*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
Hingga ini hari di Tapanuli
Bagian Selatan masih eksis genre musik endeng-endeng dan genre musik
onang-onang. Dua genre musik tradisi ini sudah eksis sejak zaman kuno (era
Bodha-Hindoe). Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, seperti halnya bahasa,
musik sebagai elemen budaya diturunkan (dari generasi ke genrasi) dengan bentuk
aslinya yang tetap bertahan. Musik endeng-endeng dan musik onang-onang yang
sejak era Portugis telah diperkaya dengan instrumen Eropa atau Timur Tengah,
pada masa kini lebih diperkaya dengan berbagai instrumen baru dan dimasukkan
unsur dari genre musik lain.

taksonomi musik, musik tradisi di Indonesia kurang dikenal. Boleh jadi itu
karena musik tradisi Eropa yang dibahas seperti musik tradisi Skotlandia. Musik
tradisi Indonesia yang paling umum dikenal adalah gondang, gamelan (Jawa dan
Bali) dan angklung (Sunda). Dalam musik tradisi dari Tanah Batak terdapat
berbagai genre (varian) musik. Genre musik modern pada masa kini diantarantya
klassik, jazz, blues, country dan sebagainya termasuk genre musik khas
Indonesia yakni dangdut. Dalam konteks genre musik modern inilah, dua genre
musik tradisi khas Tapanuli Bagian Selatan dapat dilihat sebagai dua jenis
genre musik tradisi yang sudah eksis zaman kuno (bahkan jauh sebelum muncul
musik tradisi di Eropa).
Lantas bagaimana sejarah
genre musik endeng-endeng dan genre musik onang-onang? Tentu saja dua jenis genre musik ini hanya ada di
wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Sebagai jenis musik tradisi yang telah
bertransformasi sejak zaman kuno tentu saja menarik untuk mempelajari
sejarahnya. Bagaimana terbentuknya dua genre musik khas Tapanuli Bagian Selatan
ini sudaj sejak lama ingin diketahui. Salah satu judul lagu genre endeng-endeng
adalah Kijom. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Musik Tradisi Sejak Zaman Kuno
Sejak kapan keberadaan musik tradisi dari Tanah
Batak khususnya dari wilayah Tapanuli Bagian Selatan dicatat tidak diketahui
secara pasti. Namun dalam buku Mendes Pinto (1539) disebutkan dirinya disambut
di Kerajaan Aroe (Batak Kingdom) dengan diiringi musik dengan berbagai alat.
Apa yang dicatat oleh Mendes Pinto, tiga abad kemudian kurang lebih sama dengan
yang dicatat oleh TJ Willer pada tahun 1846 di Mandailing, Angkola dan Portibi
(Padang Lawas).
Apa yang dicatat oleh
TJ Willer tentang musik tradisi di Tapanuli Bagian Selatan, lebih dari satu
abad kemudian pada masa kini tidak banyak berubah (masih tetap asli).
Unsur-unsur instrumen gondang (drum), gong dan sulit masih dominan dalam
ensambel musik tradisi gondang. Ini ibarat ensambel musik gamelan yang masih
tetap asli ketika dicatat pertama kali oleh orang Belanda pada tahun 1829.
Salah satu irama musik gondang yang terus eksis
hingga ini hari adalah endeng-endeng. Lagu endeng-endeng adalah not-not yang
menggunakan nada-nada yang sudah eksis sejak era Boedha Hindoe dalam
hubungannya dengan ritual dan religi. Lagu endeng-endeng hanya sesuai dengan
iringan musik paling tidak harus ada instrumen gondang (drum) dan agung (bas).
Dua instrumen ini menghasilkan nada-nada rendah.
Instrumen gondang
(drum) diduga berasal dari India. Namun gondang dimodifikasi sesuatu kebutuhan
lokal dan ketersediaan bahan lokal (kayu, kulit dan rotan). Ini serupa dengan
di India (asal) dan di Jawa (tujuan) nada-nada gondang diaplikasikan dalam
instrumen gondang yang terbuat dari metal yang disebut gamelan. Nada musik
gondang seledro, tetapi gamelan umumnya pelog (meski bisa diadaptasi ke
saledro). Sementara itu alat musik gong yang terbut dari metal (termasuk
simbal) datang dari Tiongkok. Instrumen esek-esek adalah varian diantara gong
dan simbal.
Untuk mengayun nada rendah terutama gong
dimasukkan instrumen suling yang dapat menghasilkan nada tinggi. Instrumen
musik ini produk lokal (sosial budaya dan alam). Tiga instrumen inilah
pembentuk dasar musik tradisi di Tanah Batak yang disebut (ensambel) gondang.
Band tradisi ini dapat mengiringi sejumlah list lagu-lagu apakah lagu-lagu
religi atau lagu-lagu naposo nauli bulung (lagu pop). Dalam hal ini lagu
endeng-endeng bukanlah nama judul lagu tetapi jenis musik (genre musik) yang
berbeda dengan genre musik onang-onang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Eksistensi Genre Musik Endeng Endeng dan Onang Onang
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





