*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Pebangunan
lapangan terbang di Indonesia dimulai sejak era kolonial Belanda. Awalnya
lapngan terbang dibangun untuk kebutuhan militer, namun sehubungan dengan
berkembangnya penerbangan sipil, sejumlah lapangan terbang baru dibangun. Salah
satu lapangan terbang yang dibangun terdapat di Koepang di Pen Foei. Setelah
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, lapangan terbang Pen Foei semakin
mendapat perhatian dan dijadikan sebagai salah satu lapangan terbang komersial
(sipil).

dimulai oleh angkatan laut. Pesawat parkir dan engudara di dak kapal tetapi
mendarat di atas air (ampibi) lalu kapal itu diderek ke atas kapal. Dalam
perkembangannya pesawat-pesawat terbang benar-benar mendarat yang dioperasikan
oleh angkatan darat dengan membangun lapangan terbang Tjililitan (Batavia) dan
lapangan terbang Kalidjati (Soebang), Bandoeng dan Soerabaja. Pada tahun 1924 era penerbangan sipil
dirintis. Ini bermula adanya percobaan penerbangan jarak jauh dari Amsterdam ke
Batavia (Tjililitan). Untuk merealisasikan itu dibangun dua bandara tambahan
yakni membangun lapangan terbang Polonia di Medan dan lapangan terbang di
Muntok (pulau Bangka) sehingga terhubungan dari Amsterdam melalui lapangan
terbang di negara lain hingga ke Siam, lalu ke Medan dan seterusnya ke
Singapoera yang dilanjutkan ke Muntok hingga mendarat di Tjililitan pada hari
Senin tanggal 24-11-1924 (lihat De Zuid-Willemsvaart, 25-11-1924). Itulah awal
kebandaraan dan awal penerbangan sipil di Indonesia.
Bagaimana
sejarah kebandaraan di Kupang, Timor? Seperti disebut di atas yang pertama dibangun di
Nusa Tenggara Timur adalah lapangan terbang Penfui. Pada tanggal
20 Desember 1988 lapangan terbang Penfui diubah namanya menjadi bandara El Tari
(nama mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur). Lalu bagaimana asal usulnya? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Jalur Navigasi Australia: Lapangan
Terbang Penfoei
Gagasan
pengoperasian penerbangan sipil di Hindia Belanda muncul pada tahun 1927 (lihat
Nieuwe Rotterdamsche Courant, 13-05-1927). Boleh jadi itu telah dipicu oleh
berhasilnya rintisan penerbangan jarak jauh dari Amsterdam ke Batavia pada
tahun 1924. Faktanya dalam empat bulan terakhir pesawat militer juga adakalanya
membantu barang pos Batavia-Soerabaja. Hal itulah mengapa pihak swasta menanyakan
kepada pihak militer tentang gagasan pengoperasian penerbangan sipil.
Lapangan terbang militer sudah ada di beberapa
tempat seperti Tjililitan (Batavia) lapangan terbang Kalidjati (Soebang),
Bandoeng serta Gresik dan Soerabaja serta Boeleleng. Lapangan terbang yang
sudah sejak lama eksis adalah di Medan dan Muntok (Bangka). Belum lama ini juga
lapangan terbang telah selesai dibangun di Telok Betong, Lahat dan Palembang (lihat
Nieuwe Rotterdamsche Courant, 13-05-1927). Dalam waktu dekat juga akan dibangun
di Koepang (Timor) sementara rencana di Sumatra akan diperluas menjadi melewati
tempat-tempat berikut: Telok Betong, Lahat, Moeara Bliti, Paja Kombo. lalu ke
arah utara ke Medan dan lewat Koeta Radja ke Sabang. Pada rute Sabang-Australia dianggap
penggunaan pesawat darat ke Timor di Koepang yang paling diinginkan.
Sehubungan
dengan telah dibangunnya lapangan terbang di Koepang, pada tahun 1928
pemerintah Portugal mengajukan kepada militer Hindia Belanda untuk percobaan
penerbangan dari Lasabon ke Koepang (lihat De Indische courant, 06-03-1928).
Disebutkan gubernur jenderal dari Lisbon mengirim pesan telegraf bahwa dalam
beberapa hari ini dua penerbang Portugal yang disebutkan namanya akan melakukan
penerbangan dari Lisbon ke Koepang di Timor. Kedua pilot tersebut akan
menerbangkan sebagian rutenya di atas wilayah Hindia Belanda bahkan mendarat di
Batavia dan Surabaya.
Pengembangan jalur aviasi bukan ke Makassar,
tetapi dari Jawa ke kepulauan Soenda Ketjil dan dari Jawa ke Sumatra.
