Kota Sukabumu dan Kabupaten Sukabumi
yang sekarang adalah akhir dari suatu proses transformasi wilayah administratif
di wilayah Priangan (Preanger) pada basis afdeeling. Kota (Gemeente) Soekaboemi
dibentuk pada tahun 1914 dan Kabupaten Sukabumi pada tahun 1921. Dalam hal ini Kota
Sukabumi dibentuk pada era Kabupaten Tjiandjoer. Â
![]() |
| Tahapan Pemeritahan di Sukabumi |
Di dalam wilayah administrasi (afdeeling) terdapat dua sistem
pemerintahan yakni sistem pemerintahan Eropa/Belanda dan sistem pemerintah
lokal (Inlandsch Bestuur). Dua sistem pemerintahan ini dapat dibedakan dan
bersifat subordinatif. Pemeritahan Eropa/Belanda dipimpin oleh Residen/Asisten
Residen, sedangkan pemerintah lokal dipimpin oleh Bupati (Regent). Di luar
tanah-tanah partikelir (land), Residen/Asisten Residen memimpin warga
Eropa/Belanda. Pada level afdeeling Asisten Residen mengarahkan Bupati dalam
memimpin penduduk lokal di dalam wilayah administratif di afdeeling.. Sifat
subordinatif (penguasaan) ini menjadi kan sistem pemerintahan bersifat kolonial
(adanya koloni).
administratif di Soekaboemi (kebijakan administrasi Pemerintahan Hindia
Belanda) tergantung dari perkembangan politik, ekonomi dan sosial setempat. Dengan
terjadinya perubahan wilayah administratif juga diikuti pembentukan
pemerintahan wilayah yang baru. Proses ini bersifat dinamis karena tujuan dan
misi Pemerintah Hindia Belanda berbeda dengan Pemerintah RI yang sekarang.
Untuk memahami lebih lanjut proses dinamik itu mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.
![]() |
| Perkembangan Wilayah Soekaboemi, 1823-1942 |
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini
adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
wilayah menurut wilayah administratif pemerintahan sesungguhnya baru dimulai
pada era Pemerintah Hindia Belanda (pengganti VOC). Pembagian wilayah ini di
Hindia Timur (Hindia Belanda) efektif baru dilakukan pada era Gubernur Jenderal
Daendels. Wilayah Preanger pada mulanya menjadi bagian dari (Prefect)
Jaccatrasche en Preanger Bovenlanden. Â Â
orang Priangan. Sebutan Preanger paling tidak sudah tercatat pada tahun 1680
(lihat Daghregister 22 November 1680). Pada era VOC wilayah Preanger dibagi
dua: wilayah barat Preanger menjadi bagian dari wilayah Bataviase en Preanger
Bovenlanden dan wilayah timur menjadi bagian dari Chirebonsche en Preanger
Bovenlanden. Pada tahun 1774, paling tidak, sebutan Bataviase en Preanger Bovenlanden
berubah menjadi Jaccatrasche en Preanger Bovenlanden. Nama yang disebut
terakhir inilah yang kemudian diteruskan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai
sebuah provinsi.
Bovenlanden, Pemerintah Hindia Belanda juga membentuk Prefect Java’s Noord
Oostkust (Pantai Utara Timur Jawa), Prefect Cheribon, Prefect Bantam dan Prefect
Amboina. Dalam tempo yang tidak lama sesuai Resolusi No 3 tahun 1810 dibentuk
prefect baru seperti Prefect Lampong, Prefect Manado, Prefect Banda. Prefect
Java’s Noord Oostkust dibentuk Prefect Soerabaja, Prefect Semarang en Demak,
Prefect Greesik, Prefect Tagal, Prefect Pakkalongan dan Prefect Japara. Juga
dibebntuk Prefecr Chirebonsche Preanger Regentschappen. Selain itu dibentuk Onderprefect
Sumanap dan Onderprefect Timor serta Residentie Palembang,
tahun 1811 Pemerintah Hindia Belanda digantikan oleh Pemerintah (Pendudukan)
Inggris yang mana pimpinan kekuasaan tertinggi adalah Letnan Gubernur Jenderal
Raffles. Pemerintah Pendudukan Inggris kemudian membagi (pulau Jawa dan
Madoera) 16 wilayah yang disebut Residentie. Satu diantara residentie tesebut
adalah Residentie Preanger (nomenklatur prefect pada era Belanda dihapus).
