*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini
Dalam
sejarah lama, ada disebut Kerajaan Daja. Pada peta-peta Portugis belum banyak
nama tempat yang diidentifikasi di pulau Sumatra. Dari yang sedikit yang berada
di pantai barat Sumatra diantaranya Labo (kini Meulaboh), Daya, Baros, Batahan
atau Bathang (kini Batang Natal), Passaman, Ticoe dan Indrapoera. Pada era
Belanda (VOC) nama Daya mulai meredup dan kurang terinformasikan. Pada era
Pemerintah Hindia Belanda nama Lamno mulai populer.

salah satu mukim (kelurahan) di kecamatan Jaya kabupaten Aceh Jaya. Mukim Lamno
ini berpusat di Pasar Lamno. Kabupaten Aceh Jaya sendiri dibentuk pada tahun
2002 sebagai pemekaran dari kabupaten Aceh Barat (yang beribukota di Meulaboh).
Ibu kota kabupaten Aceh Jaya tidak berada di Lamno (kecamatan Jaya) tetapi di
Calang, kecamatan Krueng Sabee. Pusat ibu kota kabupaten Aceh Jaya tidak di
mukim Krieng Sabee tetapi di mukim Calang.
Daya
adalah satu hal. Lamno adalah hal lain. Lantas bagaimana sejarah Daya dan bagaimana
sejarah Lamno? Dalam sejarah kuno, Daya adalah kota pelabuhan yang
berada di pantai. Lalu apakah hubungan Daya dengan Lamno? Kota Lamno yang kini berada di pedalaman sejatinya
adalah kota Daya sendiri. Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Daya, Sejarah Lama
Seperti
disebut di atas pada peta-peta Portugis sudah diidentifikasi nama Daja di
pantai barat Sumatra bagian utara. Pada Peta 1657 (era VOC) nama Daija
diidentifikasi di suatu teluk. Seabad kemudian teluk ini tidak berbentuk lagi
hanya diidentifikasi sebagai sungai yang muaranya cukup lebar (lihat Peta
1757). Namun demikian nama Daja yang ditulis Daija masih eksis sebagai suatu tempat
yang penting (mungkin suatu kerajaan). Lalu seabad kemudian pada Peta 1860 nama
Daja atau Daija masih teridentifikasi. Pada Peta 1886 di kawasan Daja ke arah
hulu sudah muncul nama baru yang diidentifikasi sebagai Lam Noh.

(Portugis dan VOC) bahwa Daja berada di teluk. Diduga posisi nama tempat
tersebut berada di dalam teluk. Oleh karena intensitas peroduksi di pedalaman
teluk mengalami proses sedimentasi jangka panjang yang mengakibatkan teluk
mendangkal. Sehubungan dengan meningkatnya tonase kapal dan proses sedimentasi
yang berlanjut, kota pelabuhan Daja menjadi jarang dikunjungi oleh kapal para pedagang.
Prsoes sedimentasi yang terus menerus menyebabkan teluk yang mulai mendangkal
lambat laut menjadi rawa-rawa besar yang kemudian terbentuk daratan basah. Dua
sungai yang tampak pada peta satelit (sungai Krueng Daja dan sungai Krueng Lam
Beusoe) diduga adalah jalan air menuju laut dari rawa-rawa. Area rawa-rawa ini
seiring dengan terbentuknya daratan mulai dihuni oleh penduduk. Hal inilah
diduga nama Daja lambat laut meredup seiring dengan posisinya sudah jauh berada
di belakang pantai di percabangan sungai (di sekitar Lamno yang sekarang).
Catatan: Sungai utama adalah Krueng Lam Beuse, sedangkan Krueng Daja adalah
jalan air yang lain menuju laut dan oleh karena melalui kota Daja maka disebut
sungai Daja.
Sehubungan
dengan pembentukan cabang pemerintahan Hindia Belanda (yang kemudian kemenangan
Pemerintah Hindia Belanda dalam Perang Atjeh di pantai barat Atjeh pada tahun
1899 dibuat peta kawasan yang lebih detail yang diterbitkan pada tahun 1899. Sebagaimana
diketahui bahwa dalam perang di pantai barat Atjeh ini pada tahun 1899 Teuku
Oemar wafat. Garis komando kemudian dilanjutkan oleh Panglima Polem.

jelas. Dalam peta ini nama Daja hanya diidentifikasi sebagai nama kampong yang
setara dengan kampong-kampong lain seperti Raneue di pantai. Tampaknya kampong
Daja telah relokasi ke sisi seberang sungai. Moetara di cabang sungai, Lam No
dan Lhok Batee di arah hulu. Di daerah aliran sungai Krueng Beusoe ini cukup
banyak perkampongan suatu indikasi sebagai kawasan pemukiman yang padat sejak
masa lampau. Dengan kata lain kawasan daerah aliran sungai Krueng Beusoe
sebagai wilayah produksi (hasil hutan dan budidaya).
Untuk
menekan perlawanan yang dilancarkan oleh Pasukan Panglima Polem, Komandan
Militer Hindia Belanda di Atjeh Jo van Heutsz menempatkan satu detasemen
infanteri di Lam No (lihat Haagsche courant, 13-07-1900). Dalam berita ini
disebutkan dalam suatu pertempuran Panglima Polem terluka dalam melawan militer
Hindia Belanda yang dipimpin van Daalen.Pada tahun 1903 di Lamno terjadi
pengejaran terhadap T Mamat Lambeusoe yang menjadi pemimpin perlawanan di
daerah aliran sungai Krieng Lambeusoe (lihat De locomotief 13-08-1903).
Yang menjadi seteru T Mamat Lambeusoe adalah Letnan
Ten Klooster. Oleh karena penduduk sudah lelah, T Mamat yang takut lama-lama
dikhianati penduduk, meninggalkan wilayah Dajahsche. Pengejaran diteruskan dan
akhirnya terjadi pengepungan di rumah Teungkoe Hadji Oesuf (paman T Mamat)
namun yang ditemukan hanya sisa senjata. Dalam berita ini disebutkan T Mamat yang
telah melarikan diri ke seberang sungai berhasil dikejar dan terkenan tembakan
dan tewas. Dala berita ini juga disebutkan bahwa bagi penduduk Boven Lageuën
dan Daja kabar tewasnya T Mamat akan sangat melegakan. Beberapa pemimpin
perlawanan seperti Keutjhi Hassan, Panglima Akob, dan T. Radja Putih kini
berniat menyerahkan senjata mereka.
Besar
dugaan setelah tewasnya T Mamat, pahlawan daerah aliran sungai Krueng
Lambeusoe, situasi dan kondisi di daerah aliran sungai Krueng Labeusoe menjadi
kondusif. Penduduk mulai bekerja kembali dengan tenang. Tidak ada lagi perang.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Nama Lamno, Sejarah Baru
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



