*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini
Wilayah
Indonesia sekarang dibagi dalam tiga waktu (WIB, WITA, WIT). Di masa lampau
para peneliti flora dan fauna telah memetakan wilayah Hindia Belanda (baca:
Indonesia) dalam tiga wilayah habitat (ekosistem penyebaran). Tiga wilayah ini
diidentifikasi dengan garis pemisah sesuai nama para penelitinya: Wallace dan
Weber. Garis Wallace memisahkan Sumatra, Jawa dan Kalimantan dengan Sulawesi.
Garis Weber memisahkan Sulawesi dengan Maluku. Garis pemisah ini mirip garis
waktu yang sekarang.

konteks penyebaran flora dan fauna secara teoritis dihubungkan dengan proses
pembentukan muka bumi (sebelum dan setelah zaman es). Berdasarkan naiknya
permukaan laut, di zaman kuno diasumsikan bahwa Sumatra, Jawa dan Borneo
menyatu dengan daratan Asia, sementara Papua menyatu dengan daratan Australia. Hal
itulah diasumsikan bahwa flora dan fauna Sumatra, Jawa dan Kalimantan lebih
dekat ke Asia, demikian juga flora dan fauna Papua lebih dekat ke Australlia.
Diantaranya yang dipisahkan oleh Garis Wallace dan Garis Weber memiliki
karakteristik sendiri yang dibagi dua yakni wilayah Sulawesi di atu sisi dan
wilayah Maluku di sisi lain.
Lantas
bagaimana sejarah flora dan fauna diantara Garis Wallace dan Garis Weber,
khususbnya wilayah Maluku dan secara spesifik di Halmahera dan sekitar
(Provinsi Maluku Utara)? Seperti disebut di
atas nama Wallace dan Weber, sejarah flora dan fauna di Maluku dan sekitar
haruslah dikaitkan dengan kedua nama tersebut (Alfred Russel Wallace dan Max
Carl Wilhelm Weber). Bagaimana garis itu ditabalkan dengan nama mereka? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Wallace dan Weber: Flora
dan Fauna di Maluku
Sejarah
zaman kuno, tidak pernah terang dan masih suatu misteri. Teori kesamaan fauna
antara benua Asia dengan Sumatra, Jawa dan Borneo antara lain keberadaan
harimau dan gajah di Sumatra dan Jawa. Hal ini diasumsikan bahwa di zaman
lampau Sumatra, Jawa dan Borneo masih menyatu dengan daratan Asia. Namun adanya
gajah di Borneo masih bersifat kontroversi (karena ada pendapat beberapa ahli
bahwa gajah di Kalimantan dibawa dari tempat lain). Idem dito ditemukannya
harimau di Bali (karena diasumsikan bahwa tempo doeloe Bali menyatu dengan
daratan Jawa).
Pada tahun 1936 suatu tim ekspedisi melakukan
eksplorasi di gunung Leuser, Atjeh (lihat De locomotief, 23-06-1936). Hasil
ekspedisi gunung Leuser ini dipublikasikan pada tahun 1937 (lihat Tijdschrift
van het Aardrijkskundig Genootschap, 1937). Satu yang penting dalam hal ini di
dalam laporan tersebut, salah satu misi eksplorasi yang menyertakan seorang
ahli botani Dr van Steenis adalah untuk akan mencari jejak-jejak tumbuhan Alpen
di gunung itu sebagaimana telah ditemukan di India. Pemimpin ekspedisi ini
sendiri adalah Dr. CGGJ van Steenis, ahli botani di herbarium dan museum untuk
botani di Buitenzorg. Disebutkan vegetasi di kawasan gunung Leuser ini mirip
dengan kawasan pegunungan Himalaya di India. Para anggota ekspedisi terutama
Dr. CGGJ van Steenis bertanya-tanya mengapa bisa, sebab jarak yang jauh yang
tidak mungkin terbawa oleh angin dan burung atau hewan lain.
Dalam
penyebaran flora dan fauna jika tidak dapat dikatakan selalu, kerap dihubungkan
dengan penyatuan dan pemisahan daratan di masa lampau. Mengapa tidak ada yang
berpikir dengan beberapa peneliti bahwa penyebaran juga terjadi karena dibawa
oleh orang dari satu tempat ke tempat lain seperti gajah di Borneo (utara) dan
sejumlah flora di gunung Leuser di Atjeh. Lalu mengapa tidak ada yang berpikir
bahwa harimau (pulau) Bali dibawa dari (pulau Jawa) atau bahkan gajah
didatangkan dari daratan Asia seperti dari Malaya atau Siam. Namun dalam hal
ini kita berbicara tentang flora dan fauna khas diantara garis Wallace dan
garis Weber. Seperti diketahui ada sejumlah fauna di Sulawesi bersifat endemik
(tidak ditemukan di tempat lain). Lalu flora dan fauna apa saja yang bersifat
endemik di Maluku, khususnya di Halmahera dan sekitar? Seperti disebut di atas Garis Weber muncul untuk
membagi wilayah timur Garis Wallace menjadi dua wilayah yang dianggap berbeda.
Pulau Sulawesi dipetakan sebagai wilayah ekosistem
flora dan fauna diantara Garis Wallace dan Garis Weber. Wilayah Sulawesi ini
dalam peta ekosistem tersebut termasuk pulau-pulau di sekitar Sulawesi dan
pulau-pulau di selatan Sulawesi di Nusa Tenggara (minus Bali) tetapi termasuk
pulau Wetar dan pulau Tanibar (Maluku). Bali sendiri dimasukkan pada tipologi
(pulau) Jawa. Kepulauan Maluku (minus pula Wetar, pulau Tanimbar dan pulau
Sula) dimasukkan pada wilayah di sisi timur Garis Weber. Secara spesifik Papua
dan pulau Aroe dimasukkan wilayah (daratan) Australia.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Garis Wallace dan Garis Weber:
Perbedaan Waktu di Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




