malaka yang pernah diserang Kerajaan Aru tidak menginginkan kerjasama
dengan Kerajaan Aru. Dengan pendudukan Portugis terhadap Malaka, maka tidak
lama kemudian utusan Portugis (Mendes Pinto) mengunjungi Kerajaan Aru sebagai
wujud awal persahabatan karena Kerajaan Malaka sudah berakhir.
Sehubungan
dengan kehadiran Portugis di Malaka (sejak 1511) dan sejak kehadiran utusan
Portugis di Kerajaan Aru (1537) maka
navigasi pelayaran perdagangan antara Kerajaan Aru dengan pedagang-pedagang
Moor di satu sisi dan di sisi lain kerjasama yang baru antara Kerajaan Aru
dengan pedagang-pedagang Portugis menjadi faktor penting eksistensi navigasi
pelayaran perdagangan di pantai timur Sumatra, pantai utara Borneo, pulau-pulau
di Filipina, Sulawesi dan Maluku. Wilayah-wilayah yang menjadi navigasi
pelayaran Kerajaan Aru dan pedagang-pedagang Moor terbentuk karena sejak awal di
wilayah laut selatan, pantai barat Borneo, pantai selatan Borneo dan wilayah
Sumatra bagian selatan berada di bawah yurisdiksi Kerajaan Majapahit.
Setelah meninggalnya raja Majapahit yang
terkenal Hayam Wuruk pada tahun 1392, Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran
sehingga ekspedisi Tiongkok di pantai utara Jawa (1403-1433) tidak mengalami
ancaan dari Majapahit tetapi sebaliknya meningkatkan spirit pedagang-pedagang
Islam di pelabuhan-pelabuah pantai utara Jawa seperti di Semarang. Sebagaimana
diketahui pada tahun 1490an muncul kerajaan Islam di pantai utara Jawa dekat
Semarang (Kerajaan Demak). Praktis Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak hanya
terbatas di Jawa. Sementara Kerajaan Aru di wilayah laut utara (pantai timur
Sumatra, pantai utara Borneo, Filipina, Sulawesi dan Maluku) perdagangannya
dikuasasi pedagang-pedagang Aru yang diperkuat Kerajaan Aru. Dengan semakin
menguatnya Kerajaan Demak lalu menyerang Kerajaan Majapahit (tamat Kerajaan
Majapahit). Kerajaan Aru yang pernah berkolaborasi dengan Kerajaan Singhasari
(pendahulu Kerajaan Majapahit) masih eksis dengan kolaborasi yang tetap terjaga
dengan pedagang-pedagang Moor..
Pada
fase sebelum kehadiran Portugis inilah navigasi pelayaran perdagangan Kerajaan
Aru dan pedagang-pedagang Moor begitu kuat di Filipina. Besar dugaan
koloni-koloni orang Batak dari Kerajaan Aru sudah terbentuk di Filipina, paling
tidak dengan penamaan pulau Panai. Hal itulah mengapa pada masa kini ada
kelompok bangsa di pulau Paragoa (kini pulau Palawasn) yang mengaku sebagai
etnik Batak berasal dari Sumatra. Etnik Batak di pulau Paragoa (Palawan) ini
menurut para antropolog sekarang memiliki karakteristik yang sama dengan
sebagain kelopok penduduk di pulau Negritos dan kelompok penduduk Aeta di teluk
Manila.

masa kini di teluk Manila terdapat nama-nama geografis yang mirip dengan
nama-nama yang merujuk pada era Kerajaan Aru seperti nama provinsi Bata[an],
nama municipalitas Morang (Morong), Nama Mariveles sebagai nama pulau di pintu
masuk teluk Manila yang juga nama gunung adalah kawasan etnik Aeta (kini kawasan
provinsi Marivels), Nama Aeta adakalanya disebut Ayta, Agta atau Atta (mirip
nama Bata[k]). Orang Aeta juga ditemukan di Zambales, Tarlac, Pampanga, Panay
dan di Bataan sendiri. Pada masa ini Mariveles adalah suatu munucipalitas yang
menjadi bagian wilayah provinsi Bataan. Ibu kota Provinsi Bataan adalah Balanga
City. Beberapa munisipalitas (kabupaten)
di provinsi Bataan ini selain Mariveles adalah Bagac, Hermosa dan Morong.
