*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Menurut
ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Sejarah tidak berlangsung
seketika dan dan sejarah tidak terbentuk sekaligis. Perjalanan sejarah awal
berlangsung sangat pelan, meski demikian fakta dan datanya terakumulasi
sedemikian rupa sebagaima dapat dibaca pada masa kini. Seperti di tempat lain, idem
dito di wilayah Papua. Distribusi penduduk di berbagai pulau diperkaya dengan
penyebaran penduduk. Dalam konteks inilah terjadi penyebaran budaya dan juga
penyebaran agama, termasuk di wilayah Papua.

sejak ribuan tahun yang lampau. Sudah banyak teori dan bukti yang menjelaskan
ini. Yang jelas bahwa fakta yang dapat dibaca dan diperhatikan masa kini, bahwa
garis penyebaran manusia awalnya mebentuk tiga garis (path) distribusi manusia
berdasarkan ras (warna kulit): warna putih di utara di Eropa, warna hitam di
selatan di Afrika dan warna kuning timur di Asia. Ras manusia ini beriteraksi
sehingga melahirkan ras baru. Menurut ahli Belanda tempo doeloe ada garis
continuum di zaman kuno dari barat (Sumatra) hingga timur (Papua) yang kemudian
diperkaya dari India dan Tiongkok yang juga membawa kebudayaan baru (era Hindoe
Boedha). Kebudayaan lama ini diperkaya lagi yang disusul kebudayaan selanjutnya
dari Afrika Utara-Arab (Islam) yang disusul kemudian kebudayaan Eropa
(Kristen).
Lantas
bagaimana sejarah Namatota dan Lakahia di Papua? Seperti disebutkan di atas bawah di masa lampau
telah terjadi penyebaran penduduk dan penyebaran budaya yang berasal dari arah
barat ke timur. Lalu apa pentingnya dua nama pulau ini? Dua pulau ini terbilang pengaruh terjauh pada masa awal
dari kepulauan Maluku. Dalam konteks inilah terjadi penyebaran budaya pertama
di pantai barat Papua (Islam)–yang kemudian disusul Kristen di pantai utara
Papua (yang akan dibuat artikel tersendiri). Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Namatota Lakahia dan
Penyebaran Islam di Papua
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Manokwari dan Penyebaran
Kriste di Papua
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