Pemerintah Hindia Belanda kembali berkuasa pada tahun 1816. Nomenklatur
Residentie ini tetap dipertahankan.
dihilangkan dan diperkenalkan Residentie. Dari 16 Residentie tersebut selain
Residentie Preanger antara lain adalah Residentie Batavia, Residentie Bantam,
Residentie Karawang dan Residentie Chirebon, Residentie Paccaloengan, Residentie
Kedoe, Residentie Joana, Residentie Soeracarta dan Residentie Jogjacarta.
kehadiran VOC/Belanda di wilayah Preanger sudah dikenal pemimpin lokal yang
disebut bupati (Regent). Dua bupati yang diposisikan VOC/Belanda yang cukup
penting adalah bupati Tjinadjoer dan bupati Sumedang. Hal ini karena dua bupati
ini tempat kedudukannya (di Tjiandjoer dan di Sumedang) cukup dekat dengan
pusat-pusat Eropa di Buitenzorg/Batavia dan di Chirebon.
Residentie Preanger menetapkan ibu kota residentie di Tjiandjoer. Tidak
dipilihnya Sumedang sebagai ibu kota Residentie diduga karena tiga sebab.
Pertama, tempat utama (hoofdplaats) Tjiandjoer cukup dekat dengan ibu kota
Buitenzorg. Kedua, pemerintah Inggris menganggap Bupati Sumedang kurang
dipercaya karena tidak cooperative (lebih cooperative dengan Belanda). Bupati
yang tidak cooperative ini adalah Pengeran Kornel. Ketiga, karena faktor adanya
tanah partikelir (land) di dekat Tjiandjoer. Tanah-tanah partikelir di wilayah
Residentie Preanger ini dibentuk pada era Pemerintah Pendudukan Inggris.
tahun 1823 Pemerintah Hindia Belanda membebaskan keberadaan tanah-tanah
partikelir (land) di Residentie Preanger. Tanah-tanah partikelir tersebut
adalah land Tjipoetri, land Soekaboemi, land Odjoengbroeng dan land Tjimahie
Wetan. Tanah-tanah partikelir yang diakuisisi pemerintah ini yakni land
Tjipoetri dan land Soekaboemi diserahkan kepada Bupati Tjiandjoer dan land
Odjoengbroeng dan Tjimahi Wetan diserahkan kepada Bupati Bandoeng. Setelah
pembebasan tanah partikelir inilah nama Residentie Preanger dipertehas menjadi
Residentie Preanger Regentschappen. Ibu kota tetap berada di Tjiandjoer.
setingkat Controleur mulai ditempatkan yakni di Tjiandjoer, di Bandoeng, di Sumedang
dan di Limbangan. Pada saat ini mulai dibangun kota Bandoeng yang berada di
jalan pos (Groetepost) yang baru. Rumah Bupati Bandoeng juga direlokasi ke
dekat rumah/kantor Controleur. Tempat kedudukan rumah Bupati Bandoeng yang lama
(di muara sungai Tjikapeondoeng di sungai Tjiatroem)Â kemudian disebut Dajeh Kolot. Tempat
kedudukan Controleur Bandoeng inilah yang dikenal pada masa ini sebagai pusat
Kota Bandoeng (jalan Asia Afrika).
tahun 1860 Gubernur Jenderal berkunjung ke Banten dan Preanger Regentschappen.
Gubernur Jenderal berada di district Sukabumi pada tanggal 13 Juli 1860
(setelah dari Benten dan Buitenzorg) dan lalu Gubernur Jenderal melanjutkan
perjalanan keesokan paginya dari Tjandjoer ke Bandong,
wilayah tersebut ditingkatkan menjadi Asisten Residen. Asisten Residen
membawahi beberapa Controleur. Asisten Residen Tjiandjoer diantaranya membawahi
Controleur Soekaboemi. Sementara Bupati Tjiandjoer membawahi sejumlah kepala
district (Wedana).
