Bagaimana
sejarah Pulau Atauro? Tampaknya belum ada
yang menulis. Seperti di sebut di atas pulau Atauro seakan benteng bagi Kota
Dili. Sebab pada tahun 1975 Gubernur Provinsi Portugal di pulau Timor Lemos
Pires mengungsi ke Pulau Atauro ketika terjadi perang saudara yang menjadi
pangkal perkara bagian timur pulau Timor ini berintegrasi ke Republik Indonesia
(menjadi Provinsi Timor Timur). Tentu saja sejarah pulau Atauro lebih daripada
itu. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah (inter)nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Pulau Atauro: Sejak
Kehadiran Portugis dan Kamp Konsentrasi Tahanan Politik
Pada
era kolonial Belanda, Pulau Atauro di dekat Dili adalah kamp konsentrasi
tahanan politik Portugis yang dibawa dari Portugal. Hal itu diceritakan oleh
Letnan Carona (lihat Overijsselsch dagblad, 30-07-1932). Disebutkannya mereka yang
menjadi tahanan politik dibawa dengan kapal Pedro Gomez. Pemberangkatan kami
terjadi dalam kondisi terburuk. Ketika kami tiba di pulau Timor, kami diarahkan
ke stad Atauro, dimana kamp konsentrasi para tahanan politik telah didirikan. Kota
itu terletak di kawasan dimana kehidupan secara fisik mustahil bagi orang
Eropa, yang tidak terbiasa dengan iklim tropis. Tidak diragukan lagi karena
alasan inilah tempat itu dipilih untuk orang-orang yang dideportasi seperti
kami disana. Gubuk-gubuk malang berfungsi sebagai rumah kami. Kami tidak
memiliki alat pertahanan melawan wabah nyamuk dan panasnya sedemikian rupa
sehingga pada jam delapan pagi termometer menunjukkan 33 derajat di tempat
teduh. Pulau Timor disebut beranda kematian (het voorportaal van den dood),

disebutkan kapan mereka alami, berapa lama ditahan. Namun dalam gambaran Letnan
Pedro Gomez ini cukup menjelaskan situasi dan kondisi di pulau Atauro. Suatu
pulau yang malang bagi tahanan Eropa banyak nyamuk dan suhu udara yang panas.
Satu yang penting dari keterangan ini Letnan Pedro Gomez menyebut nama kampong
Atauro yang menjadi nama pulau tersebut.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pulau Atauro di Jalur Pelayaran
Utama
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