Munisipalitas Mariveles adalah yang terluas di provinsi Bataan, Nah, sekarang,
apakah nama Bataan merujuk pada nama Batak? Seperti halnya penduduk asli Aeta
mirip dengan etnik Batak di Palawan yang juga ada kemiripan dengan etnik Batak
di Tapanuli (Sumatra Utara) Indonesia. Balanga dalam bahasa Batak adalah
cekungan (kuali), Bagak dalam bahasa Batak adalah Cantik. Yang jelas ada nama
kampong kuno (era Hindoe) dekat Padang Sidempuan, Tapanuli bernama Mosa (mirip
Her-mosa) dan kampong kuno (era Moor, Kerajaan Aru) Morang (mirip Morong). Satu
lagi, seperti sudah disebut di atas bahwa nama geografis banyak yang berawal Ma
(seperti Ma-nila) atau Mar (seperti Mar-ivele), suatu awalan dalam kata kerja
pada bahasa Batak untuk me dan ber. Awalan ma dan mar hanya ditemukan di Tanah
Batak. Untuk sekadar menambahkan aksara Batak mirip dengan aksara Filipina.
Secara keseluruhan, nama-nama yang mirip nama Batak banyak ditemukan di
Filipina, termasuk nama provinsi kepulauan di sebelah utara pulau Luzon
(provinsi Batanes). Untuk sekadar menambahkan nama Morong atau Morang juga
terdapat di Trengganu (pantai timur Semenanjung Malaya), Nama yang mirip Batak
juga ditemukan di Vietnam yakni Ma Da (dalam bahasa Mandirin Kuno, Ma=Ba dan
Da=Ta). Distrik Ma Da di sekitar danau Tri An berada di provinse Dong Nai
(suatu wilayah tropis) yang dihuni kelompok etnik minoritos yang bahasa berbeda
dengan Viet(nam) yang mayoritas.
Lantas
bagaimana dengan penemuan arca di Filipina? Banyak versi yang muncul pada tulisan-tulisan pada
masa ini. Salah satu prasasti ditemukan di danau Laguna (prasasti
Laguna) dalam bentuk keping tembaga 20 × 30 Cm. Prasasti ini ditemukan di Manila yang bertarih 900
Masehi. Prasasti ini menggunakan bahasa Tagalog Kuno dengan campuran bahasa
Sansekerta, Melayu Kuno dan Jawa Kuno serta menggunakan aksara Jawa Kuno. Gulungan
tembaga ini agak berbeda pembuatannya apabila dibandingkan dengan gulungan
tembaga dari Jawa semasanya.

Krisnapaksa somawara sana tatkala Dayang Angkatan lawan dengan nya sanak
barngaran si Bukah anak da dang Hwan Namwaran dibari waradana wi shuddhapattra
ulih sang pamegat senapati di Tundun barja(di) dang Hwan Nayaka tuhan Pailah
Jayadewa–Di krama dang Hwan Namwaran dengan dang kayastha shuddha nu
diparlappas hutang da walenda Kati 1 Suwarna 8 di hadapan dang Huwan Nayaka
tuhan Puliran Kasumuran–dang Hwan Nayaka tuhan Pailah barjadi ganashakti. Dang
Hwan Nayaka tuhan Binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris
ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat Medang dari bhaktinda
diparhulun sang pamegat–Ya makanya sadanya anak cucu dang Hwan Namwaran
shuddha ya kapawaris dihutang da dang Hwan Namwaran di sang pamegat ‘Dewata–Ini
grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung
lappas hutang da dang Hwa’. Teks tersebut ada yang menerjemahkan secara bebas
sebagai berikut: Swasti. Tahun Saka 822, bulan Waisakha, menurut penanggalan.
