*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Timur di blog ini Klik Disini
Muara
sungai sudah barang tentu sudah terbentuk sejak jaman kuno. Tentu saja tidak
tertutup kemungkinan akan terbentuk muara baru. Hal ini karena adanya proses
alam, dimana di muara sungai terjadi proses sedimentasi jangka panjang yang
menyebakan sungai mencari jalan menuju laut. Lalu terbentuklah muara baru.
Proses pembentukan muara baru inilah diduga mengapa muara sungai Mahakam seakam
memiliki seribu muara.

muara sungai Mahakam, juga terjadi proses sedimentasi di muara sungai Barito,
sungai Kapuas dan lainnya. Tentu saja tidak hanya di pulau Borneo, juga di
pantai utara Jawa dan pantai timur pulau Sumatra. Sebagian wilayah kota Jakarta,
kota Semarang dan kota Surabaya yang sekarang adalah perairan di teluk yang
tertutup daratan karena proses sedimentasi. Seluruh wilayah kecamatan Teluk
Naga, kabupaten Tangerang dan kecamatan Muara Gembong, kabupaten Bekasi pada
masa lampau adalah teluk dimana sungai Tangerang atau sungai Cisadane dan
sungai Karawang atau sungai Citarum bermuara.
Apa
menariknya muara sungai Mahakam pada masa ini? Muara sungai Mahakam di Samarinda berbeda dengan
muara sungai Barito di Banjarmasin, Pada era kolonial Belanda di Banjarmasin
telah dibentuk banyak kanal sehingga pada masa ini Banjarmasin dijuluki sebagai
Kota Seribu Sungai. Lalu bagaimana dengan Kota Samarinda, mengapa tidak dibangun
kanal dan membiarkan banyak muara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Sungai Mahakam Seribu Muara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




