*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Singapura dalam blog ini Klik Disi
Dalam
The encyclopaedia of Islām (1913-1938) disebut nama Temasek tercatat dalam sumber
(literatur) Cina, Jawa dan Melayu. Pertanyaannya: sumber apa saja dan tahun
berapa dicatat? Yang jelas nama Singapoera baru teridentifikasi dala peta-peta
VOC (Belanda), letaknya tidak di di suatu teluk di selatan pula (cikal bakal
Kota Singapoera) melainkan di daratan Semenanjung Malaya (Malay Peninsula) yang
dipisahkan oleh selat sempit dengan pulau (Singapoera). Cikal bakal Kota
Singapoera di teluk yang dimaksud baru teridentifikasi pada era Inggris.

yang ditulis sebagai Tumasik atau Tumasek. Nama Tumasek ditemukan dalam sumber
Jawa buku Negarakertagama (1365). Ini termasuk salah satu sumber tertua yang
mengindikasikan nama Temasek. Namun pada masa ini nama Temasuk tidak unik,
karena nama Tumasek juga disebut sebagai suatu nama tepat di Brunai. Lantas
mengapa muncul klaim nama Temasek di (pulau) Singapoera, sementara nama Tumasek
juga terdapat di pantai utara Borneo (Brunai). Lalu tempat yang mana yang
dimaksud dalam buku Negarakertagama?
Apa
pentingnya sejarah nama Temasek? Hal itu karena Kota Singapoera yang sekarang
diklaim tempo doeloe memiliki nama Temasek dan sumber Jawa mencatat ada nama
Tumasek. Itu satu hal. Hal lain yang lebih penting adalah dimana sesungguhnya
posisi GPS Temasek atau Tumasek tersebut? Adanya nama tempat Tumasek di Brunai
menambah pentingnya mencari tahu dimana nama Temasek berada. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Dimana
permulaan itu berada menjadi tugas baru kita. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah internasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu
terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Temasek, Tumasik dan
Tumasek
Nama-nama
tempo doeloe sangatlah sulit menemukan relasi dengan nama yang muncul
belakangan atau nama yang masih eksis. Hal itu juga tentang nama Temasek. Dalam
buku Negarakertagama (1365) jelas disebut nama Tumasik. Nama dalam buku ini
tampaknya telah turun temurun disalin dalam berbagai kidung seperti Kidung
Harsa Widjaja yang ditulis CC Berg yang diterbitkan Nijhoff tahun 1931. Dalam
kidung ini disebut nama-nama Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, Gurun, Wandan,
Tahjung-Pura, Dompo, Palembang en Makasar. Namun kapan kidung ini dibuat tidak
diketahui secara pasti. Hal ini karena kidung ini diturunkan dari generasi ke
generasi.
Dalam tulisan Brandes dan Krom (1920) tentang kitab Pararaton nama
Temasek yang merujuk pada sumpah Gajah Mada tentang nama-nama tempat Gurun
(pulau Penida), Seran (Seram), Tanjung pura, Haru (pantai timur Sumatra), Pahang,
Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda (Sunda Kalapa), Palembang dan Tumasik. Dalam
kurung adalah catatan penulis. Para peneliti kuno (Brandes dan Krom) tampaknya,
seperti yang mereka katakan tidak berhasil mengindentifikasi dua nama yakni
Tandjoengpoera dan Tumasik.
Pada
peta-peta Portugis diidentifikasi nama Taniampoera di barat daya pulau Borneo.
Kota Taniampoera ini diduga adalah Tandjoengpoera. Dalam peta-peta sesudahnya
(VOC) tahun 1659 di pulau Borneo nama Taniampoera menghilang tetapi muncul
empat nama penting: Bandjermasin, Soecadana dan Borneo. Dalam tulisan lain
Soecadana ini adalah suksesi kerajaan Tandjoengpoera. Lantas apakah Tumasik
dalam catatn kuno Jawa mengarah kepada nama Borneo?

nama-nama yang menggunakan kata ‘poera’ seperti Martapoera (selatan Borneo),
Soekapoera (pantai utara Jawa) dan Telainapoera (pantai timur Sumatra) serta
Indrapoera (pantai barat Sumatra). Besar dugaan nama Singapoera muncul sejaman
dengan tempat-tempat tersebut. Lalu apakah nama Singapoera dan Tumasik adalah
dua tempat yang berbeda?
Dalam
laporan Mendes Pinto (1535) dalam pelayarannya dari Malaca ke Kingdom of Pan
(diduga kerajaan Pahang) tentu saja melewati ujung semenanjung Malaya. Namun
Mendes Pinto tidak mencatat nama Johor maupun Singapoera. Nama-nama yang
dicatatnya adalah Celantan (diduga Kelantan) dan Borneo (diduga Broenai) serta
Pullo Timano, Patava (diduga Pattaya) dan Kingdom of Siam serta Taucampura
(diduga Tandjoengpoera). Dari catatan ini nama Tandjoengpoera masih populer,
sementara nama Singapoera sudah meredup.
Dalam peta-peta VOC (Belanda) diidentifikasi
nama Singapoera tidak jauh dari (kerajaan) Johor. Singapoera diidentifikasi
bukan di pulau tetapi di pantai daratan semenanjung Malaya yang dibatasi selat
sempit dengan pulau. Sementara Johor sendiri berada di sisi timur sungai Johor.
Pulau masih tampak kosong dan diduga tidak seluas sekarang. Seperti kita lihat
nanti, Kota Johor Bahru yang sekarang tepat berada di posisi Singapoera yang
lama, sedangkan Singapoera yang baru berada di pantai selatan pulau
(Singapoera). Besar dugaan kraton Johor telah relokasi ke Singapoera (kemudian
disebut Johor Bahru).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Apakah Nama Temasek Valid
Negara Singapoera Sekarang?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





