melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini
Nama Buleleng adalah nama yang sudah tua. Namanya
paling tidak sudah diiedentifikasi sebagai Bouleleng dalam peta pada tahun 1720
(Peta 1720). Dalam peta ini juga sudah diidentifikasi nama Sangsit [Sansijt].
Hanya dua nama tempat ini di pantai utara (pulau) Bali, keduanya masing-masing berada
di muara sungai. Nama Buleleng [Boulengleng] juga masih eksis pada Peta 1750.
Belum teridentifikasi nama Singaraja. Nama Buleleng mewakili wilayah sekitar. Â .
![]() |
| Pelabuhan Boeleleng dan Kota Singaradja (Peta 1885) |
Ketika
ekspedisi Cornelis de Houtman tahun 1597 melintas di perairan Bali utara, tidak
ada suatu pusat keramaian (perdagangan) yang penting. Ahli geografi dan
landmeter hanya menggambarkan dalam peta ekspedisi sebagai tinggi permukaan
tanah sepanjang pulau Bali. Tim ekspedisi ini kemudian berlabuh di suatu teluk,
yang diduga kini berada di Kloengkoeng. Radja Bali menemui Cornelis de Houtman
di pantai. Di pantai hanya berlabuh tiga kapal, sementara satu kapal lagi
tengah melakukan ekspedisi mengelilingi pulau.
(teridentifikasi)? Pertanyaan ini menjadi
penting karena nama Buleleng ditabalkan sebagai nama suatu wilayah
administratif (lanskap menjadi afdeeling), sedangkan nama Singaraja menjadi
nama tempat yang terus tumbuh dan berkembang. Ketika Denpasar masih suatu
kampong, Singaradja sudah menjadi kota. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan
Singaraja? Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
tidak ada buku yang ditulis menyebut nama Singa Radja. Yang ada adalah Singa
Poera, Kota Radjadan Radja Singa di Ceylon. Tentu saja nama Singaradja sudah ada
di Bali dan sudah ada orang Eropa/Belanda
yang berkunjung ke tempat itu. Nama Singaradja baru muncul pada tahun 1846,
tahun terjadi Perang Bali.
dikenal (1597), nama Boeleleng sudah diidentifikasi pada peta-peta lama (tertua
Peta 1720). Setelah berakhir Perang Bali (1846) yang singkat lalu mulai
bermunculan tulisan yang menyebut nama Singaradja. Paling tidak ada tiga sumber
pada tahun 1846 yang menulis nama Singaradja. Pertama surat kabar Javasche
courant, 07-07-1846 yang mana pada edisi ini semuanya berisi tentang perang di
Boeleleng dan Singaradja. Di dalam edisi ini juga memuat surat-surat resmi
sebagai berikut: surat Kapitein Luitenant ter Zee, komandan divisi pendaratan Bali
De Smit van den Broecke; surat komandan angkatan laut Hindia Belanda Insp. Mar,
EB van den Bosch; surat komandan ekspedisi Bali, Luit. Kolonel J Bakker; surat komandan
militer Hindia Belanda, Luit. Generaal Cochius, dan surat Gubernur Jenderal
Rochussen (untuk Radja Belanda); kedua, buku Kaleidoskoop yang diterbitkan oleh
Pemerintah Hindia Belanda; ketiga, meski buku ini tidak diterbitkan tahun 1846
dapat dianggap sumber sejaman. Buku ini ditulis oleh Heinrich Zollinger dengan Verhaal
eener reis over de eilanden Bali en Lombok gedurende de maanden mei tot
september 1846 (diterbitkan di Utrecht, tanpa tahun). Dari isinya, Heinrich
Zollinger telah mengunjungi Singaradja pada tahun 1846. Satu lagi tulisan yang
terkait adalah laporan riset van Hoevel tentang Pulau Bali yang dimuat pada Tijdschrift
voor Nederlandsch-Indie, 1846.
dengan pendaratan di (pelabuhan Buleleng) pada tanggal 28 Juni untuk melawan
kekuatan Boeleleng yang diperkuat orang Bali dari pedalaman. Artileri laut
tidak sulit memukul mundur lawan di Buleleng. Kemudian pasukan keesokan harinya
merangsek ke pedalaman di Singaradja. Radja Boeleleng telah melarikan diri. Penduduk
yang oposisi telah membakar istana Radja Boeleleng di Singaradja. Dari penduduk
diperoleh keterangan bahwa radja telah melarikan diri ke gunung.
![]() |
| Javasche courant, 07-07-1846 |
Disebutkan pangkal perang
perang ini adalah Goesti Ngoerah Made Karang Asem, Radja Boeleleng telah
melanggar perjanjian yang dibuat dengan Pemerintah Hindia Belanda yang
ditandatanganinya sendiri dilanggar dan ditandatangani sendiri. Perjanjian itu
dibuat pada tanggal 26 November 1841 dan tanggal 8 Mei 1843. Pelanggaram
lainnya adalah penduduk Djembrana (di bawah kekuasaan Radja Boeleleng) pada
bulan Januarij 1844 bersalah karena menjarah kapal yang berlayar di bawah
bendera Belanda di atas kapal milik warga negara Hindia dan bahwa kompensasi
yang dijanjikan belum diberikan; bahwa Radja tidak menerima dan memperlakukan
utusan-utusan Pemerintah dengan penghargaan yang harus dibayar dan sebagai
wakil dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda tetapi disikapi sebagai musuh. Juga
disebutkan surat Gubernur Jenderal tidak dijawab, dan tidak menampilkan bendera
Belanda sebagaimana mestinya. Oleh karena pintu negosiasi sudah tertutup lalu diputuskan
diadakan ekspedisi (militer). Sebelum dilakukan pendaratan, surat ultimatum telah
dikirimkan kepada Radja dengan tempo 3X24 jam. Catatan: Setelah adanya
perjanjian (placaat) antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Radja Boelleng
pada tahun 1840 Pemerintah Hindia Belanda membuka pos perdagangan di Bali
(lihat Algemeen Handelsblad, 20-03-1840). Tidak disebutkan dimana di Bali tetapi
diduga kuat pos tersebut berada di (pelabuhan) Boeleleng. Sebelum ekspedisi
sudah ada perkebunan orang Eropa di Boeleleng.
sementara Singaradja adalah ibu kota tempat dimana istana Radja Boeleleng berada.
Untuk menjaga keamanan pasca perang, di kampong Singa Radja didirikan benteng (benteng
ini sudah diidentifikasi pada Peta 1850). Lokasi benteng umumnya menjadi cikal
bakal suatu kota, Itulah riwayat awal Singaraja yang kemudian menjadi kota
(besar). Nama Buleleng yang tempo doeloe sebuah kampong telah bertransfotrmasi
menjadi nama wilayah.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





