*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini
Meulaboh
adalah nama tempat yang memiliki sejarah panjang di pantai barat Sumatra bagian
utara. Nama-nama Meulaboh dapat disejarkan dengan nama-nama kuno seperti Singkil
dan Daja pada masa lampau. Kini nama Daja telah hilang tetapi muncul nama
Lamno. Kini, Meulaboh lebih dikenal sebagai ibu kota kabupaten Aceh Barat.
Singkat kata, Meulaboh bukan nama biasa tetapi nama yang telah memiliki sejarah
panjang.

tempat yang diidentifikasi di pulau Sumatra. Dari yang sedikit yang berada di
pantai barat itu diantaranya Labo (kini Meulaboh), Daya, Baros, Batahan atau
Bathang (kini Batang Natal) Passaman, Ticoe dan Indrapoera. Salah satu pulau
yang sudah diidentifikasi di pantai barat Sumatra adalah pulau Nias. Pada era
Belanda (VOC) nama-nama tersebut menjadi pusat transaksi perdagangan yang
penting. Dalam perkembangannya Pemerintah VOC membangun pos perdagangan utama
yang dilengkapi benteng berada di Singkil, Baros, Natal (Inggris), Air Bangis
(Prancis) Pariaman, Padang dan Bengkoelen (Inggris). Kota-kota pantai barat
Sumatra ini menjadi satu jalur navigasi pelayaran baik dari Batavia (VOC)
maupun dari Calcutta (India-Benggala).
Bagaimana
sejarah panjang Meulaboh? Tentu saja sudah ada yang menulis. Namun seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe,, penulisan narasi sejarah tidak pernah berhanti
sejauh diteukan fakta dan data baru. Lebih-lebih Meulaboh nama yang sudah sejak
lama eksis boleh jadi banyak data yang masih tercecer dan baru ditemukan pada
masa ini. Oleh karena itu sejarah Meulaboh harus dimulai dari awal. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Meulaboh
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kota Meulaboh Kota Perjuangan
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





