melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
Namanya Pasar Baroe jelas pasar yang baru. Pasar
lamanya adalah Pasar Senen. Pertanyaannya mengapa dibangun pasar yang baru di
kawasan (area) Noordwijk sementara sudah ada pasar di area Weltevreden (Sebelumnya
disebut Pasar Vinke atau Pasar Snees). Jarak antara Pasar Senen dengan Pasar
Baroe tidak begitu jauh. Tentu saja ada sebabnya yang menjadi sejarah Pasar
Baroe penting diketahui. Pada masa ini Pasar Baroe ini berada di kelurahan
Pasar Baru, kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.
![]() |
| Pasar Baru (Peta 1860) |
Pada
tahun 1865 Residentie Batavia terdiri dari tujuh afdeeling (semacam kabupaten):
Tangerang, Batavia, Weltevreden, Meester Cornelis, Tandjong, Tjibinoeng dan
Buitenzorg  (lihat Dr. Hollander, 1869). Afdeeling
Stad en voorsteden (Batavia dan Weltevreden) terdiri dari area-area Molenvliet;
Noordwijk, Rijswijk, Batoe Toelis; Pasar Baroe, Parapattan, Tanah-abang, Weltevreden,
Kramat, Struiswijk, Goenoeng Sari, Tanah Njonja. Jumlah penduduk sekitar 63.000
jiwa yang mana diantaranya terdapat sekitar 3.000 Europeanen en 17.000 Chinezen.
Pada tahun 1900, Batavia (Afd. Stad en voorsteden: District Batavia dan
District Weltevreden) terdiri dari enam onderdistrict, yakni: Manggabesar,
Pendjaringan, Tandjong Priok, Gambir, Tanahabang dan Senen (lihat W. J. van
Gorkom, 1912). Nama-nama kampong di onderdistrict Manggabesar adalah Klenteng,
Kebondjeroek, Patjebokan, Sawah Besar, Djawa, Kroekoet, Petodjo Ilir, Petodjo Sawah,
Doeri, Tanah Sreal, Tandjong Kramat, Angke, Djembatan 5 Koelon, Djembatan 5 Wetan,
Blandongan dan Pintoe Besie.
sebagai kampong sementara Pasar Baroe dikategorikan sebagai wijk [lihat
Alphabetisch Register van de Administratieve-(Bestuurs-) en Adatrechtelijk
Indeeling van Nederlandsch-Indie. Deel I: Java en Madoera. Door W. F. Schoel.
Landsdrukkerij, Batavia, 1931].
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Abang sudah terbentuk. Sehubungan dengan pembentukan ibu kota (stad) Batavia di
Weltevreden di era Gubernur Jenderal Daendels, pemerintah kemudian mengakuisisi
(mebeli) Pasar Snees (Pasar Senen). Dengan begitu maka dimungkinkan penataan
kota secara terintegrasi antara pusat pemerintahan dan pusat perdagangan. Dalam
penataan kota ini bersamaan dengan program pembangunan jalan pos Trans Java
dari Batavie ke Anjer dan dari Batavia ke Soerabaja/Panaroekan.
rangka penataan kota baru ini (Weltevreden), jalan pos yang direncanakan dengan
sendirinya melalui Weltevreden. Jalan pos tersebut dari Stad (kota) Batavia
melalui Molenvliet, fort Riswijk, fort Noordwijk (Sluisbrug), lalu melalui
jalan baru sepanjang kanal (jalan Pos) ke timur terus ke Goenoeng Sahari dan
kemudian berbelok ke selatan ke arah Senen.Â
kanal ke arah Goenoeng Sahari (selama ini semacam jalan inspeksi). Jalan rintisan
ini menjadi jalan utama, jalan pos karena di sisi selatan jalan baru itu
dibangun kantor pos besar (kantor pos pusat). Sementara di sisi utara jalan pos
ini terdapat kampong Noordwijk.
Noordwijk diduga adalah kampong tua. Oleh karena nama kampong ini mengikuti
nama benteng kuno (fort Noordwijk) diduga kampong ini awalnya dihuni oleh (eks)
para pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang tidak kembali lagi ke
kampong halamannya. Pemukiman-pemukiman yang terbentuk semacam ini ditemukan di
berbagai tempat seperti terbentuknya (per)kampong(an) Benteng di Tangerang,
Tjiampea dan Soekaboemi. Â
ini dibangun terjadi pendudukan militer Inggris tahun 1811. Program pembangunan
kota baru (Weltevreden) menjadi terhambat atau melambat. Sebab Letnan Gubernur
Jenderal Raffles lebih memilih ibu kota di Buitenzorg dan Semarang. Pada tahun
1816 Pemerintah Hindia Belanda kembali berkuasa. Gubernur Jenderal van der
Capellen memperluas program tata kota yang telah dirintis Daendels, tidak hanya
di Weltevreden, tetapi juga menata area sekitar Koningsplein. Satu program
tambahan yang dilakukan Capellen adalahÂ
mengembangkan area di sekitar kampong Noordwijk dengan membangun sebuah
pasar yang baru (pasar ini kemudian disebut Pasar Baroe).
yang dibangun baru ini berada di belakang kampong Noordwijk. Ada dua jalur
akses menuju pasar baru ini. Pertama, akses melalui darat dari Suluisbrug.
Jalan ini disebut gang Pasar Baroe (kelak berubah nama menjadi jalan Pintu
Air). Kedua, akses melalui air (kanal) yang dengan perahu yang datang dari
berbagai tempat di pantai utara melalui kanal Antjol/Goenoeng Sahari seperti DAS
Soenter, Maroenda, Bekasi dan Karawang/Tandjoeng Poera. Dari pelabuhan kanal ke arah pasar
baru terdapat koridor yang di dua sisi terdapat bangunan kantor dan gudang
komoditi. Koridor ini kemudian disebut jalan/gang Pasar Baru sehubungan dengan
dibangunnya jembatan antara jalan pos dengan koridor menuju pasar. Gang Pasar
Baru diubah menjadi jalan Sluisbrug (kini jalan Pintu Air).
jalan akses antara Gang Patjenongan dengan jalan Goenoeng Sahari yang disebut
Krekotlaan (kini jalan Samanhudi). Dalam perkembangannya dari pasar dibangun gang/jalan
akses yang baru ke kanal Goenoeng Sahari. Gang ini kemudian disebut gang
Kelintji. Secara spasial pasar baru ini berada diantara ujung gang Pasar Baroe,
ujung koridor, pangkal gang Kelintji hingga ke jalan akses Krekotlaan (kini jalan
Samanhudi). Di sisi utara jalan Krekot dekat pasar dibangun kantor/gedung
Schout.
teknis pasar baru dibangun untuk mendukung pusat perdagangan di Pasar Senen.
Pasar Baru dalam hal ini lebih ditujukan untuk para pedagang yang berasal dari
pantai utara. Sedangkan Pasar Senen dari awal merupakan pusat perdatangan dari
arah selatan di Bekasi dan Buitenzorg. Pasar Baru menjadi pasar alternatif bagi
pedagang luar kota yang selama ini menuju Kali Besar. Â
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



