*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Filipina
(Filipijnen, Philipines) adalah nama baru, nama suatu wilayah (kepulauan) di wilayah
Hindia Timur. Wilayah Filipina ini menjadi bagian wilayah Hindia Timur Spanyol.
Namun sebelum muncul nama Filipina, sudah eksis sejak lama nama-nama pulau.
Pelaut Spanyol pertama kali mengunjungi Filipina tahun 1521 di bawah pimpinan Ferdinand
Magellan. Spanyol sendiri mendirikan koloni di Filipina baru terjadi pada tahun
1565 di suatu area di pulau Cebu yang disebut San Miguel.

tahun 1521, itu terjadi setelah sepuluh tahun Portugis menaklukkan dan
menduduki kota Malaka di Semenanjung 1511. Namun daya tarik (kepulauan) Maluku
yang kaya rempah-rempah, Spanyol melupakan Filipina. Portugis yang semakin
menguat di (koloni) Malaka, pada tahun 1524 pelaut-pelaut Portugis mengunjungi
Boernai (kini Brunai). Dari kota pelabuhan Brunai ini pedagang-pedagang
Portugis mengunjungi (teluk) Manila. Melihat koloni Portugis semakin kuat di
Malaka dan terjadi persaingan yang ketat antara pedagang-pedagang Spanyol dan Portugis
di Ternate (Maluku), pelaut-pelaut Spanyol mulai mendirikan koloni di Filipina pada
tahun 1565. Orang-orang Spanyol sendiri baru mencapai pulau Luzon di teluk
Manila pada tahun 1571.
Lantas
bagaimana sejarah orang Spanyol mendirikan koloni di San Miguel, pulau Cebu? Tentu saja sudah ada yang menuslisnya. Namun sejauh
data baru ditemukan, narasi sejarah awal Spanyol berkoloni di Spanyol perlu
diperkaya. Lalu apa pentingnya sejarah awal Spanyol ini? Yang jelas pulau-pulau di Filipina sudah sejak lama
terjadi perdagangan regional dengan wilayah lain di Hindia Timur seperti
Sumatra, Jawa dan Semenanjung sejak era Hindoe-Boedha hingga kedatangan
pedagang-pedagang Islam seperti orang-orang Moor. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama-Nama Geografi di Filipina
Jauh
sebelum kehadiran pelaut-pelaut Eropa (Portugis dan Spanyol) di Hindia Timur, berabad-abad
pedagangan internasional di perankan oleh pelaut-pelaut orang Moor.
Pedagang-pedagang Moor beragama Islam berasal Afrika Utara (laut Mediterania)
di Hindia Timur tidak hanya melakukan perdagangan intens di Hindia Timur,
tetapi bahkan hingga pantai timur Tiongkok (Makao) dan sisi barat (lautan)
Pasifik seperti Papua Nugini, Selat Torres (Merauke) hingga Maori (Selandia
Baru). Pelaut-pelaut Moor adalah predecessor (pendahulu) pelaut-pelaut Portugis
dan Spanyol ke Hindia Timur. Pelaut Spanyol baru mencapai Filipina pada tahun
1521 (Pelaut-pelaut Portugis yang sudah eksis di Malaka sejak 1511 baru
mencapai Filipina di Manila pada tahun 1524).