Pengembangan jalur aviasi ke kepulauan Soenda Ketjil juga karena dipicu oleh
kebutuhan jalur aviasi Inggris dari Singapoera ke Australia. Awalnya jalur yang
digunakan Inggris dari Singapoera ke Singaradja (Boeleleng), tetapi dalam
perkembangannya bergeser ke Koepang. Dalam situasi dan kondisi inilah Portugal
tertarik menggunakan lapangan terbang yang sudah ada untuk merintis jalur
aviasi dari Lisabon, paling tidak hingga Koepang. Seiring dengan perkembangan
aviasi ini, lalu didirikan Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart
Maatschappij (KNILM) pada tanggal 16 Juli 1928.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Lapangan Terbang Penfoei:
Penerbangan Sipil Indonesia
Lapangan
terbang di Penfoei, Koepang dari waktu ke waktu ditingkatkan. Pada tahun 1940
jalur penerbangan dari Koepang dan Dilli dibuka. Pembangunan lapangan terbang
di Dilli juga telah menarik minat Jepang untuk menghubungkan Palau dengan Dilli
(Timor Portugis). Australia juga berminat tidak hanya dari Australi ke Dilli
via Koepang, tetapi juga akan membuka jalur khusus dari Sydney ke Dilli.
Pada masa pendudukan militer Jepang, lapangan
terbang Penfoei digunakan. Angkatan udara Belanda pernah menyerangnya (lihat Amigoe
di Curacao : weekblad voor de Curacaosche eilanden, 08-07-1943). Disebutkan Markas
Jenderal MacArthurs mengumumkan bahwa tadi malam pilot Belanda menyerang
lapangan terbang Penfoei di Koepang. Lalu giliran pesawat pembom Sekutu memborbardir
dan mengakibat kebakaran besar dalam serangan kemarin di lapangan terbang
Penfoei dekat Koepang dan lapangan terbang Foeiloro dekat Lautem (lihat Amigoe
di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden, 24-09-1943). Tapi angkatan
udara Jepang juga kuat. Setelah kerajaan Jepang menyerah kepada Sekutu-Inggris,
Australia memainkan peran di kawasan (sebagai wakil dari Sekutu-Inggris) dan
juga memanfaatkan lapangan terbang Penfoei. Setelah kehadiran kembali Belanda
(NICA) militer Australia diminta untuk keluar (lihat Nieuwe courant, 21-03-1946).
Disebutkan orang Australia diharapkan meninggalkan Timor segera, setelah itu KNIL
akan mengambil alih. Lapangan terbang Penfoei juga akan diambil alih oleh
pasukan Belanda, sedangkan stasiun meteorologi Belanda akan ditempatkan disini
dengan personel darat Belanda.
Setelah
pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, secara bertahap lapangan terbang
yang selama ini dikuasai milter Belanda dialihkan kepada militer Indonesia (TNI)
termasuk lapangan terbang Penfoei di Koepang. Namun selama era RIS
lapangan-lapangan terbang ini masih intens digunakan oleh Belanda. Setelah
dibubarkannya RIS dan kembali ke NKRI pada bulan Agustus 1950 peralihan ini
menjadi menyeluruh. Pemerintah RI mulai mengembangkan sendiri penerbangan sipil
dengan membentuk direktorat penerbangan sipil di Kementerian Perhubungan.
Oleh karena RIS telah dibubarkan, maka Kabinet
Hatta juga dibubarkan dan kemudian dibentuk Kabinet Natsir. Dalam pembentukan
kabinet Perdana Menteri Natsir mengangkat Ir. Djoeanda sebagai Menteri
Perhubungan. Ir. Djoeanda membawa rombongan para alumni THS (kini ITB) termasuk
Ir, Tarip Abdoellah Harahap yang menjadi Direktur Penerbangan Sipil. Ir. Tarip
Harahap lulus THS Bandoeng 1939 dan selama era perang kemerdekaan RI beribukota
di Djogjakarta Ir Tarip Harahap adalah Direktur Djawatan Angkoetan Motor
Repoeblik Indonesia atau disingkat DAMRI (lihat Het dagblad : uitgave van de
Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 30-06-1949).
Tugas
pertama Direktur Penerbangan Sipil Ir. Tarip Harahap membenahi penerbangan
sipil di kota-kota utama di Jawa. Setelah itu mulai mengembangkan urusan serupa
di luar Jawa. Hal yang paling pokok ke barat adalah pengoperasian jalur
penerbangan ke Medan (via Palembang). Sementara hal paling pokok ke timur dalam
pengoperasian jalur penerbangan ke Makassar (terus ke Ambon). Negosiasi dengan militer
untuk menjadikan lapangan terbang di Makassar sebagai bandara sipil sedikit
agak alot Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 29-05-1951). Hal ini karena adanya peristiwa militer
sebelumnya di Makassar.
Setelah selesai urusan penerbangan dan
kebandaraan ke barat, Ir Tarip Harahap mulai nasionalisasi pilot dengan
mendirikan sekolah penerbangan di Tjoeroeg (lihat Java-bode: nieuws, handels-
en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-06-1952) dan pada bulan Juni
1953 bandara di Indonesia mulai dimodernisasi (lihat De nieuwsgier, 12-06-1953).
Setelah itu mengembangkan pengoperasian jalur penerbangan ke wilayah timur Indonesia.
Yang mendapat prioritas pertama jalur ini adalah untuk memastikan kelayakan
lapangan-lapangan terbang yang ada di Denpasar, Sumbawa, Waingapu, Kupang, Maumere
dan Makassar (lihat Java-bode:nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 25-03-1954). Sejak saat inilah lapangan terbang Denpasar,
Koepang direvitalisasi dari lapangan terbang militer menjadi bandara sipil.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




