*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
Papua juga mengindikasikan pergeseran nama Papua dari Nova Guinea menjadi Irian
Barat (dan kembali lagi digunakan nama Papua). Dalam menyusun narasi sejarah
Papua (idem dito dengan semua wilayah lainnya di Indonesia) sangat tergantung
data lama (arsip) sejak era Portugis terutama era VOC (Belanda). Data lama,
arsip lama itu sebagain besar sudah terkumpul pada masa ini. Dari data itulah
disarikan untuk menulis narasi sejarah Papua.

adalah lembaga pemerintah (Indonesia) untuk urusan arsip (lama). Arsip-arsip
lama, sejak era VOC diwariskan Belanda kepada Indonesi, yang mana sebagian dari
arsip-arsip lama itu dikelola ANRI, sehingga bisa diakses semua pihak pada saat
ini. Tentu saja masih banyak yang belum atau tidak dtransfer ke Indonesia
(bahkan masih banyak tersebar di luar kendali orang Belanda), meski sebagian
besar dapat diakses tetapi tentu saja banya arsip lama yang bersifat terbatas
(restricted). Okelah, arsip yang ada di (perpustakaan) ANRI, faktanya belum
banyak dimaksimalkan. Sebagian dari sumber yang digunakan dalam penulisan
artikel dalam blog ini, baru segelintir dari data (arsip lama) yang tersimpan
di ANRI.
Lantas
bagaimana seharusnya sejarah Papua dinarasikan? Seperti disebutkan di atas banyak data (arsip) lama
yang dapat diakses. Itu satu hal. Hal lain yang juga kurang terinforasikan
adalah bagaimana data (arsip) lama itu terkumpul, disimpan, dipublikasikan
serta digunakan, seperti halnya dalam penulisan sejarah Papua dalam blog ini. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Papua dalam Konteks Data
Sejarah: Narasi Sejarah Papua
Nama
Papoea berasal dari bahasa Melayu. Orang-orang (berbahasa) Melayu sudah sejak
lama ada di Maluku (Amboina, Ternate, Tidore dan Batjan). Sejak kehadiran orang
Portugis di Maluku (bermula tahun 1511) nama (pulau) Papoea diidentifikasi
orang Portugis dalam peta mereka menjadi (pulau) Nova Guinea (bahasa Portugis:
Guinea Baru).
Pada tahun 1870an ditemukan arsip kuno berupa
peta bertarih 1621 (yang dibuat van Buchel), bahwa diidentifikasi nama Nieuw
Netherland (lihat Nederlandsche staatscourant, 10-09-1883). Namun tidak
dijelaskan apakah yang dimaksud Nieuw Netherland itu merujuk pada pulau Papoea
(pengganti naa Nova Guinea) atau merujuk pada nama daratan di selatan pulau
Papoea (kini benua Australia). Dalam peta-peta pada era VOC benua Australia
diidentifikasi sebagai Nova Hollandia.
Pada
era VOC, peta-peta yang dibuat mengidentifikasi nama pulau Papua dengan nama
Papoea atau Nova Guinea. Ada juga peta yang mengkombinasikan dua nama ini
sebagai identifikasi Papoea Nova Guinea. Tampaknya orang-orang Belanda yang
sudah mengunjungi Papoea pada tahun 1621 ingin mempertahankan nama Papoea
(daripada nama Nova Guinea). Namun karena nama Nova Guinea kadung sudah dikenal
sejak lama dan pembuat peta-peta di Eropa menggunakan nama Nova Guinea, lambat
laun dalam peta-peta Belanda (VOC) mengidentifikasi pulau Papoea dengan nama
Nieuw Guinea (bahasa Belanda).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Peran ANRI dalam Penulisan
Narasi Sejarah Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