pertama yang mencapai Filipina di bawah pimpinan Ferdinand Magellan, via
Pasifik (celah Amerika Selatan) tiba di suatu
tanjung tenggara pulau Mingindanao (kelak disebut Tanjung St Agustun),
lalu menyusuri ke arah utara dan berbelok ke barat laut di pulau Matinguk dan
melalui selat antara pulau Mangindanao dan pulau Mahaba, lalu berbelok ke barat
di pulau Banaja (antara pulau Mangindanoo dan pulau Panaon, kemudian pulau
Limasaya. Dari pulau ini eksplorasi ke kampong Butuan (di muara sungai di pantai
utara Mangindanao) sebelum dari pulau Limasaya melanjutkan navigasi ke arah
barat laut melalui selat dimana terdapat kampong Maasin di pantai barat pulau (kelak
disebut Leyte), lalu berbelok ke arah selatan di pantai timut pulau Zebu
(kampong Mandari) lalu menyusuri pantai barat pulau Bojol di kampong Malabohi,
lalu ke arah barat daya melalui pulau Sikulor dan lalu mencapai tanjung (di
sudut selatan pulau Negros (dekat kampong Maribago dan Marila), selanjutnya
menyeberang ke pulau kecil Lubunga dekat pantai utara Mangindanao dan
seterusnya ke arah barat daya di pantai Boernai (sekitar Sabah sekarang) dekat
pulau Matolo dan pulau Malagan, dan kemudian berbalik ke suatu pulau di tengah
laut (kini laut Sulu) pulau kecil yang kemudian dikenal Cagayanas (dekat pantai
timur pulau Paragoa) dan berbalik lagi ke tenggara di pulau Lolo (kini pulau
Sulu) dan kemudian ke arah timur laut melalui selat antara pulau Basilan dan
pulau Manisan dan seterusnya kembali ke laut lepas (dari arah kedatangan).
Dari
nama-nama pulau, sebelum disebut (kepulauan Filipina), nama-nama geografis (pulau
dan kampong) saat Ferdinand Magellan tiba, terkesan banyak yang dimulai dari
awalan Ma. Tentu saja nama teluk dan kampong dimana sebelunya pelaut Portugis
mengunjungi Manila. Nama-nama geografis di Filipina yang berawalan Ma tentu
saja tidak serba kebetulan. Sebab nama-nama geografis banyak yang berawaln Ma,
mulai dari Madagaskar (pantai timut Afrika) hingga Maori (Selandia Baru) pada
era Orang Moor. Apakah awalan Ma mengindikasikan nama tempat, seperti awalan Soera
dan akhiran Poera di Sumatra, Jawa, Semenanjung dan Borneo?
Nama-nama geografis berawalan Ma seperti di Filipina
(Amerika
Selatan) tiba di suatu tanjung tenggara pulau
Mingindanao, Matinguk, Mahaba, Maasin, Mandari, Maribago, Marila, Matolo, Malagan
dan Manisan, tentu saja jangan lupa Matan dan Manila), juga ditemukan di
wilayah lain seperti Malaka, Matan (Borneo), Manado, Majene, Makassar, Maluku, Manipa,
Mangarai (Manggarai), Marauke (Merauke) hingga Maori dan tentu saja Makao.
Nama-nama berawalan Ma ini juga ada di Afrika (Maroko, Mauritania, Mali dan
Madagaskar atau Malagasi). Di sebelah timur dan utara Malagasi terdapat pulau
Mauritius dan Maladives (Maladewa). Jika diperhatikan lebih lanjut nama-nama
geografi berawalan Ma ini seakan jalur navigasi pelayaran orang-orang Moor
(dari tanjung Iberia di Spanyol, laut Mediterania). Nama-nama georafis yang
juga merujuk pada nama Moor adalah Muar (Moear) di pantai barat Semenanjung,
pulau Moro (Riau), Amoerang, Moro (di Mangindanao), Morotai atau Terra del Moro
(Maluku), Morowali dan boleh jadi Morouke dan Maori. Nama pulau Matan di
Filipina diduga kuat merujuk pada nama Matan di Borneo. Sejak kehadiran
Portugis di Boernai pada tahun 1524 nama pulau (Matan) diganti menjadi Borneo
(merujuk pada nama pelabuhan Boernai). Nama pulau Borneo (Malaysia) kini
bersaing dengan nama Indonesia yakni Kalimantan (Kali-Matan).
Menurut
Mendes Pinto, orang Portugis yang
mengunjungi Kerajaan Aroe (Battak Kingdom) dari Malaka pada tahun 1539 mencatat
bahwa tentara Aroe terdiri dari tentara Batak dan yang diperkuat dari
Indragiri, Djambi, Borneo dan Luzon. Pasukan ini diperkaya oleh orang-orang
Moor. Disebutkan Mendes Pinto kerajaan Aru pernah menyerang Malaka.
Kerajaan Aru berada di daerah aliran sungai
Baroemoen (B-aroe-moen). Suatu wilayah yang sudah eksis sejak zaman kuno.
