*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini
Situs
kuno di Banten tidak hanya dalam wujud tempat tetapi juga wujud benda-benda
kuno. Situs-situs kuno ini diduga kuat ada sejak zaman kuno (era Hindoe).
Sebagaimana diketahui nama-nama tempat di Banten pada masa ini merujuk pada
nama-nama India, sebut saja Banten yang awalnya disebut Banta (nama yang
merujuk pada India). Orang-orang Moor dan Portugis mengeja dan menulisnya Bantan.
Orang-orang Belanda kemudian menulis Bantan menjadi Bantam (lalu bergeser
menjadi Banten hingga ini hari).

situs-situs kuno karena banyak yang hilang tertimbun tanah (dan baru ditemukan
kembali keudian) dan juga karena jarak yang cukup jauh di masa lampau tidak
lagi terinformasikan dengan baik dan benar (cerita yang diturunkan). Pada era
Eropa (khususnya era Belanda), situs-situs yang ditemukan dicatat, diinformasikan
dan ada yang tetap dipertahankan (seperti candi Borobudur, Prambanan, Bahal dan
Muara Takus) dan ada juga yang diambil sebagai benda kuno (barang antik) dibawa
ke tempat lain apakah untuk kesenangan (hobi) atau untuk penyelidikan lebih
lanjut (ilmu pengetahuan). Benda-benda kuno ini ada yang hilang atau rusak dan
juga ada yang tetap bergulir sebagai barang yang diperjualbelikan dan ada juga
yang dilembagakan di dalam museum pribadi atau museum umum.
Lantas
bagaimana sejarah situs dan benda kuno di Banten? Secara umum hanya dialamatkan ke situs Kota Kuno (di
Banten Lama) dan Banten Girang. Upaya Pemerintah Daerah pada masa ini dengan
mendirikan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama di Serang dapat dianggap
upaya untuk mendekatkan masyarakat pada sejarah Banten. Dalam rangka memperkaya
pemahaman sejarah Banten, tampaknya kita perlu meninjau kembali tentang sejarah
situs-situs kuno di Banten. Hal ini karena situs kuno adalah penanda awal
sejarah Banten. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Situs Lama Zaman Kuno Era Hindu: Tjaringin, Tjimanoek, Tjibeo, Desa
Tjandi, Tjipanas, Pasir Kosala dan Lebak Pare
Situs-situs
kuno, sebelum berakhirnya abad ke-19, khususnya di (pulau) Jawa sudah
teridentifikasi, dalam arti sudah terinformasikan. Hal ini karena semua wilayah
(pulau) Jawa sudah diadministrasikan hingga ke tingkat distrik (kecamatan)
dimana pejabat Pemerintah Hindia Belanda (Controleur atau Asisten Residen) berkedudukan
di ibu kota afdeeling. Controleur membawahi kapala-kepala distrik (pribumi).
Para kepala district inilah yang menyampaikan informasi keberadaan situs di
wilayahnya ke pejabat yang lebih tinggi (yang kemudian direspon oleh para
ahli).

zaman peradaban modern (era Hindoe) tidak begitu jelas. Pada zaman megalitikum
ditandai dengan peralatan batu, tetapi pada era Hindoe juga peralatan modern
sudah ada yang terbuat dari besi, yang dengan alat-alat modern tersebut
penduduk membuat perangkat-perangkat lain untuk kebutuhan sosialisasi, religi
dan sebagainya. Puncak peradaban modern era Hindoe adalah bangunan-bangunan
tempat pemujaan seperti candi atau tempat yang bersahaja yang diatasnya dibuat
bangunan atau wujud tertentu (patung). Wujud bangunan yang terbuat batu andesit
ini banyak ditemukan di wilayah Jawa bagian barat termasuk Banten.
Benda
kuno yang pertama ditemukan di Banten adalah patung di Tjaringin, tetapi dimana
psosi GPS tidak begitu jelas namun tidak jauh dari Tjimanoek, Temuan itu dilaporkan
oleh Brumund yang diinformasikan pada artikelnya berjudul Een reisje door de residentie Bantam yang
dimuat dalam Tidjschrift van Nederlandsche-Indie 1840. Temuan ini kemudian dikonfirmasi
oleh van Hoevell yang dimuat dalam Tidjschrift van Nederlandsche-Indie 1842 di
bawah judul Beelden te Tjaringin, afkomstig Tjimanoek. Juga dikonfirmasi oleh
Junghuhn yang dimuat dalam Tidjschrift van Nederlandsche-Indie 1844 di bawah
judul Beelden te Tjaringin.

bekerja untuk Pemerintah Hindia Belanda. Junghuhn pada tahun 1840 ditugaskan
untuk survei dan pemetaan ke wilayah Tapanoeli yang juga difungsikan sebagai
pejabat di Afdeeling Portibi (Afdeeling Padang Lawas) 1840-1842. Pada saat
inilah Junghuhn menemukan komplek percandian yang sangat luas di wilayah Padang
Lawas yang tertutup tanah dan semak-semak belukar yang jarang dikunjungi orang.
Candi-candi yang ditemukan di Padang Lawas (kini Kabupaten Padang Lawas,
Tapanuli Bagian Selatan) cukup banyak, dua yang terkenal candi Bahal I (lihat Gambar) dan
candi Bahal II..
Benda-benda
kuno di Tjaringin ini seperti yang disebut oleh Brumund berasal dari Tjimanoek.
Namun dalam hal ini Tjaringin dan Tjimanoek di duga di kawasan yang sama di
lereng gunung Karang. Dalam suatu risalah PJ Veth, seorang ahli geografi
Belanda menyebut benda-benda kuno tersebut berada di gunung Karang (Beelden van
den G Karang) yang dimuat dalam Java II 1878.
Patung (arca) yang ditemukan di Tjaringin yang
disebut arca Durga (Siwa) ditempatkan di halaman kantor Asisten Resident di
Tajringin, sisi jalan selat Sunda ke arah Anjer (lihat Tijdschrift voor
Neerland’s Indie, 1844). Benda-benda kuno dari Tjaringin ini kemudian diketahui
telah ditempatkan di Museum Batavia (lihat Katalog 1887 yang disusun oleh
Groeneveldt; benda-benda dari Tjaringin diberi nomor 8, 54, 66, 142, 171 dan
361.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Situs Kuno Zaman Baru Era VOC:
Banten Lama
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