Hari keempat setelah bulan mati, Senin. Di saat ini, Dayang Angkatan, dan
saudaranya yang bernama si Bukah, anak-anak dari Sang Tuan Namwaran, diberikan
sebuah dokumen pengampunan penuh dari Sang Pemegang Pimpinan di Tundun,
diwakili oleh Sang Tuan Nayaka dari Pailah, Jayadewa. Atas perintahnya, secara
tertulis, Sang Tuan Namwaran telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari
hutang-hutangnya sebanyak satu Katî dan delapan Suwarna di hadapan Sang Tuan
Puliran Kasumuran di bawah petunjuk dari Sang Tuan Nayaka di Pailah. Oleh
karena kesetiaannya dalam berbakti, Sang Tuan yang termasyhur dari Binwangan mengakui semua
kerabat Namwaran yang masih hidup yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata,
yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang. Ya, oleh sebab itu seluruh anak cucu
Sang Tuan Namwaran sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan Namwaran kepada
Sang penguasa Dewata. (Pernyataan) ini, dengan demikian, menjelaskan kepada siapa
pun setelahnya, bahwa jika pada masa depan ada orang yang mengatakan belum
bebas hutangnya Sang Tuan .
Isi
teks prasasti tersebut mengenai pernyataan pembebasan hutang emas terhadap
seseorang bernama Namwaran. Yang menarik dalam teks ini juga disebutka
nama-nama tempat seperti Tundun, Pailah, Puliran, Binwangan. Nama tiga tempat
tiga yang pertama kini mirip dengan dengan nama-nama di Filipina (Tondo, Pila,
dan Pulilan). Nama yang keempat yakni Binwangan tempat dimana Sang Tuan yang termasyhur berada. Nama Binwangan mirip
dengan nama Binanga di daerah aliran sungai Barumun di pantai timur Sumatra
(Padang Lawas, Tapanuli), suatu nama yang sudah dikenal sejak lama dan menjadi
pusat Kerajaan Aru (Kerajaan Panai). Untuk lebih lanjut mari kita bandingkan
dengan teks prasasti Kedukan Bukit bertarih 682 M.

ditemukan 1920 di Palembang, yang bertarih 682 M yang ditulis dalam aksara kuno
(Pallawa) dan bahasa Melayu Kuno (Sanskerta). Isi prasasti Boekit Sigoentang
(Kedukan Bukit) sebanyak 10 baris. Teks tersebut adalah sebagai berikut: ‘svasti sri sakavastitta 605 ekadasi sukla-
paksa vulan vaisakha dapunta hiyam nayik di samvau mangalap siddhayatra di
saptami suklapaksa vulan jyestha dapunta hiyam marlapas dari minana tamvan
mamava yam vala dua laksa dangan kosa duaratus cara di samvau danan jalan
sarivu tluratus sapulu dua vañakña datam di mata jap mukha upam sukhacitta di
pañcami suklapaksa vulan… Asadha laghu mudita datam marvuat vanua …
srivijaya jaya siddhayatra subhiksa nityakala!’ yang diartikan sebagai
berikut: ‘Selamat! Tahun Saka telah lewat 605, pada hari ke sebelas paro-terang
bulan Waisakha [April] Dapunta Hiyang naik di sampan mengambil siddhayatra.
Pada hari ke tujuh paro-terang bulan Jyestha [Mei] Dapunta Hiyang berlepas dari
Minanga untuk membawa bala tentara 20.000 dengan perbekalan 200 peti di sampan
dengan diiringi sebanyak 1312 orang berjalan kaki datang ke hulu Upang dengan
sukacita. Pada 15 hari pertama bulan Asadha [Juni] dengan lega gembira datang
membuat benua… srivijaya jaya siddhayatra subhiksa nityakala!
Pada
teks prasasti Kedukan Bukit disebutkan nama Minana dapat diartikan sebagai Binanga.
Dalam daftar nama-nama geografi pada era Hindia Belanda, nama yang paling mirip
dengan nama Minana adalah Binanga (tidak ditemukan nama Minanga). Raja Kerajaan
Aru yang berpusat di Binanga dalam teks adalah Dapunta Hyang. Sedangkan
penerima raja Dapunta Hyang dari Binanga adalah Sriwijaya di Hulu Upang. Nama
Hulu Upang diduga kuat kini berada di Bangka (lokasi Sriwijaya sebelum ke
Palembang).