Setelah militer (Kerajaan Chola) menaklukkan Sriwijaya, wilayah daerah aliran sungai
ini dibangun sekitar abad ke-11. Sisa peninggalan Chola tersebut pada masa kini
dikenal sebagai Candi Padang Lawas (kini di Tapanuli bagian selatan).
Berakhirnya era Hindoe-Boedha di daerah aliran sungai ini muncul Kerajaan Aroe
(kerajaan yang menguasai seluruh bagian utara pulau Sumatra). Orang Moor sendiri
adalah pelaut-pedagang berasal dari Afrika Utara di laut Medieterania (kini
Morocco dan Tunisia) beragama Islam yang sebelum bergeser ke pantai timur
Sumatra dan Semenanjung Malaya sudah sejak lama membentuk koloni di Gujarat,
Surate dan Goa (pantai barat India). Orang Moor yang pernah menaklukkan wilayah
Portugis dan Spanyol pada era Dinasti Abbasiah dapat dikatakan pendahulu
(predecesson) orang Portugis dan Spanyol ke Hindia Timur. Orang-orang Moor
awalnya bermukim di tenggara Malaka di Muar. Sedangkan di Malaka tempat
bermukim orang-orang India. Nama Malaka sendiri sebutan orang Moor untuk Malaya
yang merujuk pada Himalaya, Kota Malaya atau Malaka menjadi nama kota, dan nama
Malaya menjadi nama wilayah (semenanjung). Orang-orang Moor juga ada yang
berada di pulau (pulau Moro di Riau).
Orang-orang
Moor inilah yang menguasai perdagangan pada akhir era Hindoe Boedha (suksesi
pedagang-pedagang India). Orang-orang India sebagian menjadi bergama Islam
terutama di India barat (Pakistan) dan India timur (Bangladesh). Orang-orang
Moor inilah yang menguasai perdagangan di selat Malaka, laut Cina selatan
(Borneo dan Filipina), Celebes, Maluku hingga pantai selatan Papoea (Selat
Torres). Pedagang-pedagang Moor inilah yang menyebabkan adanya nama Daruba (di
pulau Morotai) dan Aru di pantai selatan Papua serta Daruba (di Selat Torres).
Daruba adalah sebutan lain untuk (kerajaan) Aru di pantai timur Sumatra.
Nama-nama geografis lain di Filipina adalah
pulau Paragoa dan pulau Panay. Nama Paragoa diduga merujuk pada nama koloni
orang Moor di India. Pulau Paragoa kini disebut pulau Palalawan. Sementara nama
Panai diduga merujuk pada nama anak sungai sungai Baroemoen di kerajaan Aroe.
Nama Goa juga ditemukan di pantai selatan Celebes (kerajaan) Goa atau Gowa
(kini Makassar). Tentu saja jangan lupa di pulau Paragoa (Palalawan) terdapat
etnik Batak yang bahasanya banyak mirip dengan bahasa Batak serta budaya Batak di
kerajaan Aru. Satu yang unik dalam bahasa Batak (kerajaan Aru) adalah awalan Ma
atau Mar (awalan Me atau Ber). Kerajaan Aru muncul setelah era Hindoe Bodha
berakhir di daerah aliran sungai Baroemoen dimana sisa peninggalannya masih
dapat dilihat pada masa ini berbagai candi-candi (Candi Padang Lawas) di
sekitar Binanga (nama yang disebut dalam prasasti Kedukan Bukit, Palembang. 682
M). Candi-candi Padang Lawas dibangun abad ke-11 (era Chola).
Sebelum
kehadiran Spanyol dan Portugis di Filipina, sebagian penduduk pulau-pulau sudah
banyak beragama Islam, termasuk penduduk di (teluk) Manila. Beberapa penulis
menyebut Kerajaan Aru adalah kerajaan Islam pertama di Hindia Timur
(nusantara).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Spanyol Mendirikan Koloni di
Filipina Tahun 1565 di San Miguel, Pulau Cebu: Penyebaran Katolik dan Islam
Tetap Eksis di Mindanao
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





