*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Satu setengah tahun yang lalu di dalam blog ini (Kamis,
15 Agustus 2019), saya mengapresiasi Alip Ba Ta, seorang pemusik fingerstyle
bertalenta sebagai Ambassador (duta besar musik) Indonesia, teori itu kini
nyaris sempurna. Dalam hubungan tersebut saya terus mengikuti aransemen
musiknya dan juga terus mengamati reaksi terhadap musiknya dari berbagai
penjuru dunia. Hasil pengamatan itu mengindikasikan bahwa Alip Ba Ta telah memperoleh
haknya sebagai Ambassador Musik Indonesia. Lalu bagaimana teori selanjutnya?

di Wuhan (Cina) telah menyita perhatian dunia. Penyebaran virus, yang dimulai
di Wuhan, secara masif telah menjadi pandemik (bukan lagi endemik dan juga buka
epidemik). Pada bulan Maret 2020 status pandemik di Indonesia dinyatakan
berlaku dengan mulai diterapkan lockdown. Pada bulan Desember 2019 status Alip
Ba Ta dapat dikatakan sebagai Fenomena Alip Ba Ta. Pada bulan Januari status
Alip Ba Ta meningkat lagi menjadi Follower Menjadi Leader dalam musik dunia.
Pada bulan Februari 2020 pemusik dunia tidak hanya melihat Fenomena Alip Ba Ta
tetapi juga telah menyimak berbagai genre musik Indonesia (pemusik dunia mulai
belajar musik dari Indonesia). Pada bulan Maret 2020 status musik Indonesia
meningkat lagi yang mana Fenomena Alip Ba Ta naik drastis dimana Invisible Hand
(merujuk pada teori ekonomi) tengah bekerja. Pada bulan Mei 2020 di satu sisi
Alip Ba Ta sudah menjadi The King of World Music dan di sisi lain Musik
Indonesia telah mendapat tempat di arena musik internasional. Saat inilah teori
Ambassador Musik Indonesia (Alip Ba Ta) dapat dibuktikan, dari suatu hipotesis
menjadi berlaku umum (universal).
Alip Ba Ta Effect kini telah bermetamorfosis menjadi Indonesian
Effect. Alip Ba Ta telah membuka jalan, para pemusik dunia menemukan jalan,
mereka semakin membuka diri untuk mengenal semua talenta musik Indonesia,
diantaranya Abim Finger dan Vanny Vabiola. Pada saat inilah Alip Ba Ta Effect
menjadi Inodnesia Effect. Apa efeknya?
Booming Musik Indonesia. Alip Ba Ta Effect yang bergerak secara deret
aritmatik (fungsi produksi oktaf pertama), kini Indonesian Effect akan bergerak
secara deret geometrik (fungsi produksi oktaf kedua) dan mungkin deret
eksponesial (fungsi produksi oktaf berikutnya).
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya
untuk lebih menekankan saja*.
Booming Musik Indonesia
Tunggu deskripsi
lengkanya
Ekonomi Baru Indonesia
Tunggu deskripsi
lengkanya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





