*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Australia dalam blog ini Klik Disini
Artikel
ini tidak berbicara tentang harga tiket pesawat antara bandara Soekarno-Hatta Jakarta
(CGK) dan bandara Kingsford-Smith Sydney (SYD), juga tidak berbicara tentang
seorang gadis Australia, Sally Andrews yang menulis lagu berjudul ‘Presiden
Soekarno’. Artikel ini lebih fokus pada pandangan Presiden Soekarno terhadap
Australia.

terbentuknya negara (federasi) Australia, tetapi antara Indonesia dan Amerika
Serikat ada kemiripan. Negara (federasi) Australia lebih mirip pada Malaysia.
Amerika Serikat menjadi suatu negara setelah perang dengan Inggris yang
dipimpin oleh Jenderal Washington dan memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal
4 Juli 1776. Menjelang hilangnya Amerika Serikat, Inggris mencari wilayah
koloni baru dan ditemukan James Cook tahun 1773 di Australia. Pada tahun 1829
setelah bernegosiasi dengan Belanda, seluruh wilayah Australia menjadi milik
Inggris. Sehubungan dengan itu terbentuk sejumlah negara bagian di Australia.
Oleh karena keinginan untuk memiliki pemerintahan sendiri, seluruh negara
bagian membentuk federasi (negara) yang dimulai pada tanggal 1 Januari 1901.
Lalu kemudian pejuang-pejuang (revolusioner) Indonesia menyatukan persepsi
tahun 1927 dengan dibentuknya PPPKI untuk menggalang persatuan dan kesatuan
bangsa untuk mencapai kemerdekaan (dari Belanda) seperti halnya Amerika Serikat
dari Inggris. Tujuan itu dapat tercapai yang mana Soekarno dan Mohamad Hatta memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Catatan: Federasi Malaysia
dibentuk Inggris tanggal 16 September 1963.
Lantas
bagaimana sejarah pandangan Presiden Soekarno terhadap Australia? Tentu saja topik ini tidak pernah ditulis. Mengapa? Pertanyaan inilah yang akan dijawab melalui
penelusuran data di dalam berbagai sumber. Namun yang pasti, Presiden Soekarno
tidak pernah berkunjung ke Australia. Mengapa? Yang jelas Presiden Soekarno pernah berkunjung ke
Amerika Serikat. Ada apa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Australia Di Mata Ir Soekarno
Pada
tahun 1946, pada masa ibu kota Republik Indonesia di Djogjakarta, sebuah klub para
fans Indonesia di New York menjuluki Presiden Soekarno sebagai George
Washington van Indonesia (Limburgsch dagblad, 21-08-1946). Ketua klub
Indonesia-club di New York adalah John R. Andu. Saat itu, Indonesia-club di New
York akan melakukan pertemuan yang akan dihadiri 200 orang. Pearl Buck, penulis
terkenal diundang untuk berbicara. Dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia
berupa ucapan selama dibacakan dalam pertemuan di kota kantor PBB tersebut.
Apa yang menyebabkan orang Amerika Serikat
mendukung kemerdekaan Indonesia dan mengapa Presiden Soekarno yang harus hijrah
ke Djokjakarta disebut mereka sebagai George Washington van Indonesia? Tentu saja orang Amerika Serikat masih mengingat
bagaimana Jenderal Washington memimpin perjuangan rakyat Amerika Serikat dalam
mengusir Inggris dan berhasil memproklamasikan kemerdeakaan Amerika Serikat
pada tanggal 4 Juli 1776.
Para
fans Indonesia di Amerika Serikat yang menjuluki Presiden Soekarno sebagai George
Washington van Indonesia tampaknya ingin menyindir Inggris (perwakilan Sekutu
dalam melucuti senjata dan evakuasi militer Jepang di Indonesia) yang telah
memberi jalan kepada Belanda (NICA) untuk kembali menjajah Indonesia. Pesan ini
tentu saja dimaksudkan kepada Australia yang turut membantu Inggris di
Indonesia.
Sebagaimana diketahui Amerika Serikat, setelah
membebaskan Filipina dari pendudukan militer Jepang telah memberikan
kemerdekaan kepada Filipina pada tanggal 4 Juli 1946. Dalam hal ini Amerika
Serikat telah membantu kemerdekaan Filipina, Lantas bagaimana dengan Inggris
dan Australia? Justru mebantu Belanda untuk menjajah Indonesia
kembali. Dalam konteks inilah para fans Amerika Serikat, mendukung kemerdekaan
Indonesia dan menamai Presiden Soekarno yang harus mengungsui ke Djogjakarta
sebagai George
Washington van Indonesia. Tampaknya Amerika Serikat ingin konsisten sebagaimana
nenek moyang mereka tempo doeloe yang dipimpin George Washington mengusir
penjajah Inggris. Sebaliknya Australia tidak mengalami seperti yang dialami
Amerika Serikat, tetapi hanya sebatas pembentukan federasi Australia sebagai
suatu negara pada tanggal 1 Januari 1901 yang tetap berada di Inggris dengan
nama persemakmuran.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Presiden Soekarno: Mengapa ke
Amerika Serikat, Tidak ke Australia?
Presiden
Soekarno kembali diingatkan sebagai George Washington van Indonesia. Ini
terjadi pada tahun 1949 sesaat pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Pemerintah
Indonesia (RIS) mengeluarkan prangko yang menyandingkan nama-nama pahlawan
Amerika Serikat dengan tokoh-tokoh Indonesia (lihat De Telegraaf, 28-12-1949). Disebutkan
Presiden RIS Soekarno disandingkan dengan George Washington dan Mohamad Hatta
disandingkan dengan Abraham Lincoln; Hadji [Agoes] Salim dengan Benjamin
Franklin; dan Mr Maramis yang merancang struktur keuangan dari Republik
Indonesia sebagai Alexander Hamilton (sekretaris negara keuangan pertama
Amerika Serikat pada tahun 1915).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dalam
kunjungan Soekarno ke Amerika Serikat tahun 1956, surat kabar De nieuwsgier,
16-05-1956 memberi judul berita: ‘George Washington van Azie’. De nieuwsgier
mengutip ucapan Wellington Long yang pernah turut menghadiri konferensi Asia
Afrika di Bandoeng (1955). Wellington Long saat itu mengatakan bahwa Presiden
AS pertama George Washington. Presiden Soekarno adalah ayah bagi rakyatnya.
Dalam konferensi tersebut disebut Wllington Long bahwa Soekarno mengingatkan
para hadirin bahwa revolusi Amerika merebut kemerdekaan dimulai dari perang
melawan Inggris.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