Preanger Regentschappen
tahun 1870 dilakukan reorganisasi pemerintahan di Residentie Preanger
Regentschappen. Ibu kota Residentie dipindahkan dari Tjiandjoer ke Bandoeng
(titik tengah wilayah di Residentie Preanger Regentschappen). Dalam perpindahan
ini posisi Residen tetap dijabat oleh Residen. Untuk membantu para bupati
ditambahkan Patih di Soekaboemi (Bupati Tjiandjoer), Tjitjalingka (Bupati
Bandoeng), Tasikmalaia (Bupati Suemedang) dan Sukapoera-kollot (Bupati
Limbanga/Garoet). Sebelum pengangkatan keempat Patih ini sudah lebih dahulu
status onderafdeeling menjadi Afdeeling. Dalam hal ini sebelumnya Afdeeling
Tjiandjoer terdiri dari onderfadeeling Tjiandjoer dan onderafdeeling
Soekaboemi.
![]() |
| De locomotief, 23-12-1871 |
De locomotief, 23-12-1871 Doon den Gouverneur
dari Hindia Belanda telah disetujui dan dipahami pada tanggal 18 Desember 1871.
No. 4.) Awalnya Dengan persetujuan lebih lanjut dari Raja, dengan
mempertimbangkan semua ketentuan yang saling bertentangan, jumlah pengasuh,
ditambahkan ke untuk mendirikan Bupati dan beberapa Patih di Jawa dan Madura,
terhitung mulai Januari 1872, sebagai berikut: untuk Bupati di Residentie Preanger-Regentschappen,
di Residentie Samarang dan di Residentie Soerabaja, masing-masing enam untuk
Bupati lainnya di Jawa dan Madura, serta untuk onderafdeeling Sampang (Madura)
dan Patih Sukabumi, Tjitjalingka, Tasikmalaia dan Sukapoera-kollot (Residentie Preanger-Regentschappen,
masing-masing empat; c) untuk Patih Anyelir (Residentie Bantam) dan van
Kraksaan dan Loemadjang (Residentie Probolinggo), masing-masing dua.
dengan reorganisasi pemerintahan di Residentie Preanger Regentschappen ini ada
dua isu yang muncul. Pertama,
kekuasaan empat Bupati mulai dikurangi yakni dengan pembentukan afdeeling baru
yang masing-masing diangkat Patih. Kedua, protes sejumlah pihak dari kalangan
Eropa/Belanda terhadap tindakan para Bupati terhadap penduduk dan ketidak
pedulian pemerintah terhadap masalah ini.
: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-05-1872: ‘..mereka
benar-benar terpisah dari bagian-bagian lain Jawa: bahwa tidak ada pengaruh
Eropa ditemukan pada penderitaan rakyat, dan bahwa mereka telah diserahkan
kepada Bupati mereka , yang seperti orang lalim dari Timur, bertindak kuat
dengan kesalahan yang berlebihan; penduduk tidak peduli dengan perilaku Bupati
atau tentang tekanan keras yang harus diderita rakyat, atau tentang hasil yang
dipaksakan kepada mereka, dan pemerintah tidak memiliki pengetahuan tentang
keadaan sebenarnya dari persoalan ini..’
district di onderafdeeling Soekabomei yakni district Djampang Wetan dipisahkan
dan dimasukkan ke Afdeeling Tjinadjoer. Sementara itu district Djampang Kolon
dimekarkan dengan membentuk district Djampang Tengah. Â Tujuh district ini kemudian disatukan di dalam
Afdeeling Soekaboemi. Sehubungan dengan pembentukan Afdeeling ini dan pemisahan
dengan wilayah Tjinadjoer ditempatkan Asisten Residen di Soekaboemi. Asisten
Residen dan Patih Soekaboemi akan berkolaborasi. Meski di berbagai tempat
kofiestelsel sudah dihapus tetapi tidak di Afdeeling Soekaboemi.