Dalam teks itu (raja) Dapunta Hiyang mengawali
perjalanan awal (sungai) April sebelum memulai pelayaran (perairan pantai) dari
Minana (awal Mei). Lalu sebulan kemudian (pertengahan Juni) tiba di tempat
tujuan di Hulu (sungai) Upang tepat dimana Raya Sriwijaya berada. Tujuannya
adalah untuk meresmikan Sriwijaya. Minana dalam hal ini besar dugaan adalah
kota pelabuhan dari Kerajaan Aru (sungai Barumun). Seperti disebut di atas,
teks yang digunakan Sanskerta (pra Melayu Kuno, Jawa Kuno) terdapat kosa kata
yang khas seperti awalan ‘mar’ pada ‘marlapas’ dan bilangan ‘sapulu dua’ yang
diartikan belasan (12) secara histo-linguistik hanya ditemukan pada Bahasa
Batak (hingga ini hari). Dengan demikian, tiga kata dalam teks prasasti Kedukan
Bukit (Minana, marlapas dan sapulu dua) terhubung dengan nama tempat di daerah
aliran sungai Baroemoen. Catatan tambahan: Aroe dalam bahasa India Selatan
(Ceylon) adalah air, jadi Kerajaan Aroe adalah Kerajaan Sungai. Nama sungai
B-aroe-moen diduga merujuk pada arti sungai (aru). Raja Dapunta Hiyang membawa
sendirio tentaranya sebanyak 20.000 oran. Hanya kerajaan yang kaya yang mampu
memiliki kemampuan membiayai pasukan sebanyak itu. Kerajaan Aru adalah kerajaan
kaya penghasil kamper dan kemenyan.
Nama
Binwangan dalam prasasti Laguna (900 M) dan nama Minana dalam prasasti Kedukan
Bukit (682) sangat mirip satu sama lain dengan nama Binanga di sungai Barumun,
Padang Lawas masa kini. Binanga adalah pelabuhan yang juga ibu kota Kerajaan
Aru di masa lampau (pada masa kini di sekitar Binanga terdapat banyak
candi-candi era Hindoe Boedha). Jika kita hubungkan dengan pernyataan Mendes
Pinto (1537) bahwa Kerajaan Aru terhubung dengan Luzon (Filipina). Hal itulah
juga sebab mengapa nama-nama geografis di teluk Manila banyak yang mirip dengan
nama-nama geografi di wilayah eks Kerajaan Aru (kini Tapanuli Bagian Selatan).
Bukankah ada etnik di pulau Palawan yang mengaku sebagai etnik Batak, etnik yang
mirip dengan etnik Aeta di teluk Manila. Lantas, apa arti prasasti Laguna pada
masa kini? Suatu
penanda navigasi yang menghubungkan sejarah zaman kuno antara kecamatan Binanga,
kabupaten Padang Lawas, provinsi Sumatra Utara, Indonesia dengan Laguna di
Metro Manila, Filipina. Dalam hal ini kita tidak perlu berbicara siapa yang
pertama mendirikan kerajaan di wiilayan (metro) Manila yang sekarang.
Yang jelas bahwa pada abad ke-7 (682M) dan abad
ke-10 (900 M) Kerajaan Majapahit belum ada. Yang ada adalah Kerajaan Aru dan
Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Majapahit baru terbentuk setelah tahun 1298 M.
Tentu saja belum ada kerajaan di Minangkabau Kerajaan Pagaroejoeng yang baru terbentuk
pada era Adityawarman (meninggal 1375M). Kerajaan Aru masih eksis hingga era
Belanda, paling tidak nama Kerajaan Aru masih diidentifikasi pada Peta 1818.
Pada tahun1821 Kerajaan Pagarioejoeng dilikuidasi Pemerintah Hindia Belanda.
Jauh sebelum muncul Kerajaan Sriwijaya, sudah terbentuk Kerajaan Aru (Kerajaan
Panai) dengan pelabuhan di Barus. Literatur Eropa abad ke-5 menyebut Baruis adalah pelabuhan
ekspor kamper (kapur barus). Catatan tertua Ptolomeus pada abad ke-2 menyebuat
bagian utara Sumatra adalah penghasil kamper yang banyak. Kerajaan Aru dalam
hal ini dapat dikatakan kerajaan sepanjang masa.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





