Sejak
dominannya kerajaan Karangasem Lombok (Bali Selaparang) diduga kuat tidak ada
lagi literatur yang muncul setelah Babad Lombok. Penduduk Sasak tenggelam di
bawah tekanan kerajaan Bali Selaparang. Tekanan itu semakin menjadi-jadi ketika
empat kerajaan orang Bali di Lombok berperang. Kerajaan induk Karangasem
berhasil ditaklukkan oleh pangeran (kerajaan) Mataram pada tahun 1838. Kerajaan
Mataram Lombok menjadi satu-satunya kerajaan di Lombok. Pada fase inilah
Heinrich Zollinger melakukan studi ilmiah di Lombok yang menemukan bahwa hanya
segilintir orang yang bisa membaca dan menulis dalam aksara Sasak. Ketika mengajukan
pertanyaan tentang apakah ada buku tentang sejarah Bali, Lombok atau penduduk
Sasak, dia selalu dijawab negatif (tidak satu pun yang membuktikan). Meski
hampir semua penduduk Bali di Lombok bisa membaca menulis dalam aksara Bali,
faktanya tidak ada produk mesyarakat yang terkait literatur (kecuali hanya
dalam hubungannya dengan hukum dan peraturan). Oleh karena bahasa Bali di
Lombok sama dengan di Bali, literatur berbahasa Bali diduga berasal dari Bali.
Menurut Heinrich Zollinger penduduk Sasak tidak memiliki literatur asli, namun
mereka memiliki beberapa karya yang ditulis di daun lontar dalam bahasa Djawa
dan Bali dan dalam aksara bahasa-bahasa tersebut yang merupakan buku-buku
sejarah atau romantis atau lainnya yang diterjemahkan dari bahasa Melayu atau
Arab. Ringanis adalah yang terkenal dan paling banyak beredar. Juga ada yang
menyebutkan Djabalkup (sejarah dari Emir Hamzah), Labankara, Suroetie, Tapsir,
Djatie Sokara dan sejarah dari Ratoe Moeka. Buku-bukunya jarang dan sulit
ditemukan.
Literatur Sasak diduga baru
berkembang setelah berakhirnya era kerajaan Bali Selaparang (pasca Perang Lombok 1894). Ini sehubungan dengan
Pemerintah Hindia Belanda segera memperkenalkan aksara Latin dengan membangun
sekolah untuk pribumi di Ampenan dan Selong. Penduduk Sasak telah mendapatkan
setelah begitu lama di tanah sendiri (Goemi Sasak). Literatur Sasak tidak lagi
ditulis dalam bahasa Jawa dengan  aksara
Sasak pada daun lontar, tetapi ditulis dalam bahasa Sasak dengan aksara Latin pada
kertas.
Tunggu deskripsi lengkapnya