Djampang Koelon sebagai nama suatu district di daerah aliran sungai Tjimandiri
paling tidak sudah dilaporkan pada tahun pada tahun 1706 (lihat Dgahregister 1
April 1706). Disebutkan bahwa Anga Nata pemimpin Djampang berhasil dilumpuhkan
di rumahnya di Djampang. Anga Nata masih sebagai pemimpin, hoofd van Djampang
hingga tahun 1715 (lihat Daghregister 2 April 1715). Anga Nata pernah mengirim
surat ke pihak VOC tahun 1715 (lihat Daghregister 21 Mei 1715). Lalu Capitain (lieutenenant)
VOC Soeta Djaja dikirim ke Djampang. Dalam surat Soeta Djaja menceritakan
perilaku Anga Nata (lihat Daghregister, 2 Agustus 1715). Besar dugaan Anga Nata
telah melakukan perlawanan, atau paling tidak melakukan protes terhadap VOC.
Catatan: Anga diduga adalah nama gelar (Anga, Angabey, Ngabehi?). Sejauh ini
nama Djampang hanya satu kesatuan wilayah, belum terbentuk Djampang Wetan dan
Djampang Koelon (dan adanya pemekaran dengan terbentuknya Djampang Tengah).
Ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk district-district, wilayah Djampang
dibagi dua yakni Djampang Wetan dan Djampang Koelon. Berdasarkan peta-peta 1830
(lihat kumpulan Peta de Haan) district Djampang Wetan berada di bawah (bupati)
Tjiandjoer sedangkan district Djampang Koelon bersifat independen. Wilayah
Djampang adalah wilayah heterogen melting pot (Jawa dari arah timur, Priangan
dari arah utara, dan Banten dari arahÂ
barat). Pada tahun 1687 VOC membuka jalan antara Banten dan Djampang
melalui sungai Tjimandiri (jalan sutra). Area abu-abu ini kemudian menjadi
district Palaboehan yang kelak diserahkan kepada
Bupati Tjiandjoer.
ditempatkannya Asisten Residen di Soekaboemi, ditempatkan tiga Controleur di
Afdeeling Soekaboemi yakni Controelur di Soekaboemi (district Goenoeng Parang
dan district Tjimahi), di Lengkong (district Djampang Koelon dan district
Djampang Tengah) dan Controleur di Tjitjoeroek (district Tjitjoeroek, district
Tjihelang dan district Palaboehan).Dalam perkembangannya Controleur di Lengkong
ditelokasi ke Njalindoeng. District dikepalai oleh seorang Wedana.
Goenoeng Parang dipisahkan dan disatukan membentuk daerah otonom Gemeente
Soekaboemi. Meski demikian Burgemeester belum diangkat dan Gemeente Soekaboemi
dirangkap oleh Asisten Residen. Wilayah Gemeente Soekaboemi sebagai daerah
otonom berada di luar kekuasaan Bupati Tjiandjoer. Pembentukan Gemente
Soekaboemi secara tidak langsung wilayah Bupati Tjiandjoer telah
dikurangi.Â
Tjiandjoer dan Bupati Soekaboemi Diangkat
tahu 1921 dilakukan pemisahan Soekaboemi dari Tjiandjoer. Ini dengan sendirinya
wilayah kekuasaan Bupati Tjiandjoer berkurang drastis dan hanya tersisa wilayah
yang termasuk Afdeeling Tjiandjoer (saja). Sehubungan dengan pemisahan ini
diangkat Bupati di Afdeeling Soekaboemi..
membentuk onderdistrict. District Goenoneg Parang terdiri dari onderdistrict
Goenoeng Parangm Soekaradja dan Baros; District Tjimahi dan Tjihelang
dilikuidasi yang mana wilayahnya disatukan ke dalam district Tjitjoeroek yang
kemudian dibagi menjadi tiga onderdistrict yakni Tjitjoerek, Benda dan
Tjikembar; District Palaboehan menjadi terdiri dari; District Djampang Koloeng
terdiri dari; dan District Djampang Tengah terdiri dari. Setiap onderdistrict
dipimpin oleh Asisten Wedana.
Pada tahun 1923 Wali Kota (Burgemeester) Soekaboemi diangkat. Asisten
Residen hanya fokus di wilayah kabupaten (regentschap) Soekaboemi. Asisten
Residen dan Burgemeester saling bahu membahu membangun wilayah Afdeeling
Soekaboemi. Sebagaimana halnya Asisten Residen dan Burgemeester, Bupati dan
Patih Soekaboemi berakhir sejak berakhirnya era kolonial Belanda pada tahun
1942 (pendudukan militer Jepang).
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com








